NLPPresupposition adalah merupakan jantung dari NLP.
Menerima NLP Presupposition sebagai sikap dalam memandang dunia, akan mempermudah kita menguasai dan mengambil benefit dari NLP.
Semua teknik NLP diderivasikan dari NLP Presupposition ini. Dengan demikian menguasai NLP Presupposition akan mempermudah siapapun dalam menguasai NLP…
Presupposition # 01 : “The Map Is Not The Territory : Peta bukanlah wilayah yang sesungguhnya.”
Memiliki peta, atau menggambar peta adalah cara mempermudah kita dalam memahami, mengerti teritorial (wilayah yang sebenarnya). Dengan demikian, peta yang paling baik adalah peta yang paling menggambarkan wilayah yang dimaksudkannya.
Sekalipun demikian, peta tetaplah peta, karena peta itu tetap tidak akan pernah dapat menggambarkan seakurat mungkin wilayah yang dimaksudkannya. Penggambaran peta selalu dipengaruhi sudut pandang subjektif (filter) dari orang yang menggambarkannya.
Dalam kondisi normal, suatu peta sebaiknya dipercayai sebatas sebagai alat bantu, bukan diperlakukan sebagai kebenaran 100%. Bahkan seringkali, dengan berusaha memahami peta orang lain (tentang wilayah yang sama), akan membantu kita memperlengkapi peta milik kita hingga lebih akurat, dan multi perspektif. Seringkali, perspektif kita dalam menggambarkan peta, agak terlalu dipengaruhi oleh sudut pandang dari minat, ataupun kecenderungan kita memperhatikan hal-hal yang menarik bagi kita saja.
Nah, segenap representasi pikiran dan perasaan kita mengenai dunia (model of the world) benar-benar mirip dengan “konsep” menggambarkan peta ini. Sedangkan disisi lain, “dunia” itu sendiri bolehlah kita pandang sebagai territory-nya.
Memahami peta orang lain, berusaha memahami peta orang lain, inilah yang disebut sebagai rapport, alias proses merespek model dunia orang lain, karena kita ingin menghargainya. jadi rapport bukanlah pacing-leading… Pacing adalah teknik melakukan beberapa tindakan matching, agar kita mendapatkan rapport, kemudian hasilnya kita memperoleh “kekuatan” hubungan yang dapat dipakai untuk leading.
Orang bermasalah dan orang gila.
Orang yang sering disebut sebagai “bermasalah”, adalah orang yang menggambar peta secara serampangan, atau mempercayai peta buatan orang lain secara serampangan, kemudian mempercayai peta itu sebagai sebuah kebenaran….
Lupa dia…
Bahwa peta itu hasil karyanya sendiri,
Lupa dia…
Bahwa peta itu bukanlah kenyataan wilayah yang sebenarnya
Sengaja membuat peta
Well
Ada kalanya, kita dengan sengaja membuat suatu peta, dibuat dengan seakurat mungkin, sehingga 5 panca indera kita secara internal dapat “melihat”, “mendengarkan”, “merasakan”, “mencium”, dan bahkan “mencecapnya”…. seolah riil… seriil mungkin. Ini yang disebut sebagai WFO (Welformed Oucome), yakni suatu goal yang kita susun, untuk kemudian kita “manipulasi” dengan sengaja agar kita 100% mempercayainya.
Dalam hal seperti ini, maka yang terjadi adalah “The Map Become The Territory”…
Presuposition berikutnya yang dapat kita bahas adalah :
The meaning of the communication is the response you get.
Makna komunikasi (diukur dari) respons yang Anda dapatkan…
Well,
Saat seseorang berkomunikasi…, ia tentunya ingin menyampaikan suatu maksud tertentu. Lantas ia mengartikulasikan maksudnya itu melalui simbol-simbol bunyi yang disebut kata-kata dan simbol-simbol non-verbal lainnya.
