Pengalaman adalah SELALU merupakan guru yang terbaik

Pengalaman adalah SELALU merupakan guru yang terbaik, apakah kita sudah siap menjadi murid yang baik?

Tulisan ini adalah awalnya adalah merupakan jawaban atas pertanyaan / komentar di artikel saya yang berjudul “Apakah NLP itu?”, oleh Mbak “Ratu Pantai Selatan”. Wiiiii, sebuah nama yang menggetarkan orang Yogyakarta pada umumnya. Pada saat saya menjawab saya mendapati diri saya terhanyut dengan mengetikkan tulisan yang demikian panjang dan asyik, sehingga saya memilih untuk memindahkannya sebagai artikel, tentunya atas ijin si Penanya.

Untuk Mbak Ratu Pantai Selatan, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaannya ber-curhat pada saya… Aneh, saya merasa dada saya berdegup kencang, saat membaca email Anda…, sungguh sebuah “ketukan hati” yang luar biasa dari seorang yang belum saya kenal sebelumnya. Salam kenal dari saya Mbak…

Sebelum saya lanjutkan artikel ini, maka berikut ini kutipan pertanyaan Mbak ‘Ratu Pantai Selatan’ secara komplit :

ratupantaiselatan Says: August 7th, 2008 at 6:46 pm

allow mas ronny…. pertama kali mengenal NLP ketika saya lahir didunia…ketika saya menggunakan tangisan saya untuk membuat semua orang yang mendengarnya tersenyum dan bergumam kecil, membathin bahagia dan seribu ungkapan bahagia lainnya… hore!!! aku sudah berhasil mendapatkan perhatian mereka… dalam menjalani hidup pun tanda sadar kita sebenernya sudah ber NLP ria, ketika kita tahu teman kita tidak mengatakan yang sebenarnya dengan menelan ludah, atau tanpa harus bapak kita mengatakan kalau beliau tidak suka dengan apa yang kita lakukan, kadang kita tahu dan urung meneruskannya…

mas Ronny yang terhormat… saya ga tahu pada siapa saya emsti curhat hal ini…. jujur belakangan ini ketika metodologi, tehnik NLP mulai merebak, saya sedikit merasa prihatin dengan fenomena yang saya alami, dengar , rasakan dan lihat. memang tidak semua, namun beberapa orang yang saya tahu dan kenal, setelah belajar NLP kok jadi berubah ya…?

berubah yang akan saya curhatkan malam ini adalah berubah yang bisa ber efek ketidak baikkan buat diri mereka sendiri. memang sih bukan urusan saya, cuman saya prihatin aja… kenapa yah mereka menganggap NLP seolah seperti senjata paling pamungkas dalam hidup ini, sehingga membuat mereka seolah juga jadi “keblinger”=”sombong” merasa paling hebat…. paling keren…. paling tahu cara hidup…. (kebanyakan dari mereka adalah trainer atau “merasa dirinya trainer saya juga ga tahu) saya ga tahu pasti itu disadari atau enggak….karena saya memang bukan cacing yang hidup di perut mereka..hehehehhe…

walopun saya ga tahu banyak NLP, NLp adalah attitude..(koreksi saya kalo salah ya mas) mereka sering berbicara didepan atau menulis didepan publik, dengan menganggap materi, metode, trainer lain lebih tidak bermutu dari beliau2 itu… huuufff….apakah itu termasuk attitude atau bukan… saya bukan siapa2, hanya seorang yang ga tau banyak tentang NLP, namun prihtin dengan fenomena ini… bukan NLP nya yang salah, NLP itu keren mas, namun bukan merupakan ilmu pamungkas untuk menghadapi hidup… karena sesungguhnya, Alqur’an itu masih banyak rahasianya…. saya hanya ga pengen NLP menjadi korban mereka, dikala ada sebagian orang merasa kecewa melihat fenoma itu dan akan anti dengan NLP=> “NLP bisa membuat orang keblinger” itu sudah beberapa waktu ini saya dengar…

usul saya : bagaima kalau ketika ada training NLP, juga ada pasca training nya karena NLP harus di rasakan…dan di praktekkan…. jadi kayak workshop berkala gitu, dan jangan mahal2, bukan karena ga bisa menghargai ilmu, namun masih banyak lho diantara kita yang mau maju dan berubah = memberikan kesempatan mereka untuk investasi akhirat = dengan punya hubungan yang baik dengan manusia = punya hubungan yang baik dengan Tuhan

thanks ya mas dah dengerin….

BELAJAR NLP SEMENJAK DARI BAYI

Sungguh menarik sekali…

Mengesankan membaca curhat Anda yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya manusia sudah mengenal dan mempraktekkan NLP sejak lahir. Luar biasa!

Saya sepakat sekali dengan tanggapan Anda bahwa manusia, termasuk diri kita semua, sebenarnya sudah belajar untuk memiliki perilaku yang ekselen semenjak dari bayi. Melalui proses yang alamiah, seorang bayi belajar mengembangkan perilaku-perilaku yang berguna kelak dalam kehidupannya. Berbagai macam perilaku…, persis seperti yang Anda ceritakan.

