Dewi Persik : Goyangmu atau Mulutmu Harimaumu
Written by ronnyfr on 30 March 2008 – 3:45 pm - 1,188 kali dibaca.
Beberapa saat yang lalu saya sempat melihat suatu acara televisi yang di setel disuatu ruangan yang sedang menayangkan gossip seputaran Dewi Persik (DP). Liputan itu sempat menunjukkan saat kamisol penyanyi dangdut ini melorot, saat ia menampar penggemar yang mencolek payudaranya. Bahkan dalam liputan itu, berulang kali ditunjukkan adegan goyangan DP …. yang saya sulit memberi label apa?
Berbagai kalangan memiliki label yang berbeda untuk menge-cap kesan atas goyangan DP. Ada yang menyebutnya “aduhai…”, “asyik…”, “yahuuuud”, “merangsang…” atau mungkin “seronok…”, atau malah “nggilani….”, atau “tak bermoral”, atau istilah lainnya…
Bagi saya, sederhana saja, saya sih waktu melihat goyang dan kilahannya, dengan mudah dan otomatis langsung teringat seorang pendahulunya yang bernama Inul Daratista (ID). Saya tidak tahu kenapa saya langsung teringat Inul, rasanya terjadi secara alami begitu saja. Tiba-tiba saya seperti diingatkan bahwa saat ini pendahulunya itu sudah demikian berjaya dan dengan posisinya yang sekarang sudah tidak perlu lagi melakukan goyang ngebornya. Bahkan saat ramadhan kemarin mengeluarkan album rohani. Luar biasa yang namanya manusia…
Hah!? Sejak kapan blog ini menjadi isinya gossip artis? Apa hubungan goyangan dangdut dengan NLP? Tenang saja…
Tulisan ini tidak ingin mengkritik DP atau ID dengan goyangannya ataupun strateginya untuk mendapatkan popularitas. Sudah terlalu banyak artikel di media masa yang menuliskan pro-kontra itu. Kita fokus saja pada garis lurus blog ini : Neuro Linguistic Programming.
Saya ingin sekali ilmu NLP bisa dirasakan secara amat membumi, bukan berada di awang-awang sana. Ilmu NLP bisa bermanfaat tanpa kita harus trance atau masuk ke kondisi alpha kok. Contoh dalam hal linguistic, ilmu NLP ini bisa dipakai untuk menjelaskan suatu fenomena keseharian dari sisi yang bermanfaat secara langsung.
Well, jika kita lihat dari sisi pemahaman dasar ilmu NLP, maka apapun cap atau label kita pada goyangan DP, semuanya berpulang pada filter mental yang eksis di kepala kita masing-masing. Semuanya berpulang pada mental map apa yang tercipta di kepala kita masing-masing. Ingat the map is not the territory.
Map ini terbentuk setelah suatu stimulus melalui filter di kepala kita yang berupa distortion, deletion dan generalisation. Jadi bagi praktisi NLP, ia akan tahu bahwa suatu fenomena goyangan seorang DP akan di generalisasi sebagai …., di delete bagian ….. dan mengalami distortion dalam hal ……
Di Cekal Oleh Walikota Tangerang
Acara gossip di TV masih berlanjut, penyiarnya mengatakan bahwa sempat santer beredar kabar bahwa DP dan seorang penyanyi lain dicekal oleh Walikota Tangerang untuk tampil di Tangerang, karena dinilai terlampau panas dan seronok. Mendengar kabar itu kontan saja DP bereaksi pedas di media massa, mengeluarkan kata-kata yang ……… , dan mari kita lihat secara linguistik-nya. Berikut komentar DP pada ancaman pencekalan itu akan saya tulis secara verbatim (kata demi kata), perhatikan bagian yang ditandai dengan bold, adalah mengandung fenomena linguistic NLP, seperti presuposisi, cause-effect, meta model, dll :
-
“Hari gini khan jamannya emansipasi ya khan, kalau mau ngomong masalah pembetulan diri orang lain, betulkan diri sendiri aja lah… Betulin diri sendiri aja nggak becus bagaimana mbetulin diri orang. Negaranya dulu, daerahnya dulu bikin maju, baru komentar yang lainnya gitu…”
-
“Kalau hanya sebatas koran dan katanya…, kecuali jika memang Bapak Walikota sendiri itu berbicara di televisi dan saya tahu itu, mungkin saya akan menanyakan “Pak, kenapa saya dicekal Pak? Goyang seronok Pak…, apanya Pak? Goyang seronok itu seperti apa Pak…, contohkan Pak?” “
-
“Siapakah sih kita ini manusia, udahlah jangan munafik, jangan jadi merasa benar, rejeki itu semua di tangan Tuhan. Mau Presiden mau siapapun boleh mencekal, tapi kalau Alloh memberikan rejeki kita mau ngomong apa?”
-
“Oh saya akan tetap menjadi Dewi Persik, saya akan maju terus pantang mundur. Hati-hati, masalah itu saya juga bisa membuka aibnya pejabat. Jangan salah…, pejabat Tangerang… aaaah, tahu bangeeeeet!… Kalau memang bener ya!”
-
“Saya sebagai seorang public figur ingin dicintai oleh semuanya. Siapapun itu mau dari kalangan bawah, kalangan menengah, kalangan atas. Jadi saya harus bisa menempatkan diri. Ndak mungkin kalau misalkan Bapak-bapak pejabat… saya pakai bajunya yang seronok atau yang mengelihatkan payudaranya…, gitu gila kali khan… Ya nggak lah, seksi itu yang seperti apa? Kali Bapak tersebut melihat saya aaaaaaakh gitu kali…, terangsang dia!
