Mengunjungi Genting Highland, belajar NLP di jalanan….
Written by ronnyfr on 6 December 2007 – 4:55 am - 1,047 kali dibaca.Ini adalah hari pertama dalam hidup saya masuk ke sebuah casino, tempat yang berisi orang-orang yang suka berjudi. Bagi saya ini merupakan pengalaman yang luar biasa, karena saya dibesarkan di lingkungan beragama yang taat. Saya lahir di Kauman Yogyakarta, tempat dimana organisasi Muhammadiyah dilahirkan. Jadi berjudi adalah jauh dari kehidupan saya, bahkan bertaruh kecil-kecilan saja tidak pernah, karena begitu kuat hal ini ditekankan semenjak kecil.
Cukup sering saya melihat film yang mempertontonkan kegiatan judi di casino, mulai dari film barat James Bond, sampai film mandarin berjudul God of Gambler . Namun baru kali ini benar-benar bisa melihat bagaimana yang namanya kasino itu. Saya beruntung hari ini bisa masuk ke 2 lokasi casino, di daerah Genting Highland Malaysia. Saya memuaskan diri memperhatikan situasi di sana, tulisan ini merupakan deskripsi atas yang saya alami.
Daerah Genting Highland rupanya berbeda dari yang saya bayangkan semula, ternyata wilayah ini seperti puncak, namun dengan ‘tata kota’ yang jauh lebih rapi dan bersih. Saya menginap di hotel Genting
View, yakni kawasan perhotelan yang terletak dibawah Genting Highland. Dari sini kita bisa melihat puncak Genting Highland dengan jelas, apalagi di saat malam hari pemandangan dan lampu-lampunya luar biasa, makanya disebut Hotel Genting View. Dari hotel ini kira-kira jaraknya 10 menit ke Gohtong Jaya dimana terdapat Genting Skyway yakni Kereta Kabel (Cable Car), atau kereta gantung seperti yang di taman mini Indonesia.
Dari ‘Stesen Kereta Kabel’ ini kita naik ke atas Genting Highland mengunakan kereta gantung dengan tiket seharga RM 10 untuk pulang pergi. Kereta gantung ini terpanjang di Asia, panjangnya 3,38 km. Luar biasa sekali, tergantung tinggi dan bergerak dengan kecepatan cukup tinggi, sehingga jarak yang amat panjang itu hanya ditempuh 20 menit. Perjalanan menuju puncak melintasi hujan hujan tropis yang indah sekali, dengan ketinggian 1.800 meter dari permukaan laut. Setiap cable car berisi tempat duduk yang berpunggungan (seperti mobil satpam), setiap sisi bisa diduduki 3 orang dewasa. Jadi 3 orang akan melihat ke arah depan, sedangkan 3 orang lainnya akan melihat ke belakang.
Kami pergi bertiga, saya dan 2 orang perempuan asisten trainer (Carmen dan Linda), salah satu dari mereka ternyata agak takut naik kabel ini. Namun rasa ingin tahu rupanya sempat melebihi rasa takutnya. Jadi ia memberanikan diri, sekalipun minta dihibur sepanjang jalan. Agar fokusnya tidak melihat pemandangan yang baginya menakutkan, ia meminta saya bercerita ini dan itu. Saya besedia membantu mengalihkan perhatiannya dengan menceritakan mengenai LoA, karena saya tahu ini bisa membantunya mengalihkan fokus. Saya kemudian tersadar bahwa saya juga membawa kamera digital saya, di dalamnya masih tersimpan foto dan video anak-anak dan istri saya. Jadi saya jadikan kamera digital itu sebagai pengalih perhatian dengan menceritakan mengenai keluarga saya. Dan benar seperti kata Anthony Robbins “Change your focus, you change your reality “. Setiap kali Linda fokus di kamera digital ini, ia kelihatan tenang dan rileks. Setiap kali matanya melirik ke pemandangan di bawah, langsung tangannya terlihat memegang palang besi dengan lebih erat.
