Beautiful woman can put a man into trance
Sewaktu masa SMA sampai dengan kuliah, seorang teman se-gank pernah menunjukkan suatu buku berjudul -kalau tidak keliru- adalah “Menjadi kekasih idaman untuk wanita“. Wah, kontan saja buku itu lantas beredar dan laku keras untuk dipinjam di antara anggota gank remaja kami. Bergantian kita mempelajari nasehat, wewaler dan petuah cara menaklukan lawan jenis. Begitulah masa muda kami dihabiskan di pinggir jalan, sebagai remaja yang katanya gaul (hihihik), setiap malam minggu diatas jam 10 kita nongkrong dengan gank dan saling berbagi cerita atau mencari nasehat dari kawan lebih senior mengenai teknik PDKT lawan jenis. Kalau diingat-ingat…, seru juga waktu itu.
Ada berbagai nasehat dari para senior waktu itu. Yang paling laris adalah dari seorang kawan senior saya sebutlah Mr X. Cowok ini dikenal sebagai player atau playboy, dalam satu waktu selalu punya pacar lebih dari satu cewek. Menurutnya playboy itu bukan gonta-ganti pacar, namun punya pacar sekaligus banyak cewek. Nah Mr X ini punya nasihat begini : “Kalau mau cari pacar, rahasianya ada dua!” Kontan nasehatnya ini langsung mendapat perhatian penuh, dengan mata berbinar, telinga menegak dari pada junior-nya. Berikut ini rahasianya :
- Carilah pacar yang paling cantik dalam komunitasmu! Tanya kenapa?
- Karena saingannya dikit, banyak cowok nggak berani ndeketin cewek cantik. Cuman berani ngomongin saja.
- Carilah pacar yakni cewek yang sudah punya pacar! Tanya kenapa?
- Karena saingannya cuman satu, ya pacarnya itu.
Hahaha, luar biasa dahsyat nasehatnya, menumbangkan semua asumsi yang ada di kepala laki-laki pada umumnya. Karena yang ngomong sudah membuktikan dirinya sebagai player, maka tak pelak lagi nasehat itu lantas menjadi semacam kredo bagi kawan-kawan saya dalam mencari pacar. Bahkan ada seorang kawan cewek yang juga ikut-ikutan menerapkan kredo ini dalam mencari cowok.
Well, saya tidak ingin membenarkan atau menyalahkan pendapat Mr X itu, namun saya ingin mengulas the underlying principles yang dianutnya dari kredo itu. Kredo nomer satu berangkat dari prinsip bahwa kebanyakan cowok tidak berani mendekati cewek yang cantik apalagi yang luar biasa cantik. Umumnya mereka hanya berani ngomongin saja dari jauh, pengin tapi terlalu penuh dengan rasionalisasi diri. Wah, suatu pengamatan yang luar biasa, mampu melakukan penilaian situasi sosial dengan amat jitu. Namun, mungkin cowok saat ini sudah tidak terlalu sama dengan jaman saya muda dulu ya…?
Menyambungkan kisah diatas dengan judul artikel ini, “Beautiful woman can put a man into trance“. Judul itu diucapkan oleh seorang trainer NLP kawakan Amerika yang berinisial RJ. “Wanita cantik akan membuat seorang laki-laki terhipnotis.” RJ bahkan berani bertaruh, laki-laki manapun bahkan yang paling jago konsentrasi seperti penjaga menara lapangan terbang, akan tetap terhipnotis apabila didepannya tiba-tiba berdiri seorang wanita cantik dengan baju thong-bikini. Penjaga menara ini akan langsung terhipnotis dalam kondisi cataleptis dengan lidah kelu “agh…aagh… agh…”. Hehehe, metafora yang menarik.
Nah RJ melanjutkan, cukup dengan kehadirannya, seorang wanita cantik sudah secara alami bisa menghipnotis laki-laki. Artinya, wanita cantik, secara alami sudah merupakan anchor “kataleptis – lidah kelu” bagi sebagian besar laki-laki. Nah ini khan suatu situasi yang merugikan bagi laki-laki, ter-anchor pada suatu state of mind hypnotic yang tidak berdaya. Anda mungkin juga pernah mengalaminya saat di kendaraan umum semacam bis, kereta api atau pesawat. Adalah impian banyak laki-laki jika suatu hari mendapatkan kesempatan duduk bersebelahan dengan seorang HB 9 (Hot Babe bernilai 9: coined by RJ) saat naik pesawat. Namun apa daya -saat impian itu kesampaian- di pesawat ternyata sebelahnya cewek sangat cuantiiik dan seksi, wah, langsung deh lidah si cowok malah jadi kelu. Ya iya lah ….