Komentar yang berikut dikatakannya saat mengkomentari peremasan dadanya oleh seorang lelaki setelah pertunjukkannya.
6. Orang itu gila, sakaw, dan … kalau dibilang sakaw iya! Dia sakaw dia…, kalau orang sudah sakaw khan udah ilang kesadaran kan… ya khan…. jadi udah brengsek. Kalau saya bilang brengsek tolong ini jangan di sensor. Orang itu brengsek, iya! Kurang ajar sekali. Saya nyanyi, goyang itu di panggung saya seksi, dengan saya menggoyangkan mungkin dari pakaian .. atau mungkin dari gaya saya yang seksi tapi tidak berarti kalau saya turun dari panggung kamu bisa ‘mek mek’ saya . Gua bunuh kamu! Di panggung, saya itulah Dewi Persik, turun dari panggung jangan macem-macem… kamu sentuh aku…, gua tonjok kamu, kalau perlu gua bunuh. Kecuali suami saya bisa sentuh saya.
Well, jadi benarkah karena goyangnya DP akan menuai masalah? Atau karena mulutnya (omongannya), ia akan menuai masalah yang jauh lebih besar? Goyangmu atau mulutmu harimaumu?
So, jadi mari kita bahas fenomena linguisticnya secara NLP. Saya memberikan challenge pada para pembaca setia untuk mengomentari kalimat diatas secara linguistic NLP. Bukan secara moral atau agama. Karena kita sudah bisa menilainya dengan mudah sesuai keyakinan masing-masing. Don’t you?
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in NLP |












April 1st, 2008 at 11:38 pm
Sudah banyak sekali contoh penerapan NLP pada artis, yang secara sadar ato tidak tlah mengubah kehidupannya. Kita lihat sebagai contoh lirik yg dinyanyikan oleh Dewi Yul yang hit waktu itu, “Semua terserah padamu, aku begini adanya. Kuhormati keputusan mu apapun yang akan kau lakukan…” Nah kejadian itu benar-benar terjadi pada kehidupan rmh tangganya. Dan masih banyak contoh2 sederetan artis yg sdh menuai apa yg tlah d pasang dlm Pikiran Bawah Sadarnya.
April 4th, 2008 at 3:00 pm
Waduh-2 pak Ronny, gimana nih, bener kata pak Andik Nur !? wah kalau begini kan gimana bisa jadi penyanyi yang menghanyutkan kalau akhirnya akan meng anchor sang penyanyinya sendiri.Ngeri dong & kasihan mereka, sedangkan penjiwaan lagu salah satu syarat untuk bisa “kena” pada pendengarnya.
Jadi bener juga dong akibat syair “naik kereta api ” PT KAI jadi merugi terus.
Weleh weleh.Terus harus bagaimana pak Ronny, sebagai pendengar lagu maupun penyanyinya harus bersikap.
April 7th, 2008 at 4:14 am
Terjadi juga sama Maya dan Dani Akhmad , karena lagunya jadinya bisa bercerai/berpisah juga… lihat deh lagu-lagunya maya dan dani… walaupun ana juga menyenanginya.
April 8th, 2008 at 5:09 pm
Ndak mungkin kalau misalkan Bapak-bapak pejabat… saya pakai bajunya yang seronok atau yang mengelihatkan payudaranya…, gitu gila kali khan…
mmm…pada belief nya sudah tertanam bahwa memperlihatkan payudara itu seronok. saya rasa belief ini pun sebenarnya termasuk dalam sistem value nya dia.
terdapat dukungan dari kata-kata DP sebelumnya “membuka aibnya pejabat”
sebagai respons yang ia berikan bahwa penampilannya dinilai sebagai aib untuk dirinya sendiri
dari hal ini justru memperkuat analisa saya bahwa dari sistem belief DP yang ternyata bertentangan dengan keporfesiannya pada akhirnya justru membuat LOA tidak berlaku jangka panjang. akhirnya LOA yang mungkin ia harapkan adalah menjadi seorang penyanyi yang seksi (bukan yang suaranya bagus)tidak menjadi brand di masyarakat karena memang belief dan expectancy nya tidak sinkron,akhirnya LOA tidak berfungsi.
mohon bimbingan pak guru ronny…
April 9th, 2008 at 11:47 am
ternyata DP bisa menggunakan kaidah metamodel juga ya Pak Ronny.
1. Dia menggunakan generalisasi pada saat ngomong : “pejabat Tangerang… aaaah, tahu bangeeeeet!…” Tentu tidak semua pejabat Tangerang seperti yang dia mkasud.
2.”Betulin diri sendiri aja nggak becus bagaimana mbetulin diri orang” : yang ini chanking down ya…..
3. Lha kalo yang ini chunk up : “tapi kalau Alloh memberikan rejeki kita mau ngomong apa?”
April 10th, 2008 at 10:48 am
Wooow, dahsyat!
Udah pada pinter-pinter, meskipun beberapa penggunaan istilah belum tepat….
Tapi apa artinya istilah khan…
Ayo mana pendapat yang lain…? Fokuskan pada kalimat yang di bold…, ayuuuuk!
Ntar belakangan akan saya bahas pastinya!
Silahkan