Seperti sudah dibahas di artikel lain , “The map is not the territory, and we respond to our map, not our territory“. Peta (mental) kita bukanlah realitas dunia luar, dan kita merespon peta mental kita sendiri, bukan secara langsung merespon ke dunia luar. Nah, di sini Linda merasa takut karena pikirannya terlanjur membentuk map mengenai perjalanan yang menakutkan. Jadi karena mapnya memberikan gambaran yang menakutkan, maka ia menjadi takut (respond to map). Jadi seseorang menjadi takut bukan karena reaksinya langsungnya pada territory (dunia eksternal), namun pada dunia internalnya sendiri.
Agar seseorang bisa menghilangkan rasa takutnya pada suatu keadaan, maka hal yang terbaik bisa dilakukan adalah dengan cara merubah bagaimana ia merepresentasikan keadaan itu dalam pikirannya (mengubah map). Namun mengubah map memerlukan sedikit proses, salah satu caranya dengan cara mengedit submodality-nya mengenai keadaan itu. Jika belum mengenal istilah submodality dan teknik mengubahnya, silahkan baca artikel ini agar lebih jelas.
Anda juga bisa menciptakan atau meng-install suatu resourceful anchor pada subjek sebelum ia pergi mengarungi hal-hal yang mungkin menimbulkan rasa takut. Sehingga ketika ia sedang merasa takut, segera di edit submodalitynya, dan pada segera setelahnya di picu anchornya. Untuk lebih jelas mengenai anchor, silahkan baca artikel ini .
Nah, karena saya belum sempat meng-install anchor apapun padanya, dan tidak ada waktu untuk mengedit submodality -nya, maka saya gunakan cara termudah. Cara ini relatif cepat untuk menghilangkan rasa takutnya, yakni mengubah fokusnya agar melihat hal yang berbeda dan menarik perhatiannya. Sekali ia teralih perhatiannya, alias teralih fokusnya, maka ia akan segera membentuk map baru mengenai hal yang lain.
Begitu pikirannya fokus pada gambar-gambar di kamera digital, maka ia membentuk map baru. Map baru itu berupa representasi foto-foto keluarga saya. Nah, karena manusia merespon pada map, maka Linda sekarang merespon pada map barunya, yakni pikirannya mengenai foto itu, dan responnya adalah ia menjadi ceria serta curious. Nah lho, padahal kita juga tahu, realitas di luar kami bertiga masih bergantung-gantung di angkasa…. Inilah, namanya NLP for daily life , begitu membumi dan mudah dilakukan. NLP seharusnya mudah dan mempermudah, diajarkan dengan cara mudah, dilakukan secara mudah…
Perjalanan di atas kereta ini juga mengajarkan hal yang lain pada saya. Bahwa kita sebaiknya fokus ke depan, bukan ke belakang. Maksud saya, jika kita duduk di bagian yang menghadap belakang, umumnya kita akan pusing dan sangat tidak nyaman melihat ke bawah yang kita tinggalkan. Saya dengar bahkan ada beberapa orang yang langsung mual jika duduk menghadap ke belakang, sekalipun cuman di mobil / bis kota. Nah, menariknya pada saat kami meluncur pulang malam harinya, Linda kemudian duduk menghadap ke depan, ia nampak begitu lueeeega saat melihat ke depan dan pemberhentian akhir sudah nampak di depan matanya. Sekali lagi terbukti, bahwa fokus ke depan akan lebih memberikan harapan. Pelajaran ini juga mengingatkan saya agar dalam menilai orang lain atau diri sendiri, maka baiknya “janganlah fokus pada apa latar belakang seseorang, fokuskanlah kepada latar depannya.” Latar belakang membuat pesimis, latar depan memberikan harapan. Kita bisa ubah nasib dengan mengubah cara kita melihat masa depan dan mensikapinya.
