Semudah memahami NLP
Beberapa saat setelah lengsernya Gusdur sebagai presiden, saya diundang untuk menjadi fasilitator suatu pertemuan 2 hari -semacam retreat- di daerah sekitar Puncak, untuk menggodok proses awal mula berdirinya suatu organisasi yang akan melanjutkan perjuangan Gusdur. Di situ hadir para Jubir, orang-orang dekat Gusdur, perwakilan Keluarga, tim Pusat Data dan Informasi untuk Juru Bicara pada saat era pemerintahan Gusdur, beberapa rekan LSM/Ormas, dll.
Dari proses itu, kemudian lahirlah apa yang dikenal sebagai Wahid Institute (WI) saat ini. Proses berikutnya saya tidak terlalu terlibat lagi, lebih banyak melibatkan orang-orang yang kemudian akan menjadi pengelola dan aktivis di WI tersebut. Sekarang WI sudah berjalan dengan baik sekali, selain menjalankan misi utamanya, WI memiliki perpustakaan dokumentasi politik dan perjuangan Gusdur, toko buku, dll. Beberapa dari Anda yang pernah ikut sharing NLP atau LingkarLOA, yang dimotori oleh Heni Budi, umumnya sudah mengenal kantor WI yang terletak di daerah Taman Amir Hamzah seputar daerah Matraman itu.
Perlu diketahui, saya bukan pendukung Gusdur secara politis, bukan pula anggota PKB maupun simpatisannya, bukan juga anggota NU. Bahkan saya sendiri berasal dari lingkungan Muhammadiyah, saya tergerak dan menyatakan bersedia saat diminta menjadi Staf Ahli Ibu Negara RI, untuk membantu Ibu Nuriyah Wahid karena terkesan dan kagum dengan perjuangan mulia Beliau dalam hal penyetaraan dan mengangkat hak-hak bagi kaum terpinggir, seperti perempuan, anak jalanan, pekerja anak, orang cacat, tuna wisma, dan para pengungsi. Tahun berikutnya pada pemerintahan Gusdur kemudian saya diminta menjadi anggota Tim Pusat Data dan Informasi untuk mensupport Tim Juru Bicara Presiden waktu itu. Banyak pengalaman berharga yang saya petik dan menjadi guru saya serta berguna dalam kehidupan.
Salah satu aktivitas WI tadi adalah pengelolaan web site yang cikal bakalnya sudah dimulai semenjak masih berkantor di Wisma Negara waktu itu, alamatnya adalah www.gusdur.net. Pada waktu penggodokan, saya masih ingat dengan jelas, bagaimana beberapa orang mengusulkan adanya kolom berjudul “Memahami Gusdur“. Rencananya akan berisi tulisan yang membahas pemikiran-pemikiran Gusdur dari waktu ke waktu.
Saya mendukung rencana keberadaan kolom itu, namun saya dengan tegas menolak judul “Memahami Gusdur”. Alasan saya sudah tentu dilandasi dengan disiplin ilmu NLP, bahwa judul “Memahami Gusdur”, adalah mempresuposisikan bahwa Gusdur itu sulit dipahami, dan hanya akan makin mengukuhkan stigma itu saja.
Saya mengusulkan judul “Memahami Gusdur” itu diganti dengan judul “Pemikiran Gusdur“, sehingga presuposisi bahwa Gusdur sulit dipahami tidak diperkuat oleh tim itu sendiri. (Catatan : presuposisi = asumsi).
Atau jika masih senang dengan kata “memahami”, maka bolehlah dibuat judul “Memahami Pemikiran Gusdur“. Judul baru ini setidaknya mereduksi stigma bahwa Gusdur (secara pribadi) sulit dipahami, dan kemudian menggeser dan membatasi stigma itu hanya dalam hal pemikirannya saja. Namun saat itu, tidak semua orang setuju dengan usul saya tadi, karena judul “Memahami Gusdur”, nampaknya cukup manis dan seksi di telinga sementara orang.
Proses berikutnya saya sudah tidak terlalu terlibat lagi, sampai kemudian di hari Selasa malam ini, setelah lebih dari 7 tahun setelah peristiwa itu. Entah kenapa, saya tiba-tiba ingin menengok website itu. Saya tertegun dan senang sekali, bahwa kolom yang ada di kanan bawah adalah berjudul “Pemikiran Gusdur“. Keren Man!
