NLP ™ itu (harusnya) mudah, & dapat mempermudah
Written by ronnyfr on 22 April 2008 – 12:41 pm - 733 kali dibaca.Sekian tahun yang lalu Arswendo Atmowiloto pernah menulis buku yang sangat sukses berjudul “Mengarang itu gampang”. Minggu lalu pembaca PortalNLP digugah dengan tulisan Mas Yan yang berjudul “Hypnosis itu Gampang!!!!!”, maka kali ini saya tergelitik (terasa geli di suatu titik, hehehe) untuk menuliskan mengenai betapa NLP itu seharusnya mudah. Weee, bagaimana NLP tidak mudah, lha wong NLP bahkan dapat membuat hal lain menjadi jauh lebih mudah… Masak NLP membuat dirinya sendiri menjadi sulit?
Semangat NLP adalah mempermudah segala sesuatu yang terkesan sulit dan mistis, maka seringkali NLP disebut sebagai demistifying tools. Lucu rasanya mendengar orang yang pulang belajar pelatihan NLP lantas mengatakan ternyata NLP itu sulit. Wah, terjadi kesalahkaprahan proses belajar mengajar di sini. Sekali lagi, semangat NLP harus menjadikan segala sesuatu lebih mudah. Co Founder NLP, Richard Bandler pernah mengatakan, sekarang orang sering mengajarkan NLP dengan cara yang membuat NLP menjadi sedemikian sulit dimengerti oleh orang yang baru, padahal NLP hanyalah sedemikian sederhananya. Lha, jadi kenapa beberapa orang mengatakan belajar NLP itu sulit? Tentunya ada yang perlu diperbaiki di sini.
Di berbagai seminarnya, Bandler hampir selalu mengatakan bahwa NLP awalnya dibuatnya untuk memodel keunggulan tokoh-tokoh terkenal seperti Firtz Perls, Virginia Satir, Milton Erickson, dll. Tokoh-tokoh tersebut dikenal memiliki keunggulan yang konsisten, selalu mampu mereproduksi keajaiban, terutama dalam hal melakukan terapi. Firtz Perls (FP) adalah jagoan di bidang terapi Gestalt, Virginia Satir (VS) adalah salah satu penggagas dan tokoh besar di bidang Family Therapy, Milton Erickson (ME) dikenal sebagai orang ajaib dari Phoenix Arizona karena kemampuan kemampuannya melakukan waking hypnosis. Sebuah anekdot kecil, di jaman itu, orang sampai takut bersalaman dengan Milton Erickson karena terkenal dengan kemampuannya melakukan handshake interrupt induction dan ambiguous touch induction.
Mungkin sudah ratusan atau ribuan orang sebelumnya yang belajar pada tokoh-tokoh tersebut, namun boleh dibilang belum ada yang mampu menduplikasi kemampuan mereka dalam mereproduksi keajaiban dari teknik terapi mereka. Sampai kemudian Richard Bandler (RB) yang kemudian mengajak John Grinder (JG) untuk melakukan proses mengetahui apa yang ada di isi kepala tokoh-tokoh itu. RB dan JG mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat jenius pada mereka sendiri : “Apa perbedaan yang membedakan yang dilakukan oleh para tokoh itu sehingga mereka selalu konsisten mereproduksi magic (keajaiban) di bidang terapi?”
Jadi dalam bahasa anak muda sekarang, mereka melakukan proses hacking atau cracking (meng-oprek) dari suatu super necktop computer (komputer super yang ada di atas leher). Inilah sebabnya NLP sering disebut sebagai The Study Of Subjective Experience, karena memang NLP didedikasikan untuk melakukan studi atas cara subjektif seseorang dalam mengelola pengalaman. Bagaimana cara orang-orang yang ekselen mengolah pengalaman mereka secara subjektif, kok hasilnya menjadi jauh lebih efektif dibdandingkan dengan orang lain.