Sedihnya, sekalipun pengalaman selalu menjadi guru terbaik. Seringkali yang mengalaminya (kita-kita ini) tidak selalu menjadi murid yang baik.

Lho, apa ya maksudnya kalimat di atas?

Semenjak bayi, kita selalu berusaha menjadi yang ekselen, mendapatkan yang terbaik. Lantas kehidupan ini mengajarkan pada kita bahwa kita “tidak selalu” mendapatkan apa kita inginkan, mendapatkan respon seperti yang kita inginkan. Pada saat itulah, kita sebenarnya sedang mendapatkan guru yang terbaik.

Namun sayangnya, sebagai seorang anak kita belum berhasil mengambil pelajarannya (dengan menjadi murid yang baik), seringkali feedback dari lingkungan (yang menjadi pengalaman kita itu) malah menjadi suatu traumatis, atau menjadi negative installment yang akhirnya menjadi pelajaran yang buruk bagi kita.

Misalkan :

Seorang anak kecil bertemu dengan kecoa yang menarik hatinya, kemudian dipegangnya kecoa itu dengan gagah berani. Dan dicabut sayapnya yang berwarna mengkilat indah itu, walhasil sang kecoa marah, meronta dan meloncat dari tangan si anak, dengan sigapnya ia menggigit bibir anak, sehingga bibirnya melepuh dan selama 2 hari badannya sakit panas.

Well,

Melalui pengalaman itu, Sang Kehidupan yang bijak sedang membentangkan pengalaman belajar pada Sang Anak itu, agar supaya untuk tidak menyakiti binatang atau mahluk hidup lainnya yang lebih kecil.

Namun karena keterbatasan Sang Anak, yang usianya masih kecil, yang nalarnya masih terbatas, yang belum mengetahui reframing J, yang tidak mengetahui bahwa “every behavior has positive intention in particular context”, maka ujaran bentangan ilmu pengetahuan dari Sang Kehidupan tak mampu dikunyahnya.

Alih-alih Sang Anak malah mengembangkan pengetahuan/perilaku baru yang kemudian kita sebut sebagai minor trauma atau mungkin lebih tepat phobia. Si anak justru mengembangkan makna yang negatif, makna yang disempower yang diyakininya bahwa seekor kecoa adalah binatang yang menakutkan dan berbahaya. Yang mampu membuatnya sakit panas 2 hari, yang harus dijauhinya, dan seterusnya. Sejak saat itu hingga usia dewasa, hingga akhir hayatnya, anak ini kelak akan selalu ketakutan secara irasional kalau bertemu dengan kecoa. Bahkan cukup dengan membayangkan kecoa, atau disebut kata “kecoa”, dia bisa menggigil ketakutan, dan seterusnya.

Masya Alloh,

Jadi apa yang dipelajari Sang Anak tidak sama dengan apa yang diajarkan oleh Sang Guru Kehidupan.

Memang pengalaman adalah selalu dapat menjadi guru yang terbaik, namun apakah kita selalu menjadi murid yang baik?

Sungguh beruntung jika dalam perjalanan hidupnya, si anak akan bertemu dengan seorang praktisi NLP, seorang yang sudah pernah belajar Fast Phobia Cure, sudah menguasai collapsing anchor, yang sudah lulus dengan baik di 7 days Licensed NLP Practitioner. Lho lho lho kok jadi promosi…

Pertemuan ini dapat membantunya membebaskan dari cara belajarnya yang salah di waktu kecil. Membebaskannya dari V/K association, sehingga menjadi V/K disassociation. Membebaskannya dari kungkungan pengalaman phobia-nya yang mengurungnya sepanjang hidupnya.

Demikianlah, tentunya dari gambaran di atas, dengan mudah dipahami bahwa seorang anak memang belajar menjadi ekselen, namun seorang anak tidak belajar/mengenal NLP.

Di dalam pemahaman saya, memang belajar NLP adalah belajar kehidupan itu sendiri. Memisahkan NLP dari kehidupan, hanyalah akan menjadikan seorang praktisi sebagai robot teknik. Saya setuju bahwa bayi sudah mulai mengenal dan menggunakan berbagai hal seperti yang juga dibahas dalam NLP. Bahkan seorang bayi melakukannya secara alamiah, luar biasa!

Hanya saja, ada baiknya jika perlu diluruskan di sini. Sekalipun seorang bayi sudah melakukan sesuatu seperti yang dilakukan oleh pembelajar NLP, tidaklah berarti ia sudah belajar NLP. Jika sudah menguasai, tentunya kita tidak perlu lagi berkumpul di sini, membahas dan saling belajar NLP satu sama lain. Ya khan?