Ups, kawan…, stop dulu…! Artikel ini bukan dimaksudkan untuk melakukan klaim bahwa ide itu adalah berasal dari saya, dan ingin mendapatkan credit / pengakuan / pujian dari sejarah itu. Saya mengerti, mungkin saja sebenarnya ide awal saya itu sudah dilupakan dan terpendam dalam lautan aktivitas WI. Kemungkinan lebih kuat yang terjadi adalah justru ada seseorang lain yang datang dan mengusulkan ide yang memang bagus itu. Apapun dan bagaimanapun itu, selamat !!
Presuposisi dan Submodality
Kisah di atas, kami angkat dalam artikel ini dengan tujuan untuk menunjukkan bagaimana NLP tidak hanya berkutat pada masalah terapi, parenting, time line dan sebagainya. Namun NLP benar-benar seluas kehidupan itu sendiri, karena NLP memang dimaksudkan untuk membuat kita lebih smart dalam hidup ini, setidaknya itu yang dikatakan Dr. Bandler di pelatihan-pelatihannya. Pada kisah di atas, NLP dipergunakan di area politik, khususnya komunikasi politik. Bahkan sebenarnya, di negara maju, para Spinning Doctor ataupun Politisi umumnya adalah praktisi komunikasi politik yang belajar NLP. Anda tentu telah mendengar bahwa Anthony Robbins adalah coach bagi Gorbachev, George Bush, Lady Di, Nelson Mandela, dll.
Jadi tulisan ini membahas salah satu ujung kuku dalam NLP yaitu aspek Language/ Bahasa, khususnya adalah mengenai presuposisi. Pegiat NLP tentunya sudah hafal dan sering mempraktekkan penggunaan presuposisi ini saat mengaplikasikan Meta Model maupun Milton Model, benar begitu kan kawan-kawan?
Yuk, kita bereksperimen sebentar…
Duduklah rileks, mungkin tutup mata jika Anda ingin. Sekarang katakan dalam hati Anda beberapa kali kata “Memahami Gusdur” di dalam hati Anda…, kemudian elicit submodality-nya. Ups, kok pakai istilah rumit?!
Mari kita ganti, setelah Anda mengatakan dalam hati “Memahami Gusdur”, kenalilah gambaran apa yang muncul di kepala Anda? Apakah gambaran itu bergerak atau diam, di mana lokasinya, besar atau kecil gambarnya? Berwarna atau hitam putih? Bagaimanakah nada suara Anda dalam mengatakan hal itu? Bagaimana pula perasaan Anda saat mengatakan dan membentuk gambaran itu? Oke, stop sebentar…, tarik dapas dalam-dalam, lihat kanan kiri, dan tepuk tangan untuk membuat break state….
Sekarang, pikirkan suatu pengalaman dimana Anda merasa sulit memahami sesuatu, boleh apa saja: aljabar, matrix, kimia fisika, pemanasan global, atau memahami pacar Anda, hehehehe. Perhatikan gambaran apa yang muncul di kepala Anda? Apakah gambaran itu bergerak atau diam, di mana lokasinya, besar atau kecil gambarnya? Berwarna atau hitam putih? Bagaimanakah nada suara Anda dalam mengatakan hal itu? Bagaimana pula perasaan Anda saat mengatakan dan membentuk gambaran itu?
Nah sekarang silahkan diperbandingkan, apakah gambaran, suara dan perasaan yang Anda alami tentang judul “Memahami Gusdur “, ternyata cenderung sama dengan saat Anda mengenerate suatu perasaan sulit mengerti akan suatu hal? Lho, kok gitu yaaaaa?
Amazing khan!?
Well, sekarang kita mengerti kenapa kata “Memahami Gusdur” sebaiknya tidak dijadikan judul artikel, karena membentuk submodality yang sama dengan “perasaan sulit mengerti” suatu hal.
Nah bagaimana jika artikel ini saya beri judul “Memahami Submodality“, atau “Memahami Anchor“? Cukup membuat orang ter-install keyakinannya dan mungkin menjadi yakin bahwa submodality atau anchor itu sulit dipahami.
