Olah raga : pain or pleasure?
Written by ronnyfr on 27 October 2007 – 9:30 pm - 1,308 kali dibaca.Di artikel sebelumnya mengenai Memprogram pikiran murid sekolah secara salah, telah dibahas bahwa di dalam ilmu NLP dibahas mengenai filter pikiran yang disebut sebagai Metaprogram Toward-Avoidance. Maksudnya adalah, seorang manusia normal akan mengejar kenikmatan (pleasure) dan menghindari penderitaan (pain). Oleh Anthony Robbins konsep ini dipopulerkan dengan istilah PPP (Pain pleasure principle) dan dikemas dalam ilmu Neuro Association Conditioning.
Di posting kali ini kita akan membahas bagaimana pengaruh PPP ini dalam olah raga. Banyak orang ingin sehat, bahkan tahu bahwa kalau mau sehat harus berolah raga. Namun anehnya hanya sedikit yang melakukan olah raga. Kenapa demikian ?
Kebanyakan orang, olah raga berasosiasi dengan keringat, lengket, bau badan, capek dan lemes. Semua itu adalah rasa yang berhubungan dengan penderitaan (pain). Sedangkan jika tidak berolah raga, maka berasosiasi dengan santai, tidak keringatan, tidak capek, bisa nonton TV dan sebagainya. Sehingga tidak berolah raga berasosiasi dengan kenikmatan. Jelas efek asosiasi yang terbalik ini membuat orang lebih suka tidak berolah raga! Terus gimana dong?
CARA 1 : SWISH PATTERN DAN ANCHORING
Lakukan swish pattern, yakni untuk mengubah atau membalik asosiasi yang ada. Menggunakan swish pattern akan bisa dipakai untuk memutus asosiasi olahraga dengan capek, dan kemudian menggantinya dengan olahraga = menyenangkan.
Agak panjang jika dijelaskan di sini pattern ini. Hanya akan saya jelaskan intinya saja, yakni kita membuat suatu bayangan mental (cue image) yang menunjukkan bahwa jika olah raga maka kita akan menjadi capek. Buat gambaran ini cukup besar di depan mata kita, biasanya lebih mudah dilakukan dengan mata tertutup.
Kemudian dengan cepat ubah gambar ini menjadi kecil, dan sekaligus tersapu oleh gambar kedua yang tadinya merupakan gambar kecil. Gambar kedua ini adalah gambar asosiasi baru yang kita ingin lekatkan pada olah raga. Misal olah raga akan membuat sehat, senang, kuat dan sebagainya.
Pada saat menggeser gambar tadi, lakukan dengan cepat sambil menghembuskan nafas dari mulut sambil berteriak “woooooossssssh!”. Lakukan beberapa kali. Kapan-kapan akan saya tuliskan lebih rinci di blog ini.
Kita bisa juga melakukan apa yang namanya anchoring, baca deh artikel mengenai anchor dibawah ini. Intinya adalah, kita buat dulu anchor akan sesuatu yang pleasure luar biasa. Kemudian bayangkan kita berolah raga, terapkan anchor pleasure di sini. Jika memungkinkan lakukan anchor compounding, artinya ditumpuk beberapa anchor, agar anchor lama bahwa olah raga adalah capek akan hilang (collaps) oleh anchor yang pleasure ini.
CARA 2 : NLP JALANAN
Cara yang kedua mungkin cocok disebut sebagai NLP jalanan (street smart NLP - meminjam istilah teman saya Teddy). Cara ini tidak memerlukan pemahaman NLP yang dalam. Tidak memerlukan pattern NLP apapun, yang penting cuma : kaitkan olahraga dengan rasa menyenangkan dan fun!!! Berikut ini yang saya lakukan :
Bersepeda Tandem
Salah satu kiat menjadikan olah raga bersepeda menjadi kegiatan
yang fun (pleasure) adalah dengan membeli sepeda tandem merek polygon jenis impression. Sepeda ini bisa dinaiki oleh dua orang yang secara tandem bersama mengayuh paddle. Foto di samping adalah sepeda yang kami beli beberapa bulan yang lalu. Berwarna biru muda yang sangat anggun dan elegan. Biasanya saya pakai berdua dengan istri saya, untuk keliling kompleks atau di hari minggu kita menuju ke kawasan lapangan Mega Kuningan. Disana kemudian kita ikut senam bersama orang-orang yang rutin senam di sana.
