Renungan ‘ala NLP tentang puasa
Hari ini saya mendapat banyak sekali ucapan selamat mempersiapkan diri menghadapi puasa melalui SMS maupun email. Dengan cepat hal ini membuat saya stop sejenak, berhenti mengerjakan apapun yang lain, kemudian mulai berpikir mengenai persiapan apa yang akan saya lakukan dalam menghadapi puasa nanti?
Emmm…, apa yaaaah?
Oke deh, kiranya dalam memahami esensi puasa saya memilih menyitir dari sumber lagu pop saja, jadi bolehlah saya meminjam syair karya Taufiq Ismail dalam lagunya Bimbo yang berjudul “Anak bertanya pada bapaknya”, dalam lagu itu dikatakan demikian :
Ada anak bertanya pada bapaknya:
Buat apa berlapar-lapar puasa…?
Ada anak bertanya pada bapaknya:
Tadarus tarawih apalah gunanya…?
Lapar mengajarmu rendah hati selalu…
Tadarus artinya memahami kitab suci…
Tarawih mendekatkan diri pada Illahi…
Nah,
Karena saya bukan ahli agama, saya merenungkan makna dalam hal yang saya mengerti saja, secara NLP khususnya linguistik ya… Unuk pembahasan yang lebih relijius khan sudah banyak di luar sana…. Yah, itung-itung untuk wacana NLP….
Mari lihat pada baris ke lima yakni “Lapar mengajarmu rendah hati selalu”, berdasar dari kata ini dapat dibedah linguistiknya, berbentuk Cause – Effect pattern. Kata kuncinya C–>E adalah pada kata “mengajarmu”, inilah pembentuk C –> E nya.
Cause –> Effect
Lapar –> Rendah Hati
Artinya, diyakini bahwa oleh sebab lapar, maka akibatnya kita akan belajar menjadi “rendah hati”. Jadi luar biasa sekali bahwa melatih rendah hati dapat dengan cara mensimulasi diri masuk dalam state of mind “lapar”. Saya tidak tahu bagaimana tepatnya kondisi lapar bisa membuat seseorang belajar jadi rendah hati. Nanti pada bagian akhir kita akan lihat, apakah “rendah hati” ini memang bisa digenerate dari suatu kondisi atas “lapar” pada makanan-minuman?
Nah,
Kita beralih dulu melihat dalam lagu itu juga ada kata “selalu”, apa artinya ini secara linguistik? Kata “selalu” menunjukkan gejala bahasa yang disebut “Universal Quantifier”. Artinya suatu generalisasi yang berlalu secara universal, terus menerus, tanpa kecuali.
Nah, jadi untuk bisa masuk ke kondisi “rendah hati selalu”, tentunya tidak cukup berpuasa satu hari. Maka menjadi jelas kenapa agama meminta kita berpuasa 1 bulan dalam bulan ramadhan ini. Jadi bukan hanya satu kali dalam hidup kita diwajibkan belajar “rendah hati”, namun harus dilakukan dalam satu bulan, bahkan mengulang terus menerus setiap tahunnya …!
Cause –> Effect
Lapar –> Rendah Hati
Lapar 1 bulan –> Rendah Hati Selalu
(setiap tahun)
Jadi, diharapkan melalui pemrograman habituasi lapar – yang terpola selama 1 bulan, dan diulang setiap tahun-, maka diharapkan manusia akan belajar menjadi “rendah hati selalu”.
Nah, “rendah hati selalu” adalah suatu model dunia yang penting dalam agama tentunya, kok sampai-sampai perlu dilatih. Apa yah, istimewanya model dunia “rendah hati selalu” ini, kok bahkan sampai-sampai perlu dilatih melalui ibadah puasa, yang notabenenya merupakan salah satu Rukun Islam?
Tentunya tidak perlu dibahas di sini bahwa rendah hati jelas-jelas berbeda dengan rendah diri. Rendah diri adalah suatu kondisi diri yang selalu merasa rendah, merasa incompetence, merasa tidak mampu, merasa kalah, merasa minor, merasa submissive, dan seterusnya.
Rendah hati adalah suatu sikap dan keputusan.
Secara linguistik, orang disebut rendah hati, karena ia dengan sengaja menempatkan dirinya menjadi rendah dihadapan yang lain. Dengan demikian sebenarnya ia berada di posisi (maqom) yang tinggi. Sebab orang yang maqom-nya rendah tidak akan bisa merendahkan diri lagi. Lha mau merendahkan ke mana lagi, kalau dirinya sudah rendah?