Bagaimana jika judul “Memahami Submodality” diubah menjadi “Semudah memahami Submodality“, atau judul “Memahami Anchor” diubah menjadi “Semudah memahami Anchor“… Lihat, rasakan , dan dengarkan di pikiran Anda, bagaimana perubahan submodality dengan mengganti judul-judul ini.
Oooh, jadi submodality itu penting ya?
Ya iya laaaah! Submodality itu penting, bahkan “Sepenting mempelajari NLP itu sendiri”.
Well,
Saya juga pernah mengagumi sepak terjang Tim PDI Perjuangan di awal terbentuknya dulu, saya bukan simpatisan, bukan anggota bahkan tidak terlalu mengenal orang-orang di Partai ini. Yang saya kagumi adalah kemampuan mereka merumuskan nama yang sangat cantik jika ditinjau dari sisi linguistic NLP.
Tentunya Anda masih ingat, peristiwa pecahnya PDI menjadi 2 partai di era pemerintahan Orde Baru. PDI terpecah dalam : PDI di bawah kepemimpinan Suryadi (Soerjadi), dan kemudian PDI di bawah kepemimpinan Megawati yang mengubah nama dan logo partainya menjadi PDI Perjuangan. Indah sekali namanya… Well, please dicatat, saya tidak ingin ikut campur mengenai mana yang sah dan mana yang tidak…, sebab artikel ini bukan wacana politik, namun linguistic.
Coba kita rasa-rasakan, kata “perjuangan” mengandung konotasi positif atau negatif, mempresuposisikan suatu perasaan , suara dan gambaran apa di pikiran kita?
Apakah kata perjuangan lebih mempresuposisikan suatu gerakan pembelaan kaum tertindas, ataukah mencerminkan tempat berkumpulnya golongan tidak puas? Jangan berpendapat, silahkan tutup mata, dan bereksperimen dengan submodality dan linguistic acuity Anda.
Apa yang terjadi jika diberi nama PDI Tandingan?
Silahkan di tes pula dengan submodality dan linguistic acuity Anda.
Oke,
Saya teringat bahwa salah ada salah satu periode pemerintahan di Indonesia yang sebenarnya paling pintar dan lincah memainkan presuposisi. Tebak sendiri deh, periode siapa/kapan?
Hanya saja, mungkin karena saking senangnya dengan kesuksesan bermain kata-kata, kemudian mereka kadang-kadang terlalu berlebihan, sehingga menjadi basi dan lantas bahkan jadi bahan lelucon.
Misal pemerintah waktu itu sepertinya hobby penggunaan kata “harga disesuaikan“, untuk menggantikan kata “harga naik “.
Kata “harga disesuaikan”, merupakan kata yang memiliki presuposisi yang amat baik, bahkan submodality yang di-create juga positif. Saya teringat, bahwa kata-kata ini memang benar-benar pernah berguna, dan berhasil membujuk rakyat untuk bersabar pada saat itu…….
Sayangnya, sekali lagi, kata-kata itu lantas menjadi basi karena pemerintah waktu itu lantas sepertinya terlalu senang dengan hasilnya, dan mulai keranjingan “menyesuaikan harga” lagi dan lagi dan lagi…
Hmmm, masih ingat peristiwa penangkapan para tokoh politik atau agama yang pernah santer saat silang pendapat mengenai azas politik di era pemerintahan yang sama? Peristiwa itu diwarnai dengan penggantian istilah “ditangkap” dengan istilah “diamankan“. Tentunya dengan mudah Anda menebak, bahwa kata diamankan mengandung presuposisi yang sifatnya ambigu: “mengamankan apa/siapa dari apa/siapa?” Apakah tokoh politik itu diamankan supaya tidak diamuk massa, atau diamankan supaya tidak membuat onar lagi atau apa? Dengan mengunakan kata ini, pemerintah berhasil memuluskan tindakan penangkapan tadi…
Sampai hari ini, salah satu lembaga di Indonesia masih rajin menggunakan kata “diamankan” ini. Silahkan saja disimak di berita-berita. Demikian juga kata “pemeriksaan yang intensif “, silahkan ditebak, kata ini menggantikan kata apa?
Uuuuuuuuuuuh…,
Mungkin baik jika kita ngolet sebentar. Gerakkan pinggang Anda, agar nyaman untuk berganti contoh pembahasan di bidang yang lainnya.
