Menjadi TKI di Malaysia
Written by ronnyfr on 23 November 2007 – 2:59 am - 881 kali dibaca.Selama 4 hari ke depan saya akan menjadi TKI di Malaysia, saya akan berangkat sore ini, bekerja mulai hari Senin sampai dengan Kamis. Lantas di hari Jumát, tanggal 30 malam saya kembali ke Indonesia. Cukup singkat, namun pastinya akan memberikan pengalaman yang menarik, bekerja sebagai TKI di Malaysia. Saya juga ingin pulang membawa banyak ringgit, dan bukannya justru malah menghabiskan rupiah di sana.
Sekalipun saat ini orang Indonesia banyak yang anti Malaysia dan sebaliknya, namun saya tetap ingin menjalin keakraban dengan mereka. Hmmm, kita khan katanya satu rumpun melayu, mari terus bergandeng tangan dengan Malaysia. Saya punya pandangan yang berbeda mengenai bangsa dari negara jiran ini, dan saya memilih memandang hal-hal positif mengenai mereka, sebab jika dicari pasti juga banyak hal negatif.
Saat ini saya juga punya banyak sahabat di sana, polisi, guru, trainer, mahasiswa, pengusaha, dan tentunya berbagai background yang lainnya. Salah satu hal yang harus saya kagumi adalah bagaimana Malaysia bisa membuat 3 suku bangsa menjadi kompak : Melayu, Chinesse dan India. Mereka hidup tenang, damai dan rukun…, semuanya diakui secara seimbang, mendapat kesempatan yang sama di pekerjaa, bisnis, pemerintahan dan masyarakat.
Ohya, saya akan bekerja di Genting Highland, daerah yang terkenal sebagai Las Vegasnya Malaysia. Umumnya orang Indonesia pergi kesana untuk berjudi di casino, mengadu nasib dengan bermain baccarat, roullete, blackjack, carribean poker, jackpot, dll. Konon untuk masuk ke casino, harus pakai sepau, dan minimal menggunakan kaos kerah untuk laki-laki. Sedangkan untuk wanita bebas. Namun saya tidak akan main judi di sana, saya akan menjadi ….
Apa yang akan saya lakukan disana?
Saya akan bekerja, memberikan pelatihan berjudul “NLP for Counselor“, selama 4 hari dan 3 malam. Tentunya akan menjadi pengalaman yang seru…
Ini adalah ke 8 kali saya pergi ke Malaysia, dan baru kali ini menjadi seorang TKI. Senang rasanya bisa menjadi TKI yang bukan sekedar menjadi tenaga kasar di sana. Semoga sumbangan kegiatan kecil ini bisa memberi tambahan warna lain pada teman-teman di Malaysia mengenai orang Indonesia.
Saya juga pernah dengar, sebenarnya ada banyak orang Indonesia kerja di Petronas dan menduduki jabatan penting di sana. Slah satu presiden kita pernah meminta mereka untuk kembali ke Indonesia, mereka menyatakan bersedia. Asalkan ada perubahan sistem yang lebih baik, transparan dan diberikan kesempatan berkarier secara profesional di Pertamina. Well, Presiden ternyata tidak berani memberikan jaminan. Entahlah, apakah kisah ini benar?
Pelatihan NLP for Counselor akan dihadiri oleh 38 orang peserta. Saya bekerjasama dengan seorang trainer dari KL bernama Ben Fadzil, ia seorang Master Practitioner juga. Kami akan mengajar bersama selama 4 hari itu. Uniknya, kami akan dibantu oleh 2 orang asisten perempuan, yang satu beretnis Chinesse, yang satunya malah bule!
Ben Fadzil pernah menjadi murid saya pertengahan tahun ini, ia belajar hypnotherapy secara private di Indonesia. Luar biasa, etos kerja orang ini… rasa ingin tahu yang begitu besar dan kesediaan untuk menyeberang negara mengambil kursus privat.
BTW, soal belajar NLP/Hypnosis, saya sering menjumpai kejadian yang cukup aneh bagi saya. Saat saya ikut pelatihan (sebagai peserta) di mana-mana. Selalu ada saja orang yang datang ke pelatihan dengan tangan kosong. Mereka ini sejenis orang yang tidak pernah tahu NLP/Hypnosis itu apa, mereka hanya pernah dengar katanya bagus. Dan kemudian mereka berminat mengikuti pelatihannya.