Mari kita selami kawan-kawan…, saat Anda sedang merasa “rendah hati” itu seperti apa sih? Apa yang terjadi kemudian di dalam dunia internal Anda dan dunia eksternal Anda? Silahkan Anda berpartisipasi menulis pendapat Anda dibawah ini, apa yang akan terjadi saat kita menjadi rendah hati, apalagi rendah hati selalu?
Saya pernah belajar dari seseorang, bahwa rendah hari bolehlah dipersamakan artinya dengan kata tawadhu’, yang merupakan lawan kata dari takkabur (sombong). Tawadhu’ berasal dari lafadz Adl-Dla’ah yang berarti kerelaan manusia terhadap kedudukan yang lebih rendah, atau rendah hati terhadap orang yang beriman, atau mau menerima kebenaran, apapun bentuknya dan dari siapapun asalnya.
Wuih, kok lumayan…
Apa yang saya pelajari di NLP mengenai pengertian rapport bisa dikorelasikan disini. Rapport adalah proses menghargai, merespek dan memahami model dunia orang lain. Jadi pada waktu Anda bersedia mengakuisisi attitude NLP yang berjudul “respek pada model dunia orang lain”, maka sebenarnya kitapun akan semakin “rendah hati selalu”.
Ya, benar!
Rendah hati tentunya berbeda dengan “mengesankan diri rendah hati”, secara komplit benar-benar merupakan dua hal yang berbeda. Sesungguhnya “mengesankan diri rendah hati” justru merupakan bentuk “kesombongan diri”.
Wuih…, paradoxical yang luar biasa! Semoga kita semua dijauhkan diri dari perbuatan seperti ini, dan dijauhkan dari golongan orang yang semacam ini.
Well,
Berdasarkan lagu Bimbo di atas, sekalipun baru menyangkut aspek “lapar makan minum” ternyata itupun sudah dapat dibahas mendalam sekali….
Saya sering bertanya-tanya (bukan mengadili lho), kok sepertinya tidak semua orang yang berpuasa 1 bulan menahan lapar dan haus, bahkan mengulang setiap tahun, lantas menjadi “rendah hati selalu”…? Apa yang hilang ya?
Nah, sejauh yang dipahami, puasa adalah juga latihan pengelolaan hawa nafsu, bukan sekedar berhenti makan minum ketika siang, dan membalas makan minum sepuasnya ketika malam hari. Yang demikian itu sebenarnya hanyalah memindahkan jam biologis metabolisme. Cukup banyak saya menyaksikan orang yang begitu sore sudah nggak sabar untuk berburu makanan nikmat, dan ditimbun banyak-banyak untuk dilahap penuh hasrat nafsu ketika waktu berbuka sudah tiba.
Lucu sekali, ketika tidak sedang berpuasa, mereka makan minum toh biasa-biasa saja, apa adanya. Anehnya, lantas ketika masuk bulan puasa, justru anggaran biaya rumah tangga melambung naik secara signifikan! Tiba-tiba muncul “mata anggaran” baru karena harus menyiapkan makan-minum sahur yang lebih menimbulkan nafsu makan, menambahkan susu hangat dan coklat, menyiapkan berbagai vitamin untuk memperkuat badan.
Sorenya, menjelang puasa harus menyiapkan hidangan berbuka yang enak-enak, beli kue-kue jajanan pasar di “pasar tiban”, nambah minuman buah khusus semacam kolak atau koktil, dan lain-lain. Belum lagi untuk santapan paska sholat tarawih (bahasa jawa :“jaburan”), serta cemilan malam hari lainnya.
Lha, kalau hanya memindah jam biologis makan seperti ini, makna apa yang diperoleh dengan puasa yah?
Tentu saja saya tidak ingin nyinyir dengan semua itu. Tentu saja boleh saja kita nyiapin vitamin dan makan minum lebih enak…, mungkin itu boleh diatas-namakan sebagai menghormati orang yang berpuasa. Ya khan?
