Standar Ganda : The map is not the reality
Written by ronnyfr on 1 March 2008 – 2:59 am - 861 kali dibaca.Saya baru saja membaca email-email lama dari teman di sore ini, dan saya menemukan email yang menurut saya bagus. Email ini berasal dari teman kuliah saya bernama Yushi T. Ismayudha, saya rasa beliau yang menulisnya sendiri.
Sekalipun email ini ditulis dalam konteks agama Islam, namun rasanya akan tetap cocok untuk siapapun dari agama apapun. Tinggal disesuaikan konteksnya saja. Sangat menarik!
Demikian emailnya :
LUCU YA ?
Lucu ya, uang Rp 20,000an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal masjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket
Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan sepakbola
Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film dibioskop
Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat,tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman
Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya,
Lucu ya, susah banget baca Al-Quran 1 juz saja, tapi novel best-seller 100 halamanpun habis dilalap
Lucu ya, orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, dan berebut cari saf paling belakang bila Jumatan agar bisa cepat keluar
Lucu ya, kita perlu undangan pengajian 3-4 minggu sebelumnya agar bisa disipkan diagenda kita, tapi untuk acara lain jadwal kita gampang diubah seketika
Lucu ya, susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip
Lucu ya, kita begitu percaya pada yang dikatakan koran, tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Qur’an
Lucu ya, semua orang penginnya masuk surga tanpa harus beriman, berpikir, berbicara ataupun melakukan apa-apa
Lucu ya, kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email, tapi bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua-kali
LUCU YA ?
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Nah, menarik sekali jika email ini kita tinjau secara NLP.
Betapa menjadi jelas yang namanya “map is not reality“, untuk sebuah realitas waktu yang sama, kita memiliki map yang berbeda. Sama-sama satu jam, akan berbeda jika dipakai untuk berdoá maupun untuk bermain. Sama-sama Rp 20 ribu, akan berbeda untuk derma di tempat ibadah dan untuk dibawa ke supermarket.
Di NLP, dua presuposisi dasar yang penting adalah :
- The map is not the reality
- We are respond to our map, not directy to reality
Jadi, ini menjelaskan kenapa kita merespon secara berbeda atas 2 hal yang sama, waktu yang sama, uang yang sama dan seterusnya. Kita merespon peta mental kita mengenai realitas, bukan merespon langsung kepada realitas.
Nah, pertanyaannya kemudian: Kenapa peta mental mengenai aktivitas yang berhubungan dengan ibadah kok cenderung maunya ngirit? Kok maunya cepet-cepet berakhir? Kok maunya dikit saja?
Inilah yang perlu dijawab…
Nah,
Begini ceritanya, semua hal yang kita sebut tadi : uang, waktu, dll hanyalah suatu “representasi dalam pikiran kita”. Yang kita sebut map, adalah proses pikiran kita menciptakan representasi (perwujudan ulang) dalam pikiran.
- Kecenderungan kita, sesuatu yang menyenangkan akan di representasi dalam pikiran sebagai “terasa lebih singkat”. Sedangkan sesuatu yang tidak menyenangkan akan direpresentasi “terasa lebih lama”.
- Kecenderungan lain kita, mengeluarkan uang untuk infak (sesuatu hal yang tidak kelihatan langsung hasilnya, dan mungkin kurang menyenangkan) akan di representasi dalam pikiran sebagai “terasa lebih besar”. Sedangkan mengeluarkan uang untuk sesuatu hal yang langsung ada hasilnya dan menyenangkan (belanja di supermarket) akan direpresentasi “terasa lebih kecil”.
Jadi, rahasianya adalah :
Mulai hari ini, ubah semua map (persepsi) kita mengenai aktivitas relijius/ibadah menjadi berasosiasi dengan sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, dan asyik. Bukan sebaliknya.
Alangkah baiknya jika pendidikan dalam ber-ibadah tidak terlalu ditonjolkan dalam kaitannya dengan hukuman, sehingga orang melakukan ibadah HANYA semata-mata karena takut mendapatkan hukuman (siksa). Misal, jika tidak melakukan ini itu maka akan di hukum di neraka, jika tidak berderma, maka akan masuk ke neraka jahanam, dll.
Well, jelas tidak ada salahnya menyatakan hal itu dalam pendidikan agama, karena memang ada ancaman hukuman semacam itu bagi yang durhaka, bagi yang melakukan perbuatan dosa, menyiksa anak yatim, menyembunyikan harta dari kewajiban derma, dll.
