Sensory Base Description : The Power Of Words!
Written by ronnyfr on 31 March 2008 – 10:21 am - 925 kali dibaca.Dalam memberikan pelatihan mengenai Covert Persuasion atau Hypnotic Persuasion, saya sering mendapatkan pertanyaan “Benarkah kata-kata memiliki kekuatan mempengaruhi?”
Untuk menjelaskan pertanyaan itu, biasanya saya menjawab dengan metafora, agar langsung terasa bagaimana sebuah kata-kata bisa mempengaruhi. Salah satu kisah favorit saya adalah mengenai “Seorang Pemuda Yang Menggampar Nenek-nenek”. Saya mendapat kisah ini dari salah satu milis humor, entah penulisnya siapa. Jika penulisnya mampir ke blog saya , dengan senang hati saya akan berterima kasih kepada Anda, dan meminta ijin pemakaian kisah tersebut. Dibawah ini saya ceritakan kepada Anda kisahnya, dengan berbagai perubahan sehingga menjadi lebih sensory base description.:
Seorang pemuda sedang berada di sidang pengadilan karena tuduhan menggampar berkali-kali seorang nenek-nenek di dalam kereta api. Saat diminta penjelasan kenapa ia memukuli nenek-nenek itu ia menjelaskan demikian :
“Begini Pak Hakim, saya minggu lalu sedang naik kereta api Senja Ekonomi dari Jakarta ke Surabaya. Setelah naik dan menunggu, maka sesaat saya sempat merasa senang karena kursi sebelah saya terlihat kosong tiada yang menduduki. Namun saat sudah mau berangkat lantas naik seorang nenek-nenek yang membawa tas besar berwarna merah kotak-kotak, dan duduk begitu saja tanpa mengucapkan kata permisi ataupun kata lainnya. Saya dianggap sepi saja. Mulai terasa hilang kesenangan saya!”
“Saat saya menyapanya dan menawarkan bantuan untuk mengangkat dan meletakkan tas besar berwarna merah kotak-kotak itu ke atas bagasi, nenek-nenek itu menolak dengan ketus dan memandang saya dengan tatapan mata curiga. Bahkan ia malah menaruh tas itu di antara kursi dan menindih kaki saya sepanjang perjalanan. Ya sudah saya masih mengalah sekalipun tas itu terasa berat dan kaki saya sakit sekali.”
“Yang paling mengesalkan adalah saat kondektur datang di stasiun Jatinegara. Saat kondektur meminta tiketnya, nenek-nenek itu tangannya bergerak cepat membuka tas merah besarnya dan kemudian mengeluarkan buntalan kain besar berwarna abu-abu di dalamnya, di dalam buntalan kain itu lantas di ambilnya tas tangan yang sudah kusam. Sambil melotot ke saya, dari dalam tas tangan itu lantas dikeluarkannya gulungan saputangan, dan kemudian dari dalam gulungan saputangan itu tersimpan dompet kecil bergambar corak Jepang, setelah dompet itu dibuka, terdapat sebuah amplop berwarna coklat tua. Kemudian ia membuka amplop itu dan di dalamnya ia keluarkan tiket kereta api yang dilipat-lipat sangat rapi itu.”
“Setelah melihat kertas tiket itu dibubuhi tanda oleh kondektur itu lagi, tanpa bersuara apapun nenek itu kembali melipat tiketnya, memasukkan ke dalam amplop, menutup amplop dan memasukkan ke dalam dompet kecil yang lantas digulung dengan sapu tangan kemudian dimasukkan ke dalam tas tangan. Setelah itu, ia masukkan tas tangan itu ke dalam buntalan kain besar. Lantas sambil menggumam tidak jelas namun bernada amat puas, ia kemudian memasukkannya buntalan kain besar itu ke dalam tas besarnya. Kemudian tas besar itu kembali diletakkan menindihi kaki saya. Saya sudah ceritakan bagaimana rasa sakitnya kaki saya!”
Pak Hakim lantas menyela : “Lantas kenapa kamu gamparin nenek-nenek itu? SUngguh kurang ajar kamu pemuda gagah beraninya ama nenek-nenek…!”