Nah, pada saat ia mendapati bahwa lawan bicara “memahami secara berbeda” atas maksudnya, maka orang terkadang “senang” mengatakan bahwa lawan bicaranya itu mengalami “salah paham” !
Kalimat “orang lain salah paham” ini menarik, karena secara linguistik mudah diukur bahwa pembicara “menyalahkan” pihak lain, saat pihak lain tidak paham dengan apa yang dimaksudkannya.
Benarkah pihak lain “salah”????
Lho kok…, nyalahin orang lain…
Mungkinkah dirinya sendiri yang salah artikulasi?
Merunut pengertian rapport adalah merespek model dunia oran lain, maka dalam berkomunikasi-pun kita perlu menghormati model dunia orang lain dengan cara berbicara dengan simbol2 yang dimengerti olehnya.
Misal, saat kita berbicara dengan orang Jepang yang nggak ngerti sama sekali bahasa Indonesia, maka mudah dimengerti bahwa kita memilih menggunakan bahasa Jepang atau bahasa lain yang dimengerti bersama…
Ini artinya kita merespek model dunianya…
Nah,
Berarti saat berkomunikasi dan mendapati orang lain tidak memahami seperti yang kita inginkan, maka kita belum mengerti model dunianya, dan pastinya juga belum mengartikulasikan maksud kita dalam simbol2 yang dimengerti olehnya.
Jadi, daripada kita mengatakan bahwa “lawan bicara sedang salah paham”, maka auh lebih baik kita mengartikan “saya belum tepat memilih kata-kata yang dapat dimengerti olehnya”.
Nah
Sedikit masuk pada dataran linguistik…, jika kita mengatakan “Si Polan salah paham”…., maka kalimat ini jelas melanggar Meta Model yang bernama Lost Performative…
Dengan mudah kita menanyakan “Salah paham…, menurut siapa?”
Hehehe, tentunya si Polan salah paham, jika itu “menurut perpektif kita”!
Nah, kalau menurut perspektif si Polan bagaimana?
Mungkin di kepala Polan sedang mengatakan “Pembicara itu membingungkan…!”
Oke,
Kembali pada presuposisi di atas, dengan mengatakan bahwa “makna” dari komunikasi diukur dari respon yang kita peroleh, maka kita kemudian mengerti bahwa kita perlu “menyesuaikan ulang” komunikasi kita untuk mendapatkan hasil yang maksimal…
Jadi, keberhasilan komunikasi tidak diukur dari NIAT, namun dari RESPONS…
Secara spiritual, saat kita berNIAT maka perbuatan kita sudah dinilai oleh YME.
Namun secara horisontal, kesuksesan komunikasi kita diukur dari respon yang kita peroleh…
Ini bukan paradox, namun justru adalah saling melengkapi.
Presupposition #2 :
The ability to change the process by which we experience reality is more often valuable than changing the content of our experience of reality.
Kemampuan seseorang dalam mengubah “proses” dirinya mengalami realitas”, seringkali lebih bernilai daripada mengubah isi dari pengalaman atas realitas itu sendiri.
Artinya, suatu pengalaman setelah tersimpan dalam memory, akan dikodekan dengan cara tertentu (rep system dan submodality), dan bahkan untuk mengakses ulang (merecall, mengingat, mengalami ulang), harus menggunakan urutan tertentu.
Misal,
Untuk seseorang bisa merasa “tertekan” saat mengingat pengalaman tertentu. Maka ia harus mengingat dengan PROSES TERTENTU.
Jika ia mengingat dengan PROSES yang berbeda, maka rasa tertekan itu tidak dapat dimunculkan…
Misalkan, Anda memiliki pengalaman buruk, bisakah Anda mengingatnya dan merasakan kembali emosinya kembali, jika dalam mengingat itu Anda sambil cengengesan, sambil membayangkan sebenarnya itu cuman gambaran film Mr Bean???
Pasti tidak bisa!
Apa artinya?