Tentunya secara metaforik, kita boleh saja mengatakan bahwa kita sudah mengenal NLP semenjak bayi. It’s no problem with that

NLP aplikasinya sangat luas sekali, kita belajar NLP karena kita tahu di luar sana ada orang lain yang dalam konteks tertentu memiliki perilaku yang lebih ekselen dari kita. Idenya adalah kita belajar NLP karena ingin memperoleh cara / strategi agar memiliki kefektifan / ke-ekselenan yang sama dengan orang lain yang memilikinya. Karena kita tahu bahwa tidak semua hal yang kita pelajari secara alamiah sudah langsung memberikan metode paling efektif / ekselen.

BELAJAR NLP MENJADIKAN SESEORANG BERUBAH

Ratu Pantai Selatan yang baik (dan pastinya juga cantik seperti dalam gambaran kisah-kisah Mataram)…

Persis seperti yang Anda maksudkan, bahwa adalah benar setelah belajar NLP orang akan menjadi berubah. Karena seperti di singgung di atas, NLP mengajarkan seseorang untuk memiliki tools bagi meninjau lagi pengalamannya yang lalu. Jelas baahwa orang ingin belajar NLP karena ia percaya NLP bisa membantunya berubah dengan cara yang lebih mudah.

Saya mencermati di dalam pertanyaan Anda terkandung kata “beberapa orang yang Anda tahu dan kenal”, yang menganggap NLP sebagai senjata pamungkas, membuat mereka seolah menjadi keblinger, merasa paling hebat, paling keren, paling tahu cara hidup, dan kebanyakan mereka adalah trainer, atau merasa diri trainer.  Lantas secara disadari ataupun tidak, mereka menjadi sombong setelah belajar NLP, demikian juga mungkin sudah mengecilkan pihak lain…, bahkan sudah terlampau kebablasen menganggap NLP sebagai senjata pamungkas melebihi Kitab-Kitab Suci Tuntunan Agama…

Wah, saya pasti juga akan ikut bersedih jika berjumpa dengan “beberapa orang itu” seperti yang Anda sebutkan. Sebab, yang saya temui saat belajar NLP dan merasakan hasilnya, kok rasanya jauh dari sifat-sifat yang sedemikian ya? Saya juga kurang jelas dengan siapa “beberapa orang itu” yang Anda maksud. Sebab itu mengandung deletion yang cukup kental, yang tergolong dalam metamodel sebagai Lack Of Referential Index, yakni adanya ketidakjelasan siapa pelaku yang direfer oleh kata “beberapa orang itu”. Sebab saya belum mengenal Anda dan mengetahui di lingkungan mana Anda bergaul.

Saya merasa terhormat karena sudah Anda pilih sebagai tempat curhat, dan juga sekaligus prihatin pada kejadian yang anda maksudkan itu. Well, saya tidak tahu dan tidak ingin mengetahui siapa mereka, dan mohon jangan diulas di sini, cukup kita bersama-sama belajar dari fenomena ini. Anggap saja itu terjadi di negara lain di Republik Democrazy atau Republik Mimpi, supaya kita terjauh dari fitnah dan ghibah. Kata Pak Ustad, tidak baik membicarakan orang lain…, sebab jika itu benar maka kita menjadi ber-ghibah, namun jika kejadian itu tidak benar maka kita terjatuh di lembah fitnah. Lha, jauh lebih baik membicarakan peningkatan diri kita menjadi lebih baik ya…

Wuuuuufh,

Sebagai Pegiat dan Mitra Belajar NLP, sungguh saya merasa ikut bersalah dan prihatin dalam hal ini. Namun melalui masukan yang membangun dari Anda ini, saya sendiri memilih bertekad untuk lebih baik lagi dalam proses belajar mengajar atau dalam bertutur tulis / kata. Terima kasih! Juga saya mewakili untuk memohonkan maaf untuk semuanya, sekaligus kesempatan menjelang Iedul Fitri.

Saya teringat cerita orang-orang yang belajar ilmu beladiri, terkadang jika kurang matang (misal kalau masih tingkat dasar / Sabuk Putih), mungkin tanpa disadari lantas kadang merasa jagoan banget. Apapun / siapapun pengin ditantang, papan tidak bersalah dihancurkan, tembok yang diam pun dipukuli, lihat dada yang bidang lantas rasanya seperti melihat sansak…. Mungkin sama saja demikian kelakuan kami-kami dulu waktu di awal belajar NLP. Srudak-sruduk grudak-gruduk…. Wah jadi ingat kelakuan semacam itu waktu muda dulu. Nyaris saja kami ini ‘lewat’…, untungnya…

Sejauh yang saya mengerti mengenai ilmu seperti karate, yudho, pencaksilat, hampir semuanya sebenarnya mengajarkan attitude sikap keteladanan, membela yang lemah, namun pembelajar ilmu beladiri pemula memang lebih mudah terjatuh pada pesona mendapatkan kesaktiannya, dan lantas agak ‘keblinger’ pengin nyamber kiri kanannya…

Tentunya, hanya karena ada beberapa gelintir orang yang agak “keblinger” belajar beladiri, tidak lantas membuat kita secara sah lantas boleh mengatakan bahwa : beladiri membuat orang keblinger.… Sebab masih jauh lebih banyak orang belajar beladiri yang tidak keblinger.

