Unleash Your Teaching Power
Written by ronnyfr on 20 December 2007 – 4:08 am - 860 kali dibaca.Tanggal 19 Desember ini saya diundang oleh Universitas Paramadina untuk memberikan training mengenai NLP untuk para dosen. Judul pelatihan yang saya bawakan adalah “Unleash Your Teaching Power Using NLP”. Dihadiri sekitar 30-an orang, umumnya berpendidikan S2, sebagian besar masih muda-muda. Sungguh suatu komunitas pendidikan yang membuat kagum: anak muda, berpendidikan tinggi, berprofesi pendidik, dan sekaligus open minded.
Saya pernah mendengar suatu ungkapan kurang sedap mengenai dunia pendidikan: “Lembaga yang melakukan tugas penting perubahan adalah lembaga pendidikan, namun lembaga itu jugalah yang paling sulit melakukan perubahan di dalamnya.” Hari itu, saya melihat pameo itu tidak lagi begitu tepat, melihat bagaimana respon dan dialektika yang muncul selama pelatihan tidaklah menunjukkan suatu resistensi akan perubahan. Dosen di sini mau berubah, mau mengakuisisi suatu disiplin ilmu baru bernama NLP, bahkan lebih gamblang bisa dikatakan bahwa para pengajar ini mau duduk merendahkan hati mereka untuk belajar lagi dari seorang asing yang gelar akademisnya bukan S2.
Perubahan lingkungan pendidikan
Satu-satunya keabadian di dunia ini hanyalah perubahan itu sendiri, dan dunia pendidikan juga terus berubah. Tantangan dalam pendidikan begitu luar biasanya, berubah sedemikian cepat. Mengingat pengalaman saat SMA sekitar 1985 dan awal kuliah sekitar 1992, bagi seorang siswa yang memiliki benda bernama scientific calculator sudahlah sedemikian te-o-pe, be-ge-te. (top banget). Akan jadi sasaran pinjam dan kekaguman dari kawan-kawan yang lain…, apalagi jika pemiliknya sudah bisa memprogram kalkulatornya sehingga bisa mengerjakan berbagai formula matematika secara otomatis seperti perhitungan ‘limit’, ‘integral’ ataupun ‘matrix’ yang membuat berdiri bulu roma itu.
Pada saat itu, sejumlah guru / dosen belum tentu memiliki bahkan mengetahui cara kerja benda-benda canggih itu. Saya ingat beberapa teman gemar melakukan pekerjaan bersama waktu ulangan (semacam tes mingguan) dengan cara melakukan penyimpanan jawaban soal di dalam memori kalkulator canggihnya. Kalkulator itu lantas beredar, seolah mereka meminjam untuk menghitung ini itu (yang memang diperbolehkan oleh guru). Yang guru tidak tahu adalah kalkulator itu bisa menyimpan memori jawaban, sehingga para siswa bisa melihat dan menambahkan jawaban satu sama lain di sana. Ampun deh…
Lha itu khan cerita jadul banget, masih pakai kalkulator. Saat ini sudah ada hp, pda, smartphone, yang sudah bisa melakukan semua fungsi scientific calculator itu. Benda itu tidak saja bisa sms, bahkan bisa juga melakukan fungsi internet melalui wifi dll…
Bahkan beberapa perangkat video player/game portable sudah bisa melakukan fungsi internet wifi juga. Hanya imajinasi kita sendiri yang membatasi, akan diapakan benda-benda itu jika dipegang anak-anak SMA atau kuliah saat ujian.
Satu hal yang paling membuat ‘iri’ adalah adanya aksesibilitas yang tinggi terhadap sumber informasi yang berkualitas dan up to date bagi (maha)siswa saat ini. Bayangkan, dengan beberapa klik saja melalui internet di pda, mereka sudah mendapatkan jurnal terbaru, yang bahkan belum tentu ada di perpustakaan kampusnya. Beberapa yang internet maniak, juga dengan mudah mendapatkan berbagai e-book, audiobook, video educational gratis dari jaringan peer-to-peer semacam Limewire, atau torrent. Membuat tugas paper,atau mungkin bahkan penulisan skripsi akan menjadi semudah melakukan cut and paste, dan tinggal kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Voila!