Kembali saya ingin bercerita tentang Kereta Kabel, salah satu penumpang asli Malaysia yang naik bareng saya mengatakan “Kereta gantung ini adalah salah satu yang paling tua di dunia sejak tahun 1974, namun sekalipun demikian kereta ini aman sekali kok”. Tentunya pendapatnya ini menarik perhatian saya, dan saya mengajukan pertanyaan klarifikatif dengan ilmu meta model dong…. Setelah saya puji pengetahuannya mengenai hal itu (saya lakukan pacing), maka saya bertanya, “Bagaimana Anda mendapat pengetahuan akan hal itu, apa yang membuat Anda yakin kereta ini aman? Dengan senang hati ia menjawab “Profesi saya tourist guide, beberapa kali saya diundang melihat sendiri saat kereta ini sedang diinspeksi / diservice setiap bulan layanan ini akan libur 3 hari. Saya juga pernah melihat saat tali besi ini diganti, digantinya setahun sekali “. Selesai mengklarifikasi dengan metamodel, maka kita mendaatkan gambaran yang lebih baik mengenai kereta kabel ini. Gambaran yang lebih baik ini juga semakin menenangkan para penumpang di atas kereta kebel ini. Memang, tool meta model memiliki manfaat bermacam-macam, termasuk dalam information gathering semacam ini.
Dari ceritanya pula saya baru kemudian mendapati dan memperhatikan bahwa kereta gantung semacam ini ternyata yang bergerak kabelnya, bukan keretanya yang meluncur menggunakan roda menggantung seperti bayangan saya sebelumnya. Kereta ini untuk bisa bergerak harus mengikuti gerakan maju dan putaran yang sudah dibuat oleh si kabel dengan suatu sistem mekanis tertentu. Kereta ini akan menjepit dengan cara tertentu (seperti capit buaya). Capitannya akan memegang erat-erat si kabel agar ia bisa ikut berproses dan mengambil manfaat dari gerakan memutar si kabel. Uffff, jika kereta ini gagal menjepit dan gagal bergantung pada proses putaran si kabel, maka ia akan …. (saya tidak ingin memberikan gambaran yang traumatik khaaan).
Tiba-tiba saya tercenung, seringkali kita lupa bahwa seperti juga kabel itu yang berjalan dan berputar terus, maka kehidupan inipun juga demikian. Terlepas kita setuju atau tidak, bumi / dunia akan terus berputar dan bergerak dengan sistem yang sudah diciptakanNya. Berbagai sitem yang diciptakanNya ini oleh manusia dinamai dengan berbagai sebutan yang umumnya disebut dengan berbagai “Law of….”. Misal Law of Gravity, atau ada lagi yang lagi nge-trend sekarang Law Of Attraction (LoA). Jika kita ingin mengambil manfaat dan keberuntungan dari adanya berbagai Law itu, maka mari ikuti aturan mainnya, mari ikuti dengan cara menyelaraskan (pacing / alignment) pada bagaimana sistem ini bekerja… Silahkan baca artikel mengenai LoA dan cara menyelaraskan diri pada hukum itu di artikel ini, artikel ini dan artikel ini .
Well, akhirnya kami sampai di puncak genting Highland, dan saya mendapati bahwa kawasan Genting ini ternyata luas sekali, sebenarnya ini lebih merupakan amusement park, bukan melulu casino seperti yang saya bayangkan semula, mereka menyebutnya sebagai “Genting, the city of entertainment“. Hebatnya, kawasan ini ternyata dimiliki oleh satu orang yangkonon adalah terkaya ke tiga di Malaysia bernama Tan Sri Lim Goh Tong. Menurut majalah Forbes, di artikel 2007 World’s Billionaires ia menduduki urutan ke 204 daftar orang terkaya dunia itu dengan nilai kekayaan RM14.28 billion (US$ 4.2 bilion). Ohya, ia baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu. Entah berapa banyak uang dia kumpulkan dari memiliki lahan bisnis hiburan seperti ini…
Genting terlihat sebagai sebuah mall dan hotel yang terpadu dengan berbagai jenis hiburan, permainan, restoran, toko-toko dan casino. Sebagian permainan ada di luar ruang seperti kolam renang dan semacam waterboom , perahu kayuh, dan lain-lain yang mirip dengan Dufan. Sementara sebagian lainnya di dalam ruangan, seperti komidi putar dan sebagainya. Agak sulit dilukiskan karena sangat besar dan komplit. Jika Anda pernah masuk ke daerah permainan ke Karawaci Mall, nah ini jauh lebiiiih buesar.