Fenomena ini juga mirip dengan adanya orang yang belajar ke “Tokoh Agama” karena lebih tertarik untuk mendapatkan kesaktian, bukan mempelajari agama itu sendiri sebagai “jalan” hidup /cara men-sikapi kehidupan.

Tentunya, hanya karena ada beberapa gelintir orang yang keblinger dalam mempelajari agama, tidak lantas membuat kita secara sah boleh mengatakan bahwa : agama membuat orang keblinger.… Sebab masih jauh lebih banyak orang belajar agama yang jauh dari sikap keblinger.

Saya dulu sempat kuliah setahun di Fakultas Teknik UGM, sebelum kemudian pindah ke Fakultas lain di UGM. Lha waktu kuliah di Fakultas Teknik UGM itu, saya ingat betul, ada aja mahasiswa baru yang bangga bukan main sebagai “mahasiswa teknik”, kemudian menjadi sombong atau mungkin agak “keblinger” dan suka mengejek mahasiswa fakultas lain atau yang bukan kuliah bukan di Universitas Negeri… (Saya tahu ini tidak banyak…, tapi ada lho..)

Tentunya, hanya karena ada beberapa gelintir orang yang “keblinger” seperti itu, tidak lantas membuat kita secara sah lantas boleh mengatakan bahwa : Fakultas Teknik UGM membuat orang keblinger.… Sebab masih jauh lebih banyak orang belajar di Fakultas Teknik UGM yang tidak keblinger.

Ketika mendalami LOA, saya juga menemui hal yang sama, banyak yang menuding bahwa LOA menyesatkan, bahkan membuat orang keblinger. Saya tidak tahu, semoga memang yang menuding LOA keblinger itu sudah benar-benar belajar dan mempraktekkan LOA. Semoga bukan hanya dari membaca satu dua buku, menganalisis, melihat ada fenomena orang “keblinger”, lantas LOA yang dipersalahkan.

Dalam hal-hal seperti ini, saya memilih bersikap berbeda, saya memilih tidak mengadili. Yang kemudian saya lakukan adalah memasang sikap ‘penasaran’ dan rasa ‘ingin tahu’. Saya membeli semua buku yang menjadi akar ilmu LOA, bahkan semua DVD dan CD dari Esther Hick (Abraham Teaching). Buku dan DVD Bob Proctor tentang “You were Born Rich” pun saya lahap. Demikian juga buka membeli semua DVD, CD dan buku Michael Losier. Bahkan tidak puas di situ saja, kemudian jauh-jauh pergi ke Canada untuk memastikan belajar secara benar dan langsung dari Michael Losier. Sebab saya meilihat Michael Losier mengaplikasikan imu NLP di dalam mengungkap “rahasia” LoA. Rasa penasaranlah yang membawa saya mengambil sertifikasi sebagai LoA Facilitator, untuk mengetahui bagaimana cara Michael Losier memfasilitasi orang yang belajar mempraktekkan kekuatan LoA dalam kehidupan.

Well, di Canada ternyata saya tidak bertemu dengan seorang Michael Losier yang sombong, yang keblinger… Bahkan jauh dari itu, ia sangat rendah hati, menyenangkan, dicintai semua orang, berkelimpahan, membagi-bagi kebahagiaan dana hadiah kepada semua orang…, secara gratis… tis…

Kemudian secara konsisten saya mulai melatih dalam basis harian, untuk melihat dan mengalami, apakah upaya saya menunjukkan adanya keberhasilan? Belum tentu! Namun jika tidak ada hasil, saya tidak lantas dengan mudah menuduh dan mempersalahkan bahwa LOA tidak works. Saya gunakan segala kemampuan untuk lebih fleksibel, mengadaptasi pendekatan, memperbaiki awareness, konsultasi jarak jauh melalui email dan teleconference dan kemudian memperbaiki lagi pendekatan saya. Demikian seterusnya. Jika yang kita lakukan belum berhasil, dan ada orang lain yang berhasil, maka kita perlu fleksibel memperbaiki pendekatan kita.

Semoga saya dan andapun juga dikarunia kesempatan belajar langsung dengan Esther Hicks, dan guru-guru LOA yang lain. Sejauh yang lihat di DVD, beliau-beliau ini rendah hati dan senang menolong orang. Terlebih tidak membagikan kedengkian dan permusuhan pada pihak lain.

Sekarang, dari mbak Ratu saya mendapati informasi / feedback, bahwa ada juga yang mengatakan bahwa NLP membuat keblinger. Well…, muga-muga dari paparan di atas, kita semua cukup bijaksana untuk menyimpulkan bahwa NLP tidak membuat orang keblinger.