Minggu lalu saya diminta memberikan pelatihan untuk Direksi dan Manajemen di sebuah Bank Buuesar di Indonesia. Saat menjelaskan mengenai topik presuposisi ini, saya mengajukan contoh pemberian nama untuk Kredit Usaha Kecil.
Peserta pelatihan lantas kami minta bereksperimen bagaimana jika kata Usaha Kecil diganti dengan Usaha Berkembang dan atau Usaha Bertumbuh.
Silahkan para pembaca melakukan eksperimen untuk menjajaki perubahan presuposisi dan submodality akibat pergantian ini. Nah, kira-kira belief system apa yang terinstall pada para pengusaha itu, saat usahanya dijuluki dengan nama Usaha Kecil, dibandingkan dengan Usaha Berkembang?
Oke,
Jadi mari kita periksa kebiasaan kita berkata-kata dengan anak kita, pasangan kita, orang tua kita, anak buah kita, tetangga kita, dan seterusnya…
Misal kita katakan pada anak : “Kamu ini kok semakin nakal sih?”.
Ups, presuposisi apa yang sedang Anda install?
Misal kita katakan pada pasangan : “Berapa kali lagi saya harus mengatakan untuk membuatmu mau mendengarkanku?”
Ups, presuposisi apa yang sedang Anda install?
Misal kita katakan pada anak buah : “Sebaiknya kali ini kamu langsung bicara jujur saja pada saya?”
Ups, presuposisi apa yang sedang Anda install?
Jadi,
Apakah kita ternyata terbiasa mengembangkan kata-kata yang membangun suatu presuposisi yang berguna atau sebaliknya?
Apakah submodality yang dihasilkan sesuai dengan yang kita harapkan, atau malahan ternyata kita semua ini masih suka berbicara asal bunyi saja?
Mungkin ini saatnya kita semua perlu mengantongi ego kita dan kembali belajar…, mumpung masih tahun ajaran baru…
Hmmm, hehehe…
Tiba-tiba saya teringat John LaValle bercanda di kelas Trainer’s Training, sehari sebelum hari terakhir. Saat itu ia sedang mengumumkan bahwa besok akan diselenggarakan tes akhir presentasi di depan kelas dengan menggunakan semua NLP tools yang sudah dipelajari selama ini. Lantas ia mengatakan demikian :
“When you receive your NLP Trainer’s Training Certification…, ups….. No No No… wrong word, Let me change! ………. “
Sambil tersenyum dan terkekek kecil ia melanjutkan :
“If you receive your NLP Trainer’s Training Certification, then you blah blah blah….”
Ups, saya tertegun, kok hanya sebagian kecil dari peserta yang tertawa ngakak.
Nah apa presuposisi dari kata-kata John La Valle itu, apa presuposisi dari kisah / peristiwa itu, dan apa juga presuposisi dari kalimat yang saya tulis terakhir di atas kalimat ini?.
Saya juga bertanya-tanya, berapa banyak peningkatkan kualitas kehidupan yang akan dialami pembaca, setelah membaca artikel ini?
Ronny F. Ronodirdjo
Sungguh, di atas langit masih ada langit.
Dan kata-kata dalam Kitab Suci akan selalu tetap saja lebih indah dari kata apapun di dunia ini…
Filed Under: NLP


Comments (26)
sigit
August 13th, 2008 at 12:13 AM
Bener Mas Ronny.. saya jadi teringat sama pepatah yang intinya berpikirlah seribu kali sebelum kau berbicara, karena mulutmu harimaumu. Thanks inspirasinya
Ronny F R
August 13th, 2008 at 2:23 AM
Bettul Mas Sigit,
Thanks kontribusinya ya…
Salam Kenal!
Rio Purboyo
August 13th, 2008 at 1:13 PM
Pak Ronny, mudah ya belajar itu? Semudah ‘Po Kung Fu Panda’ memahami bahwa sebetulnya tidak ada ‘rahasia’ dalam resep rahasia masakan bapaknya
he he he…
Bagi yang mudah membuka hatinya, mudah pula baginya dibukakan pikirannya…
emang gitu ya Pak Ronny?
Jadi inget tulisan di kamar kost dulu …
‘KESLAHAN’ ADALAH SARANA BELAJAR …
Pak Ronny,terima kasih telah membantu saya untuk lebih mudah memahami Living NLP.