Untuk menambah fun, bahkan saya tambahkan 2 ‘goncengan’ untuk anak-anak saya. Satu ‘goncengan jenis yang menggantung di stang depan berbentuk bak/kursi. Dan satu goncengan plastik untuk anak ukuran sedang, diletakkan di belakang dan berbentuk semacam kursi juga dengan sandaran tinggi .
Wah, anak saya paling senang melakukan kegiatan berempat ini. Sepanjang jalan anak saya yang kecil (Aarief 3 th) duduk di depan dan ia suka menyanyi lagu “kring-kring ada sepeda”, sambil menggerakkan kelintingan sepeda. Pakai topi, dan kaca mata hitam, hehehe lucu sekali. Entah ia meniru siapa ide kaca mata hitam ini, sebab sempat menyulitkan kita semua. Mencari kacamata hitam yang berkualitas bagus sehingga tidak justru merusak mata.
Sedangkan anak saya yang lebih besar (Cynthia 5 th), duduk di belakang dengan kursi khusus, berwarna sedikit lebih mencolok dari sepedanya, yakni ungu gelap. Hal ini disebabkan jenis goncengan anak seperti ini hanya ada dua warna, kuring campur merah dan ungu gelap campur hitam. Tentu saja yang ungu yang kita pilih, karena lebih match dengan sepedanya. Kalau Cynthia lebih menikmati pemandangan, khususnya ia akan merasa bangga jika ada orang-orang yang melihat kami dengan heran. Mungkin mereka merasa aneh, satu sepeda kok dinaiki 4 orang, berjumlah genap namun nampak ‘ganjil’.
Benar-benar manjur! Rasanya tidak ada capek dan bosannya bersepeda tandem semacam ini. Bahkan sekaligus menjadi alat yang meningkatkan kerukunan keluarga dan kebersamaan. Saat paling asyik apabila jalan menanjak, kita teriakkan bersama-sama, kiri-kanan-kiri-kanan… Hahahaha
Pergi Ke Monas
Minggu ini, untuk pertama kalinya saya setuju mengikuti ajakan tetangga saya serombongan untuk ke Monas. Tadinya saya pikir agak ‘katrok’ jika saya pergi ke Monas rame-rame, kok kayak nggak pernah melihat Monas saja. Bersama dengan belasan tetangga, saya naik sepeda tandem, berangkat jam 05.30, melalui Manggarai, ke arah Sudirman, mampir sebentar di Bunder HI untuk foto-foto. Ini kali pertama saya menginjak air mancur HI, padahal saya sering banget lewat. Beristirahat sebentar, kemudian perjalanan dilanjutkan ke Thamrin dan akhirnya Monas.

Saya sangat surprise saat sampai Monas, ternyata begitu banyak komunitas sepeda di sana. Ada komunitas sepeda balap lengkap dengan busana dan sepatunya yang oke banget. Di bagian lain nampak komunitas sepeda gunung dengan berbagai merek. Ada juga komunitas-komunitas khusus seperti terlihat dari kaosnya. Seperti klub bersepeda ini dan itu, kelompok perumahan ini dan itu, bahkan beberapa terlihat dari kantor tertentu.
Begitu sampai Monas, pimpinan rombongan berteriak “Ayo jangan istirahat dulu, wajib hukumnya melakukan towaf….” Hahaha, ada-ada saja istilah yang digunakan… Naik sepeda kok disamakan naik haji. Jadi akhirnya kami berkeliling satu kali dulu searah dengan jarum jam, melihat berbagai kegiatan orang, berlari, senam, jualan, sampai yang pacaran.
