Hidup Susah ‘Ala Kabupaten Trenggalek
Written by ronnyfr on 27 October 2007 – 11:56 am - 1,187 kali dibaca.Seorang kawan mengirimkan hasil jepretan fotonya saat ia di Trenggalek. Suatu baliho raksasa di pinggir jalan bertuliskan “Hidup memang susah, tapi bukan berarti tak ada cara lain ‘tuk cari nafkah!”. Baliho ini secara resmi dikeluarkan oleh Komite Penanganan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) Kabupaten Trenggalek. Hmmm, sebuah upaya yang baik untuk memotivasi masyarakat.Saya beberapa kali pernah melihat baliho sejenis ini di beberapa tempat. Nampaknya baliho semacam ini rupanya menjadi salah satu cara dari pemerintah setempat dalam memberi motivasi pada masyarakatnya. Bagaimana dampaknya bagi kesadaran masyarakat rasanya perlu diukur secara serius.
Well, sebagai sebuah blog yang mengusung NLP, saya akan menyoroti baliho ini dari NLP dong…
Presuposition
Seperti sering disinggung di blog ini, ada gejala bahasa bernama presuposition. Sering disamakan dengan asumsi, yakni sesuatu yang perlu diterima kebenarannya agar kalimat seutuhnya terasa benar. Misal ada orang mengatakan kalimat ini pada Anda : “Rumahmu sebelah mana kantor Pos?”. Dalam kalimat ini ada beberapa presuposisi/asumsi :
- Anda punya rumah
- Di kota Anda ada kantor Pos
- Anda tahu letak kantor Pos
- dan seterusnya
Nah, ketiga kalimat diatas disebut asumsi, karena tidak perlu dikatakan secara langsung, namun kebenarannya sudah diterima. Jika ketiga kalimat diatas kebenarannya tidak diterima (asumsi tidak diterima), maka kalimat “Rumahmu sebelah mana kantor Pos?” menjadi salah juga. Misal Anda tidak punya rumah, maka Anda akan mengatakan “Di sebelah kantor Pos bagaimana, lha wong rumah saja saya tidak punya”.Nah, bagaimana dengan kasus Baliho dari Trenggalek ini? Apa saja asumsi yang ada di balik kalimat ini: “Hidup memang susah, tapi bukan berarti tak ada cara lain ‘tuk cari nafkah!”. Mari kita tulis :
- Hidup memang susah.
- Ada berbagai cara mencari nafkah
- dan seterusnya…
Kali ini kita menyoroti kalimat yang pertama saja : “Hidup memang susah”. Hmm, benarkah asumsi ini yang ingin di tekankan oleh Komite Penanganan PMKS ini? Jika iya, rasanya kok kurang bijaksana ya…
Dalam perspektif NLP, keberadaan asumsi dalam suatu kalimat disebut presuposition. Dan presuposition ini secara linguistic punya kekuatan hypnotic yang benar-benar halus, karena tidak terasa kehadirannya. Oleh beberapa tokoh NLP, presuposition ini sering disebut sebagai stealth hypnosis. Kayak siluman, ada namun tidak nampak langsung.Presuposition berefek hypnosis, artinya memiliki daya pengaruh di bawah sadar. Pengaruhnya bisa baik, bisa jahat. Disebut pengaruh baik, apabila akibat asumsi ini efeknya menjadi baik, disebut jahat jika sebaliknya.Nah mari kita nilai sendiri-sendiri, kira-kira baliho itu memberikan efek baik atau sebaliknya?Jika boleh, saya mengusulkan, kalimatnya diganti dengan semacam ini: “Hidup ini bisa jadi susah atau mudah, kreatiflah dalam mencari nafkah yang sah”.
Penonjolan kata tertentu
Dalam bahasa percakapan, kita menggunakan intonasi, jeda, dan lainnya sebagai cara kita menekankan suatu kata yang penting dan ingin diingat. Misal :
Ketiga kalimat ini berbeda makna :
- “Kucing menggigit orang mati”
- “Kucing menggigit orang mati”
- “Kucing menggigit orang mati“.