Sayangnya, keinginan tahuan itu tidak diimbangi dengan persiapan yang cukup. Mereka berangkat dengan tangan kosong, tanpa pernah membaca apapun mengenai NLP sebagai bekalnya. Wah-wah-wah…, misalkan mereka ini mengikuti kelas practitioner, akan bertanya dengan pertanyaan yang amat dasar sekali, seperti : apakah alam bawah sadar itu, benarkah hypnosis itu ada, apakah NLP ini tidak atheis, dan lain-lain.
Boleh saja sih, kita bertanya seperti di pelatihan, namun sayang sekali waktu yang berharga dan sedemikian terbatas hanya dihabiskan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bisa diperoleh jawabannya melalui buku/internet. Alangkah bergunanya jika waktu dipakai untuk berlatih, bertanya aplikasi, saling sharing pengalaman dan sebagainya.
Yah, namanya juga manusia…. berbeda-beda tapi tetap manusia. Namanya juga TKI, berbeda-beda namun tetap TKI. Saya ingin menjadi TKI yang berbeda, yang mengharumkan bangsa ini.
Salam sukses…
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in NLP |












November 24th, 2007 at 11:37 pm
Mas Ronny, congratulation bisa mencicipi menjadi seorang ‘white-collar’ TKI di Malaysia. Maju terus dan Wish You Luck.
Salam,
Cipto
http://SuciptoAjisaka.com
November 26th, 2007 at 12:47 am
Go international!
Keren bo…. :-)!
Sukses mas mentraining pak dan mak cik disana. Oleh2 ilmunya ya:-)
Salam,
Teddi
November 26th, 2007 at 7:26 am
Semoga training NLP for Counselor nya lancar dan sukses pak…
ditunggu oleh-oleh ceritanya
salam,
faif
November 27th, 2007 at 6:09 am
Mas Tjip, Teddi dan Mas Faif terima kasih… Sukses juga untuk ada bertiga, amien
November 28th, 2007 at 7:50 am
mas rasanya gak benar deh kalau etnis2 di Malaysia itu hidup rukun dan damai. barusan saya baca di kompas 10.000 warga keturunan india demonstrasi masalah diskriminasi rasial. terus pemerintah malaysia bakal menerapkan ISA atau UU keamanan dalam negri untuk meredam protes2 serupa. ISA ini nada2nya seperti uu anti subversif keliatannya he3… wah maaf ya mas rada OOT ni komentarnya. Wallahuallam.
November 28th, 2007 at 11:45 am
Dear Bhina….
Benar, mereka berdemo karena ada kebijakan dari salah satu bagian di pemerintahan mengenai kuil-kuil Hindu yang akan digusur. Kuil2 Hindu itu entah dulunya bagaimana, sekarang dianggap menempati tanah-tanah milik pemerintah/kerajaan/masyarakat (tepatnya saya kurang tahu), jadi akan digusur.
Hanya saja terjadi proses penggusuran yang kurang baik. Jadi umat Hindu yang notabenenya orang India melakukan demontrasi Dan seperti yang biasa terjadi, ada pihak-pihak yang mengambil untung…
Namun Bhina, saya tetap salut pada mereka, saya bisa lihat bahwa sehari-hari mereka berbaur dengan baik, semua suku punya hak yang cenderung sama di berbagai tempat : sekolah, pemerintah, bisnis, dan lain-lain.
BTW, itu pandangan saya mengenai mereka…. diperbolehkan punya pandangan berbeda kok. Because the map is not the reality, and we always respon to our map….
I feel better when I see a map in a good / useful perspective.
Thanks atas pendapatnya, bagaimana kabarnya webmu anyway, muga-muga masih rajin menulis. Sukses ya….
November 30th, 2007 at 8:07 am
Assalamualaikum Pak Ronny,
Saya seorang dari peserta kursus NLP di Genting Highland, Malaysia. Tahniah kerna ilmu yang bapak berikan amat memberi menafaat dan membuatkan saya rasa terpanggil untuk terus mendalami NLP ini. Saya berharap bapak akan dijemput lagi untuk kursus-kursus yang akan datang.
Tuhan menganugerahkan apa yang yang saya carai selama ini. Saya doakan semoga bapak dan keluarga terus dirahmati Allah s.w.t. Amin.
December 1st, 2007 at 5:14 am
Wa’alaikumussalam,
Pak Hamid, luar biasa… saya merasa senang mendapat kunjungan dari Bapak…
Saya masih ingat Bapak yang duduk di baris ke dua…
Salam saya untuk semua saudara di Malaysia.
Mohon terus bersilaturrahmi….
December 2nd, 2007 at 4:22 am
Assalamualaikum,
Seronok dapat belajar ilmu yang menarik sekali dengan Pak Ronny.Shikin sudah cuba mempraktikkan dalam hidup Shikin. insyaAllah selepas ini Pak Ronny akan datang lagi ke Malaysia. Mungkin selepas ini langsung ke Kedah, tempat saya.