Hasil awal dari modelling pada tokoh tersebut menghasilkan buku The Structure of Magic jilid 1 dan 2, disebut the structure of magic karena di sinilah untuk pertama kali dituliskan hasil hacking mereka khususnya kepada struktur cara kerja FP dan VS dalam mereproduksi magic (keajaiban) dengan sangat detail. Bagaimana cara FP dan VS menggunakan kata-kata atau mengajukan pertanyaan kepada para kliennya dengan sangat efektif, sehingga nyaris tanpa melakukan suatu treatment, baru ditanya saja kebanyakan masalah sudah solved sendiri (whuuuuuuuu, keren bener!). Kodifikasi (kumpulan yang tersruktur) dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka ini lah yang sekarang dikenal dengan Meta Model.
RB bahkan di berbagai kesempatan selalu mengatakan bahwa Meta Model adalah merupakan batu penjuru yang membuat dia berhasil mengembangkan NLP. Semua yang kita kenal sebagai NLP sekarang berhasil menjadi demikian karena dibangun dari suatu tools yang namanya Meta Model ini. Hmmm, sungguh di sini saya merasa sering mengelus dada (dada sendiri lho!), kenapa beberapa training NLP sering menganggap enteng tools ini, bahkan pengalaman saya mengikuti training di negara manca sanapun demikian. Banyak yang menganggap Meta Model hanyalah metamorfose dari Transformational Grammar atau bahkan banyak yang menduga dan menuduh Meta Model tak lebih dari suatu penjelmaan ulang ilmu logika yang dimalihrupakan (Rahwana kaleee…).
Wow, jauh …… jauh…… jauhhhhhh saudaraku…., Meta Model adalah tools yang sangat dahsyat untuk membaca (mengintip) internal map seseorang (model of the world nya). Hanya berbekal Meta Model seorang NLP-er terlatih akan mampu mengetahui bagaimana seseorang mengkonstruk dunia internalnya (mental map), bagaimana ia melakukan distorsi atas pengalamannya sehingga membentuk suatu mental map yang tersusun secara kurang efektif, bagaimana dia melakukan seleksi dan generalisasi atas pengalamannya sehingga membentuk suatu mental map dipenuhi dengan keterbatasan yang membatasi dirinya.
Di tangan NLP-er yang skillfull, mengajukan pertanyaan berbasis Meta Model akan mirip dengan suatu proses untuk melakukan pembebasan dari penjara pikiran yang membatasi seseorang. Sehingga tanpa dinasehati, bahkan nyaris tanpa diterapi, Meta Model ini sudah mampu memberdayakan si klien dalam mengkontruksi ulang internal map-nya. Ingat The map is not the territory, and people responding according to their map, not directly to the territory. Jadi jika map seseorang diubah, maka realitanya akan berubah, maka responnya terhadap suatu yang tadinya merupakan masalah akan berubah pula secara drastis.
Jadi proses untuk melakukan re-mapping tidak hanya melibatkan submodality saja lho, re-mapping bisa dilakukan dengan Meta Model, dengan Milton Model, dengan Anchor, dan dengan berbagai tools NLP yang lain… Berbagai tools NLP memang digubah untuk membuat kita mudah melakukan re-mapping, yakni proses mengubah atau menyempurnakan internal map kita (atau orang lain) sehingga jauh lebih efektif, lebih banyak memiliki pilihan, lebih fleksibel dan dilakukan secara ekologis.
Contoh :
Klien :
“Saya mau bunuh diri…, karena semua orang sudah membenci saya!”
Penjelasan :
Dari satu kalimat pendek ini, seorang NLP-er sudah langsung merasakan atau mendapatkan suatu gambaran dari model dunia si klien, yang dipenuhi dengan filter generalisasi, deletion dan distortion.
- Generalisasi : kata “semua orang”
- Deletion : kata “membenci” adalah simple deletion, tidak jelas kata kerja membenci merefer pada perbuatan apa yang tepatnya dilakukan orang lain itu.