Dengan berbagai kemajuan itu. apakah para pendidik sudah memiliki level informasi yang se up to date mahasiswanya? Hmmm, apa yang akan dilakukan jika mahasiswa kita mempertanyakan ilmu / informasi yang sedang kita ajarkan seraya membandingkan dengan bahan lain yang lebih up to date yang mereka miliki? Saya pernah mendengar dari seorang dosen di suatu PT tertentu, bahwa ada mahasiswa yang mampu menjawab persoalan ujian dengan teori yang belum pernah ia dengar, teori yang lebih modern, lebih logis dan lebih baik dari yang ia ketahui. Well, untuk bisa menghadapi hal semacam ini, jelas bukan hanya persoalan perimbangan informasi, ini sudah merambah pada persoalan sikap. Apa sikap kita menghadapi kondisi seperti itu, apakah akan membuat kita defensif dan sebagainya?
Generasi Hamburger
Saya menyebut generasi seumur saya (30-40 tahun) adalah sebagai generasi hamburger. Bukan karena makanan kita hamburger, namun karena kita mirip hamburger: selapis daging dijepit dua roti. Pada saat kita kecil dulu, pola asuh orang tua kita pada umumnya akan menempatkan anak pada posisi selalau salah. Orang tua selalu benar, anak harus menurut, tidak boleh berdebat atau membantah pendapat orang tua yang selalu lebih bijaksana. Semua doktrin moral dan agama juga dijejalkan untuk membenarkan situasi ini, sehingga memperkuat fenomena ini. Tentu saja ini juga menghasilkan generasi yang begitu menghormati orang tua, menghargai mereka dan cenderung memulyakannya.
Nah, apa yang terjadi dengan anak-anak sekarang? Anak-anak yang sekarang berusia SD, SMP SMA, sangat berani mengeluarkan pendapat berbeda dengan orang tuanya. Dalam beberapa kasus bahkan melawan dengan penuh gagah berani. Menggunakan ungkapan-ungkapan kasar yang tidak pernah dimimpikan oleh generasi seusia saya, semacam “Ayah sih bego, jadul banget…”, “Dasar Ibu kuper, nggak gaul…. payah!”
Saat orang tua yang frustasi karena anaknya melawan, dan hendak ‘menghukumnya’ dengan jeweran, atau cubitan. Eiiiit, nanti dulu…. barisan ahli jiwa anak sudah berdiri gagah untuk mengingatkan dengan berbagai pendapat dan penemuan terbaru bahwa anak tidak boleh dibeginikan atau dibegitukan. Jadi harus diapakan mereka? Bingunglah orang tua ini, dan makin bergembiralah para anak-anak in iyang mlihat orang tuanya selah ‘trance’ dan kataleptik saat dia berani membantah…. Asyiiiik, pikirnya!
Hehehee, gambaran yang agak hiperbolis, namun negitulah siatuasi sekarang. Maka saya menyebutnya sebagai generasi hamburger. Terjepit dalam dua kubu, pada posisi amat tidak enak, namun disaat yang sama justru ada orang lain yang menikmatinya dengan enak.
Dalam dunia pendidikan hal ini juga terjadi mirip-mirip hamburger juga. Semua doktrin pendidikan jaman kita muda dulu seolah sudah dilego di pegadaian. Rasa hormat pada guru, sopan santun di kelas, etika berbicara pada guru, cara berpakaian dan sebagainya sudah bukan lagi dagangan yang laku untuk diperjualbelikan. Itu mah kuno… Film-film hollywood dan sinetron-pun seakan sengaja dihadirkan untuk meng-amini kondisi ini, memberikan potret palsu mengenai kehidupan remaja dan dunia pendidikan sekarang ini. Apakah potret semacam ini yang kita harapkan ditiru oleh anak muda sekarang? Entahlah…, saya tidak ingin menjawabnya, karena akan menghina intelegensi Anda. Semua dari kita sudah tahu jawabannya.