Inilah yang juga mengilhami filem-filem spionase barat seperti Matahari, Jame Bond dan lainnya, yang sering menampilkan bagaimana seorang agen wanita cantik akan lebih mudah memperoleh ‘hasil’, karena para lelaki yang menjadi lawannya menjadi kehilangan akal sehat. Meskipun kemudian skenarionya tetap saja pasaran…. “jagoan selalu menang belakangan…” Dalam paribahasa Jawa sudha ada juga lho “Ati-ati karo pilus soale nggarai kowe kebius“. *Pilus = pipi halus…
Pertanyaannya kemudian, apa yang bisa dilakukan laki-laki supaya anchor ini bisa hilang? Atau gunakan pertanyaan lain yang lebih baik, bisakan anchor alami ini saya ganti dengan cara yang justru menguntungkan? Misal, bila melihat wanita cantik, justru kita ter-anchor menjadi percaya diri, powerful, dan seterusnya. Apakah mungkin? Bisakah kita disain demikian? Tentu saja bisa…, bukankah semangat NLP adalah enabler?
Nah, sampai di sini kita bisa STOP memikirkan mengenai cara mencari cewek, dan segera MULAI memikirkan betapa powerfulnya kekuatan Anchor, bahkan anchor alami seperti itu. Secara mudah kita langsung menyadari bahwa anchor bisa menjadi sahabat atau mungkin malah menjadi musuh.
Mari kita pikirkan, apa saja anchor alami yang bisa berdampak buruk pada manusia pada umumnya? Mari kita list dibawah ini, dan silahkan Anda menambah daftar di komentar di bawah.
- Slip gaji, adalah anchor alami yang mampu membangkitkan rasa senang sebentar, kemudian langsung diikuti rasa kesal. Senang karena dapa gaji, kesal karena banyak potongan… Hehehe
- Meja Kerja, adalah anchor alami yang bisa berefek buruk atau baik. Jika meja kerja dan kursi di kantor Anda menimbulkan efek anchor buruk, segera ganti layout atau ubah warna alas meja.
- Dompet Kosong, adalah anchor alami yang menggenerate rasa lack atau scarcity, langsung menimbulkan rasa miskin, kekurangan uang. Akibatnya vibrasi yang kita pancarkan negatif dan menarik lebih banyak kekurangan ke diri sendiri.
- Lampu sein mobil, di jalan raya yang minta jalur untuk masuk ke jalur lambat. Memicu anchor untuk mempercepat mobil sendiri supaya mobil itu tidak dapat jalur. Sungguh suatu anchor pemicu rasa lack / scarcity, silahkan baca lengkapnya di artikel lain dalam blog ini juga.
- Ujung jarum suntik, merupakan anchor rasa takut / ngeri bagi sebagaian orang, karena waktu kecil disuntik secara paksa, ditambah habituasi dari orang tuanya secara berkelanjutan, yangsuka mengatakan “Awas kalau kamu nakal, nanti disuntik Dokter lho…!”
- Peluit Polisi, anchor pengin lari….., padahal harusnya berhenti. Tanya kenapa? Karena figur Polisi sudah terkadung berasosiasi dengan perasaan apa pada diri Anda?
- Tikus, kecoa, belalang, cicak, tokek, merupakan anchor paling terkenal sebagai pemicu phobia.
Silahkan menambahkan daftarnya di kolom komentar di bawah ini.
Nah, bagaimana cara melenyapkannya? Gunakan teknik swish pattern atau teknik collapsing anchor yang sudah dibahas di artikel lain dalam blog ini. Jangan cari kata swish pattern di judul artikelnya, sebaiknya emang kita harus membaca isi artikelnya.


2:49 AM
Pak ronny kayaknya enak banget ya jadi praktisi nlp,semua bisa diselaikan dengan mudah,o ya pak ronny gimana caranya ya menghapus anchor alami negatif?Apalagi kalau anchornya beragam?