- Distorsi 1 : kata membenci juga mengandung mind reading, karena suatu perbuatan diterjemahkan oleh si klien sesuka hatinya dan dimaknai dengan “membenci”
- Distorsi 2 : struktur kalimat cause/effect “saya mau bunuh diri karena…”
Nah, kemudian si NLP-er akan melakukan pacing dan kemudian mengajukan beberapa pertanyaan berbasis metamodel untuk melakukan klarifikasi, recover deletion dan atau memfasilitasi proses re-mapping dengan berdasarkan Meta Model. Mohon diperhatikan angka pointer di atas dan di bawah ini berkorelasi. Pertanyaan di bawah adalah untuk melakukan klarifikasi, re-mapping ataupun recover deletion atas 4 pointer diatas.
NLP-er :
- (Pacing, pacing, pacing, softener), kemudian ia bertanya dengan halus… “Oh begitu ya…, jadi siapa saja sih tepatnya orang-orang yang tadi Anda sebut sebagai membenci Anda…, saya kok jadi penasaran pengin tahu…? ….. Oh si ini…, si itu…, siapa lagi? Emmmm, siapa lagi ya? Ohhhh, terus orang yang lainnya bagaimana, apakah mereka SEMUA memang membencimu juga? Ooooh gitu….”
- (Pacing lagi…, matching juga….) kemudian bertanya lagi “Jadi ada tiga orang yang tadi itu, waduh, boleh tahu khan…. tepatnya mereka bertiga itu melakukan tindakan apa ya? Sehingga kok bisa Anda kategorikan sebagai membenci Anda?” Oh, jadi si A melakukan hal itu ya…, terus apa yang tepatnya dilakukan oleh si B dan si C?”
- (Matching…) Lantas bertanya : “…. Oh gitu…, mungkinkah perilaku mereka itu sebenarnya memiliki arti lain? Mmmm ooooh, saya mengerti….. demikian toooo. Jadi apa ada kemungkinan bahwa tindakan mereka sebenarnya memiliki tujuan lain yang sebenarnya untuk kebaikan Anda misalkan atau…..?” Atau jika NLP-er lebih canggih, maka ia akan menambah pertanyaan: “Jadi sejak kapan Anda memutuskan bahwa perilaku/tindakan ketiga orang itu memiliki arti sebagai membenci Anda?”
- (Pacing dan matching lagi………) kemudian bertanya : “Jadi…, dengan apa yang kita bicarakan sekarang…, bagaimana ya hubungannya antara perilaku ketiga orang itu dengan keinginan Anda untuk bunuh diri? Apa memang ada hubungannya ya, perilaku mereka itu sebagai sebab keputusan Anda melakukan bunuh diri?” Atau lebih dahsyat lagi jika ditanya begini : “Oooh ya ampuuuun, wah…. boleh saya dijelaskan dong, bagaimana ya tepatnya proses yang terjadi di dalam pikiran Anda, kok Anda mengetahui bahwa keputusan Anda bunuh diri itu disebabkan oleh karena tindakan dari ketiga orang itu?”
Klien :
Jegreng! Klothak! Thuing! Gubrak!
Sontak isi kepalanya berubah, tiba-tiba ia melihat dengan jelas di internal mapnya bahwa sebenarnya yang diributkannya itu cuman 3 orang, bukan semua orang.
Tiba-tiba ia merasa seperti bisa melihat ulang kembali berbagai pengalaman tersebut dan kesulitan mengkategorikan tindakan yang dilakukan ketiga orang itu sebagai tindakan yang membenci dirinya.
Tiba-tiba ia tercenung bahwa ia sendiri yang memberikan makna perilaku ke tiga orang itu sebagai membenci dirinya.
Tiba-tiba ia menyadari bahwa perilaku dari 3 orang tersebut adalah tidak cukup menjadi sebagai sebuah alasan untuk melakukan tindakan bunuh diri….
Duh duh duh engkang…!