Jumpa lagi. Nanti kita ngobrol lagi sebab saya dah jadikan blog ini My Favorites!
December 2nd, 2007 at 10:35 pm
Dear Shikin,
Terima kasih sudah mampir ke blog saya.
Saya senang , mendengar Anda sudah mempraktekkan ilmu NLP yang dipelajari kemarin.
BTW, akhir tahun ini mau keliling dunia ke mana lagi? Saya masih ingat , anda selalu pergi ke luar negeri setiap tahun.
Salam sukses
Ronny FR
December 9th, 2007 at 8:08 am
Saya sekarang lagi seronok memprktikkan NLP sekembalinya dari China. Waduh orang di sananya pak tak ada yang besar semuanya kurus-kurus belaka.Masing masing memang terkejut bila lihat saya. Pantas saya proaktikkan NLP supaya ngak jadi besar lagi. Setiap hari keliling kota Guangzou dan Shenzhen lebih 10 km. Pergi window shoping. Saya paling kagum masyarakatnya yang berdisiplin dan bandarnya yang sangat bersih.Sebab itu Rasulullah SAW menuntut kita belajar hingga ke negeri China.
InsyaAllah tahun depan saya sudah programkan untuk melawat ke Gold Cost atau mungkin Umrah lagi atau mungkin turun ke Jakarta.
Wassalam
Shikin
December 28th, 2007 at 3:11 am
Assalammualaikum
Saya rajin juga membaca blog Pak Ronni. Pagi ini saya baca komen Pak Roni dengan tajuk ” menjadi TKI di Malaysia. Saya akur dengan komen Pak Roni tentang peserta di Genting Highland tempoh hari. Memang saya akui ramai peserta masih ‘fresh’ tentang NLP dan ada yang tak tahu langsung buku NLP pun belum sentuh dan baca, sebab itulah Pak Ronni jenuh menjawab soalan berkisar kepada konsep dan fakta NLP daripada perkongsian aplikasi NLP di Malaysia. Namun sesetengahnya memang sudah ada ‘qualified’ dalam NLP cuma dia orang ‘diam-diam’ kerana sedang menghayati konsep ‘ The map is not a territory……”
Rasanya tak salah Pak Roni perjelaskan konsep NLP yang asas kepada peserta ketika itu, kerana untuk pengetahuan Pak Ronni, kami yang ada ilmu NLP pun bermazhab- mazhab dan berbeza cara gaya pendekatan mengemukakan konsep tersebut walaupun semuanya memberi makna yang sama. Sebagai contoh konsep ‘ Anchor’ ada yang menyatakan sebagai pemangkin ( energizer) dan ada yang menyatakan sebagai rangsangan terlazim. Semuanya memberi gambaran yang sama terhadap ‘anchor’ . Akan tetapi apabila Pak Ronni memberi teknik terhadap ‘anchor’ dengan jelas dan relevan, konsep tersebut mudah difaham dan yang penting mudah diaplikasi. Bagi kami aplikasi ‘ hypnosis’ Pak Ronni paling kami tunggu-tunggu kerana ia merupakan pendekatan baru dalam terapi kaunseling. Oleh sebab pendekatannya adalah terapi ‘ hipnosis’ dalam kaunseling perlu diaplikasikan dengan berhati-hati. Apapun dalam kaedah ‘membina perhubungan’ iaitu memahami dengan mendalam minda klien kaedah ‘hipnosis’ lebih cepat dan berpengaruh daripada kaedah kaunseling yang memerlukan kesabaran terutama pendekatan ‘client centered’ . Saya dengar di Indonesia disiplin ‘psikology’ lebih dominan daripada disiplin ‘ kaunseling’ boleh Pak Ronni jelaskan. Sekian dulu dari saya. Saya wakil peserta di Genting Highland mohon maaf jika rakan-rakan saya telah menganggu konsentrasi Pak Ronni ketika itu. Sekian Salam Ingatanm
December 30th, 2007 at 6:28 pm
Halo Pak Engli,an Roslan,
Sekali lagi terima kasih atas kunjungannya ke blog ini.
BTW, yang saya maksudkan dengan datang ke pelatihan tapi tidak mempersiapkan diri sebenarnya afalam suatu fenomena yang umum terjadi dimanapun. Selalu saya menjumpai hal ini kapanpun dalam suatu pelatihan.
Untuk 2008, kami tunggu kapan kita akan bertemu lagi di Malaysia atau di Indonesia?