Ups,
Mungkin kita harus berhenti sebentar dan kemudian mulai memikirkan, sebenarnya apa sih tujuan kita berpuasa sebulan setiap tahun? Peningkatan apa yang mau kita dapatkan? Tentunya kalau sekedar pindah jam biologis makan dan penyiapan makanan enak bukanlah termasuk rukun ibadah puasa. Sebab setahu saya (yang masih amat terbatas ilmu agamanya), Rosul tidak mencontohkan yang demikian khan…?
Lha, kalau dalam berpuasa kita malah lebih banyak menghamburkan uang dan makan minum serba berlebih dibandingkan saat tidak berpuasa, apakah ini bagian dari pendidikan dan pengajaran “rendah hati selalu”?
Jadi dari sini dapat disimpulkan, bahwa “rasa lapar” yang dimaksud tentunya bukan hanya lapar atas makan-minum, namun juga lapar yang disebabkan atas pengaruh manajemen / pengelolaan nafsu-nafsu yang lain.
Nah,
Saya menangkap bahwa melalui habituasi berulang berpuasa selama sebulan setiap tahun, dan jika dilakukan dengan benar, maka “rasa lapar lahir bathin” akan segera menjelma menjadi anchor bagi kita untuk masuk ke kondisi “rendah hati”.
Bayangkan, setiap kali hadir “rasa lapar”, maka dengan mudah kita diingatkan (terasosiasi) untuk segera masuk dalam kondisi “rendah hati”… Dan kita tahu, rendah hati adalah state of mind yang useful…
Pelajaran hidup telah mengajarkan bahwa saat masuk pada kondisi “rendah hati”, maka saya menijinkan (allowed) “kekuatan lain” yang berada di luar saya bekerja. Nah, apa jadinya jika “kekuatan lain” yang kita pilih ini adalah berserah diri pada kekuatan Allah Yang Maha Kuasa? Bukankah tiada daya kekuatan apapun melainkan kekuatan YMK?
Oke…, klop sudah saat kita kaitkan dengan syair lagu berikutnya:
Lapar mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Tarawih mendekatkan diri pada Illahi
Nah, jadi dalam kondisi yang rendah hati selalu, kita diharapkan banyak mempelajari dan memahami kitab suci, serta melakukan ibadah sholat tarawih untuk mendekatkan diri padaNya. Sempurna sekali! Rendah hati kepada Nya…, mengingat bahwa kita sebenarnya cuma hamba kecil ciptaanNya.
Ohya,
Ngomong-ngomong soal berbuka puasa…. Pernahkan terpikir kenapa disebut “berbuka” puasa? Secara linguistik kata “berbuka” menunjukkan ada sesuatu yang tadinya tertutup dan lantas dibuka. Nah, jadi apanya yang kemudian “dibuka” itu? Sekaligus juga apa yang selama puasa tadi “ditutup”?
Silahkan Anda tuliskan pendapat Anda dibawah ini…


11:11 AM
Assalamualaikum…
Subhanallah…matur nuwun Pak Kiai…manteb tenan pembahasannya. Kalau NLP dipakai begini, Insya Allah akan menambah iman kita.
Loh, berarti NLP bisa menurunkan iman?
Ya bisa, kalau digunakan justru untuk hal2 yang menjauhkan diri dari Tuhan.
Alhamdulillah, perjalanan saya menemukan dan mempraktikkan NLP rupanya sudah diatur untuk tujuan2 peningkatan kualitas spiritual. Insya Allah nanti para NLPers, terutama di Indonesia yang kental nuansa relijius dalam kesehariannya, bisa mengembangkan NLP yang tidak saja bicara wellformed outcome, melainkan juga bicara “ultimate outcome”, akhirat.
Amiiin…
Suwuuuun…
10:23 PM
Yang ditutup adalah segala hawa nafsu yang menghalangi kita untuk menjadi lebih baik
subhanallah dari sebuah lagu saja, dapat digali sesuatu yang lebih dalam, asalkan kita mau membuka pikiran kita akan sesuatu yang baru, What Amazing Word
12:00 PM
ASsalamu’alaikum
Wow sungguh luar biasa Terapan NLP Spiritualnya…
Mengenai apa yang “DIBUKA” dan yang “DITUTUP”, bagaimana kalau kita kaji pendapat Said Hawwa yang beliau tuliskan dalam Kitab Tazkiyatun Nafs. (Rahasia puasa dan syarat batinnya.
berikut ringkasannya :
Sa’id Hawwa
Di antara syahwat besar yang dapat menyesatkan manusia adalah syahwat perut dan kemaluan. Puasa membiasakan jiwa mengendalikan kedua syahwat tersebut.