Saat RB dan JG menghasilkan kodifikasi yang kemudian dinamakan Meta Model ini, lantas hasilnya adalah semua orang yang mempelajari terapi menjadi gampang untuk mereproduksi keajaiban yang dilakukan oleh FP, VS ataupun ME. Sungguh, hasil kerja RB dan JG benar-benar membuat pembelajar menjadi merasa LEBIH MUDAH dalam meniru, memodel ataupun mereproduksi suatu ekselen. Di pikiran saya, sesungguhnya kita semua diberkati Tuhan, karena mendapatkan warisan ilmu yang sedemikian berharga dari dua orang yang semoga juga terus diberkati Tuhan dan terus mendapatkan pahala yang melimpah. Well, sebagaimana banyak orang memiliki kerinduan agar group band Spice Girl kembali akur, sayapun punya kerinduan agar RB dan JG kembali akur. Wow, berkat apa lagi yang akan dihasilkan mereka dalam keakuran yang baru???
Coba kita selami dikit, makna kata NLP adalah Neuro Linguistic Programming. Neuro berarti: syaraf, pikiran, yakni ranah yang dipelajari, sedangkan Linguistic adalah keahlian yang dimiliki oleh JG (Professor Linguistic), sementara Programming merupakan keahlian dari RB (Dr di bidang pemrograman komputer). Jadi NLP itu apa? NLP adalah map atas map, NLP adalah map dari RB dan JG mengenai bagaimana “sebaiknya” manusia mengoperasikan otak mereka berdasarkan apa yang mereka pelajari dari map orang-orang yang mereka model itu. Jadi if NLP is a map, then NLP is not the territory too.
Inilah, banyak orang bicara NLP seolah NLP adalah suatu territory, ini yang menjadikan NLP dirasakan sulit oleh sementara orang. Mari kita perlakukan NLP sebagai map, map yang ekselen, map yang kita perlu pertimbangkan sebagai map baru. Mungkin… kita perlu mempertimnagkan untuk melakukan suatu re-mapping atas sebagian dari map kita sekarang.
Jadi teringat kalimat yang suka ditanyakan oleh Dora dalam Film Dora The Explorer : “Nah, kawan-kawan, jika kita tidak tahu kemana kita akan pergi dan jalan mana yang harus ditempuh, kepada siapa kita harus bertanya?”
Di jawab : “Katakan Peta, katakan peta!!!”
Nah, senang rasanya bisa menyimpulkan bahwa NLP memang seharusnya gampang dan membuat hal lain menjadi gampang…., itulah semangat para co-founder NLP. Memang sih, contoh atas baru sekelumit contoh kecil yang menunjukkan ternyata belajar Meta Model itu mudah, dan bahkan Meta Model akan mempermudah hal yang lain (misal proses terapi dan komunikasi).
Terus bagaimana dong dengan tools NLP yang lain? Bagaimana dong agar tools NLP yang lain bisa dijelaskan secara mudah? Bagaimana dong agar NLP bisa mempermudah seluruh kehidupan kita? Nah, kawan-kawan, jika kita tidak tahu kemana harus belajar NLP yang bisa membuat mudah, kepada siapa kita harus bertanya ?”
Oke, terima kasih.
Ronny F. Ronodirdjo
www.belajarnlp.com www.ronnyfr.com
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in NLP |












April 23rd, 2008 at 4:42 am
Di kalangan NLPer [cheile…:-) ] ada guyonan bahwa “belajar NLP semakin bingung semakin baik”. Saya tidak tahu apakah guyonan ini memang lucu, lugu, atau malah tambah membingungkan.
Memang bingung adalah pintu gerbang bagi pemahaman. Tapi bagi pemula, guyonan ini menjadi map / filter baru ttg belajar NLP.
Setuju dg tulisan Pak Ronny bahwa map yg sebaiknya terinstall adalah NLP itu seharusnya mudah.
Wassalam
FM
April 23rd, 2008 at 5:49 am
Mas Fuad,
Dalam tingkatan belajar “bingung” adalah suatu fenomena yang baik.
