People Whisperer : Pawang Manusia
Written by ronnyfr on 29 October 2007 – 10:23 pm - 993 kali dibaca.Saat kehamilan anak pertama kami, seorang teman dari alumni Psikologi meng-sms agar saya membeli buku berjudul “baby whisperer” tulisan dari Tracy Hogg . Menurutnya, mempelajari buku ini akan membuat kita bisa berkomunikasi dengan bayi kita secara harmonis. Tentu saja saya sangat tertarik, dari judulnya saja sudah unik “pawang bayi”? Wah, yang saya tahu selama ini adanya pawang hujan, pawang macan, pawang ular dan lainnya. Ini kok pawang bayi. Sekalipun belum mengerti, kami beli saja bukunya, dan mulai kami pelajariagar menjadi bekal saat-saat penting nanti.
Betul ternyata… Setelah membaca buku ‘pawang bayi’ ini, kami menjadi lebih bisa ‘berkomunikasi’ dengan bayi mungil kami yang waktu itu berusia sekitar 1 atau 2 bulan. Kami jadi peka membedakan cara ber’komunikasi’nya yang selalu melalui tangis. Ada sekian jenis tangis bisa kami identifikasi dalam waktu 2 minggu. Tangis marah, tangis lapar, tangis ngompol, tangis gerah, dll, semuanya memiliki cara dan tanda-tanda yang berbeda.
Setiap kali bayi menangis, hindari panik dan tetap tenang. Observasi selama beberapa saat tanda-tandanya sambil tersenyum pada bayi. Setelah itu baru angkat si Bayi dan periksa apa penyebab tangisnya, segera tangani dan catat hasil observasi ini. Demikian seterusnya selama beberapa hari / minggu, sehingga anda memiliki panduan singkat ciptaan sendiri. Perlu dicatat, kesalahan terbesar orang tua bayi adalah mengartikan tangis bayi secara keliru. Tangis bayi harusnya diartikan sebagai satu-satunya “cara berkomunikasi verbal” yang dikuasai oleh si bayi.
Pawang
Jika kita bertanya apa arti istilah “pawang” kepada seorang pawang, dan juga bertanya pada orang awam, maka mereka memiliki perspektif yang berbeda. Seorang awam akan mengartikan pawang sebagai orang yang memiliki kesaktian dan mampu menundukkan sesuatu yang dipawangi itu. Jadi pawang hujan berarti orang yang memiliki kesaktian dan mampu menundukkan perilaku hujan, memindahkan hujan, menghilangkan hujan dan sebagainya.
Menariknya, jika kita bertanya pada si pelaku (pawang), maka umumnya ia akan menolak pandangan itu. Ia tidak merasa punya kesaktian dalam hal menundukkan harimau, atau kesaktian yang berhubungan dengan harimau. Ia lebih suka untuk mengatakan bahwa ia memiliki kemampuan berkomunikasi secara ideal dengan harimau, menyelaraskan diri dengan harimau. Dalam kondisi komunikasi yang ideal ini maka akan terjadi deep rapport (hubungan yang mendalam) antara i pawang dan harimau. Pada kondisi deep rapport inilah semua urusan menjadi cincailah!
Begitulah, apa yang nampak saat melihat seorang pawang beraksi tidaklah menunjukkan secara lengkap atas apa yang dilakukannya pada harimau itu. Yang nampak sepertinya kegiatan menundukkan, padahal yang dilakukan adalah berkomunikasi harmonis sampai level bawah sadar. Dengan metode tertentu atau cara yang dikembangkan turun menurun, seorang pawang memiliki keahlian berkomunikasi pada level bahwah sadar dengan binatang piaraannya.