Ronny F R
August 13th, 2008 at 2:44 PM
Halo Mas Rio,
Di Kung Fu Panda, ada prinsip yang selaras dengan NLP. Dan itu merupakan kunci pokok dalam proses belajarnya Po menjadi “pendekar sakti”.
Dari pengamatan saya, selain dikatakan bahwa rahasianya adalah “tidak ada rahasia”, masih ada satu prinsip penting yang menjadikan Gurunya Kung Fu Panda dapat mengajarkan keilmuannya pada si Kungfu Panda.
Yakni, mengajarkan suatu hal baru dengan cara menggunakan preferensi belajar terbaik yang dimiliki si siswa. Dalam hal ini, preferensi si Panda adalah “makan”. Nah, sepanjang untuk urusan “makan”, maka si Panda akan dengan senang hati, semangat, bahkan amat luwes sekali dalam hal melakukan ugas apapun.
Dan berjat pengamatan (kalibrasi) si Guru, maka ia dapat menemukan preferensi si Panda itu.
Jika cara lama NLP mengajarkan untuk mengetahui preferensi VAK si murid, maka cara baru yang lebih advanced adalah dengan cara mengetahui submodality yang terlibat dan urut-urutan VAk yang digunakannya (ini yang namanya eliciting strategy), tinggal kemudian strategy ini dijadikan alat untuk mengajar (disebut sebagai strategy utilisation).
Jadi si guru, melakukan utilisasi strategi si Kungfu Panda yang paling fleksibel an semangat apabila ia berada dalam state “lapar dan menginginkan makanan”….
Salam Kung Fu
Henny Budi
August 14th, 2008 at 9:59 AM
Woooww…!!!
Luar biasa banget mas, paparan tentang submodality kali ini.
Seperti membukakan jalan setapak yang tersembunyi, semula ditumbuhi rerumputan dan ilalang yang begitu lebat, “bahkan untuk melalui jalan pintas tersebut dibutuhkan banyak energy ekstra”.
Kemudian seperti mendapatkan sebuah mantra, ketika mantra itu diucapkan dengan sepenuh hati, maka dengan sendirinya rumput serta ilalang itu menepi, seolah berkata “ikutilah jalan ini.. dan kau akan sampai pada tujuan mu dengan waktu yang lebih cepat”.
Hhmmm….jalan setapak itu terbuka lebar sekarang mas!?!
Kira-kira presuposisinya apa ya? hahaha…. maturnuwun yo mas, saya termasuk orang yang paling bersyukur dengan mengenal mas Ronny secara langsung, Insya Allah proses pembelajaran yang saya dapatkan juga meningkatkan kwalitas kehidupan saya.
Salam
Henny Budi Hastuti
Ronny F R
August 14th, 2008 at 11:49 AM
Wooow!!!
Heni Budi Hastuti,
Orang paling lincah, yang tengah menapak indahnya jalan NLP…
Ngomong-ngomong soal presuposisi dan submodality…., saya tertarik mengamati kalimat pertama Mbak Budi :
“Luar biasa banget mas, paparan tentang submodality kali ini.”
Ada presuposisi berbunyi “kali ini”, berarti, ada pula “kali yang lain”. Jika dipahami kalimat pertama Mbak heni secara utuh, berarti pada “kali yang lain” itu, Mbak Heni pernah belajar submodality juga, namun paparannya tidak luar biasa.
Hihihihi,
Muga-muga bukan belajar sama saya yang “kali yang lain” itu….
Jika ditapaki dengan baik, presuposisi akan menguak sebuah tabir pemahaman yang sepertinya tidak dikatakan secara langsung oleh orangya….
Mantap kali….
Thanks ya Mbak heni…
CU next
dionysius
August 16th, 2008 at 12:41 AM
ha.ha.ha. bagusss…bagusss…bagusss…
huebuatzz…!!!
Semudah Memahami NLP « Dion’s Personal Blog
August 16th, 2008 at 12:52 AM
[...] Says: August 13th, 2008 at 12:13 am Bener Mas Ronny.. saya jadi teringat sama pepatah yang intinya berpikirlah seribu kali sebelum kau [...]