NLP tidak bisa melakukan apa-apa, karena ia bukan benda, bukan mahluk hidup. NLP hanyalah suatu ilmu. Di tangan siapa NLP atau ilmu apapun akan dapat berpotensi menjadikan keblinger, terutama bagi yang mau belajar lewat jalan pintas, belajar hanya untuk diajarkan tanpa dipraktekkan sendiri, dan baru belajar dikit sudah merasa paling mengerti dan mumpuni atau memang tujuan awal belajarnya sudah berbeda. Tidak penting sejak kapan seseorang belajar NLP, atau ilmu apapun. Pertanyaannya adalah sejauh mana ia dapat memanfaatkan NLP menjadi useful bagi sesamanya.

Kembali kita tuliskan, pengalaman selalu adalah guru terbaik, namun apakah kita sudah siap menjadi murid yang baik? Jika ada seseorang keblinger, tidak selalu disebabkan oleh guru atau ilmunya yang memblingerkan, bisa jadi disebabkan oleh sikap / attitude si pembelajar (murid) -nya yang keblinger.

  • Agama tidak membuat keblinger, sekalipun mungkin ada aja yang keblinger saat belajar agama.
  • UGM tidak membuat orang keblinger, sekalipun mungkin ada aja yang keblinger saat kuliah di UGM
  • Beladiri tidak membuat orang keblinger, sekalipun mungkin ada juga yang keblinger setelah belajar beladiri
  • NLP pun demikian… tidak membuat keblinger, sekalipun mungkin ada aja orang yang keblinger setelah belajar NLP.

Semua kembali dengan pertanyaan : dengan siapa ia belajar, bagaimana cara ia belajar, apakah ia memiliki kesiapan belajar, bagaimana niatnya belajar, apakah ia difasilitasi dengan baik saat belajar, dan apakah ia berlatih terus dan menganggap rentang waktu kehidupan ini sebagai kesempatan dan tempat belajar……

ATTITUDE DALAM NLP

Nah dalam tulisan Anda yang amat menarik itu, juga disinggung dan ditanyakan mengenai hubungan NLP dan attitude, sebenarnya apakah kaitan NLP dan attitude?

Luar biasa, Dr. Richard Bandler sewaktu mendefinisikan NLP adalah sebagai berikut: “NLP is an attitude and a methodology that leaves behind a trail of techniques”

Dari definisi itu, dapat kita simpulkan bahwa :

  1. NLP adalah Attitude
  2. NLP adalah Methodology
  3. Sedangkan “Techniques” hanyalah hasil akhir dari dua hal di atas itu. Sayangnya banyak orang lebih terpesona dan fokus belajar teknik-teknik daripada memahfumi dan mengakuisisi attitude maupun methodology ini

Berdasarkan apa yang sudah dipelajari (dan masih banyak yang harus dipelajari dari luasnya dunia pengetahuan mengenai kehidupan itu sendiri, termasuk NLP), maka yang saya pahami adalah, bahwa para co-founder NLP menginginkan kita mengakuisisi suatu core attitude yang bisa disimpulkan dalam 2 kata, yakni “behavior flexibility“. Apakah maksudnya?

Kebanyakan problema kehidupan, dialami karena seseorang terjebak dalam suatu “map yang sempit“, sehingga dirinya TIDAK PUNYA PILIHAN untuk bertindak atau memilih tindakan yang appropriate. Seolah-olah tidak ada pilihan dan hanya ada kemungkinan reaksi saja. Misal :

Contoh 1 :

  • Saat ada tekanan dalam kehidupan berupa stressor, maka orang itu langsung sress atau mungkin fobia, atau malah traumatik. Seolah tidak ada pilihan lain dalam bereaksi menghadapi stressor itu. Intervensi (misal terapi) dalam NLP akan bertujuan membukakan pikiran si klien bahwa ia punya pilihan tindakan lain.
  • Misal, klien dibantu untuk melakukan dissasosiasi (antara stimulus dengan emosinya V/K disassociation), sehingga ia bisa memiliki jarak dari masalahnya. Atau mungkin double disassociation, sehingga jarak lebih jauh dan lebih mudah melepaskan keterikatan respon emosinya. Lantas dari sini, pola stress “dirusak”, dengan cara memutar balik memorinya dengan kecepatan tinggi, sehingga stressor itu tidak lagi memiliki kekuatan negatif pada diri si klien.
  • Nah ketika pola ini sudah melemah, maka tinggal dilakukan tindakan follow up lain, misalkan suatu future pacing untuk memberikan pilihan-pilihan yang lebih berdaya pada diri klien atas “problema” yang pernah dilaminya itu. Boleh juga menggunakan Time Line Therapy ™ by Tad James, atau sugesti hypnotic atau apapun yang baik.
  • Atau kita biarkan saja si klien memilih sendiri respon yang diinginkan, memberikan alam bawah sadarnya membentuk neuro cortical pattern baru, sepanjang kita mengawal agar hasil akhirnya menjadi lebih resourceful.
  • Jika kita amati, deskripsi pada paragraf di atas dapat dikenali sebagai metode atau teknik yang dikenal sebagai “fast phobia cure“. Lha jadi jelas fast phobia cure adalah suatu teknik yang sebenarnya merupakan representasi dari suatu attitude dalam NLP yang namanya behavior flexibility.