Saat jadi (maha)siswa, kita dulu berada dalam cengkeraman doktrin lama, guru dan dosen selalu benar. Nah, sekarang saat menjadi dosen…. kita berada dalam tekanan doktrin baru. Menghadapai (maha)siswa yang dibesarkan di rumah dengan gaya yang berbeda, dan menuntut perubahan juga dalam cara kita melayani (maha)siwa. Seorang dosen menceritakan bahwa saat ia menegur mahasiswa-nya yang telat masuk ujian selama 35 menit, saat ditegur, dengan tenang mahasiswa itu melenggang keluar tanpa mengatakan apapun, tanpa terlihat sedih sedikitpun. Ada dosen lain yang menegur mahasiswanya yang membaca novel dan tidak mendengarkan kuliahnya, apa jawab mahasiswa itu “Lha memang kuliah Bapak tidak menarik kok, kenapa saya harus mendengarkan?” Lha!
Waduuuuh, dosen juga sekarang termasuk generasi hamburger! Nah, siapkah kita sebagai pengajar untuk berubah? Berubah dalam cara pandang / sikap kita terhadap mahasiswa, berubah dalam cara/metode mengajar kita, dan seterusnya?
Luar biasa, jadi teringat ungkapan yang pernah saya baca dulu waktu mahasiswa; Tempora mutantur et nos mutamur in illis, kalau jaman berubah, kita berubah bersama jaman. Mari kawan-kawan pengajar, dosen, guru, kita berubah menyesuaikan diri dengan perubahan jaman. Kabar baiknya, ilmu NLP akan banyak sekali bisa membantu kita semua.
NLP dan teaching
Dari dua persoalan penting di atas, mari kita lihat dari sisi NLP :
1. Perubahan cara pandang / sikap kepada mahasiswa.
2. Perubahan cara / metode mengajar di kelas.
Kita mulai dari perubahan sikap terlebih dahulu, dalam persoalan ini kita akan memperbaikinya menggunakan kerangka dasar berpikir ala NLP yang disebut presuposisi. Beberapa presuposisi akan kita kupas dan kemudian kita internalisasi menjadi sikap baru. Beberapa teknik bisa dipergunakan untuk proses internalisasi/instalasi sikap baru ini.
Presuposisi yang penting dan berguna dipergunakan adalah :
- People can not not communicate
Semua tindakan, termasuk tindakan diam, adalah mengkomunikasikan sesuatu. Jadilah seorang calibrator yang memiliki sensory acuity yang baik., dengan demikian Anda akan menjadi pembaca fisiologi seseorang dengan baik, lebih baik dari ilmu bahasa tubuh manapun. Demikian pula sebaliknya, setiap gerak-gerik dan tindakan kita, termasuk nada, intonasi sebenarnya mencerminkan suatu komunikasi tertentu kepada mahasiswa. Mulailah untuk menggunakan pendekatan economy of movement, bahwa setiap tindakan didasari oleh tujuan tertentu.
- Every behavior has a positive intention
Di balik prilaku apapun dari (maha)siswa terkandung suatu niatan yang berguna (baginya) dalam rangka pemenuhan kebutuhannya. Jadi seorang dosen akan lebih mudah menjalin komunikasi dan hubungan dengan baik apabila selalu dapat melihat alasan tersembunyi kenapa seseorang melakukan suatu tindakan. Apabila dosen bisa memberikan pemenuhan kebutuhannya itu dengan cara yang lebih adekuat, maka perilakunya (yang mungkin anomali) akan dapat dihindarkan, karena kebutuhan sudah terpenuhi dengan cara lain oleh dosennya.
