Shocking News : PACING LEADING!!!
Written by ronnyfr on 28 May 2008 – 2:03 am - 797 kali dibaca.Saat menulis ini saya sedang istirahat di sela pelatihan jam 18.17 waktu Canada, di tengah acara mengikuti kembali Pelatihan NLP Practitioner.
Hah, NLP Practitioner…?
Bukannya…?
Ya betul, ini adalah kali yang ke 2 saya ikut sertifikasi NLP Practitioner, setelah yang pertama dulu dengan Andrew Bryant - orang Australia dari aliran NS-NLP (Neuro Semantic).
Luar biasa rasanya lho, sekalipun sudah memiliki sertifikasi di level NLP Trainer, saya dengan tekad bulat akhirnya membesarkan hati saya untuk mengulangi dari level NLP Pract lagi (un-learn dan re-learn). Kali ini belajar NLP dari ”aliran Richard Bandler” (Society of NLP - SNLP), belajar dari salah satu recommended student-nya RB, yakni Steve Boyley. Tujuannya sederhana, supaya dapat mengikuti juga level berikutnya dari “aliran” SNLP.
Steve Boyley (foto ada di samping), dan beberapa orang lain di dunia ini, termasuk murid yang selalu meng-update ilmunya ke RB secara terus menerus… seperti saya tadi katakan di atas, makanya ia mendapatkan rekomendari dari RB secara khusus.
BTW, dari beberapa “aliran” NLP yang sudah saya pelajari : Neuro Semantic / NS-NLP, New Code NLP (John Grinder), NF NLP (Neuro Linguistic Psychology), Neuro Assocation Conditioning (NAC Anthony Robbins) maka saya menilai aliran ini memiliki kelebihan di bidang ”pembebasan”.
Wah,
Banyak sekali yang dipelajari, tentunya bukan dari teknik / tools NLP / pattern. Sebab dari aliran manapun cenderung hampir sama. Namun yang paling banyak dipelajari adalah :
- Cara membawakan Training NLP Pract. Bayangkan, Anda sudah belajar sebagai NLP Trainer, kemudian Anda mengikuti lagi NLP Pract lagi… Rasanya seperti mendapatkan contoh lengkap dan kongkrit lagi…
- Underlying Principles (presuposition, basic NLP, dll) yang disajikan dengan cara yang baru…
- Penerapan NLP di berbagai bidang. Saat ini dari aliran S-NLP, membuat terobosan baru bahwa Training Cert NLP Pract dan Master Pract disajikan dengan 3 bidang tambahan : Body work, Business work, dan Personal work. Saya tentu saja memilih yang business dong…
- Variasi penggunaan pattern, diluar dari pakem-pakem yang ada di buku dan pelatihan gaya lama…
Oke,
Dalam email ini saya ingin menulis khusus mengenai Prinsip Rapport Building.
Saat menjelaskan Rapport, pacing leading…., Steve Boyley mengutip kata-kata RB dab John LaValle mengatakan : “F*ck Up Rapport!!! That’s totally wrong concept!!!”
Gluk cleguk!
Kaget sekelas deh!
Kemudian lebih jauh ia mengatakan : “Semua buku dan pelatihan NLP yang mengatakan prinsip “Pace - Pace - Pace then Lead” adalah Salah Besar!!!!
Wow sekelas makin terkejut. Apalagi saya!!!
Saya masih menduga “Ah, itu cuman bercanda…”
Namun kemudian ia melanjutkan dengan penjelasan panjang dan lebar mengenai hal itu. Yang inti sarinya adalah:
Konsep yang benar mengenai hal ini adalah : Lead - Lead - Lead… then Pace!
Glek!
Cleguk!
Ide dasarnya adalah :
Manusia adalah mahluk yang cerdas, yang tanpa belajar NLP saja sudah bisa kok melakukan pacing. Jadi jika kita melakukan Lead-Lead-Lead secara concruence, maka lawan bicara secara alami yang justru akan melakukan pace pada kita!
Baru jika ada masalah dengan hal itu, maka kita baru melakukan pace….
- Bayangkan, Anda menghadapai seorang customer yang marah dan bersuara keras dengan mempacing secara sama, atau dengan sura yang jauh lebih lunak?
- Atau bayangkan, Anda menghibur seorang yang sedang sedih dan nglokro dengan cara mempacing secara sama, atau dengan suara dan fiiologi yang jauh lebih happy, semangat dan fun?
Ingat :
You go first……………………………, concruently.
Begitu lho….
Wah
Tentunya ini membuat heboh seisi kelas!
Nah, tunggu lebih jauh kelanjutannya….
Salam Pembebasan Pikiran!
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in Education, NLP |







May 28th, 2008 at 6:24 am
Selamat belajar Pak Ronny, ditunggu sharing-sharing shocking news-nya.
Memang NLP masih terus berkembang ya…. Wah berarti masih banyak peluang tuch buat mengembangkan NLP dg resource2 Indonesia. Siapa tahu suatu saat orang2 luar negeri yg gantian berbondong2 belajar NLP ke Indonesia.