Contoh 2 :

  • Saat ada seseorang dikritik, biasanya akan langsung marah atau down. Seolah, kita sebagai manusia tidak punya kapabilitas untuk memiliih reaksi lain saat menghadapi kritik.
  • Jika yang bersangkutan pernah belajar teknik reframing, maka ia akan memiliki lusinan pilihan “makna baru” sebagai hasil melakukan reframing content ataupun context yang dia lakukan.
  • Nah, di sini dapat kita lihat bahwa teknik reframing adalah cara yang diajarkan co-founder NLP untuk menggoyang pikiran si klien agar punya lebih banyak pilihan makna atas suatu peristiwa yang menimpanya, sehingga makna baru ini akan mempengaruhi dan mengubah prilakunya. Di sini, tidak usah dikatakan lagi, sudah langsung terasa bahwa reframing adalah teknik yang merupakan derivasi dari attitude yang berjudul “behavior flexibility”.

Contoh 3 :

  • Seseorang sering terjebak dalam pola buruk, misal jika melamun pasti langsung akan menggigit kuku. Atau jika pikiran lagi kusut dan butuh tenang, langsung terbayang-bayang ingin merokok. Seolah tidak punya pilihan lain. Lagi-lagi bisa disimpukan bahwa; tidak punya pilihan artinya tidak memiliki behavior flexibility. Lha apa yang dilakukan praktisi NLP?
  • Biasanya dalam kasus seperti ini, maka NLP-er akan menggunakan teknik yang dikenal sebagai Swish Pattern, untuk melakukan penggantian pola secara mendadak, dengan mengganti cue picture yang berupa kuku atau rokok dan secara cepat digantikan dengan picture lain yang lebih dikehendaki.
  • Sehingga, saat melihat kuku atau rokok, si klien akan memiliki pilihan baru dalam bertindak, dia tidak lagi terjebak dalam map yang sempit dan tidak punya pilihan.
  • Lagi-lagi kita menemui bahwa teknik yang bernama Swish Pattern ini sebagai manifestasi dari sebuah attitude installment yang berjudul “behavior flexibility“.

Nah jelas sekali dari contoh di atas, “behavior flexibility” adalah attitude kunci yang di-install oleh co-founder NLP dalam semua pelatihan NLP, diwujudkan dalam berbagai teknik yang bernama aneh-aneh itu khan… J.

Nah, lebih jauhnya… di mana kita dapat menemukan jejak yang paling gamblang mengenai behavior flexibility dalam NLP? Saya yakin Anda juga sudah tahu, bahwa “NLP pressuposition“, tak lain dan tak bukan adalah set of attitude itu sendiri. Itu lho yang isinya kalimat-kalimat “The map is not the territory”, dll, silahkan lihat di artikel ini.

Jadi mengukur perubahan attitude pada diri seorang NLP-er tentunya berdasarkan dari sejauh mana presuposisi itu sudah mendarah daging dalam tindakan sehari-hari. Istilah NLP-nya adalah apakah NLP Presuposition itu sudah mengalami mind to muscle (masuk dalam kesadaran otot).

Nah, jadi jika kita menjumpai NLP-er yang attitude-nya menyimpang dari presuposisi, atau attitude kita sendiri menyimpang NLP presuposition, maka artinya dapat kita simpukan sendiri

Jadi sudahkah kita menyiapkan diri jadi murid yang baik? Karena kita akan terus mendapatkan pengalaman yang merupakan guru yang baik…

Jadi kalau setelah belajar NLP, setelah menjadi praktisi, master praktisi, atau menjadi NLP trainer, kok malah tindakannya menunjukkan map yang sempit, maka mungkin ia belajar dengan cara keliru, atau proses belajarnya mungkin kurang sempurna sehingga yang ter-install justru kok malah kebalikan dari visi dan misi sebagai pembelajar NLP itu. Contohnya adalah persis seperti apa yang Anda katakan di atas : menjelek-jelekkan metode lain, menghina trainer lain, mewariskan kebencian, dan sebagainya.

Saya sendiri sering tertegun, betapa di dunia ini ada saja praktisi NLP yang saya temui (diberbagai belahan dunia) yang hobby menjelek-jelekkan Dr Bandler, padahal ia belum pernah ketemu langsung dengannya. Mungkin hanya baca artikel mengenai behavior Dr. Bandler di masa lalunya saja. Well, people are much more than their behavior, demikian kata salah satu presuposition NLP juga.

Beberapa orang yang pernah ketemu Dr Bandler juga ada yang menjelek-jelekkannya. Bahkan 2 bulan lalu saat di Canada menghadiri pelatihan dengan Michael Losier, saya ketemu orang India yang pernah menjadi murid Dr. Bandler. Katanya kepada saya “Kamu nggak usah ikut trainingnya Bandler, buang uang saja… Udah mahal, udah gitu kamu cuman akan mendengar ia ngomong dan ngomong dan ngomong… dan paling banyak ia akan membicarakan pandangannya mengenai Psikolog dan Psikiater…

Wehehehe, yang dia tidak tahu adalah… saya justru mau pergi jauh-jauh ke Orlando khusus untuk mendengarkan Dr Bandler ngomong dan ngomong dan ngomong…, sebab di situlah letak keajaiban metodenya… Lagipula kalau benar Bandler / Grinder memang jelek dan bodoh, kenapa maau mempelajari ilmu yang diciptakan orang bodoh? Tentunya ada yang missing di sini.

