Dear all,
Apa kabar?
Saya yakin kawan-kawan sudah mulai menemui berbagai atribut partai politik di manapun Anda berada. Bahkan mungkin di depan pagar rumah Anda, atau di kaca mobil Andapun ditempel orang atribut ini.Hampir semua titik sudah dipenuhi dengan atribut partai ini.
Entah harus diartikan apa fenomena ini…, Anda sendiri memaknakan fenomena ini apa? Apakah harus dimaknakan sebagai :
- Pertanda diperbolehkan mencuri start asalkan smart.
- Atau ini pertanda majunya dunia periklanan dalam melayani sektor pasar politik?
- Atau Anda memilih makna bahwa dunia cetak digital sedang menemui jaman keemasan dan menangguk untung luar biasa?
- Ataukah ini cara caleg dan politisi menunjukkan “integritas”-nya dalam mengikuti aturan mainPemilu?
- Ataukah kotornya wajah dan dinding kota Jakarta bukan lagi sekedar oleh sampah, graffity dan mural…, namun kini ditambah oleh sampah yang berasal dari iklan politik?
- Ataukah ini pertanda wajah demokrasi yang semakin membaik…
Well,
Boleh-boleh saja kita memilih makna yang sesuai, bukankah kita memang dikaruniai Tuhan suatu kecerdasan pikiran untuk mampu menciptakan makna yang berguna dan baik bagi kita… Atau selama ini kita hanya menurut bak kerbau dicucuk hidung oleh pendapat orang-orang di atas sana yang “mendikte” makna untuk kita pada seluruh peristiwa politik?
Saatnya dunia NLP berbicara!
Oke…
Bagi pembelajar NLP, tentunya Anda sudah mempelajari bahwa makna suatu peristiwa, tergantung siapa yang memberikannya. Semua dari kita bisa dan mampu memberikan makna pada suatu peristiwa di dunia ini. Nah, apabila kita merasa makna tidak cocok untuk kita, kenapa kita tidak menggantinya saja? Kalau kita memandang makna yang disajikan tidak memberdayakan, kenapa kita tidak mengganti dengan makna yang lebih memberdayakan? Kalau bagi kita kedengarannya maknanya membodohi, kenapa kita tidak mengganti dengan makna yang lebih memperpintar? Toh NLP sudah memberikan kita tools yang disebut reframing, alias membingkai ulang.
Nah, NLP mengajarkan kita membingkai ulang dalam 2 hal secara konteks (Context Reframing), dan secara isi (Content Reframing), di pelatihan NLP Practitioner kita tambahkan satu lagi secara waktu (Time Reframing). Lha, kalau sudah belajar, mari kita praktekkan…
Artikel ini adalah tantangan bagi para praktisi NLP untuk ikut serta memberi makna pada berbagai peristiwa di tanah air. Kali ini, mari kita pertajam kemampuan kita melakukan 3 jenis reframing itu. Nah, kita berlatih dengan mensikapi pendapat-pendapat di luar sana yang dilakukan oleh orang-orang yang secara alami memiliki kemampuan reframing ini.
Jika Anda praktisi NLP, silahkan kalimat-kalimat ini di reframe menggunakan reframing yang cocok, kemudian jelaskan reframing jenis apa yang Anda pakai. Jika Anda bukan praktisi NLP, cukup Anda ubah aja makna kalimat di bawah ini secara kreatif.
Ingat, tidak ada yang benar, tidak ada yang salah. Ini adalah forum pembelajaran…, semua berhak memiliki pandangan dalam menilai hidup. Mohon lakukan secara sopan dan beretika. Beberapa kalimat ini saya ambil dari judul berita / artikel di media massa.
1. Jumlah parpol yang luar biasa banyak menunjukkan demokrasi berjalan baik di Indonesia.
2. Kembalinya para politisi era orde baru di kancah politik membuat dunia politik Indonesia lebih terasa matang.
3. ABRI seharusnya tidak memiliki hak pilih, karena hanya akan disalahgunakan oleh pemegang kekuasaan.
4. “Mikul duwur mendem jero” merupakan cermin budaya bangsa yang adiluhung.
5. Harga bensin turun 3 kali di jaman SBY merupakan prestasi pertama kali dari semua Presiden yang pernah ada di Indonesia
6. Tertangkapnya Caleg PKS dari kota Jambi di panti pijat oleh polisi menunjukkan Polisi tidak tebang pilih.
7. Karena diusulkan jadi Cawapres, Sultan HB X diprotes pendukungnya
8. Akbar Tandjung memprediksi Partai Golkar akan mengalami penurunan suara di Pemilu 2009 karena mekanisme dan soliditas partai tidak berjalan dengan baik.
9. Menurut Sosiolog UI, usulan pencopotan Kapolda Sumut, pasca tewasnya Ketua DPRD Sumut dalam demo anarkis 2 Februari dinilai tidak menyelesaikan masalah.