Fuad Muftie
May 28th, 2008 at 6:47 am
Betul Mas Fuad yang baik…
Kita “kulakan” ilmu ke mana-mana khan tujuan untuk kita bagi-bagi. Ada yang kita gratisi, ada yang kita minta bayar…
Ilmu itu pula yang kita pakai untuk membedah ilmu Nusantara yang masih banyak diselimuti misteri dan gugon tuhon.
Namun ada baiknya ilmu itu nggak usah dibeda-bedakan sumbernya dari mana, karena semua ilmu di Bumi adalah ilmu yang berasal dari yang Di Atas.
Dalam pengalaman belajar ilmu, ternyata apa yang kita sebut “dari luar” sebenarnya tak jarang malah ternyata berasal dari bangsa kita juga kok.
Lha saya mendengar sendiri bahwa Bandler mengatakan ia belajar dari salah satu Leader Subud (Susila Budhi Dharma). Padahal Subud itu kreasi dari anak Bangsa Indonesia, yakni dari Pak Subuh (Alm).
Salah satu akar ilmu NLP adalah dari Gregory Bateson. Nah ia ini dan istrinya (bernama Margareth Mead) pernah tinggal di Bali dan belajar ilmu di sana.
Namun, mungkin jika kita telusur lagi, ilmu dari Nusantara mungkin juga campuran dari bangsa-bangsa lain, seperti Arab, India dan China, dan mungkin Yunani yang akar budaya keilmuannya sangat kuno sekali.
Dalam skala yang lebih modern, dulu bangsa Malaysia juga belajar dari kita lho. Kita dulu mengirimkan guru, dosen, peneliti, ahli dalam dunia saham/investasi, dan bahkan ahli pertambangan minyak kesana untuk melatih orang di sana. Namun aduuuuh… kok kita sekarang yang belajar ke sana… Ada yang perlu dibenahi di sini.
Jadi demikianlah, ilmu di dunia ini sudah saling mengisi, saling mempengaruhi, saling terakulturasi…
Oke,
Kesimpulannya, saya sih sangat setuju dalam konteks bahwa sungguh sayang sekali jika keilmuan yang ada di Nusantara malah tidak dipelajari dan dibumikan secara Nasional.
Mari kita singsingkan lengan baju…
Saya juga punya mimpi yang sama, orang asing akan belajar di sini berbondong-bondong…
May 29th, 2008 at 12:34 am
Wah mantap nih,
Pak Ronny tidak sungkan2 membagi ilmunya ke kita, meski dulu yang Pak Ronny ajarkan ke saya adalah p-p-p-L
dan gitu juga yang saya tularkan ke yang lain.
Atau apakah ada kondisi dimana kita menggunakan P-L dan kondisi lain dimana kita menggunakan L-P ?
Kira2 gimana pak Ronny?
May 29th, 2008 at 4:08 am
Ass.wr.wb Mas Ronny !
Wah hebat nih Mas Ronny !
orang sekaliber Mas Ronny aja masih mau menimba ilmu lagi, - learn - unlearn - relearn again ya mas !
Bravo Belajar Seumur Hidup !
Bravo Mas Ronny !
Mas, saya ikut mendukung dalam jajaran barisan pengembang ilmu NLP khas Nusantara Indonesia, khususnya di bidang Spiritualitasnya Mas !
Mas, saya tunggu sharingnya di TMI “SQUASH TEAM” !
May 29th, 2008 at 10:33 am
Waduh!
Mungkin ini saatnya harus bingung, karena bingung itu baik.
Btw, saya tunggu kejutan selanjutnya ya mas
June 3rd, 2008 at 5:46 am
Halo Mas Windy, Mas Fitra dan Mas Eko…
Sabar ya…, nanti kalau ketemu kita jelaskan…
Muga-muga sempat nulis juga penjelasannya disini
October 7th, 2008 at 2:10 pm
Dear Mas Ronny
Saya semakin tidak sabar untuk duduk dlm kelas NLP Practnya mas Ronny diakhir bulan ini…
BTW info tentang persiapan apa yang harus dilakukan calon NLP pract supaya maksimal dalam menyerap ilmu NLP belum ada ya?
Anyway I do really hope that you can combine the whole information about NLP (old and new; Grinder and Bandler; NS, NF and NAC NLP) so that we can have a very rich class. Berharap banyak bisa menikmati hidangan NLP dari seorang Chef yang telah menikmati, memasak, dan menghidangkan beragam ramuan NLP…
Cheers
October 9th, 2008 at 1:15 am
Halo Pak Hasbi,
Wow, bagus sekali, saya juga ikutan tidak sabar ketemu P Hasbi dan teman-teman…
Untuk info persiapan…, kita nanti akan kita publish pada saatnya dan khusus untuk calon peserta saja.
Sip, mari kita belajar masak ‘ala NLP….