3:37 AM
Arief, gunakan swish pattern (paling gampang), Ada di artikel olah raga, yang judulnya Pain or Pleasure…
4:45 AM
Pa Ronny, saya sadari bahwa apa yang anda tulis disini memang benar adanya karena saya juga begitu. selain itu, ternyata saya punya EBOOK dari RJ yang saya tidak sadari ada dikomputer saya. dan memang menarik dan pernah saya coba untuk menarik perhatian wanita “ehm…” yang benar2 baru kenal, dan hasilnya FUNTASTIS…hehehe. yang penting jurus terakhirnya RJ tidak dilakukan. dahsyat buat pa Ronny!!!
7:06 AM
Hahaha Mas Andreas, ceritakan disini ya, jika sudah mempraktekkan…
6:18 AM
berkut sharing dari salah satu bolgger, semoga relevan dan menarik;
Kalau Nona Berjalan, Rembulan pun Padam
Semasa berada di Iran, aku sering berkunjung ke rumah-kantor (rukan) abangku, Ahmad Muhajir. Letak rukan itu di daerah utara Teheran, tepatnya di Jalan Vali Asr, persis berhadap-hadapan dengan Taman Nasional (Park-e Mellat) yang keren mentereng.
Setiap musim semi, Taman Nasional ini banyak dikunjungi orang. Mereka umumnya berasal dari daerah sekitar, walaupun ada juga yang berasal dari kota-kota lain di seluruh Iran.
Mengunjungi Taman Nasional telah menjadi kebiasaanku setiap musim semi tiba. Pagi dan sore, sebentar-sebentar aku menikmati panorama indah di taman itu. Tak pernah bosan-bosannya aku mengagumi bunga-bunga yang bermekaran di taman itu. Bunga putih cerah, merah jingga, ungu kehitaman, lazuardi, coklat, lembayung, kuning, abu-abu, belang-belang, garis-garis dan semuanya menebarkan semerbak wangi yang berbeda-beda. Tak satu pun mengungguli yang lain.
Dalam taman itu juga ada sungai-sungai kecil yang mengalirkan lelehan salju dari Gunung Karaj. Gemericik airnya serasa mengiringi irama musik Iran yang dipancar-teruskan melalui pengeras suara yang bertengger di tiang-tiang yang lencir.
Tidak ketinggalan, Rumi, Hafizh, Sa’di, Firdausi, Khayyam, ‘Aththar, dan penyair-penyair Persia lain hadir di taman itu dalam bentuk patung-patung yang menawan. Mereka seperti menunggu orang-orang yang sedang bengong sendirian dan menyuguhkan seribu satu gagasan dan lamunan.
Sudah barang tentu, gambaran di atas sebatas yang dapat kuingat dan kuwadahi dalam kata-kata. Padahal, tak mungkin ingatan dan kata-kataku mampu menangkap pesona sekuntum bunga, apalagi pesona ratusan jenis bunga dan aroma yang ditebarnya?!
Yang jelas, sehabis dari taman itu tak jarang hati ini terbawa oleh warna-warna bunga: terang; jingga; lazuardi; lembayung; coklat; kuning; jambu; kelabu; dan lain-lain; ditambah keharuman masing-masing. Malah, pernah juga seisi taman itu terboyong sampai ke rumah, dan mengubah rumah kantor Abangku jadi taman impian. Aku pun sering jadi tukang mimpi yang senang sendiri.
Suatu sore, sendiri kupandangi taman lewat jendela depan rukan. Satu-dua jam aku duduk bersila di atas meja menatap ke arah taman. Kesunyian taman itu juga yang mengundangku untuk cepat-cepat mengunci segala pintu, menuruni tangga, menyeberang jalan, dan “menemaninya.”
Ya, doaku terkabul: taman luas nan mempesonakan itu jadi milikku sendiri! Tak ada orang seliweran sore itu. Cahaya matahari di ufuk barat yang kemuning mengubah semua warna jadi keemasan. Aku hanyut dalam lautan emas.
Tak henti-hentinya aku memuji Allah. “Ya Rabb! Tuhanku! Betapa indah ciptaan-Mu ini! Betapa tak mampu aku bersyukur pada-Mu!”
Sedang asyik-asyiknya mengagumi segala rupa pemandangan itu, mendadak seorang nona Persia duduk di depanku. Terbelalak mata ini menatapnya. Saking terkesimanya, tubuhku serasa terpental-pental.