Pada jaman dulu, keahlian yang dimiliki itu disebut sebagai turun temurun. Karena yang terjadi adalah diwariskan sejalan dengan waktu berjalan, jadinya mirip semacam on the job training / magang. Si anak akan melihat dan dilibatkan terus menerus dalam kegiatan kepawangan orang tuanya. Dan yang paling penting adalah si anak mengalami secara ‘live’ bagaimana atittude orang tuanya dalam menjalankan kepawangan, termasuk bagaimana orang tuanya melakukan proses problem solving secara daily basis. Belum lagi adanya diskusi dan pembicaraan yang juga menjadi pewarisan kearifan tersendiri. Beberapa kondisi juga dilakukan ritual-ritual yang akan semakin menguatkan belief system bagi si anak atas terjadinya proses transfer. Demikianlah, sehingga akhirnya terjadilah proses pewarisan ilmu kepawangan ini, dan kemudian disebut orang dengan istilah ilmu ‘keturunan’.
Nah, bagaimana dong kalau kita tidak punya ilmu keturunan, bakat dan lain-lainnya. Di sinilah peran NLP akan sangat berguna bagai proses transfer ilmu. Di dunia ini banyak ilmu, teknik yang kelihatannya hebat dan diliputi kabut misteri apa yang sebenarnya terjadi? NLP berjuang keras menyibakkan kabut misteri ini sehingga menjadi sesuatu yang learnable, duplicable dan seterusnya.
Pawang adalah jago Pacing
Kembali pada pembahasan mengenai pawang, tentunya kita ingin memiliki kemampuan seorang pawang. Secara NLP, keahlian seorang pawang bisa diperoleh apabila kita pandai menjalin hubungan dengan baik. Ini disebut sebagai rapport building, membangun keakraban. Proses rapport building diperoleh dengan langkah pacing-leading. Secara sederhana pacing adalah berarti penyelarasan, pensejajaran, atau proses untuk masuk ke dalam model dunia orang lain.
Menjadi pawang harimau, artinya kita bisa menyelaraskan diri dengan ‘pemikiran’ seekor harimau. Menjadi pawang bayi artinya kita menyelaraskan ‘pemikiran’ kita dengan ‘pemikiran’ si bayi. Dengan bahasa yang lebih ngenelpe, menjadi pawang bayi dilakukan dengan cara harus bisa masuk ke model dunia seorang bayi. Inilah yang disebut “step into baby mind“.
Ada banyak cara untuk bisa memasuki model dunia orang lain, bayi dan harimau. Dalam konteks menjadi pawang bayi atau pawang harimau, bisa dilakukan melalui dua pintu. Pintu pertama adalah yang disebut callibration, lihat deh artikel ini. Melalui kalibrasi kita akan melakukan pengamatan fisiologis untuk mengetahui state of mind yang sedang dialami oleh si bayi/harimau.
Nah, di kemudian hari, dengan mengamati kondisi fisiologinya, kita akan tahu state of mindnya, dengan demikian kita bisa masuk ke kondisi emosinya (pacing) ini dengan lebih mudah. Jadilah kita seorang pawang, karena kita adalah jago pacing. Dan semua penbelajar NLP juga tahu, jika pacing sudah sukses, maka leading adalah hal yang mudah….
Inilah dia, jika seorang pawang kelihatan bisa menyuruh (leading) harimaunya untuk melakukan ini itu, hal ini bisa terjadi karena ia sudah sukses melakukan pacing sebelumnya. Pacing yang sangat dalam dan emosional.
Jika saya ditanya, ingin menjadi pawang apa? Maka saya akan memilih menjadi pawang manusia. Dan belajar NLP menjadikan kita seorang pawang manusia, baik menjadi mem-pawang-i diri kita sendiri maupun mem-pawang-i orang lain.
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in Family and Parenting |












November 1st, 2007 at 6:45 pm
mas ronny, kadang saya merasa ada barrier saat pengen melakukan step into other’s mind. ada semacam keengganan yg menghalangi. mungkin mas bisa menolong? trus kalo seandainya sudah berhasil step into other’s mind, apakah ini berarti kita benar2 larut? sampai ke keperibadian kita?
saya akan merasa terhormat, jika mas memberikan tanggapan…
salam dari jogja
salam dari alumnus psiko UGM
November 2nd, 2007 at 12:51 am
Mas Adham BMW,
Itulah pentingnya intention (niat), saat mau step into kita harus punya niat dan outcome yang jelas. Pada level apa kita mau masuk menyelami internal representationnya.