Yang saya usulkan adalah, imbangi juga informasi di sisi lain. Alangkah indahnya jika seseorang ingin sekali melakukan sholat bukan karena takut dihukum Tuhan, namun karena sangat mencintaiNya. Alangkah indahnya jika seseorang ingin sekali bershodaqoh untuk anak yatim bukan karena takut ancaman neraka, namun karena ia ingin melihat anak yatim berbahagia dan mendapatkan hak rejeki mereka dan seterusnya.
Semoga Alloh memberi ampun, jika saya salah pendapat dalam hal ini.
Bagaimana pendapat Anda?
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in Law Of Attraction, NLP |












March 1st, 2008 at 10:14 am
Ya… itulah kita mas ronny, kalo untuk kebaikan emang terkadang berat, Maka mungkin kita memerlukan pemetaan ulang pada logika dan cara berpikir kita, ada tekhnik gak ya…………?, kalo para sufi sich merekomendasikan untuk uzlah (menyendiri), jadi petapa, biksu dll, tetapi ada gak cara yang lebih ok tanpa harus meninggalkan dunia kita hari ini,…sholat kali yah….
March 2nd, 2008 at 12:49 am
This is a truly inspiring post, Ron. Great analysis that you’ve explored here.
The map is not the reality. Persepsi atas kenyataan mungkin memang jauh lebih penting — dan bukan kenyataan itu sendiri.
Bravo. Yodhia.
PS: Template-mu makin keren aja, bro…hehehehe.
March 2nd, 2008 at 9:05 am
Halo Mas Arlin dan Mas Yodhia…
Benar, saya setuju dengan Anda berdua…
Inilah rahasia memahami ‘inner secret’ kita. Saya tunggu pendapatnya lagi…
March 2nd, 2008 at 10:03 am
Bener Pak, kayaknya saya juga punya map yg kurang powerful untuk urusan ibadah.
Nah pas barusan, saya dpt pelajaran ttg Map-Cross, akan saya coba ubah map ttg ibadah saya. Semoga berhasil
Wassalam
Fuad Muftie
PS: Pak Ronny, webnya masih berat diaksesnya.
March 2nd, 2008 at 10:22 am
Thanks Pak Mufi,
Blog masih berat ya?
Mungkin karena blog saya server-nya di USA.
Saya akan cari server mirror di Indonesia juga deh…
TQ
March 2nd, 2008 at 10:38 am
pak Ronny..kl menurut saya ada hal lain yg menyebabkan map kita rusak dlm beribadah,skalipun kita sudah sering mengubahnya. karena tanpa kita sadari iblis slalu berbisik di alam bawah sadar kita. mungkin kita lupa untuk sering dzikir dan baca doa..jadi kita dlm mengubah presepsi kita jangan lupa disertai doa..gitu kali,jadi gak perlu uzlah ya mas arlyn.. sukses pak Ronny..
March 2nd, 2008 at 1:30 pm
Sepakat!
Thanks sudah menambahkan…
Lha karena saya fokus hanya membahas secara NLP saja…
Untung Pak Rosyidin nambahin… Thanks Pak
March 4th, 2008 at 3:31 am
Mas Ronny, thanks buat artikelnya ini, mengingatkan saya kalo udah pernah membacanya entah kapan dan dimana.
Dunia memang lucu koq. he he
Menurut saya artikel ini ada keterkaitan dengan artikel mas Ronny yang berjudul “Olah raga : pain or pleasure?”, yang membahas tentang PPP (Pain pleasure principle).
Untuk mengubah semua map (persepsi) kita mengenai aktivitas relijius/ibadah menjadi berasosiasi dengan sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, dan asyik, dapat menggunakan PPP ini.
Hal ini pernah dibahas oleh Imam Al-Ghazali (1058 - 1111 M), dalam bukunya Minhajul Abidin, yang didalamnya ada bab yang membahas tentang cara “Mempertahankan Motivasi”, yaitu dengan menjaga keseimbangan antara roja’(rasa harap/pleasure) dan khouf (rasa takut/pain) dalam setiap aktifitas. Penjelasannya begini, kita semua pasti pernah BAHAGIA, khan? Dan kadang kala rasa bahagia itu sangat besar sampai tidak terkontrol. Nah, kondisi ini bisa memunculkan potensi untuk LUPA (ya yang kita anggap lucu itu lho). Supaya itu nggak terjadi, maka kalo kita lagi dalam kondisi BAHAGIA maka munculkanlah (ACCESS) rasa KHOUF (takut) lebih banyak agar seimbang. Kalo lagi SEDIH maka munculkanlah (ACCESS) rasa ROJA’ (harap) lebih banyak agar seimbang. (cattn: bagi kita yang preferred system Kinestetik, pasti mudah, karena saya juga K).