Ronny F R
August 16th, 2008 at 2:52 AM
Dear Dion’s
Thanks atas kunjungannya…
Hahahahaha, komentar yang bagusssz juga
Salam kenal Mas…
Ronny FR
Fadhil.ZA
August 22nd, 2008 at 11:50 PM
Tulisannya bagus banget…kata kata dapat membentuk imajinasi positip atau negatif dalam fikiran manusia, yang selanjutnya akan membentuk sikap orang tersebut. Mas Ronny saya mohon izinnya untuk mengcopy paste tulisan ini ke blog saya, juga mungkin tulisan yang lain. Tulisannya banyak yang bagus , dapat memberi pencerahan dan menambah wawasan buat kita semua.
Oh yaa saya usul buat saya yang awam ini tolong istilah teknisnya seperti submodality atau linguistic acuity bisa diterjemahkan ke bahasa indonesia. Seperti istilah presuposisi = asumsi, kaya diatas gitu.
Trima kasih
Ronny F R
August 23rd, 2008 at 4:08 PM
Silahkan Pak Fadhil,
Monggo-monggo di kopi, dan di muat di blok Anda. Tentunya dengan menyebutkan alamat blog ini sebagai sumber. Kami senang, jika ilmu ini berguna lebih jauh lagi kepada masyarakat luas…
Untuk kata-kata teknis, saya sedang memulai menyusun semacam kamus untuk istilah NLP…
Salam sukses
Marvin
August 30th, 2008 at 12:40 AM
Belajar tidak sulit, tapi kadang kita yang malas belajar, yang terlalu bangga dengan apa yang kita punya sekarang, akibatnya, disaat kita jalan di tempat dengan ilmu yang kita punya, orang lain sudah berlari.
Sukses selalu
Ronny F R
September 5th, 2008 at 8:23 AM
Bang marvin,
Thanks atas kunjungan dan tanggapannya.
Saya sangat setuju dengan Anda…
Thanks
Neuro Linguistic Programming | Mengubah Belief System dengan Submodality
October 13th, 2008 at 4:11 AM
[...] Anda memutuskan masih ingin menyelam lebih jauh dengan submodality, silahkan dikunjungi artikel Semudah Memahami NLP, di [...]
kun
October 14th, 2008 at 4:16 PM
Itulah NLP, mas Ronny…
Saya anggap sebagai jawaban atas motivator/pembicara2 bila menyampaikan kalimat2 motivasinya…; seperti sering kita dengar : power of words!… dari dulu juga saya tahu besarnya kekuatan arti sebuah kata/kalimat…; dan dengan penjelasan tentang submodality inilah, bahwa kata/kalimat dapat memberi presuposisi/persepsi tertentu yang dapat mengubah beliefs seseorang, maka makin jelaslah arti power of words itu, bgi saya
Jadi ingat waktu kecil, saya paling malas kalau mandi sore, biasanya pas adzan maghrib baru mandi,..ibu saya suka bilang : ..kun..kamu GAK usah mandi aja ya?…, orang jawa bilang di ‘lulu’(bener gak ya?)…hehehehe…
Tanya :
1). akibat perubahan BELIEFS karena faktor submodality ini, akan berlaku fixed atau cuman umur hari/minggu/bulan?
2). Tetap saja the MAP is not the territory; efek BELIEFS CHANGES akibat sebuah kalimat tentunya sangat2 relatif buat setiap orang; so bisa jadi 1 kalimat ‘tidak ngefek’ merubah belif system seseorang sementara pada orang lain sangat merubah belief system nya?, bagaimana dengan ini?..untuk mengetahui ‘average MAP’ setiap orang secara rata2 kan juga tidak mudah?
Makasih MAs Ronny,
Salam Hormat dari saya,
KUN
Ronny F R
October 14th, 2008 at 11:53 PM
Thanks Mas….
1. Relatif Mas, bisa tahan lama bisa pendek. Tergantung hypnosability, tergantung pula kemampuan kita menjadikan kalimat itu menjadi holografik (ceile…) pakai Verbal, vocal dan visual yang hypnotic. Dan tentu saja akurasi submodalitynya.
2, Anda bener!
Dalam konteks interpesonal (one on one), disinilah pentingnya sensory acuity dan kalibrasi, dan kemampuan menemukan submodalty yang critical.
Di evel komunikasi publik, gunakan hukumrata-rata. Seperti kalau kita menghipnosis banyak orang.
