Mengukur Keberhasilan Komunikasi
Presuposition : The meaning of the communication is the response you get.
Makna komunikasi (diukur dari) respons yang Anda dapatkan…
Well,
Saat seseorang berkomunikasi…, ia tentunya ingin menyampaikan suatu maksud tertentu. Lantas ia mengartikulasikan maksudnya itu melalui simbol-simbol bunyi yang disebut kata-kata dan simbol-simbol non-verbal lainnya.
Nah, pada saat ia mendapati bahwa lawan bicara “memahami secara berbeda” atas maksudnya, maka orang terkadang “senang” mengatakan bahwa lawan bicaranya itu mengalami “salah paham” !
Kalimat “orang lain salah paham” ini menarik, karena secara linguistik mudah diukur bahwa pembicara “menyalahkan” pihak lain, saat pihak lain tidak paham dengan apa yang dimaksudkannya.
Benarkah pihak lain “salah”????
Lho kok…, nyalahin orang lain…
Mungkinkah dirinya sendiri yang salah artikulasi?
Merunut pengertian rapport adalah merespek model dunia oran lain, maka dalam berkomunikasi-pun kita perlu menghormati model dunia orang lain dengan cara berbicara dengan simbol2 yang dimengerti olehnya.
Misal, saat kita berbicara dengan orang Jepang yang nggak ngerti sama sekali bahasa Indonesia, maka mudah dimengerti bahwa kita memilih menggunakan bahasa Jepang atau bahasa lain yang dimengerti bersama…
Ini artinya kita merespek model dunianya…
Nah,
Berarti saat berkomunikasi dan mendapati orang lain tidak memahami seperti yang kita inginkan, maka kita belum mengerti model dunianya, dan pastinya juga belum mengartikulasikan maksud kita dalam simbol2 yang dimengerti olehnya.
Jadi, daripada kita mengatakan bahwa “lawan bicara sedang salah paham”, maka auh lebih baik kita mengartikan “saya belum tepat memilih kata-kata yang dapat dimengerti olehnya”.
Nah
Sedikit masuk pada dataran linguistik…, jika kita mengatakan “Si Polan salah paham”…., maka kalimat ini jelas melanggar Meta Model yang bernama Lost Performative…
Dengan mudah kita menanyakan “Salah paham…, menurut siapa?”
Hehehe, tentunya si Polan salah paham, jika itu “menurut perpektif kita”!
Nah, kalau menurut perspektif si Polan bagaimana?
Mungkin di kepala Polan sedang mengatakan “Pembicara itu membingungkan…!”
Oke,
Kembali pada presuposisi di atas, dengan mengatakan bahwa “makna” dari komunikasi diukur dari respon yang kita peroleh, maka kita kemudian mengerti bahwa kita perlu “menyesuaikan ulang” komunikasi kita untuk mendapatkan hasil yang maksimal…
Jadi, Mengukur Keberhasilan Komunikasi tidak diukur dari NIAT, namun dari RESPONS…
Well,
Kalau Niat Berkomunikasi Baik saja sudah mendapatkan pahala…, apalagi komunikasi yang yang berhasil…!


9:47 PM
bagus pak
9:01 PM
luar biasa, nambah wawasan…. sip
2:03 PM
Thanks all..
Makasih….
8:47 AM
Pagi Pak…
saya cenderung orang yang tidak suka sesuatu yang bertele” dan berputar”…
jujur saya agak pusing membaca tulisan anda….
(mungkin saya yang terlalu bodoh atau bagaimana)
” Makna komunikasi (diukur dari) respons yang Anda dapatkan…
Kalimat “orang lain salah paham” ini menarik, karena secara linguistik mudah diukur bahwa pembicara “menyalahkan” pihak lain, saat pihak lain tidak paham dengan apa yang dimaksudkannya.
Merunut pengertian rapport adalah merespek model dunia orang ain, maka dalam berkomunikasi-pun kita perlu menghormati model dunia orang lain dengan cara berbicara dengan simbol2 yang dimengerti olehnya.
Jadi, Mengukur Keberhasilan Komunikasi tidak diukur dari NIAT, namun dari RESPONS…”
saya lebih senang memahami jika yang anda tulis hanya seperti itu, karena saya bisa mengembangkan sesuai keinginan saya.
apakah ada yang salah dengan diri saya…????