Well,

Kabar baiknya, memang di dunia ini kita disuruh belajar terus berkesinabungan. Bahkan, saya melihat masukan dari Anda sebagai input yang membangun dan juga merupakan pembelajaran di atas pembelajaran di atas pembelajaran bagi saya. Sehingga jika orang-orang seperti saya mau belajar lagi, maka saya akan lebih punya behavior flexibility yang lebih baik, alih-alih malah marah atau tersinggung dengan kritik membangun dari Anda.

METHODOLOGY

Selain attitude, hal yang menjadikan saya tertarik belajar NLP karena NLP menjanjikan suatu methodology keilmuan, nah methodology apa ini? Methodology dalam NLP dikenal sebagai modeling, suatu proses yang memungkinkan manusia untuk memodel (menggunakan metodologi tertentu) sehinga dapat menduplikasi keunggulan manusia lain yang lebih ekselen.

Pembahasan mengenai NLP dan metodologi modeling sudah pernah dibahas di artikel yang lain dan akan dibahas di artikel yang lain, jadi tidak perlu kita bentangkan lebih jauh di sini.

NLP CAVEAT

NLP sendiri sebagai disiplin ilmu juga sudah terpecah belah dalam berbagai organisasi afiliasi. Setiap organisasi punya standarnya sendiri, dan satu sama lain tidak saling mengakui. Sulit menilai apa penyebab terpecah belahnya NLP ini, banyak teori dan spekulasi beredar di dunia mengenai hal ini. Saya yakin Anda pasti sudah mendengar hal ini.

Di sini saya tidak ingin ikut mengadili…, terlampau sempit peta yang kita miliki untuk bisa ikut-ikutan mengungkapkan pendapat mana yang benar dan salah. Kita tidak ikut serta dalam masa pertumbuhan dan pengembangan NLP di jaman 1970an.

Jika tertarik silahkan baca di buku luar biasa ini: “The Wild Days’ NLP 1972-1981” tulisan by Terrence L. McClendon, diulas mengenai sejarah NLP di awal mula perkembangan, siapa developer, dan para kontributor awalnya. Ini akan memberikan gambaran bagus pada kita mengapa sekarang NLP terpecah belah menjadi seperti ini.

Sedikit menyinggung hubungan dnegan persoalan di atas, di buku itu RB juga menyatakan “That spirit is basically the belief that anything is possible, and its the human mind that makes it so….. … Grinder and I never accepted what most people assumed about the limits of human beings anyway. We always felt that humans were capable of much more excellence, creativity and success than most people believed..” Di buku ini juga ditekankan dengan sangat kuat bahwa “NLP is NOT the techniques it produced. It is much more about attitude and modelling itself.”

Kembali ke NLP Caveat, sungguh menyedihkan bahwasanya di dunia sekarang NLP -diakui atau tidak- sudah terpecah belah dalam berbagai organisasi atau afiliasi itu. Saya sendiri secara gradual terus belajar dari seluruh organisasi yang ada tanpa mau ikut-ikutan terpecahbelah, karena ini mengkhianati esensi NLP itu sendiri.

Di Indonesia, kami memprakarsai berdirinya portalNLP, sebagai suatu Misi mulia untuk menjadikan NLP bukan sebagai menara gading, dan dapat menjadi contoh hubungan ekologis dari berbagai “aliran” atau organisasi NLP.

Perjalanan panjang menjadi murid. pembelajar, dan praktisi di dunia NLP, membuat saya tersadar untuk lebih menghargai para pemrakarsa NLP di awal dan juga hak intelektual mereka. Semenjak itu saya selalu mencantumkan ™ pada kata NLP, sebagai apresiasi dan respek saya yang tinggi saya pada RB. Saya juga selalu mengingatkan diri saya untuk mencantumkan ™ pada New Code sebagai apresiasi dan respek saya yang tinggi pada John Grinder, mencantumkan ™ pada Time Line Therapy, sebagai apresiasi dan respek saya yang tinggi kepada Tad James, mencantumkan ™ pada Persuasion Engineering sebagai apresiasi dan respek saya yang tinggi pada John LaValle. Dan seterusnya…

Saya tidak akan memaksakan pada siapapun untuk ikut-ikutan mencantumkan ™ pada karya para creator NLP dan kontributornya. Adalah suatu kesadaran dan tergantung kematangan masing-masing untuk melakukan hal semacam ini. Saya juga bukan ingin sok memberikan contoh, saya hanya melakukan apa yang saya yakini baik, yakni menghargai hasil karya seorang anak manusia yang sudah memeras pikiran tenaga dan waktu selama puluhan tahun sehingga menghasilkan maha karya yang dapat membantu manusia mengatasi kesulitan dalam hidup.