Semoga bermanfaat
Terima kasih juga mas sudah mampir di sini
Ronny
Feri DS
October 15th, 2008 at 9:02 AM
masyaAllah smakin banyak sy baca artikel mas Ronny smakin kuat keinginana sy untuk memperdalam NLP sama njenengan. Saya puas meski harus ngulang practitioner & master sama njenengan. Liat sj insyaAllah sy akan sgera ktemu njenengan untuk itu.
Bbrp hr yll sy janjian sama mas Arief Alamsyah buat nderek training njenengan y di Sby. Makanya ditunggu jadwal y d Sby ya mas!
Ada bbrp hal yg prlu sy obrolkan scara pribadi kalean njenengan kalo brsedia, tp hati sy sering brtanya2 “jangan2 mas Ronny brsedia!”. kalo brsedia mohon bs dikirm no HP njenengan liwat imel sy. nanti sy akan smskan masalahnya ato sy telpon.
Suwun suwun mas, jujur sy kangen sama njenengan.
Ronny FR
October 16th, 2008 at 9:30 AM
Halo Mas Feri
Belajar memang tidak ada habisnya.
Saya sendiri juga ikut practitioner beberpa kali. Akhirnya berlabuh di The Society Of NLP.
Untuk SUrabaya tunggu ya… BTW, sudah ada berapa yang minat nih? Kemarin Mas Wuryanano juga berminat katanya mau ikut kalau di Sby.
Untuk HP, nanti saya kirim atau Njenengan bisa nanya ke Zein, atau Bobby TCI
Sukses untuk Mas!!!
Feri DS
October 18th, 2008 at 4:59 AM
Do’akan ya mas!!!
Sejak pertama saya denger tentang mas Ronny lewat mas Arief sama mas Andi selepas mereka ikut NLP 4 Trainer yang di Sby saya langsung kepincut.
Saya yakin Allah punya rencana y maha Dahsyat ketika blm pertemukan dulu sama mas Ronny tapi belajar dulu lewat guru yang lain sampai master. Beliau orang yang sangat dahsyat……….
Kalo saya masih ingin ikut sama mas Ronny karena saya ingin memenuhi janji saya sendiri untuk ambil sertifikasi lewat mas Ronny.
heheheh Allah selalu punya cerita yang indah ya mas…………….
Ronny F R
October 19th, 2008 at 4:58 PM
Luar Biasa!
Memang di dunia ini berkelimpahan orang yang memiliki jiwa pembelajar yang dahsyat!
Salam saya juga untuk guru NLP Anda…, ia pasti orang yang juga luar biasa!
Sampai ketemu di Surabaya Mas…
Feri DS
October 20th, 2008 at 9:09 AM
Ok, insyaAllah segera ketemu di Surabaya mas Ronny.
Ronny F R
October 21st, 2008 at 12:07 AM
Sip Mas Feri!
Recent Links Tagged With "nlp" - JabberTags
December 11th, 2008 at 2:17 AM
[...] Sun 23-11-2008 Finally! The Bouncer Story ‘Unpacked’… Saved by johnoc07 on Sat 22-11-2008 Semudah memahami NLP Saved by TheAvenger07 on Wed 19-11-2008 10 Highly Promising Web Platforms Saved by maspantalones [...]
Achmad Syafrudin
January 13th, 2009 at 7:44 AM
Salam kenal Pak Ronny. Belakangan ini memang saya jadi penasaran dengan NLP. Itu sebabnya saya sempatkan untuk ikut training di bulan jan. 2009 ini. Pak Ronny, bicara tentang “kata-kata”, yang mampu merubah persepsi orang. Bahkan bukan sekedar itu. Ia juga mampu memberikan “jiwa” pada kehidupan ini.
Saya jadi ingat, betapa orang-orang Quraisy begitu “ngeri” mendengar kata-kata Muhammad SAW. Kenapa ? karena mereka yakin bahwa kata-kata itu mengandung sihir. Sihir yang dapat memikat mereka…….
Ronny FR
January 20th, 2009 at 12:37 AM
Wah hebat Mas…
Saya setuju dengan Anda…
Memang dibalik kata-kata terdapat rahasia kekuatan yang dahsyat …
Mari kita kupas habis kekuatan kata-kata ini…
andri anto
January 4th, 2010 at 5:36 PM
mengimgatkankan kembali hal yg pernah terlupakan. makasih mas..
Leave a reply