Kondisi hidup yang seimbang inilah yang akan menjaga motivasi tinggi (STATE of MOTIVATIONAL MIND) untuk ibadah/melakukan kebaikan. Koq bisa ? iya karena kita memang MANUSIA, bukan MALAIKAT (Opps! jadi serius gini :))
Mhn koreksi dari suhu ronny kalo ada yang kurang tepat ya ! jzk
March 4th, 2008 at 1:00 pm
Luar biasa,
Cuma stu koreksi saja :
Jangan sebut saya sebagai Suhu…
Saya lebih senang disebut teman belajar yang baik… Hehehe.
March 9th, 2008 at 12:45 pm
Mas Rony, saya mampir ya..
Salut dengan nama besar mas Rony yg semakin lama semakin besar.
Btw.. kalo ditanya kenapa bisa jadi lucu ya… seringkali telunjuk akan jadi jawabannya, karena lingkungan kita seperti itu, karena atasan kita seperti itu dst..
Keep Posting mas, bagi-bagi ilmu buat junior mu ini..
Salam
March 10th, 2008 at 12:35 am
Halo Eka,
Thanks sudah mampir…
Kapan mau buat blog juga?
March 11th, 2008 at 5:08 pm
Mas Ronny, salam kenal.
Artikelnya banyak sekali yang menarik untuk dibaca dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Boleh tidak saya ambil artikel-artikel ini untuk diposting di blog saya, tentu dengan menyebutkan sumbernya.?
Terima kasih.
March 18th, 2008 at 5:46 am
Silahkan Mas Bams,
Dengan senang hati, artikel di sini boleh di muat di blog Anda, sepanjang menyebutkan sumber dengan jelas…
Mari kita warnai Indonesia!
Salam sukses
Ronny FR
April 14th, 2008 at 7:11 am
Mungkinkah saya juga mau melakukan perintah-Nya selama ini karena saya takut akan hukumannya bukan karena mencintainya?
Terimakasih atas artikelnya mas.
April 15th, 2008 at 8:47 pm
Oke,
Sama-sama Mas Sanu,
Kita semua hakekatnya memang sedang belajar di dunia ini.
Ya khan Mas….?
April 26th, 2008 at 3:34 am
Kalau boleh mbah darmo sing ora nggenah iki berandai-andai:
Manusia ibarat rakyat
Panca indera ibarat bala tentara
Nafsu ibarat jendral
“Hati” ibarat raja
Ketika raja tidak mampu mengendalikan sang jendral yang menguasai bala tentara, maka negara tersebut akan menjadi negara yang penuh dengan kekerasan, gemar perang dan sangat tidak damai. Sehingga rakyat akan merasakan kesengsaraan.
Begitu banyak orang pintar yang berbuat kejahatan.Tak terhitung banyaknya orang kaya yang mendapatkan uang dengan tidak halal. Mereka membiarkan Jendralnya merajalela. Hanya manusia yang memiliki HATI yang bersih yang dapat
memberikan kedamaian, ketentraman dan kemajuan bagi dirinya, seluruh manusia dan alam semesta.
Manusia hidup memerlukan nafsu. Akan tetapi nasfu yang akan membawa kebaikan adalah nafsu yang telah dikendalikan
oleh hati yang bersih.
Alangkah baiknya bila pembelajaran karakteristik otak yang merupakan salah satu bala tentara nafsu ini disertai
dengan pembelajaran karakteristik hati.
sehingga standar ganda yang banyak dianut manusia akan berubah menjadi
ISO 1KHL45
Mohon maaf bila kurang berkenan.
Hati yang baik selalu berprasangka baik.
Tinggi Hati hanya menunjukkan belum tingginya hati.
Sakit Hati hanya terjadi pada Hati yang sakit.
Semoga Tuhan selalu memberkati dan memberikan Pencerahan kepada kita semua.
April 27th, 2008 at 9:15 am
Mbah Darmo..
Saya senang sekali dengan pengandaian (metafora) yang Anda pakai. Benar-benar inspiratif dan sangat menarik!
Terima kasih sudah mampir dan berkenan bernagi.
Nyuwun prikso,
Sinten asmane panjengan sing aseli ya?
Siapa tahu kalau ketemu bisa manggil nama gitu lho.
Atau jangan-jangan emang nama aseli… nyuwun sewu…