“Puasa adalah separuh kesabaran” [HR. Tirmidzi & Ibnu Majah, sanad hasan].
Ada tiga tingkatan puasa:
1. Puasa orang awam: menahan perut dan kemaluan dari mengikuti kemauan syahwat.
2. Puasa orang khusus: menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan semua anggota badan dari berbagai dosa.
3. Puasa orang super khusus : puasa hati dari berbagai keinginan rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga; juga menahan hati dari selain Allah secara total. Aktifitas duniawi mereka pun diperuntukkan demi bekal akhirat.
Ada enam (6) cara menggapai puasa para shalihin (orang khusus):
a. Menundukkan pandangan dan menahannya dari berkeliaran memandang ke setiap hal yang dicela dan dibenci.
“Pandangan adalah salah satu anak panah yang beracun di antara anak panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah maka ia telah diberi Allah keimanan yang mendapatkan kelezatan di dalam hatinya.” [HR. al-Hakim -yg men-shahih-kan sanadnya].
b. Puasa lisan: menjaga lisan dari bualan, dusta, ghibah, gunjingan, kekejian, perkataan kasar, pertengkaran dan perdebatan; mengisinya dengan diam, dzikrullah dan tilawah al-Quran.
“Sesungguhnya puasa itu tidak lain adalah perisai; apabila salah seorang di antara kamu sedang berpuasa maka janganlah berkata kotor dan jangan pula bertindak bodoh; dan jika ada seseorang yang menyerangnya atau mencacinya maka hendaklah ia mengatakan sesungguhnya aku berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.” [HR. Bukhari & Muslim].
c. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap yg diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarkannya. Allah SWT menyetarakan orang yang mendengarkan dan yang memakan barang yang haram, “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” [Al-Maidah: 42].
d. Menahan berbagai anggota badannya dari berbagai dosa; seperti menahan tangan dan kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari berbagai syubhat pada waktu tidak puasa. Tidak ada artinya berpuasa dari yang halal, tapi berbuka puasa dengan yang haram. Barang yang haram adalah racun yang menghancurkan agama, sedangkan barang yang halal adalah obat yang bermanfaat bila dikonsumsi sedikit tetapi berbahaya bila terlalu banyak.
Apa artinya pula berpuasa dari makanan halal tapi ‘memakan daging manusia’ (berghibah -yang notabene haram) ketika berbuka.
“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.” [HR. Nasa'i & Ibnu Majah].
e. Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka puasa sampai penuh perutnya. Tujuan puasa ialah pengosongan dan menundukkan nafsu untuk memperkuat jiwa mencapai taqwa. Dan esensi puasa adalah melemahkan berbagai kekuatan yang menjadi sarana syetan untuk kembali kepada keburukan. Semua ini tidak akan tercapai kecuali dengan mengurangi makanan yang biasa dimakan pada di tiap malam ketika tidak berpuasa. Bahkan di antara adabnya adalah mengurangi tidur siang agar merasakan lapar kemudian berusaha agar setiap malam bisa bertahajjud beserta wiridnya sehingga hatinya menjadi jernih, karena bisa jadi syetan tidak mengitari hatinya dan dia bisa melihat berbagai keghaiban langit.
f. Ber-ifthar dengan hati cemas dan harap, mengkhawatirkan ‘nilai’ puasanya. Hendaklah hati dalam keadaan demikian di akhir setiap ibadah yang baru saja dilaksanakan. Sebagian ulama’ berkata: ‘berapa banyak orang yang berpuasa sesungguhnya dia tidak berpuasa dan berapa banyak orang yang tidak berpuasa tetapi sesungguhnya dia berpuasa.
Dari pandangan Said Hawwa diatas, yang kita Tahan (tutup) kemudian membukanya (Ifthor) tidak hanya makan dan minum. Namun juga berupa modalitas berharga manusia berupa Visual, Auditory dan Kinesthetic sebagaimana dijelaskan diatas. Sehingga kemenangan dari peperangan akbar setelah perang badar pun insyAllah kita gapai kemenangannya…
Kenapa mesti sampai waktu maqrib aja ya ? Bayangkan jika momentum itu terus dimiliki hingga sehari penuh (24 jam). Mungkin ini terjawab dengan peringatannya Bunda ‘Aisyah kepada saidah Fatimah.