Di sini juga ada tempat hiburan semacam rumah hantu berisi fFanskerstein, dracula dan segala macem. Hihihihi saya jadi ingat saat kecil di Yogyakarta dulu, setiap tahun ada acara Sekatin (selama sebulan sebelum perayaan Maulid Nabi) di Alun-alun Utara ada ‘hiburan’ (?) rumah hantu semacam ini tapi lebih sederhana, biasanya disebut Istana Hantu, Gua Hantu, Lorong Hantu, dan sebagainya. Pengunjung akan diminta masuk ke suatu lorong, sebelumnya harus membayar tiket cukup mahal hanya untuk ditakut-takuti….. Luar biasa, jika orang mau kreatif dan berusaha, maka apapun memang bisa dijadikan sumber uang…. Mencari uang dengan cara menakut-nakuti…, jika kita gunakan logika bengkok maka merupakan bentuk lain premanisme yang legal (hehehehe). Jadi ingat kesuksesan film Jailangkung atau Suster Ngesot, yang menjual rasa takut pada penontonnya.
Ohya, di samping rumah hantu ini ada Museum Guiness Record Of The World, yakni semacam Museum yang isinya foto-foto dan replika berbagai keajaiban dan rekor yang dipecahkan oleh manusia di seluruh penjuru dunia. Salah satu yang mengesankan adalah orang yang amat tinggi, lebih dari 2 meter, dan orang yang amat gemuk, tergemuk di dunia. Yag ini menjual rasa ingin tahu dan heran…. Weleh weleh welehhhh… banyak cara mencari uang Bung!
Casino
Nah, kali ini kita ngomongin casino, tempat dimna uang berputar sangat cepat… Lain dengan Gua Hantu dan Museum Rekor, lain pula dengan casino. Bisnis casino adalah menjual mimpi (kaya mendadak), nafsu menjadi juara, nafsu mengalami keberuntungan (luck ) dan menjual nafsu maruk (rakus) pada diri manusia. Saya tidak nyinyir akan hal ini, itulah manusia… Yang kreatif menjual dan mengetahui watak manusia, akan pandai mengeruk keuntungan darinya. Etis atau tidak ? SIlahkan menilai sendiri, saya hanya bercerita saja.
Mungkin Anda bertanya, ada beberapa Casino di Genting Highland? Saya tidak sempat menghitung ada berapa, namun setidaknya saya menemui 4. Menariknya, di depan casino-casino itu ada brosur-brosur peringatan, kalau tidak salah bertuliskan “Gambling should be an entertaining activity” atau semacam itu. Dengan gambar seorang yang sedang kusut seperti tengah merutuki kekalahannya bermain judi. Saya tidak begitu ngeh, apakah ini sebuah upaya dari pemerintah atau adanya lembaga semacam LSM lokal yang ingin memperingatkan para pengunjung dari bahaya bermain judi. Entahlah, saya juga tidak sempat mengukur apakah ini efektif atau tidak? Ataukah ini hanya semacam prasyarat yang harus ada di depan sebuah casino, seperti prasyarat menuliskan kalimat “Merokok berbahaya, dst…..” pada bungkus rokok. Yang jelas, saat saya mengambil brosur itu dan membacanya disitu selama sekitar 5 menit, tak ada satupun orang lain yang tertarik mengambil brosur ini.
Bagaimanapun juga usaha menyediakan flyer/brosur itu tetap bisa disebut sebagai penyediaan informasi berimbang. Setidaknya sudah diperingatkan atas bahaya berjudi. Bahkan disediakan nomer telpon untuk menghungi bantuan apabila merasa judi sudah menjadi kegiatan yang menagih (kompulsif). Jadi jika Anda berjudi, Anda sudahtahu resikonya…
Saya mengamati, di depan casino juga selalu ada counter bank, luar biasa… ambil uang dulu di bank jika lupa bawa…. Ambil lagi di bank, jika ternyata kalah….. Semua sudah diatur untuk memastikan uang pengunjung tersedot tidak saja yang ada di kantong / dompetnya, namun sampai di seluruh tabungannya. Di sinilah saya mengamati bagaimana anchor alami manusia bekerja… Jika anda tidak bawa uang / kehabisan uang / membutuhkan uang, maka reaksi spontan kita adalah berpikir “Seandainya saya bawa uang lagi”. Pada posisi ini, sontak kita aakan ingat bahwa kita masih punya uang di bank! Dan gubrak, kita langsung terpicu ingatannya “Lha, khan di depan casino ada bank…!”, Masya Alloh!