Masing-masing kalimat dibedakan artinya dari kata yang di tekankan (bold). Kalimat pertama akan dipahami orang bahwa yang menggigit adalah kucing, bukan hewan lain. Kalimat kedua akan dipahami orang bahwa kucing itu menggigit, bukan mengeong atau mencium. Kalimat ketiga dipahami orang bahwa yang digigit kucing itu adalah orang mati, bukan orang hidup atau benda lainnya.Jadi kalimat yang di bold akan diingat dan masuk kebawah sadar secara lebih mudah, karena di sana ada penekanan.Jika kita lihat baliho itu, maka kalimat yang di bold itu adalah SUSAH, LAIN, NAFKAH. Nah, dengan demikian itulah yang akan lebih diingat oleh pembaca baliho ini.
Selaras dengan contoh usulan diatas, maka yang ditekankan adalah :”"Hidup ini bisa jadi susah atau mudah, kreatiflah dalam mencari nafkah yang sah”.
Penggunaan kata “Jangan”
Semua pembelajar linguistic dalam NLP pasti sangat akrab dengan hal “jangan” ini. Semua larangan justru akan menimbulkan awareness yang lebih kuat mengenai objek larangan itu.Misal “Jangan memikirkan kucing berbulu hijau”, nah Anda malah memikirkannya khan? Itulah…, pikiran kita justru akan memikirkan setiap objek larangan. Hal ini dilakukan oleh pikiran kita untuk membuat kita bisa memahami makna larangan itu. Namun terlambat, kita terlanjur membayangkannya, menciptakan dalam realitas internal kita apa yang dilarang itu. Padahal itu yang ingin dihindarkan oleh larangan itu tho…
Jadi alih-alih melarang, lebih baik mengatakan apa yang diinginkan saja. Misal dari pada melarang “Jangan biarkan hidup sia-sia”, lebih baik diganti dengan “Pergunakan hidup dengan sebaik-baiknya…”
Tentunya jika saya menggunakan foto di Trenggalek sebagai bahasan blog ini, maksud hati ini untuk memberikan sumbangan pemikiran berdasarkan disiplin yang saya miliki. Perbedaan keyakinan atau pandangan dalam hal ini tentunya bisa diterima dengan baik. Salah satu cara yang baik dalam mengetahui dampak baliho semacam ini tentunya dengan mengukur langsung. Saya rasa cukup banyak ahli dalam hal seperti ini di Indonesia.
Semoga bermanfaat!
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in Law Of Attraction, NLP |













November 9th, 2007 at 7:52 am
mas Rony, memang trenggalek itu kota kabupaten yang masih jauh tertinggal dari daerah lainnya. sepertinya kaya di anaktirikan oleh pemprov jatim. padahal potensi daerahnya sangat luar biasa. saya pernah tinggal di sana sampai lulus smp. tapi tiap tahun kalo saya berkunjung ke trenggalek perkembangannya ya itu itu saja. tidak semaju daerah yang lain. mungkin mas rony bisa adakan seminar atau workshop untuk merubah sudut pandang warga trenggalek termasuk jajaran pemerintahannya.
thanks
November 11th, 2007 at 2:03 am
Yap, muga-muga beliau-beliau yang disana tergerak dengan tulisan ini.
Thanks Mas Sugeng
November 21st, 2007 at 1:39 am
ya begitulah nasib trenggalek tempat kelahiranku mas..
sebenarnya sekarang ada kondisi yang sangat memilukan di trenggalek tepatnya di dusun Jagul, siki kec. Dongko Trenggalek.. di sana sampai saat ini masih belum bisa menikmati rasanya listrik dan jalan aspal, udahlah tempatnya di pegunungan pokoknya terisolir banget..
semoga ada pahlawan yang bisa membantu mereka.. amin..