Dalam training NLP saya, jika ada yang di awal mengatakan bingung, maka saya reframe bahwa bingung adalah proses peralihan yang akan membawa seseorang dari Fase “Unconscuos Incompetence” menjadi “Conscuos Incompetence”.
Jika proses bingung ini dilewati, maka akan masuk pada fase “NLP itu mudah…. ”
Nah, jika trainer tidak bisa mengawal proses bingung yang dialami oleh traineenya ini, maka kesimpulan yang akan muncul adalah “NLP itu sulit”.
Jadi perlu digaris bawah, bahwa bingung tidak sama dengan sulit. Bingung adalah proses, sulit adalah judgement.
Thanks Mas!
April 23rd, 2008 at 7:16 am
Mas Ronny, memang seharusnya NLP itu mudah. tapi benar yang Mas Ronny katakan bahwa kadang kadang yang membuat sulit itu trainernya ( tidak semua lho ) andai saja semua trainer kaya Mas Ronny mungkin lain ceritanya. Ditambah lagi selain trainernya dalam menyampaikannya mbulet ( mungkin dia dulu belajarnya mbulet juga kali ) pesertanya kapasitas otaknya seperti Pak Yan bilang bukan pentium tapi Z-80 ha..ha.. klop deh jadiya. Bravo buat Mas Ronny atas pencerahan ini semoga kawan kawan lain bisa lebih memahami NLP dengan mudah.
Terima Kasih.
April 23rd, 2008 at 9:28 am
Halo Mas Sugeng…
Sugeng mampir…
Mana ceritanya mempraktekkan NLP ?
Ayo dong…
April 27th, 2008 at 7:43 am
NLP will CRACK everything* !
*generalisation
April 27th, 2008 at 9:06 am
Cerdas sekali Panjenengan ki Mas Eko Andi.
Kapan main ke Jakarta?
Saya kangen kripik nangkanya…
April 28th, 2008 at 4:43 am
trima kasih, siapa dulu donk gurunya, … RFR !
Insyaallah tgl 9 - 10 mei ke jkt kalo jadi. NLP Certified mas Ronny udah keluar tanggalnya ?
thanks again.
April 28th, 2008 at 4:47 pm
Assalammu’alaikum Mas Ronny,
Waduh… mungkin kalo boleh dibilang saya beruntung sekali dapat belajar NLP pertama kali dari tulisan dan NLP 4 trainer yang mas ronny kasih.. Hal itu sangat membantu saya memahami NLP dengan sangat mudah…..
N mas ronny setelah mengikuti pelatihan NLP, bahkan ketika ikut practitioner …bisa dibilang saya masih gak mudeng dengan NLP, tetapi setelah sampai dirumah dan saya mereview apa yang didapatkan (dikunyah lagi, dinikmati lagi, dan dimuntahkan lagi) berulang-ulang saya semakin berfikr memang NLP mudah kok, wong semua bisa dikatakan sudah ada di dalam kepala kita dan sering kita lakukan. Thanks berat mas… dikau guru ku… n always be my guru.
May 5th, 2008 at 2:00 am
Mas Eko Andi, kabar-kabrain kalau ke Jakarta… ya!
May 5th, 2008 at 2:02 am
Halo Mas Arlin,
Memang kita ini sebenarnya orang yang selalu beruntung kan…
Kapan main ke Jakarta lagi?
Semoga artikel-artikel ini bis membuat orang mudah memahami NLP di Indonesia
May 12th, 2008 at 4:34 am
Assalamu’aliakum
Pak Ronny terima kasih banyak atas penjelasan singkat Nested Loop nya kemarin..insyaAllah dalam kesempatan Training akan saya gunakan dan praktikan,prgressnya nanti saya sampaikan…
Terus juga penjelasan The Map is not terytory kemarin saya mendapatkan cara penyampaian baru tentang itu..bahkan alhamduillah kita sampaikan kepada remaja pun akan difahami dengan metode bapak kemarin diresto minang…
NLP adalah Map on Map..mendapat isnpirasi baru bagi saya untuk memahami islam…mengapa hari ini terjadi perbedaan pendapat sama halnya dengan NLP ini..(khusus hal khilafiah)..saya mau berdiskusi dengan ustaz saya,mengenai map on map ini..mudah-mudahan bisa memudahkan penyamapain ilmu..terima kasih banyak…
“Semakin kupelajari ilmu Mu ya Rabb,semakin hamba tahu bahwa hamba belum tahu”
Rahmadsyah
May 13th, 2008 at 9:23 am
mantap2…
tapi btw mas,
NLP, Meta Model…
aku baru denger mas, tapi kenapa buat aku itu bukan hal baru?