Anda bisa membantu permasalahan orang lain, tanpa mengetahui “Content / isi” permasalahannya, cukup meminta ybs untuk mengubah PROSESNYA mengingat permasalahan itu dengan cara baru yang sama sekali berbeda. Kemudian memastikan bahwa CARA BARU DALAM MEMPROSES ini akan dipergunakan seterusnya olehnya.
Artinya kita menawarkan cara lain dalam mengakses ulang pengalaman masa lalunya yang tadinya menghasilkan respon yang TIDAK MENGUNTUNGKAN, kemudian kita bantu mengubah URUTAN PROSESNYA sehingga hasil akhirnya adalah RESPON YANG LEBIH BERGUNA.
Inilah yang kemudian dikenal dengan CONTENT FREE INTERVENTON!!!
Cara NLP yang amat elegant dalam membantu masalah orang lain tanpa mengetahui masalahnya.
Slogan NLP baru : menyelesaikan masalah tanpa mengetahui masalah!!!
Hehehe, mirip dengan apa yah?
Lebih jauh dengan NLP Pressuposition ini : The ability to change the process by which we experience reality is more often valuable than changing the content of our experience of reality.
Kemampuan mengubah PROSES kita dalam mengalami realitas, seringkali lebih berguna daripada mengubah ISI dari pengalaman atas realitas itu…
Biasanya di kelas Practitioner, saya memberikan contoh penjelasan presuposisi ini melalui kisah-kisah Fast Phobia Cure, dan menggunakan Stage Anchoring untuk meng-install perbedaan “PROSES / STRUKTUR” dengan “KONTEN”
Nah,
Karena sedang bukan di pelatihan mari kita gunakan cara lain, sesuai dengan apa yang baru saja saya alami saat ini.
Di Chicago terkadang saya makan bersama teman-teman asli sini, dan sangat kontras yag dialami bahwa makanan yang mereka katakan sebagai Yummy, adalah makanan yang menurut saya adalah “eNeg!”
Setiap practitioner dengan mudah akan mengatakan bahwa mengatakan “Makanan ini enak atau tidak enak” menunjukkan bekerjanya filter Distorsi di kepala kita…,, tepatnya Filter Disorsi berbentuk pelanggaran Meta Model “Lost Performative’
—> enak menurut siapa?
—> Tidak enak menurut siapa?
Nah, filter distorsi ini juga merupakan bukti pendukung atas mengenai presuposisi yang lain “The map is not the territory”. Peta bukanlah wilyah yang sebenarnya…, lihat Catatan (Note) yang sebelumnya tentang hal ini…
Artinya, untuk suatu territory yang jelas-jelas sama (yakni makanan), maka map kami ternyata beda. Yang sati mengatakan TIDAK ENAK, sisanya mengatakan UENAAAK…
Nah, kita juga sudah tahu bahwa “If we change our map, then we will responding differently to the same territory”. Artinya, mengubah persepsi kita terhadap realitas, akan mengubah respon kita kepada realitas itu.
Kemampuan mengubah-ubah map ini adalah salah satu jantung dari NLP. Sebab The ability to “manipulate” our map, can make us have more flexibility to deal with the territory (reality)…
Ya khan?
kemampuan kita memanipulasi persepsi kita sendiri, akan membuat kita lebih fleksibel dalam berurusan dengan realitas.
Jadi saat relalitas “makanan yang tersedia” tidak sesuai dengan map saya, maka saya ubah saja map saya mengenai realitas itu, agar saya bisa mengalami secara berbeda”… Artinya fleksibilitas saya bertambah…
Nah bagaimana teknisnya mengubah map ini?
Lha banyak sekali caranya…
Nyaris semua teknik di NLP adalah teknik mengubah map makanya disebut the sudy f subjective experience).
Well
Jika kita kaitkan dengan judul diatas : The ability to change the process by which we experience reality is more often valuable than changing the content of our experience of reality.
Maka kita perlukan adalah mengubah PROSESNYA, bukan ISI PENGALAMANNYA.
Apa proses yang saya alami?