- Rejection is indicator lack of rapport
Mendapatkan penolakan, adalah mendapatkan informasi bahwa rapport (kekraban) kita kurang baik paad mereka. Jadi apabila di kelas terdapat resistensi, maka lakukan rapport ulang, lakukan pacing yang lebih baik. Tunjukkan apa manfaatnya kuliah ini bagi mereka sehingga terjadi proses buy-in.
Bagaimana cara menginstall ketiga sikap diatas sehingga menjadi sikap kita sehari-hari? Anda bisa menggunakan cara mudah yang disebut dengan proses ‘step in’ kedalam suatu excellency tertentu. Secara mudah, lakukan circle of excellence pattern, dan bayangan yang diproyeksikan adalah bayangan dari seseorang/figur yang memiliki kualitas dari sikap yang kita inginkan. begitu gambaran figur dengan kualitas y ang Anda harapkan itu terproyeksi dengan jelas, tinggal tambahkan warna, suara dan sebagainya sehingga lebih menguat. Pada saat itu kemudian Anda melangkah masuk (step in) kedalam lingkaran itu, lakukan amplify dan pada puncaknya lakukan anchor. Sip, jika semua berjalan dengan tepat maka akan merasuklah sikap baru ini kedalam Anda!
Bagi pembelajar Neuro Semantic NLP (NSNLP), Anda bisa menggunakan pattern yang disebut dengan Mind to muscle. Pilih presuposisi, tersebut, minta seoang teman untuk menjadi pendamping saat instalasi dan bum…, presuposisi ini akan mendarah daging dengan Anda. Itulah kenapa disebut mind to muscle.
Menginstall ke tiga presuposisi di atas, akan mengubah cara pandang anda dan sikap dalam menghadapi (maha)siswa. Tanpa anda sadari, tiba-tiba dengan mudah anda akan mengalami perubahan drastis dalam urusan berkomunikasi dengan (maha)siswa Anda. Intisarinya Anda akan lebih memiliki sikap yang disebut sebagai fleksibel dan memiliki lebih banyak pilihan atas respon yang akan anda berikan kepada prilaku mahasiswa yang beraneka ragam itu.
Teknik NLP untuk membantu mengajar
Dari banyak sekali teknik NLP dan pattern yang ada, saya pilihkan beberapa untuk dibahas di sini. Beberapa teknik ini akan bisa membantu Anda mendapatkan hasil terbaik dalam mengajar di kelas. Saya tidak akan menuliskan secara detail, karena kebanyakan penjelasan teknisnya sudah ada di dalam artikel lainnya.
- Metaphor
Metaphor bisa dipergunakan untuk membangun state of mind tertentu sebelum kelas dimulai, disebut sebagai proses eliciting state. Biasanya menggunakan metaphor yang kompleks, seperti penggunaan kisah panjang atau humor yang bertujuan. Selain itu, metaphorÂÂ juga bisa dipergunakan sebagai sarana mempermudah pemahaman akan suatu konsep yang sulit diterima dengan cara lain. Yang jenis ini mengunakan metaphor sederhana, sering disebut sebagai analogi, similaritas, dll.
- Reframing
Teknik ini akan membantu Anda untuk menghadapi situasi sulit di kelas, khususnya dalam perihal tanya jawab, menghadapi keberatan, menemui mahasiswa yang perilakunya sulit Anda terima dan sebagainya.
- Questioning
Membantu Anda amemperoleh [perhatian, membangun partisipasi, dan juga untuk menyurh melakukan sesuatu, dengan teknik yang disebut sebagai tds (trans derivational search). Wah, yang ini asyik sekali, harus belajar di training tersendiri.
- Anchor
Teknik ini sangat luas penggunaannya, mulai dari membangun anchor, memicu anchor dan menghapus anchor negatif. Ada banyak teknik, idenya adalah bagaimana mahasiswa selalu berada di dalam state tertentu, misal accelerated learning state. Artikel mengenai anchor bisa dibaca di sini. Anda juga perlu membangun anchor Anda sendiri sehingga setiap masuk kelas selalu dalam kondisi yang optimal state.