“Ayahmu tidak pernah melakukan aktivitas lain kecuali tidur dan bermunajat kepada Allah sesudah Shalat ‘Isya”
Entah kenapa saya masih bertanya-tanya dalam hati. sehubungan dengan pertanyaan Guru Ronny tentang “Berbuka puasa”… Mengapa orang Arab menggunakan kata-kata Ifthor yang berasal dari kata fathara yafthuru… mengapa bukan kata-kata Fataha yaftahu yang bermakna juga buka.
Barangkali ada yang bisa menjelaskan esensi perbedaan dan kekhasan makna IFTHOR ?
10:43 AM
salamu’alaikum. saya izin copy artikelnya ya pak
8:12 PM
“Ohya,
Ngomong-ngomong soal berbuka puasa…. Pernahkan terpikir kenapa disebut “berbuka” puasa? Secara linguistik kata “berbuka” menunjukkan ada sesuatu yang tadinya tertutup dan lantas dibuka. Nah, jadi apanya yang kemudian “dibuka” itu? Sekaligus juga apa yang selama puasa tadi “ditutup”?”
apa yang di buka…dan apa yang ditutup ya….
tadi pagi (22 Agustus 2009) pak Din Syamsuddin (ketua pp muh.) memberikan taushiyah di masjid gedhe kauman yogyakarta…ada yang menarik tentang ketika berbuka puasa itu diistilahkan “mbatalke” (bhs jawa) contoh: “minum seteguk dulu untuk sekedar ‘membatalkan’…” beliau tidak tahu dari mana asal usul istilah tersebut, menjadikan seolah olah setelah maghrib itu puasanya batal…yang berakibat mungkin nilai-nilai puasa itu ‘batal’ terus….
5:33 PM
Puasa adalah menahan dari yang membatalkan puasa, secara syari’ah yang membatalkan puasa ialah makan, minum, merokok dan melakukan hubungan suami istri disiang hari bulan puasa. Secara hakikat juga menahan diri dari amarah, iri, dengki, dendam, takabur, kikit/pelit dll(perbuatan ini tidak membatalkan puasa tapi dapat mengurangi nilainya). Sesuai Al Qur’an, diwajibkannya puasa kepada orang beriman agar memperoleh derjat taqwa. Taqwa itu gabungan dari sifat atau akhlak orang yang rajin ibadah, rendah hati, jujur, disiplin, amanah, rajin, cerdas, bersemangat bekerja dan mencari ilmu dan mempraktekannya serta mengajarkannya, kreatif, welas asih dan suka menolong orang miskin dan lemah, berorientasi kehidupan akhirat, menjadi rahmat bagi lingkungannya dan lain-lain yang dapat membuat diri seseorang berguna bagi kehidupan di dunia dan akhirat. Jadi targetnya hidup orang beriman yang taqwa adalah sukses di dunia dan akhirat. Bagaimana hubungan rasa lapar dan haus dengan rendah hati? orang yang berpuasa sejatinya akan merasa lemah dan tidak berdaya seperti yang orang lapar dan haus karena miskin, merasa tak berdaya, merasa diri hina. Kenapa tetap patuh berpuasa, jika diam-diam kita masih bisa makan dan minum. Itu melatih sifat jujur dan amanah, walaupun orang lain tidak tahu tetapi Allah yang maha melihat pasti tahu, sehingga diluar ramadhan orang beriman terlatih merasa dilihat Allah terus(ihsan)sehingga hidupnya selalu jujur dan amanah. Dengan waktu puasa +/- 12 jam kita dilatih disiplin dan selama berpuasa tetap bekerja dan belajar, sehingga ketika diluar ramadhan fisik dan semangat orang beriman semakin kuat, karena dengan perut lapar masih bisa bekerja dan belajar, kalau perut tidak lapar, orang beriman akan menjadi lebih rajin dan lebih keras bekerja dan belajarnya. Bayar zakat fitri/sedekah melatih sifat welas asih dan suka menolong, tadarus Al Qur’an melatih kemauan belajar dan mempraktekkannya, sholat tarawih melatih kesabaran dan ketekunan, i’tikaf melatih sifat suka mengevauasi diri dalam hubungan dengan Allah dan zuhud (rela meninggalkan kesibukan dunia demi Tuhannya). Sifat atau akhlak orang beriman yang bertaqwa tidak diperoleh sekali jadi, tetapi dilatih terus meberus dan berulang-ulang setiap tahunnya. Demikianlah sedikit keterangan yang saya ketahui mengenai hikmah puasa, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Doakanlah agar setiap tahun ada yang meningkat dari diri saya terkait sifat atau akhlak orang beriman dan bertaqwa. Amin. (25-09-09)
7:47 AM
Dear all…
Makasih responnya
Sungguh memperkaya kita semuanya…
11:48 AM
Assalamu’alaikum wr.wb.