Dalam NLP ini disebut Strategy, yakni urut-urutan representasi sistem (VAK = Visual-Auditory-Kinestetik-Olfactory-Gustatory) yang terjadi saat saya HENDAK dan TENGAH MAKAN.
Nah,
Ternyata setelah saya cermati (self strategy elicitation) :
Strategy makan enak saya adalah demikian :
Ve –> Ke(O) –> Aid –> Ki –> Ki(G) –> Ke
Artinya:
Saya lihat makanan (jika menarik maka)
Saya Cium (O= Olfactory), (Jika baunya cocok)
Saya katakan pada diri sendiri (Aid) “Wich.., enak ini….!” (kemudian)
Saya bernafsu (Ki)
Saya merasa ada air liur di mulut (Ki (G)) (air liur nggak netes lho…)
Saya Ambil dan makan (Ke)
Nah…
Ketemu deh prosesnya (strategynya)
Jadi tinggal menggunakan swish pattern saya manipulasi dulu stimulusnya (“X”) yakni tampilan Visualnya (Ve), kemudian saya swish dengan Desire Picture berupa saya mencium bau yang enak dari makanan ini Ke (O).
Detail mengenai Swish Pattern baca di Note/Catatan sebelumnya.
Nah, kemudian selebihnya adalah saya manipulasi Aid dan submodality lainnya.
Maaf,
Mungkin tulisan ini agak advanced, artinya banyak Notasi/Istilah yang hanya dimengerti oleh para Praktisi. Maklum nulisnya malam-malam…
Muga-muga setelah sampai Indonesia saya bisa edit sehingga tulisan menjadi lebih ramah pada para new Comer / Awam NLP.
Demikianlah…
Mengubah PROSES kita dalam mengalami realitas akan amat berguna!!!



ya…nich bahasanya terlalu asing, tapi saya sedikit bisa memahami,bahwa NLP adalah bagaimana kita bisa mengubah suatu sesuai presepsi kita, apa gitu mas…? mohon maaf jika salah
http://Spiritualpreneurship.com/?faizjaya
Hidup memang paradox, tapi paradox dalam makna saling melengkapi. Bukankah Tuhan itu Maha Awal juga Maha Akhir. Tuhan juga Maha Penyayang juga Maha Memberi Siksa. Dia juga lahir dan juga batin. Paradox ini harus dimiliki oleh seorang manusia jika ia ingin sempurna. Dan memiliki paradox itu berarti saling melengkapi dan karena saling melengkapi, maka kita semakin sempurna. Bukankah Menurut Syafruddin Hilli, Sayyidina Ali bin Abi Thalib itu disebut sebagai contoh par excellance seluruh kontradiksi ini. Beliau selembut rahib di malam hari tetapi setegar singa di siang hari. Setangguh karang di medan perang, tetapi setenang sunyi di mihrab peribadatan. Manusia yang sempurna adalah manusia yang menjaga keseimbangan. Yang berperilaku dan bertindak sesuai dengan tuntutan yang seharusnya. Manusia kebanyakan mungkin melihatnya sebagai inkonsistensi. Wawasan paradoksal adalah pemahaman bahwa ini semua bukan inkonsistensi dan kontradiksi, melainkan keharusan dan saling melengkapi.
Artikelnya yummy banget!
satu demi satu, mulai gamblang buat saya. terus terang sebagai anak bawang, saya masih suka kebalik-balik tentang poin-poin penting dalam NLP. ditunggu terus pencerahannya mas Ronny.
Berarti,…selalu berusaha “berprasangka baik”.. bisa diperoleh dg cara menggunakan NLP presupposition ya mas, dan ini jika dikaitkan dg “Alloh mengikuti persangkaan hambanya”..benar adanya. Wah, trima kasih mas sharing ilmunya.
jadi kelihatan kehebatan Allah yg tdk terbatas pada diri manusia.terimakasih mas Roni,
di tunggu trs ilmu2nya,
muga-muga Allah menetapkan kesuksesan atas kita semua