November 21st, 2007 at 3:11 am
Yes, ayo M Yali, bantu daerah Anda ….
BTW, padahal kalau gak salah disana ada tambang marmer ya?
December 18th, 2007 at 1:27 am
Pak roony, memang benar sebenarnya trenggalek mempunyai potensi kekayaan alam yang sangat besar dan kalau dikelola akan bisa merubah kodisi perekonomian trenggalek seperti marmer (sepanjang pesisir selatan mulai sebelah barat perbatasan pacitan sampai sebelah timur perbatasan tulungagung), bahan-bahan mineral lainnya seperti kaolin, pasir besi, emas dll.
Sebenarnya disinilah peran pemerintah sangat strategis dalam pemerataan pembangunan utamanya sarana pembangunan akses jalur transportasi, dengan akses yang memadai tentu potensi daerah akan bisa digali dan dikelola sehingga urbanisasi, lapangan kerja tersedia dan taraf hidup akan meningkat.
Namun permasalah pembangunan di indonesia tercinta ini 90% pembangunan masih tersentral di kota dan pemerataan masih sangat kurang.
Dan lagi diperparah dengan sistem OTODA, kalau suatu daerah benar-benar miskin maka APBD (pendapatan) daerah tersebut hanya cukup untuk membiaya belanja sehari-hari kegiatan kantor saja dan akhirnya pembangunan seperti jalan ditempat. Soalnya aturan keuangan antara OTODA dengan sebelumnya sangat berbeda (otoda tergantung kemampuan masing-masing daerah untuk membiayai dan mengelola daerahnya).
Saya kira trenggalek memang dibutuhkan seorang pemimpin yang mempunyai visi dan misi yang kedepannya punya program-program jangka panjang.
Semoga saja kita bisa mencari dan memilih pemimpin yang ngerti akan daerah yang dipimpinnya (tidak harus pintar dalam tanda kutip). kita berharap semoga aturan pemimpin dari jalur independen bisa segera dilaksanakan (gol) bukan cuma pemimpin demi kepentingan partai atau golongan tertentu saja.
Selain itu mari kita dukung salah satunya seperti pembangunan JLS (jalur lintas selatan) guna kemajuan trenggalek jangan malah memperkeruh keadaan. salam untuk mas yali jagull
December 19th, 2007 at 3:55 pm
Ya benar Pak…
Saya rasa orang-orang seperti Pak Susilo akan bisa menjadi agen perubahan di Trenggalek.
Btw, saya pernah dengar dulu di Trenggalek akan ada penanaman modal menggarap marmer, namun emtah kenapa merasa dipersulit perijinannya, sehingga pindah ke daerah sebelah persis di perbatasan dengan Trenggalek. Tambang teta ambil di Trenggalek, namun pengolahan ada di daerah perbatasan luar Trenggalalek, sehinga Trenggalek kehilangan PAD. Sayang sekali.
Semoga dengan adanya tulisan ini menggelitik kawan-kawan di Trenggalek.
February 7th, 2008 at 8:08 am
Mas yali, saya saya memang sudah merantau 15 tahun yang lalu tapi paling tidak kalu saya pulang dari nggalek nyang gandusari pembangunan sudah cukup berkembang dan lorong-lorong kecilpun sudah banyak yang di aspak, untuk wilayah panggul, dongko, munjungan dll mari kita bantu supaya lebih maju, ok.
February 11th, 2008 at 12:15 am
Sip!
Saya senang tulisan ini bisa menginspirasi kawan–kawan dari Trenggalek.
Sukses untuk Trenggalek
Salam
March 4th, 2008 at 1:56 am
Memang hidup di kota Trenggalek itu susah, orang kota tanpa Industri yang ada hanya pedagang , Petani ,Pegawai negeri
March 5th, 2008 at 5:22 pm
Wah, kondisinya mirip Singapura ya Mas Oki? Kota pedagang dan pegawai. Mungkin bisa dikembangkan dengan cara sama ya…?