Dalam berbagai kondisi modelling, kita sama sekali tidak perlu sampai larut terlalu dalam kok.
Semoga menjawab pertanyaan Anda
November 3rd, 2007 at 8:37 pm
terimakasih mas ronny, atas tanggapannya…
sebuah jawaban yang justru membuka pintu pertanyaan…
pd saat mau step into emang harus di-niati ya? juga hrs jelas outcome-nya?
bukannya dg adanya intention & outcome malah seakan2 ‘memaksa’ subjek yg akan di-step into menjadi sesuai dg keinginan kita?
sebelumnya saya pernah baca dan amat antusias dengan topik yang diusung oleh trilogi ‘Celestine Prophecy’-nya James Redfield, yg bahasannya rada-rada mirip dg NLP & LOA. mungkin mas ronny bisa bantu apa yg mesti saya baca atau situs yg mesti dikunjungi, agar saya bisa dapat gambaran umum yg bisa menyusun semacam paradigma ttg NLP dan LOA.
situs mas sangat membantu, hanya saja saya merasa informasi yg saya serap belum terintegrasi dan membentuk satu pemahaman yang utuh.
maaf ya mas, kalo agak panjang dan ngrepotin.
maklum, orang awam…
semoga Allah membalas kebaikan mas!
November 3rd, 2007 at 11:58 pm
Intention dan outcome adalah penting untuk semua tindakan, agar jelas arah dan level-nya.
Untuk pertanyaan Mas, yang perlu dicatat adalah. Pada saat kita melakukan pacing, maka kita step into, nah itu harus dilakukan rengan penuh respek. Kita step into bukan untuk mempengaruhi atau memaksakan sesuatu. Kita mau “mengenal dan memahami” model dunianya.
Artinya secara umum, jika ada 2 orang berada dalam kondisi “deep rapport”, sebenarnya mereka sedang sharing atau mungkin berada dalam “model of the world” yang sama.
Pacing = respek model of the world orang lain.
November 9th, 2007 at 4:25 am
Mas, Rony saya pembaca setia anda, terima kasih atas artikel artikel anda. kalo boleh saya tanya mas Rony ada menerbitkan buku tentang NLP tidak, atau tentang law attraction. kalo belum kapan mas Ronny adakan seminar tentang NLP dll di surabaya. saya pengin ikut tapi tidak tahu jadwalnya mas Ronny. mohon info.
thanks
November 11th, 2007 at 2:01 am
Mas Sugeng, terima kasih atas kunjungan di blog ini.
Saya sedang menulis buku NLP, nanti saya kabari di blog ini begitu sudah mau terbit…
Desember atau januari mau buka kelas public, NLP for Trainer di surabaya Mas…
November 16th, 2007 at 4:27 pm
Setelah baca2 artikel bang ron jadi sempet kepikiran ne,
apakah kecenderungan mendengarkan jenis2 musik tertentu bisa mempengaruhi mental dan membentuk kepribadian seseorang, misalnya: sering mendengarkan lagu yg slow, melow dan sendu membentuk kepribadian seseorang menjadi melankolis ?
kalo pun iya ? jenis musik apa yg dapat memaksimalkan potensi otak,
November 17th, 2007 at 3:48 pm
Mas Martono,
Secara umum, musik jelas akan mempengaruhi otak, begitupun liriknya.
Musik yang diyakini baik adalah jenis-jenis musik klasik yang terutama berirama barock. Bisa juga musik New Age, yangberirama slow. Bisa diperunakan untuk mengiringi meditasi, atau latihan visualisasi.
Jika ingin lebih serius, dengarkan irama-irama yang secara khusus didisain untuk singkronisasi kerja otak (kanan dan kiri), disebut sebagai binaural beat. Cek ke website bwgen
Semoga membantu