Pemuda itu menjawab : “Sebentar Pak Hakim, kisahnya belum selesai, itu baru permulaan. Setelah melewati stasiun Jatinegara kereta api Senja Ekonomi berjalan lagi, kemudian berhenti lagi di stasiun Bekasi. Saat kereta mulai berjalan, kembali kondektur itu mendatangi setiap penumpang dan meminta tiket kami termasuk si nenek-nenek itu. “
“Saat diminta tiketnya oleh kondektur itu, nenek-nenek itu tangannya bergerak cepat membuka tas besarnya kemudian mengeluarkan buntalan kain besar berwarna abu-abu di dalamnya, di dalam buntalan kain itu lantas di ambilnya tas tangan yang sudah kusam. Lantas lagi-lagi sambil melotot ke saya, dari dalam tas tangan itu lantas dikeluarkannya gulungan saputangan, dan kemudian dari dalam gulungan saputangan itu tersimpan dompet kecil bergambar corak Jepang, setelah dompet itu dibuka, terdapat sebuah amplop berwarna coklat tua. Kemudian ia membuka amplop itu dan di dalamnya ia keluarkan tiket kereta api yang dilipat-lipat sangat rapi itu.”
“Setelah melihat kertas tiket itu dibubuhi tanda oleh kondektur, lagi-lagi tanpa bersuara apapun nenek itu kembali melipat tiketnya, memasukkan ke dalam amplop, menutup amplop dan memasukkan ke dalam dompet kecil yang lantas digulung dengan sapu tangan kemudian dimasukkan ke dalam tas tangan. Setelah itu, ia masukkan tas tangan itu ke dalam buntalan kain besar. Lantas sambil menggumam tidak jelas namun bernada amat puas, ia kemudian memasukkannya buntalan kain besar itu ke dalam tas besarnya. Kemudian tas besar itu kembali diletakkan menindihi kaki saya lagi. Tentunya saya sudah tidak perlu mengulang, karena saya sudah ceritakan bagaimana rasa sakitnya kaki saya!”
“Kereta berjalan terus dan kini memasuki Stasiun Kerawang, sebenarnya saya sudah tertidur beberapa saat saat tiba-tiba dibangunkan lagi oleh gesekan tas besar yang diangkat oleh si nenek. Rupanya kembali kondektur sedang memeriksa tiket penumpang lagi. Si Nenek itu kembali tangannya bergerak cepat membuka tas besarnya kemudian mengeluarkan buntalan kain besar berwarna abu-abu di dalamnya, di dalam buntalan kain itu lantas di ambilnya tas tangan yang sudah kusam. Kembali sambil memelototi saya, dari dalam tas tangan itu lantas dikeluarkannya gulungan saputangan, dan kemudian dari dalam gulungan saputangan itu tersimpan dompet kecil bergambar corak Jepang, setelah dompet itu dibuka, terdapat sebuah amplop berwarna coklat tua. Kemudian ia membuka amplop itu dan di dalamnya ia keluarkan tiket kereta api yang dilipat-lipat sangat rapi itu.”
“Setelah melihat kertas tiket itu dibubuhi tanda oleh kondektur, kembali tanpa bersuara apapun nenek itu kembali melipat tiketnya, memasukkan ke dalam amplop, menutup amplop dan memasukkan ke dalam dompet kecil yang lantas digulung dengan sapu tangan kemudian dimasukkan ke dalam tas tangan. Setelah itu, ia masukkan tas tangan itu ke dalam buntalan kain besar. Lantas sambil menggumam tidak jelas namun bernada amat puas, ia kemudian memasukkannya buntalan kain besar itu ke dalam tas besarnya. Kemudian tas besar itu kembali diletakkan menindihi kaki saya lagi. Busyet nich ucap saya! Lagi-lagi Anda pasti bisa merasakan sendiri bagaimana jika kaki Anda yang ditindih seperti itu, sakitnya!”
Mendengar kisah itu, keruan saja Sang Hakim marah, mengetuk palu secara keras berkali-kali dan berteriak geram sekali :
“Saudara jangan main-main dan mengacau ya! Saya sebagai Hakin betul-betul terhina dan marah besar!!!! Ini pengadilan yang terhormat! Saya bisa menuntut saudara sebagai pelecehan, atau delik penghinaan institusi peradilan!”
Pemuda itu membalas dengan berteriak berang sekali seolah tak mau kalah :
“Pak Hakim, Anda baru mendengarkan cerita saya saja sudah marah-marah dan mengancam saya dengan berbagai hukuman yang kejam! Apalagi jika Anda yang mengalaminya sendiri!!! Padahal itupun belum semua saya ceritakan, bayangkan masih ada berapa puluh lagi stasiun pemberhentian kereta Senja Ekonomi sehingga saya sampai di Surabaya?!!!! Jadi apa Anda masih mau menuntut saya dan masih juga heran kenapa saya menggampari nenek-nenek tersebut?!!”