March 12th, 2008 at 4:06 pm
[…] Hidup Susah ‘Ala Kabupaten Trenggalek […]
March 14th, 2008 at 11:18 pm
waduh-2, kalau begini caranya, saya (boleh gak ya )klaim ke ortu, karena cukup banyak salah meng asumsi maping saya.
Ha ha ha . . . dosa gak ya pak Ronny.
Atau justru harus bersyukur karena setidaknya dengan seijin Allah akhirnya saya dipertemukan dengan artikel ini dan saya jadi penasaran.Andai ortu benar dalam mengasumsi maping saya mungkin saya tidak tertarik dengan artikel ini.Begitu kah ?!
March 18th, 2008 at 5:41 am
Sudah jelas kita harus banyak bersyukur.
Orang tua kita dll sama sekali tidak salah, karena mereka memang tidak mengerti…
Jadi maafkan mereka, doakan mereka makin sehat dan makin bahagia.
BTW, kita pun bisa salah pada anak kita, jika tidak mengerti. Ya khannn?
Ayo kita bantu orang-orang dengan menyebarkan pengetahuan ini. Sip!
Salam sukses untuk Otty
March 31st, 2008 at 4:38 am
Sebenarnya hidup di trenggalek itu tidak lah amat susah.
Itu semua berawal dari masyarakat yang shock dengan jatuhnya cengkeh di era 90an yang pada waktu itu buah/bunganya dimonopoli BPPC sedangkan daun dan batangnya kena serangan BPKC komplit dah.
Memang dulu warga yang mempunyai cengkeh ibarat orang kota yang punyai ATM, jadi setiap saat butuh uang bisa tinggal ambil di kebun langsung jual. Ingin beli apa? atau ingin acara kondangan manten sebentar kekebun langsung dapat uang.
Tahun 90an memang warga trenggalek terutama yang kecamatan dongko, pule bisa dikatakan makmur 98% rumah mereka sudah permanen dan tidak sedikit biarpun tidak bisa dilalui kendaraan banyak yang rumahnya tingkat (orang jawa : magrong-magrong), semenjak cengkeh hancur jadi lepas kendali dan belum bisa untuk memotivasi dirinya masing-masing.
Banyak hal-hal lain yang menyebabkan jatuhnya mental tersebut salah satunya adalah ketidak mampuan masyarakat/petani untuk memanage/mengelola hasil mereka.
Sebenarnya banyak potensi-potensi daerah yang bisa dikembangkan ke arah agribis, namun masyarakat kebanyakan memilih cara instan misalnya jadi TKW dan TKI.
Awal cerita suksesnya cengkeh di trenggalek kurang lebihnya berawal dari peranan seorang tokoh masyarakat (kalau ndak salah pak mulyono) yang sekitar tahun 70an punya kenalan/dikunjungi seorang insinyur pertanian dari IPB, atas permintaan/pertanyaan tokoh tersebut kira-kira tanaman apa yang cocok untuk ditanam di daerah dongko dan sekitarnya, akhirnya dikirimlah sampel tanah tersebut ke IPB, setelah menunggu bbeberapa bulan akhirnya hasil lab menyimpulkan kalau cocok untuk ditanami cengkah.
Mulai saat itulah cengkeh berkembang pesat dan mengalami jaman keemasan sekitar tahun 90 an.
Sebenarnya sekarang adalah cuma bagaimana cara memotivasi pola pikir masyarakat yang katanya serba hidup susah tadi dengan pola pikir yang rasional dan modern.
Kalau saya amati pola pikir masyarakat/petani saat itu (th 80-90 sampai sekarang pun) masih bagaimana cara menghasilkan makanan (dalam artian punya setok makanan sampai musim tanam berikutnya), belum berpikir bagaimana cara menghasilkan uang.
Akhirnya dengan terkungkung pola pikir seperti itu keadaan petani masih memprihatinkan.