Dalam hal sertifikasi, saya memilih berafiliasi dengan The Society Of NLP™, karena saya amat mengapresiasi dan respek saya yang tinggi kepada Dr. Richard Bandler sebagai Key Co-developer NLP. Afiliasi ini bersifat profesional dan dalam hal menjaga update keilmuan. Dalam banyak hal, saya merasa prihatin bahwa para follower yang notabenenya belajar derivasi ilmu NLP yang pastinya berasal dari pasangan RB dan JG, bahkan tidak pernah mengakui ™ yang dibuat oleh RB.

Banyak yang tidak mengerti, bahwa RB tidak lantas meminta kita duit karena kita mengakui ™ nya itu. Kita dibebaskan mentraining NLP dan mengembangkannya, tanpa harus membayarnya sepeserpun. Ia hanya mendorong agar orang menghargai apa yang telah dimulainya puluhan tahun yang lalu karena sudah memeras keringat dan waktu.

Kita hanya wajib membayarnya jika kita minta RB menorehkan tanda tangan dan kata Lisensi pada lulusan practitioner kita. Luar biasa generous-nya sahabat yang satu ini, bandingkan dengan suatu bentuk usaha training franchise yang dipenuhi dengan fee ini itu… Belum mentraining apapun, baru beli bmereknya sajapun sudah harus bayar.

Sekalipun saya memilih The Society Of NLP™, sebagai afiliasi profesional saya, ini tidak lantas menutup afiliasi sosial saya. Kita tidak perlu membatasi diri hanya bergaul dan belajar dari satu disiplin saja. Bukankah dalam NLP kita diajarkan untuk selalu ekologis? Dr. Bandler juga tidak pernah mengajarkan pada kita untuk hanya belajar dari satu sumber, ia mendorong kita untuk terus berlatih, bereksperimen, menggali kekayaan ekselensi lokal untuk dimodel dan dikembangkan.

Hal yang sejalan, kami lakukan pada saat mebangun PortalNLP, yang sejatinya memiliki misi yang mulia. Selain berbagi pengalaman melalui artikel, kami juga ingin mewadahi berkumpulnya para praktisi dan pegiat NLP, kami mendorong agar seluruh kontributor dan para pembaca untuk terus bersedia menjaga ekologi satu sama lain.

PASCA TRAINING

Usulan Anda sungguh baik, mengenai pasca training itu… Saya menerima itu sebagai sebuah solusi kongkrit.

Selama ini tujuan kami menciptakan blog ini ataupun media online saya yang lain, adalah agar menjadi media penghubung untuk belajar, menjadi ajang follow up bagi rekan-rekan yang pernah belajar NLP, baik dari saya maupun kawan lain…

Selain itu, baru pada tahap persiapan, kami juga sedang membangun milist / forum online belajarnlp@yahoogroups.com, namun belum kami buka ke publik. Karena sedang membuat mekanisme yang cocok dan momentum yang tepat. Milis ini mungkin hanya akan dipergunakan untuk mewadahi alumni sebagai follow up pasca training.

KESIMPULAN

Saya sepakat dengan Anda, bahwa NLP bukan senjata pamungkas, bahkan NLP-pun bukan “senjata” sama sekali, dan bukan pula pengganti agama dari Tuhan.

NLP adalah suatu proses ikhtiar panjang dari manusia-manusia (yang dirintis RB dan JG) untuk menjelajahi wilayah dan potensi benda luar biasa ciptaan Alloh SWT yang namanya otak yang di dalamnya berisi pikiran. Salah satu bentuk syukur terbaik yang dapat kita lakukan pada Tuhan adalah dengan cara mengapresiasi karuniaNya, mengekplorasi dan mempelajari karuniaNya, dan secara terus menerus menggali potensi yang masih tersembunyi di dalamnya.

Ikhtiar ini juga sudah dilakukan oleh disiplin-disiplin lain yang menjelajahi dunia pikiran, kejiwaan manuia, seperti psikologi, psikiater, filsafat, biologi, dan lainnya. Berbagai sistem lain diluar NLP juga sangat baik dalam menemukan permasalahan, tapi tidak memberikan tools yang dapat digunakan secara mandiri (tidak tergantung orang lain : terapis, coach, dll), tanpa rasa sakit, dan menjanjikan perubahan yang lebih cepat dengan cara yang menyenangkan.

Demikian Mbak Ratu Pantai Selatan, saya sudah memenuhi janji saya untuk menjawab curhat Anda. Terima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan pada saya sebagai tempat bercurhat. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan pekajaran dengan cara menjadi murid yang baik dalam belajar NLP.

Jika Anda orang Yogyakarta, selama lebaran saya akan berada di sana, silahkan jika ingin bertemu dan berdiskusi. Terima kasih, senang telah berkenalan dengan Anda.

Salam sukses bagi para pembelajar dan penjaga ekologis…

About the Author