Mari kita bayangkan skenarionya, saat seseorang kebetulan lewat depan casino, kemungkinan rasa ingin tahu akan membuatnya lantas menjadi sedikit tertarik. Namun ketertarikan itu biasanya segera diredam dengan suatu alasan, “Wah, sebenarnya menarik sih, tapi sayangnya saya nggak bawa banyak uang….”. Nah saat mengingat nggak bawa uang, kondisi ini biasanya memicu pikiran apa? Betul…., biasanya orang akan terpicu untuk berpikir “Seandainya saja bawa uang….” Nah pada saat sedang berpikir dan berkhayal seandainya ada uang, gilanya di situ ternyata sudah ada bank, di mana ia bisa mengambil uang yang ia tidak bawa di kantongnya. Nah, pikiran yang terpicu otomatis itulah yang namanya ter-anchor, alias terpicu anchornya . Tentunya semua ini sudah merupakan skenario, bukan kebetulan jika di depan casino ada bank. Dan gilanya, saat seseorang kalah di dalam casino, dan merasa uangnya mulai menipis, ia kembali merasakan perlunya uang lagi. Saat terpikir “Seandainya ada uang….”, sekali lagi ia akan terpicu untuk keluar sebentar mengambil uang di bank.
Masuk ke casino umumnya melalui penjaga berbadan tegap dan gerbang periksa seperti di bandara. Saya tertarik dengan bagaimana mata mereka bergerak, terlatih sekali dalam melihat calon pengunjung. Ohya, saya ingat, semua penjaga akan melarang orang yang terlihat sebagai beragama muslim, misal menggunakan kerudung dan sebagainya. Hal ini terutama bagi orang melayu… Nah, salah satu asisten trainer ini (Carmen) berkerudung, jadi gak bisa masuk. Carmen adalah seorang bule, namun sudah masuk Islam dan tinggal sekitar 10 tahunan di Malaysia. Jadi akhirnya saya hanya masuk berdua saja dengan Linda yang beretnis chinesse.
Saat kami memasuki casino, terlihat pengunjung utamanya adalah dari ras chinesse, entah kenapa? Hari itu saya sama sekali tak melihat orang keturunan India di dalam casino, mungkin mereka sudah capek karena seharian berdemo menentang penggusuran rumah ibadah, atau memang mereka tidak pernah ke casino (dilarang agama). Hari-hari saat itu memang merupakan hari yang berat bagi umat Hindu di Malaysia, karena sedang berhadapan dengan kepentingan pemerintah yang menggusur rumah-rumah ibadah yang didirikan di tanah negara.
Di dalam casino terlihat berbagai permainan judi. Permainan yang paling ramai kelihatannya roulette, mungkin karena paling memancing adrenalin. Sementara permainan jackpot nampak sepi, mungkin karena kemungkinan menang kecil. Saya lihat beberapa perempuan yang kelihatannya sendirian duduk-duduk seperti menunggu sesuatu di kursi jackpot. Saya tidak sempat mencari tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. Apakah mereka pengunjung dan pemain judi, atau mereka menjajakan sesuatu yang lain..
Kalibrasi
Pada umumnya permainan judi dilakukan dengan cara meletakkan taruhan ke suatu simbol tertentu, entah angka, hurup atau warna. Kemudian dilakukan suatu aktivitas, apakah pembagian kartu, pemutaran roulette wheel atau kegiatan lain. Hasil akhirnya akan terlihat siapa menang atau kalah.