Sungguh, Puspita Taman Impian! Segala keindahan sekeliling mendadak lenyap direngkuhnya seorang diri. Bunga, warna-warni yang menyejukkan mata, lautan emas, dan semua pesona masuk ke dalam makhluk itu berbarengan.
Gerangan makhluk apa ini?! Adakah dia muncul untuk mencaci-maki pemandangan indah taman ini? Entahlah.
Kedua bola matanya yang hijau kebiruan tenggelam dalam kebeningan, tak ubahnya sepasang pirus. Tak bakal kuat orang memandangnya telalu lama. Sepasang alis lebat melindungi kedua mata indah itu.
Buru-buru saja kupaksa mata berpaling ke arah lain. Tetapi, kemana? Semua keindahan sudah surut secepat kilat. Kini, tak lagi tampak apa-apa kecuali dia. Kucoba bangkit dari kursi marmer, tapi tak sanggup. Ai, ai, puspita apa ini?
Kalau nona taman itu berjalan, rembulan pun padam, malu menatapnya. Begitulah kira-kira ekspresi puitis para penyair jika harus berhadapan dengan nona Persia itu.
Tergeragap aku mendengar teriakan seorang bocah: “Mama, mama, mama!”
“Bale, Junam! (Ya, Sayang!)” sahut si Puspita.
“Bobo, kujas? (Papa, di mana?),” tanya si bocah lagi.
“Itu, di sana!” menuding ke arah penjual es krim di pintu selatan.
Petir pun takkan lebih mengagetkan daripada apa yang kulihat: seorang lelaki setengah baya yang pincang! Iya, pin-cang!
“Bagaimana mungkin?” tanyaku dalam hati.
“Tapi, apanya yang tidak mungkin?” jawabku sendiri. “Semua itu mungkin. Dan cinta yang memungkinkannya.”
Kutebar pandang ke segenap penjuru. Begitu menemui patung Rumi, mataku terpaku padanya. Kemudian, Rumi menyapaku dengan puisinya yang terkenal itu: Karena cinta, pahit jadi manis / Karena cinta, tembaga jadi emas / Karena cinta, ampas jadi saripati / Karena cinta, pedih jadi obat / Karena cinta, mati jadi hidup / Karena cinta, raja jadi hamba…”
Selanjutnya, bersahutan Hafizh, Sa’di, Firdaus, Khayyam dan ‘Aththar menyenandungkan syair-syair cinta mereka masing-maisng. Dan diakhiri dengan Rumi lagi.
Iya, di mata si nona Persia itu, cacat suaminya bukan saja tak berarti cacat, tapi justru mungkin sumber keindahan jenis lain.
Setelah sejenak kuamati, sadarlah aku bahwa suaminya yang cacat itu adalah veteran perang, yang berarti bahwa cacatnya jelas hasil pencapaian, bukan semata-mata hasil bawaan yang tidak dikehedaki. Dan ini menambah keutamaannya, selain keutamaan-keutamaan lainnya.
Aku pun terpaksa mendekati dan memberi salam pada mereka. Tak sengaja hatiku berdoa agar keluarga itu terus berbahagia, karena mereka telah memberiku satu pelajaran kecil tentang cinta. Pelajaran yang terus kukenang untuk waktu yang lama.
Jikalau mungkin, rahmat dan cinta-Mu jua yang selalu kudamba, Tuhan!
11:35 PM
Thanks sharingnya ya…
Jadi ingat lagunya Iwan Fals,
“Kalau nona berjalan, rembulanpun padam…”
3:12 PM
semua powerfull pak, bagus bagi rasa penasaran saya
10:22 AM
asyik nih artikel,…..
11:47 AM
Pak saya cwo, takut sama kecoa karena trauma masa kecil dilempar kecoa sama temen…
apa bisa dihilangkan klo ikut NLP? cara/tipsnya gmana? liat aja uda jijik apalagi pegang…
Saya malu nih nanti klo uda berumah tangga ada kecoa saya malah kabur lagi…
9:08 AM
Waduh.. terpesona aku akan gaya bahasa tulisan mas attar, sungguh mempesona..
2:52 PM
As a Newbie, I am continuously exploring online for articles that can help me. Thank you