Hwaqiqiqiqiqiq…, (mode geli : on)
Saya rasa di sini sudah jelas, bagaimana suatu kisah yang diceritakan secara sensory base description, akan mampu mempengaruhi pendengarnya bahkan menjadi emosional. Terus bagaimana jika sudah dibumbui dengan proper tonality, misal ditambah dengan embedded command yang menggunakan analog marking ataupun tonality shifting? Plus tambahkan gesture, spatial anchor dan yang lainnya?
Wuih, kok banyak bener istilah NLP yang aneh-aneh, jadi pengin ngerti deh! Biar bisa mempengaruhi juga….
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in NLP |












April 1st, 2008 at 1:18 am
Hwa.. ha.. ha..
Setuju Pak, yang baca saja ikut gemes, koq nggak selesai-selesai cerita / penderitaannya.
Ditunggu artikel & penjelasan ttg istilah yang aneh-aneh itu Pak.
Fuad Muftie
April 3rd, 2008 at 5:02 am
Mungkin kalo si nenek itu kita bayangkan sebagai Mr. Been tua mungkin kekesalan kita bisa mereda
April 7th, 2008 at 4:12 am
Mas Ronny, Hwaqiqiqiqiqiq…, geli juga bacanya, tapi kan masih ada contoh yang bagus seperti yg Mas Ronny pernah cerita, kalau dalam 30 menit seorang cewek juga bisa tertarik sama kita. Mungkin Mas Ronny bisa berbagi cerita itu disini. untuk dinikmati bersama.
thank U.
April 10th, 2008 at 11:16 am
Mas Fuad, selamat…
Saya dengar sudah menjadi NLP Pract ya…
Ayo saya tunggu komentar yang lebih menukik!
Mas Attar
Hehehe,
Setuju, bener banget…
Jika digani Mr Bean kekesalan kita jadi reda, lebih ke gemes…, ini namanya reframing konteks…
Canggih deh!
Mas Sugeng…, apa kabar?
Wah masih ingin memikat cewek nih?
Hehehe, intinya menggunakan gabungan dari :
- Rapport Building
- Break pattern
- Ericksonian Hypnosis yang diolah sehingga seperti kalimat sehari-hari
- Anchoring
- Change belief system
Tapi bisa bahaya jika ditulis komplit disini…
Oke Mas…
April 11th, 2008 at 4:22 am
saya penasaran kayak apa akhir dari cerita anak muda itu yang sampai tega menyakiti orang tua apalagi seorang nenek.
April 11th, 2008 at 4:29 am
Hahaha,
Bli Made ada-ada saja…
Rupanya pengaruh kata-kata sedemikian kuat sampai membuat Bli penasaran…
Lama tak muncul disini Bli?
April 17th, 2008 at 2:06 am
Mas roni..utk orang2 yg gagap kayak saya, gimana cara memiliki kata2 yang kuat dan bermakna.
Salam kenal
April 22nd, 2008 at 6:25 am
Mas Roni,
Cerita favorit saya yang sering saya pakai dan jarang gagal membuat audience tertawa adalah cerita tentang “Pemuda Gagap yang berhasil menjual semua buku, hanya dengan mengucapkan 5 kata saja”
Terus, yang kedua, cerita orang yang ikut program diet, yang pertama mengejar cewek cakep, sedangkan yang lainnya dikejar gorilla. Mas roni pernah cerita di Surabaya.
Yang ketiga, cerita Anak SD kelas-2 yang dikatakan BODOH oleh gurunya, terus temannya, terus kakaknya, terus ibunya, dan terakhir oleh bapaknya.
He he he, saya yang berkali-kali cerita saja masih sering terpingkal2 kalo ada orang yang cerita hal yang sama.
Best Regard
April 22nd, 2008 at 6:52 am
Mas eko..
Dalam perakteknya agak sulit untuk mempunyai kata2 yg bermakna apabila anda gagap. Ada ide ga mas..
April 23rd, 2008 at 3:25 am
Mas Riski,
Jika anda sudah familiar dengan NLP, silahkan gunakan teknik NLP yang bisa membongkar sebab gagap. Biasanya gagap disebabkan oleh adanya kecemasan atau stress yang berhubungan dengan aktivitas berbicara.
Salah satu metode yang sering dipakai adalah Drop Down Tchnique. terlalu panjang diuraikan disini, silahkan lihat di http://www.masteringstuttering.com/Articles/Stuttering.htm.
Bisa juga pakai time line atau teknik lain yang bisa mengubah map anda mengenai aktivitas berbicara.
Semoga berguna