kalo liat metodenya sie mas, kalo misalnya kita curhat ke orang laen, ada beberapa orang yang sadar ga sadar biasanya make cara seperti itu buat menegaskan pemikiran seseorang yang kadang g da juntrungannya, membuat justifikasi pada dirinya sendiri pada keadaan atau kondisi yang sebenernya ga ada, pikiran orang yang memang kadang suka mengeneralisasi itu yang jadi sebabnya…
tapi beberapa kasus, kadang ada juga orang yang tambah bingung kalo diminta mikirin sendiri kondisinya, dalam hal ini adalah orang2 yang biasanya bahkan terlalu males buat mikirin dirinya sendiri, dan terlalu males buat memulai untuk berpikir.
kalo pada kasus yang sama diproses dengan “meta model” kaya gitu tar biasanya jawabannya, “ga tau ah pokoknya…” dsb..
bbagi pengalaman mas, dan mencoba membahas dengan cara aku sendiri, soale kalo pake bahasane mas ronny aku ndak malah ngalor ngidul heee
May 14th, 2008 at 5:11 pm
Halo Bang Rahmadsyah yang dari Aceh!
Saya juga belajar banyak dari acara Minggu kemarin, terutama dari antusiasme kawan-kawan….
Semoga acara semacamitu akan berguna bagi semuanya…
Wassalam
May 14th, 2008 at 5:13 pm
Omix…,
Sip! Cerdas banget deh kamu…
Begitulah NLP dalam bahasa anak muda, sudah kita ketahui…, hanya kodifikasi dan penyempurnaan…. Sehingga bisa dipelajari dengan lebih mudah.
Salam ya untuk Mama dan Mas Omman di Yogya!
May 20th, 2008 at 12:42 pm
pertama aku mau ngucapin welcome back to our campus psikologi ugm tercinta (halah bahasanya) kemaren (tanggal 19) btw mas aku mau ngasi testimoni aja ya,
kemaren waktu kita latian embedded command hari ini (tanggal 20 mei) praktekin di bidang selling sama seorang ibu penjual di pasar awalnya emang kayak ga ngefek, tapi gak lama kemudian dia jadi bolak balik ke stand kita dengan ngajak temen-temennya trus aku mikir, apa ini efek embedded command yang tadi yak *pede banget* hehehe….kayaknya saya perlu latihan lagi nih
best regards,
nadvi
May 21st, 2008 at 3:51 am
Sip Mas nadvi,
Sikap dalam belajar NLP adalah “eksperimental”, bukan judgemental…
Selamat mengeksplorasi dunia internal manusia
June 18th, 2008 at 2:30 am
seharusnya,, para trainer yang diklaim ahli nlp bisa membuat orang paham tentang nlp dengan ilmu yang dimlikinya.
bukankah nlp itu bisa membuat yg sulit jadi mudah..?
iya toh..
mari kita break dulu..
tertawa bisa membuat bahagia lho..
Ikan apa yg matanya banyak sekali? Ikan teri 1 kilo
ikan apa yang paling besar kepalanya?
ikan teri pake helm.
Ikan apa yang paling menderita?
Ikan yang ngga bisa berenang karena pake helm
Ikan apa yg nggak bisa berenang? Ikan goblok
kenapa dinamakan ikan ?
karena goblok…
salah…
yang benar adalah, karena Dina lapar.
kenapa dina makan ikan..? ya karena si dina laper…
salam bahagia
(anggota ninjafar)