- Representational System
Gunakan VAK dan Ad dalam memfasilitasi belajar (maha)siswa Anda. Upayakan proses penjelasan di kelas menggunakan berbagai channel komunikasi ini sehingga setiap mahasiswa yang memiliki preferensi berbeda-beda bisa terfasilitasi. Apabila menjawab pertanyaan gunakan preferensi yang sesuai sehingga terjadi proses matching.
Masih banyak lagi teknik dan kiat yang bisa kita bahas dalam kebutuhan mengajar dengan cara baru. Namun ada baiknya kita tutup dulu tulisan ini, dan dilanjutkan pada tulisan-tulisan berikutnya. Ingat pameo ini : Semakin banyak kita praktekkan NLP semakin mudah kita mengarungi kehidupan.
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in Education, NLP |












December 24th, 2007 at 4:44 am
Mas, Rony kalo saja semua guru mau melakukan hal itu kepada para murid didiknya betapa menyenangkan pelajaran di kelas sehari harinya. guru enak murid juga. masalahnya pengetahuan tentang NLP di indonesia ini masih sangat ketinggalan. Belum lagi para ahli NLP seperti mas Rony bisa di katakan dapat dihitung dengan jari. Bagaimana mas Rony mau memberdayakan guru lewat NLP kayanya harus ada orang yang memeloporinya ya dana bisa minta bantuan ke pemerintah. mungkin gak ya?
December 25th, 2007 at 1:22 pm
Ya Mas,
Akan menyenangkan sekali jika kita bisa membantu memberikan pelatihan kepada guru sekolah. Saya masih ingat betapa dulu masa muda saat sekolah banyak terbuang percuma, karena kerjaaannya cuma melamun dan membaca komik di kelas….
Salah satu tujuan menulis disini adalah memberikan sumber bacaan gratis yang moga-moga dibaca pula oleh guru-guru… Amien
May 14th, 2008 at 3:12 am
Ass.wr.wb Mas Ronny
Mas, Bagaimana kalo Mas Ronny memberikan materi ini di SMA Insan Cendekia Al-Kausar Sukabumi, tempatku saat ini bertugas ?
Insya Allah, saya & rekan guru disini akan merasa sangat terbantu dengan ilmu NLP yang diterapkan di sini !
Gimana mas ?
Makasih mas !
Wass.wr.wb
May 14th, 2008 at 5:14 pm
Mas Fitra…,
Jika ada waktu yang cocok saya bersedia…
Salam untuk para Sahabat Guru di Sukabumi sana.
June 6th, 2008 at 8:04 am
Pak Ronny, saya adalah guru di SMAN 15 Sby. Saya pernah ikut pelatihan Hypnosis dan kemudian kecanduan untuk mempelajarinya lebih jauh. Namun kesibukan saya sbg guru dan keterbatasan dana membuat cara belajar saya kurang maximal. Untuk itu saya banyak belajar dengan browsing internet. Beruntung saya sedikit mengerti bahasa Inggris, sehingga bisa membaca berbagai sumber dari internet.
Sekarang saya ingin memperdalam tentang Penggunaan Hypnosis dan NLP untuk Pendidikan Anak di Sekolah. Saya merasa kajian tentang ini lebih-lebih kalau dibukukan akan banyak yang mendapatkan manfaatnya, baik bagi guru, siswa dan orang tua.
Untuk itu saya mohon bantuan Pak Ronny untuk memberikan petunjuk dan saran bagi saya. Atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih
June 7th, 2008 at 1:23 am
Baik Pak,
Insya Alloh akan banyak tulisan ttg NLP dan pendidikan di blog ini.
Selain itu, silahkan bapak bergabung dengan Trainers Club Surabaya, mereka punya acara bulanan yang salaing mengisi dan berbagi ilmu yang berhubungan dengan belajar mengajar (training, edukasi, dll). Hubungi Mas Bobby : 08155058618