Hidup Susah ‘Ala Kabupaten Trenggalek

Seorang kawan mengirimkan hasil jepretan fotonya saat ia di Trenggalek. Suatu baliho raksasa di pinggir jalan bertuliskan “Hidup memang susah, tapi bukan berarti tak ada cara lain ‘tuk cari nafkah!”. Baliho ini secara resmi dikeluarkan oleh Komite Penanganan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) Kabupaten Trenggalek. Hmmm, sebuah upaya yang baik untuk memotivasi masyarakat.Saya beberapa kali pernah melihat baliho sejenis ini di beberapa tempat. Nampaknya baliho semacam ini rupanya menjadi salah satu cara dari pemerintah setempat dalam memberi motivasi pada masyarakatnya. Bagaimana dampaknya bagi kesadaran masyarakat rasanya perlu diukur secara serius.

susahtrenggalek

Well, sebagai sebuah blog yang mengusung NLP, saya akan menyoroti baliho ini dari NLP dong…

Presuposition

Seperti sering disinggung di blog ini, ada gejala bahasa bernama presuposition. Sering disamakan dengan asumsi, yakni sesuatu yang perlu diterima kebenarannya agar kalimat seutuhnya terasa benar. Misal ada orang mengatakan kalimat ini pada Anda : “Rumahmu sebelah mana kantor Pos?”. Dalam kalimat ini ada beberapa presuposisi/asumsi :

  • Anda punya rumah
  • Di kota Anda ada kantor Pos
  • Anda tahu letak kantor Pos
  • dan seterusnya

Nah, ketiga kalimat diatas disebut asumsi, karena tidak perlu dikatakan secara langsung, namun kebenarannya sudah diterima. Jika ketiga kalimat diatas kebenarannya tidak diterima (asumsi tidak diterima), maka kalimat “Rumahmu sebelah mana kantor Pos?” menjadi salah juga. Misal Anda tidak punya rumah, maka Anda akan mengatakan “Di sebelah kantor Pos bagaimana, lha wong rumah saja saya tidak punya”.Nah, bagaimana dengan kasus Baliho dari Trenggalek ini? Apa saja asumsi yang ada di balik kalimat ini: “Hidup memang susah, tapi bukan berarti tak ada cara lain ‘tuk cari nafkah!”. Mari kita tulis :

  • Hidup memang susah.
  • Ada berbagai cara mencari nafkah
  • dan seterusnya…

Kali ini kita menyoroti kalimat yang pertama saja : “Hidup memang susah”. Hmm, benarkah asumsi ini yang ingin di tekankan oleh Komite Penanganan PMKS ini? Jika iya, rasanya kok kurang bijaksana ya…

Dalam perspektif NLP, keberadaan asumsi dalam suatu kalimat disebut presuposition. Dan presuposition ini secara linguistic punya kekuatan hypnotic yang benar-benar halus, karena tidak terasa kehadirannya. Oleh beberapa tokoh NLP, presuposition ini sering disebut sebagai stealth hypnosis. Kayak siluman, ada namun tidak nampak langsung.

Presuposition berefek hypnosis, artinya memiliki daya pengaruh di bawah sadar. Pengaruhnya bisa baik, bisa jahat. Disebut pengaruh baik, apabila akibat asumsi ini efeknya menjadi baik, disebut jahat jika sebaliknya.Nah mari kita nilai sendiri-sendiri, kira-kira baliho itu memberikan efek baik atau sebaliknya?

Jika boleh, saya mengusulkan, kalimatnya diganti dengan semacam ini: “Hidup ini bisa jadi susah atau mudah, kreatiflah dalam mencari nafkah yang sah”.

Penonjolan kata tertentu

Dalam bahasa percakapan, kita menggunakan intonasi, jeda, dan lainnya sebagai cara kita menekankan suatu kata yang penting dan ingin diingat. Misal :

Ketiga kalimat ini berbeda makna :

  • Kucing menggigit orang mati”
  • “Kucing menggigit orang mati”
  • “Kucing menggigit orang mati“.

Masing-masing kalimat dibedakan artinya dari kata yang di tekankan (bold). Kalimat pertama akan dipahami orang bahwa yang menggigit adalah kucing, bukan hewan lain. Kalimat kedua akan dipahami orang bahwa kucing itu menggigit, bukan mengeong atau mencium. Kalimat ketiga dipahami orang bahwa yang digigit kucing itu adalah orang mati, bukan orang hidup atau benda lainnya.

Jadi kalimat yang di bold akan diingat dan masuk kebawah sadar secara lebih mudah, karena di sana ada penekanan.Jika kita lihat baliho itu, maka kalimat yang di bold itu adalah SUSAH, LAIN, NAFKAH. Nah, dengan demikian itulah yang akan lebih diingat oleh pembaca baliho ini.

Selaras dengan contoh usulan diatas, maka yang ditekankan adalah :”"Hidup ini bisa jadi susah atau mudah, kreatiflah dalam mencari nafkah yang sah”.

Penggunaan kata “Jangan”

Semua pembelajar linguistic dalam NLP pasti sangat akrab dengan hal “jangan” ini. Semua larangan justru akan menimbulkan awareness yang lebih kuat mengenai objek larangan itu.Misal “Jangan memikirkan kucing berbulu hijau”, nah Anda malah memikirkannya khan?

Itulah…, pikiran kita justru akan memikirkan setiap objek larangan. Hal ini dilakukan oleh pikiran kita untuk membuat kita bisa memahami makna larangan itu. Namun terlambat, kita terlanjur membayangkannya, menciptakan dalam realitas internal kita apa yang dilarang itu. Padahal itu yang ingin dihindarkan oleh larangan itu tho…

Jadi alih-alih melarang, lebih baik mengatakan apa yang diinginkan saja. Misal dari pada melarang “Jangan biarkan hidup sia-sia”, lebih baik diganti dengan “Pergunakan hidup dengan sebaik-baiknya…”

Tentunya jika saya menggunakan foto di Trenggalek sebagai bahasan blog ini, maksud hati ini untuk memberikan sumbangan pemikiran berdasarkan disiplin yang saya miliki. Perbedaan keyakinan atau pandangan dalam hal ini tentunya bisa diterima dengan baik. Salah satu cara yang baik dalam mengetahui dampak baliho semacam ini tentunya dengan mengukur langsung. Saya rasa cukup banyak ahli dalam hal seperti ini di Indonesia.

Semoga bermanfaat!

About the Author