Di meja tidak terlihat uang dalam bentuk mata uang manapun, karena mereka menukarkan uang mereka dengan suatu chip. Setiap orang akan mendapat chip dengan warna berbeda, sehingga bisa dibedakan dari yang lainnya. Penggunaan chip ini jelas merupakan suatu teknik ‘psikologis’ yang luar biasa, karena orang sepertinya tidak “melihat” uangnya dipertaruhkan, ia hanya “melihat” dirinya mempertaruhkan chip plastik sebesar biji-biji karambol. Well, lagi-lagi mari kita kaitkan dengan “The map is not territory, and we respond to map, not territory.” Jika kita mempertaruhkan uang, maka rasanya itu mempertaruhkan suatu harta, dan mapnya akan berbeda jika mempertaruhkan chip plastik. Kita sudah dibesarkan bertahun-tahun sejak kecil dengan cara dilatih bahwa uang adalah harta, dan seterusnya. Sedangkan tidak semua dari kita akan langsung membentuk map bahwa chip plastik adalah juga representasi harta. Chip plastik lebih merepresentasikan suatu mainan, jadimap kita melihat chip sebagai mainan. Dan ingat, manusia selalu merespon mapnya, bukan realitynya. Uphhhhh, manusia merespon pada represetasinya mengenai chip plastik yang mirip mainan, dan kegiatannyapun disebut ber-MAIN judi, diperkuat dengan positioning Genting sebagai entertainment activity . Lengkap sudah! Dan, voila…! Apa respon kita pada kata permainan? Tentunya responnya enteng-enteng saja…
Selain itu, bertaruh dengan sistem chip akan memaksa pemainnya mempertaruhkan sejumlah uang secara jumlah banyak langsung yakni senilai besaran nilai chip sendiri. Berbeda jika bertaruh dengan uang langsung, maka pemain bisa bertaruh dalam pecahan RM kecil atau bahkan Sen. Memang sih, dalam permainan roullete, saya melihat pemain meletakkan chipnya di atas persilangan 4 kotak taruhan, artinya ia bertaruh senilai 1/4 dari nilai chipnya. Namun tetap saja ia harus menaruh sebuah chip, bukan pecahan seperempat RM atau Sen….
Hal yang menarik, setiap kali saya dengan teman saya mendekati suatu meja judi untuk mengamati cara kerjanya, beberapa mata nampak melirik tajam tanpa sungkan-sungkan kepada kami. Saya rasa mereka seperti mempertanyakan “Mau apa Lu lihat-lihat?”. Bandar juga nampak terang-terangan memperhatikan ke arah kami, namun mereka tidak mengatakan apa-apa.
Akhirnya saya tertarik pada permainan kartu, di mana orang-orang ini diberikan kartu, kemudian mengadu keberuntungan dari kartu yang dimiliki ini. Di sini saya ingin menunjukkan pada teman saya itu mengenai kalibrasi ala NLP. Kami mengamati muka-muka dan fisiologi para penjudi ini, untuk melihat apakah mereka dapat kartu bagus atau jelak, apakah mereka akan menang atau kalah. Luar biasa, NLP memberikan kepada kita bekal “membaca” manusia seperti membaca buku yang terbuka…
Hhhhm, jelas sekali, jika di hitung dalam prosentasi hampir-hampir mayoritas di situ nampak tidak bersemangat, loyo. Setiap kali putaran akan dimulai, nampak sekejap adanya secercah wajah penuh harap muncul di muka mereka. Kemudian, saat sudah mendapat bagian kartu, beberapa muka nampak sudah mulai menyuram. Saat permainan berakhir, jelas lebih banyak yang nampak masygul daripada yang nampak happy. Beberapa wajah nampak mudah sekali di kalibrasi , perubahan wajah dari senang ke netral dan kemudian menjadi sedih sangat mudah dilakukan di sini. Wah, jadi punya ide, bagaimana jika saat latihan kalibrasi dalam training, kita bawa saja orang ke meja judi, hehehe itung-itung menlatih sensory acuity kita. Btw, heran juga saya…, udah jelas begini banyak orang berwajah muram… kok masih ada yang suka berjudi ya….?
Teman saya sempat berbisik-bisik bertanya mengenai bagaimana jika kita menggunakan hypnosis saat bermain judi? Saya jawab, “Ssssst, please don’t talk about that, it is the most dangerous topic here!”, hehehehe. Menggunakan hypnosis untuk judi? Menarik juga mungkin untuk dibahas, setidaknya jika bermain judi tanpa bandar mungkin ya… Karena para bandar terlihat sudah terlatih sekali dan nampak tanpa ekspresi.