Mungkin sedikit saran buat generasi mudanya (jangan cuma bisa mabuk), para sarjana yang kembali ke desa tolong ilmu dan pengalamnnya dimanfaatkan.
Khusus untuk desa siki masih banyak potensi yang bisa digali dan dikembangkan seperti perkebunan petai, durian dll.
Mungkin perlu dibentuk kelompok-kelompok petani (kalau dulu klompencapir), belajar akses informasi ke internet untuk cari ilmu, kesempatan, pemasaran dll.
Semoga sukses.
March 31st, 2008 at 4:43 am
Terus terang sebenarnya kalau saya akan merasa lebih tenteram kalau hidup seperti di trenggalek, tenang damai biaya hidup tidak tinggi (pokoknya bisa menikmati hidup).
Ya mohon maaf ……………….
mungkin orang-orang yang tidak mempunyai ketrampilan dan keahlian saja yang bingung……
Tidak mau memotivasi dirinya, tidak mau mengali potensi diri dan sekitarnya untuk bertahan hidup.
March 31st, 2008 at 5:58 am
Pak Susilo,
Terima kasih atas gambaran dan cerita nya.
Semoga bisa menggugah kita semua…
Salam bangkit!
April 3rd, 2008 at 6:51 am
Saya berharap banyaknya lowongan kerja yang bisa membantu masyarakat atau penduduk kota Trenggalek biar tidak ada lagi yang berkata kalau hidup di kota trenggalek itu susah
April 3rd, 2008 at 7:03 am
sebenarnya ada yang saya mau ceritakan jujur saya belum pernah ke kabupaten Trenggalek tapi saya punya orang tua asli orang Trenggalek ibu saya Gemi Asih dan Bapak Saya Saban . kalau mendengar dari orang tua saya kabupaten Trenggalek kaya akan usaha dibidang pertanian , dan saya bekerja di suatu intansi Dispenda kaltim , suatu hari kalau saya jadi orang yang sukses saya akan membantu kota trenggalek biar masyarakat Trenggalek bisa seperti kabupaten yang lainnya kaya akan hasil alam
April 15th, 2008 at 7:06 am
aku juga lair di nggalek
kedua ortu asli nggalek
alias nggalek tulen
meski skrg kerja di luar kota
tp suatu saat pengen balikke galek tercinta
April 15th, 2008 at 8:46 pm
Mbak Susi dan Mas Jarwo,
Trenggalek membutuhkan orang seperti Anda yang masih mau kembali membangun kota asalnya.
Saluuut
May 16th, 2008 at 6:15 am
Kira2 mas Ronny ada rencana, mau mengadakan workshop atau sedikit memberikan ceramah kepada orang2 trenggalek atau pejabat pemda trenggalek??
May 21st, 2008 at 3:54 am
Tahun 2005 saya pernah melatih PEMDA Trenggalek untuk persiapan kantor urusan bersama untuk pengurusan ijin satu atap (Sistem Informasi Satu Atap). Materinya mengenai Layanan Prima.
Untuk ke depan belum ada rencana lagi Mas…
Thanks sudah mampir Mas
May 21st, 2008 at 7:34 am
Saya sangat sepaham dengan mas Jarwo dan Mbak Susi, saya setelah lulus sekolah dari Malang kerja di Surabaya, tapi dalam hati ini pingin sekali memberikan sesuatu untuk Trenggalek,dan alhasil saya berhasilpulang ke Trenggalek dan saat ini mengabdi untuk pemerintah Trenggalek.
June 20th, 2008 at 7:19 pm
Wah, makasih banget buat artikelnya Pak Ronny. Berhubung yg disitu adalah baliho, dan yg pasti ada desainer yg ngerjain, ini jadi masukan juga lho buat saya kalau2 ada project2 bikin seperti ini. Minimal bisa ngatur layoutnya supaya ga nekenin ke ’susah’nya, syukur2 bisa skalian ‘mempengaruhi’ kliennya supaya memperbaiki slogan hehehe..