10. Anggota DPRD Medan menyatakan “Sudah sewajarnya pimpinan Dewan diberi izin dari pihak kepolisian memiliki senjata api untuk mempersenjatai diri.”
Oke, para praktisi…
Ini bukan latiihan melakukan meta model lho…, sekalipun Anda gatal untuk melakukannya. Namun ini adalah latihan experimental untuk melakukan reframing.
Baik saya tunggu pendapat Anda yang bertanggung jawab, mari kita memperdewasakandiri dalam berpolitik, dengan mengerti proses penciptaan makna melalui reframing…
Salam cerdas politik!



Akbar Tandjung memprediksi Partai Golkar akan mengalami penurunan suara di Pemilu 2009 karena mekanisme dan soliditas partai tidak berjalan dengan baik pendapat ini betul kalo Partai Golkar tidak melakukan upaya lain.
Hal ini tidak berlaku apabila Partai Golkar menunjukkan kinerjanya positifnya selama ini kepada masyarakat luas, tapi kalau Partai Golkar bisa menujukkan kinerja positifnya dan itu masuk ke dalam hati masyarakat tentu saja hasilnya akan sebaliknya. Karena yang diucapkan Akbar Tanjung hanya konsumsi elite partai sementara itu masyarakat kecil (pemilih) tidak berpikir tentang itu tapi suara mereka di wakili.
Tulisan yang sangat menarik mas Rony…
Salam dari bumi sriwijaya…
Anggota DPRD Medan menyatakan “Sudah sewajarnya pimpinan Dewan diberi izin dari pihak kepolisian memiliki senjata api untuk mempersenjatai diri.”
saya dan anda semua pasti sudah mengetahui, bahwa senjata api bukanlah sekadar alat untuk menakut-nakuti seperti halnya pistol mainan, namun yang lebih tepat adalah mesin pembunuh ditangan orang yang kurang tepat. Apakah layak, seorang anggota Dewan yang notabene adalah wakil rakyat, mempersenjatai diri saat berhadapan dengan orang yang diwakilinya? bukankah lebih bijak, jika kita instropeksi diri, merubah pola kita dalam menyikapi setiap aspirasi yang datang dari rakyat.
Mantap…
Ayo mana yang lain…
Asah kemampuan reframing yuuuuk
“Mikul duwur mendem jero” merupakan cermin budaya bangsa yang adiluhung. Ini budaya bangsa Jawa pada jaman kerajaan feodal dimana kewibawaan penguasa sangat menentukan utuhnya sebuah negara. Pada saat ini justru budaya ini yang menyebabkan bangsa Indonesia terpuruk dalam jurang mega korupsi dan disintegrasi.
Saat ini yang tepat adalah; “dipikul duwur-duwur“ (diangkat tinggi-tinggi) perkara korupsi agar semua orang tahu bahwa korupsi itu salah dengan alasan apapun, dan “dipendem jero-jero“ (dipendam dalam-dalam) koruptornya dengan hukuman yang paling berat.
Hahaha..
Bagus bener Mas Heri!
Setuju…
Kita masih nunggu apa lagi?
6. Tertangkapnya Caleg PKS dari kota Jambi di panti pijat oleh polisi menunjukkan Polisi tidak tebang pilih.
Benar, polisi tidak tebang pilih (tempat), dimanapun “tempat-nya”, mau di panti pijat, di warung, di jalan, di kantor, ataupun dimana saja, pokoknya ada orang yang namanya “caleg PKS” akan ditangkap. Ha ha ha (contoh sesuai soal ya. maaaf). Jadi lucu juga ya kalo direframing. Peace, semoga Pemilu padha sukses semua, menang semua!!!
6. Tertangkapnya Caleg PKS dari kota Jambi di panti pijat oleh polisi menunjukkan Polisi tidak tebang pilih.
Atau yang kedua, maknanya:
“Caleg PKS” saja ditangkap, apalagi yang penjahat atau koruptor.
Atau yang ketiga, maknanya:
PKS saja yang dekat dengan Kepolisian saja ditangkap calegnya, apalagi yang buronan polisi.
Atau yang keempat, maknanya:
Panti pijat di Jambi saja dirazia oleh polisi, apalagi di kota besar.
Atau yang kelima, teruskan ya…
Thanks
(memang benar jadi obat gatal artikel ini ha ha ha)
Menarik Mas Eko Andi!
Ayo lebih banyak lagi…
Obat gatal terbaik adalah jangan digaruk, namun nulis pendapat di artikel ini…
Ok, Pak Ronny
Saya pilih pernyataan no.5
5. Harga bensin turun 3 kali di jaman SBY merupakan prestasi pertama kali dari semua Presiden yang pernah ada di Indonesia
Reframingnya, Reframing Konten
Itu bukan prestasi, tapi kembali ke titik nol, karena sebelumnya juga tidak ada Presiden Indonesia yang menaikkan Harga Bensin 3 kali dijamannya!
Hahahaha…
Oke juga Mas Fitra!