Selesai, kami duduk-duduk sebentar didekat orang main sepak bola. Kemudian bergerak lagi di sekitar warung-warung yang menjual souvenir. Rupanya di sinilah berkumpul para bikers yang serius. Mereka berkelompok dan nampaknya membahas berbagai hal mengenai sepeda.
Menarik di simak bahwa di antara kelompok ini rupanya saling mengenal. Rupanya karena sering bertemu mereka jadi saling kenal. Beberapa orang memajang sepedanya untuk dijual di sini, dari yang berharga ratusan ribu sampai yang 5.4 juta ada.
Setiap ada sepeda yang terlihat asyik dan bagus, biasanya orang akan mengelilingi dan didiskusikan mengenai ini dan itu. Rangkanya, paddle-nya, saddle-nya, giginya, persneling dan sebagainya. Wah-wah-wah…, ada kegiatan asyik dan intelektual juga rupanya di sini.
Saya sempat melihat ada seorang Bapak sedang mengobraol berdua dengan temannya. Saya melihat body sepeda yang dipakainya, sekalipun tidak terlihat gres, namun nampak mirip-mirip rangkanya dengan sepeda merek Mercedez Benz yang di jual puluhan juta di Ace Hardware Kelapa Gading. Sontak saya datangi untuk berkenalan, dan saya tanya dimana ia beli dan berapa…?
Rupanya ia beli rangka di Singapura, wow! Dan kemudian dibangun sendiri di sini dengan membeli onderdil ini dan itu. Saat saya tanya habis berapa semuanya. Sambil terlihat enggan ia menjawab sekitar 26 jeti!
Rangka alumunium, jeruji dari baja dan jumlahnya cuman dikit banget (seperti ompong gitu). Asesoris sangat minimalis. Warna abu-abu keemasan…. anggun sekali. Saat saya angkat, enteng sekaleeee…
Kemudian saya diajak masuk ke lingkungan warung-warung souvenir. Di salah satu pojok ada lapak-lapak orang yang menjual asesoris sepeda, dan juga asesoris pakaian untuk bersepeda. Jangan salah, asesori sepeda yang ada disini bukan murahan, bukan pula barang bekas. Lumayanlah, merek-merek seperti polygon, shimano bergeletakan di sana.
Ngalor ngidul saya ngelinterin kawasan itu, berkenalan dengan si A dan si B. Tukar kartu nama dengan si C dan si D. Dapat koneksi bisnis dengan si E dan si D. Mungkin jika belum menikah bisa ditambah satu kegiatan lagi, lirik-lirik si F dan si G… hahahaha!
Wah, lengkap sudah… Saya menemukan kesenangan yang lebih seru lagi. Rupanya bersepeda di Monas seru banget! Saat ditanya seorang bagaimana kesan saya, dengan bercanda saya katakan “Wah bersepeda ke Monas akan menambah kesehatan, dan jelas-jelas berpotensi mengurangi kegemukan… Maksud saya, mengurangi kegemukan dompet. Hehehe, tetap berpikir abundance dong!
Memang benar rupanya, jika olah raga sudah berasosiasi dengan kesenangan, pleasure, kegembiraan. Maka di dalam pikiran kita ini bukan lagi sekedar olah raga. Ini sudah menjadi kegiatan yang asyik, asyik, asyik…
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in NLP |












November 16th, 2007 at 4:34 pm
Masi bingung ne bang ron,
terkadang kalo olahraga uda capek banget, lari misalnya kadang saya coba tahap menganti image pain dengan pleasure masi kalah dengan rasa capek dan kehabisan oksigen (baca ngos2an) gimna yach cara nya biar bisa menghilangkan image pain tsb
November 17th, 2007 at 3:50 pm
Lakukan pemrograman pikiran justru saat sebelum olah raga Mas. Buat asosiasi pleasure dengan sesuatu yangmemang dipikran kita amat diyakini sebagai pleasure. Lakukan segamblang mungkin (perdetil visualisasinya).
Dengan demikian menjadi berasosiasi lebih kuat sekali…