Sebelumnya saya minta maaf ikut-ikutan nyletuk, ,
setelah membaca rincian diatas,saya jadi teringat timbangan dan jungkat-jungkit.
Apa yang sebenarnya menjadi “adi kodrati manusia?”
adalah adanya hukum keseimbangan didunia ini,
baik esensinya berada dalam alam semesta maupun dalam struktur tubuh manusia,
yang mana semua berpasang-pasang saling melengkapi,baik ditinjau dari berbagai disiplin ilmu exact,agama,sosial,dan budaya pun,,
berbuka dan tertutup adalah sebuah rangkaian berputarnya roda,
dimana setiap tindak-tanduk dan perilaku menjadi porosnya,
bergantung bagaimana kita membawa roda itu pada jalan yang seharusnya ataupun tidak.
Apa yang terjadi apabila kita hanya memperhatikan ‘berbuka’ tanpa mengindahkan ‘tertutup’?
Sama dengan apa yang terjadi apabila kita hanya memikirkan kehidupan saat ini saja,
tanpa memikirkan bagaimana setelah kematian kita besok. . !
Wasalamu’alaikum wr.wb.
6:58 AM
Tulisannya mantep boss…!
7:44 AM
wuihhh ini dia aslinya Kyai kauman…
Lho apa berarti ada yang tidak asli?
NLP kan “ada saja cara untuk bahagia” jadi mari bahagia dan membahagiakan orang lain dengan NLP, apapun pekerjaan kita yang penting bahagia dan bisa membahagiakan orang lain.
Puasa juga membahagiakan, yang sebelumnya gak bahagia, saat ramdhan tiba bisa ikutan bahagia, bahagia karena sudah “berbuka” puasa yang sebelumnya “berbuka” hanya sekali sehari kini paling tidak bisa dua kali, bahkan lebih karena bisa jadi aktivis masjid selama bulan ramadhan.Kan biasanya di masjid saat Ramadhan banyak berlimpah makanan yang siap “dibuka”?
Memang benar puasa bisa menjadikan rendah hati tapi bukan rendah diri asalkan syaratnya benar, bukan memindah jam biologis, apalagi memindah jam tidur dan jam kerja….hehehehe
Maturnuwon guru sudah berbagi yang indah….
4:06 PM
Puasa itu dari kata Upa Vasa yang dimaksud adalah mendekatkan pada Allah dengan segala kemuliaanNya.
Mendekatkan diri secara Roh adalah menghapuskan semua kelkatan, serta debu egoisme dalam Roh kita agar kekuatan hisap Roh Maha Besar mampu ditangkap oleh kesucian dala Roh manusia.
Adalah suatu bulan penuh rahmat apabila sepanjang waktu tersebut tidak menyakiti hati orang lain dan diri sendiri (bahasa NLP saling menolong dan mengasihi, tidak berkata tidak benar (bahasa NLP mengucapkan kebenaran secara benar), tidak mencuri (bahasa NLP mengakui hak orang lain), tidak menyombingkan diri (bahasa NLP bersikap rendah hati – sesungguhnya kita manusia tidak punya kuasa apapun tanpa kejendakNya), tidak menanm bibit kebencian ( dalam bahasa NLP menciptakan kedamaian). Dengan kata lain manusia harus menjalani hidup suci dengan mencari ketenangan, kedamaian, bersikap lemah lembut, inilah bulan penuh rahmat yang sesungguhnya. Tetap menjaga keheningan bumi, agar kehidupan alam raya juga merasdaklan kedamaian. Manusia berlu menghayati bulan penuh rahmad ini, karena manusia sekarang tidak lagi manusiawi sudah lebih rendah dari bangsa hewan. Kambing aja setia atas pasangannya. Itu kambing. Wassalam.