Situasinya mungkin begini, saat seseorang sedang bermain judi ingin pergi ke kamar kecil, nah di sana ia akan di dekati dan mengalami instant induction menggunakan pattern interrupt. Nah saat pemain ini di hipnosis, ia dikasih sugesti “Apapun kartu yang kamu lihat adalah akan terlihat sebagai kartu jelek, dan semua kartu yang saya punya akan terlihat sebagai kartu bagus “. Gubrak!
Hehehe, mungkin saja itu terjadi khan? Emang judi selalu dekat dengan kejahatan lain… Ohya, saya juga pernah dengar desas-desus, para pesulap kartu dan selebritis hipnotis di Amerika konon dilarang masuk ke casino-casino Las Vegas. Para pemilik kasino dan bandar nampaknya takut. Mungkin saja….
Oke, semoga cerita di atas cukup menggambarkan kawasan Genting Highland, berwisata sekaligus belajar NLP di jalanan. Asyiknya, mudahnya, sederhananya, bergunanya, dan seterusnya. Hmmm, cerita di atas, juga saya harapkan membuat orang kehilangan minat untuk berjudi, karena jelas lebih banyak kalahnya daripada menangnya. Belum lagi dari sisi agama…. ya khan?
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in Uncategorized |












December 10th, 2007 at 2:26 am
Wah, oleh2 yang inspiring. Mulai dari perjalanan sampai berada di tempat Casino semuanya bisa dilihat dari kacamata NLP. Ternyata teori bisa mengena bila bersentuhan langsung dengan realita yang ada.
Ditunggu sharing berikutnya Mas. Sukses with NLP!
Wassalam,
AR Junaedi
December 12th, 2007 at 9:48 am
Mas AR Junaedi,
Terima kasih kunjungan dan komentarnya….
Saya tunggu juga sharing Anda di sini.
Salam untuk teman-teman TDA.
December 19th, 2007 at 1:37 am
Assalammualaikum
Bertemu kembali di alam maya. Pak Ronny pasti sihat walafiat. Salam Aiduladha. Kami sedang sibuk buat perancangan 2008 dan salah satu program adalah untuk meningkatkan kompetensi kaunselor di Malaysia. Dan sudah pasti kami berhajat untuk memberikan praktik NLP dan Hipnosis kepada kaunselor di Malaysia. Fokus untuk tahun 2008 lebih menjurus kepada ‘Mentoring ‘ dan bagaimana agaknya NLP / Hipnosis praktik dapat digunapakai untuk mentoring ? Saya rasa Pak Ronny ada jawapannya. Saya pun tak percaya mengapa saya sering teruja untuk melayari blog ini, saya rasa Pak Ronny sudah dapat dan gunakan ‘ anchor’ ramai pengunjung untuk mengunjungi blog ini . Apapun terima kasih dan salam prihatin dari kami di BSM
December 19th, 2007 at 10:21 am
berjumpa lagi pak ronny. tadi pagi saya ikut kelas bapak di Universitas Paramadina. terima kasih telah memberi pencerahan. semoga bisa ikut kelas bapak yang lain. terima kasih. salam.
December 19th, 2007 at 3:57 pm
Pak Engliman Roslan, terima kasih atas kunjungan ulangnya…
Salam takzim juga bagi kawan-kawan disana.
Saya dengan senang hati akan datang kembali ke Malaysia memenuhi undangan Anda semua. Amien
December 19th, 2007 at 3:58 pm
Mas Arif H,
Senang melihat Anda langsung mengunjungi blog ini.
Semoga membawa manfaat banyak bagi kawan-kawan di Paramadina…
Salam sukses!
December 22nd, 2007 at 12:01 pm
Tidak ada hubungan masa kecil dibesarkan dalam l;ingkungan beragama dg tingkah laku sekarang. Kita kan bisa saja dibesarkan di Kauan dan waktu sudah besar tidak judi. Tapi belum tentu dibeasrkan di Kauman ssudah dewasa solat.
December 22nd, 2007 at 12:26 pm
Anda betul Mas Imron.
Memang tidak selalu ada hubungan antara masa kecil dengan tingkah laku sekarang.
Terima kasih atas komentarnya…