Law Of Attraction dan NLP
Written by ronnyfr on 26 October 2007 – 12:58 am - 1,483 kali dibaca.Halo Pembaca,
Apapun sebabnya, Anda bukan tanpa sebab sehingga bisa menjumpai tulisan ini. Saya percaya ada suatu kekuatan tarik menarik yang membuat Anda masuk ke sini. Orang barat menyebutnya sebagai Law Of Attraction, kita orang timur dan mungkin juga orang lain akan menyebutnya dengan istilah lain mengenai hal ini…
Apakah LoA Itu?
Jika Anda pernah membaca bukunya Michael Losier “The Law Of Attraction“, maka akan melihat bagaimana Michael Losier membahas LoA menggunakan ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming). Ilmu NLP ini dikenal sebagai demistifying tools, yakni alat (perangkat berpikir) yang me-non-mistis-kan sesuatu yang sebelumnya dianggap mistis menjadi gejala sehari-hari biasa. Jika Anda ingin tahu apa itu NLP silahkan baca artikel “Apakah NLP” di bagian akhir blog ini.
Sebagai gambaran yang lebih jelas, silahkan jawab pertanyaan ini :
- Pernahkah Anda mengalami suatu kondisi dimana Anda baru melamunkan suatu makanan yang enak, tiba-tiba ada yang mengantarkan (mentraktir, memberi) Anda makanan yang Anda harapkan itu?
- Pernahkah Anda mengalami suatu kondisi dimana Anda baru saja membayangkan wajah seorang sahabat sambil mengenangkan manisnya hubungan Anda, dan tiba-tiba sahabat Anda itu menelepon Anda, atau justru tiba-tiba muncul di depan Anda?
- Pernahkah Anda mengalami suatu kondisi di mana Anda suatu saat pernah berkhayal / berimajinasi / bervisualisasi tentang suatu pergi berkunjung ke luar negeri yang anda inginkan. Tiba-tiba suatu saat Anda mendapatkan bonus liburan dari seseorang / suatu organisasi (kantor Anda, hadiah bank, lucky draw, pemerintah, dll) padahal Anda tidak pernah meminta hal itu pada mereka.
- Pernahkah Anda mengalami suatu kehilangan benda tertentu, namun Anda meyakini bahwa benda itu tidak benar-benar hilang. Kemudian saat Anda rileks, membayangkan benda itu sambil mengingat gunanya dan merasa bahwa benda itu sangat bermanfaat, kemudian tiba-tiba Anda seperti “didorong” pergi ke suatu tempat tertentu, dan “gubrak”, Anda menjumpai benda itu disitu? Padahal rasanya Anda sudah kesitu sebelumnya, dan bahkan Anda tidak ada dugaan bahwa benda itu disitu.
- Pernahkah Anda sedang tertarik dan berminat sekali mengenai suatu topik, kemudian saat berjalan di toko buku/perpustakaan tiba-tiba seperti terdorong melangkah ke rak tertentu, dan tiba-tiba ada suatu sampul buku yang seolah meloncat-loncat dan mengundang Anda untuk dibaca. Dan bum…! Buku itu berisi topik yang sedang Anda cari-cari.
- Pernahkan Anda merasa selalu beruntung karena setiap menginginkan suatu proyek/bisnis, selalu saja ada proyek yang datang, padahal Anda tidak pernah dengan sengaja mengejarnya atau memintanya.
- Pernahkah Anda sedang menginginkan melakukan sesuatu, (misal ingin menuliskan buku), tiba-tiba ada orang yang mengenalkan Anda ke penerbit, bertemu di suatu acara dan berkenalan dengan seorang editor atau orang yang mengajak menulis bersama, dan ada seorang sekretaris yang menawarkan diri bekerja untuk Anda dalam membantu menuliskan buku itu. Semua terjadi seolah kebetulan dan Anda tidak dengan sengaja mengejarnya dan seterusnya.
- Pernahkah Anda mengalami rasa yakin yang luar biasa akan mendapatkan tempat parkir di suatu tempat tertentu pada saat tertentu di mall atau di kantor Anda. Dan kemudian betul, saat Anda tiba di tempat itu, Anda mendapatkan tempat parkir di lokasi persisi yang Anda inginkan sebelumnya.
- Pernahkah Anda ingin sekali berbicara di suatu forum / acara, kemudian Anda membicarakan dengan istri Anda mengenai keinginan itu dan sempat membayangkan beberapa kali. Tiba-tiba saat Anda hadir di acara itu, seseorang yang belum pernah Anda kenal sebelumnya memanggil Anda ke depan dan meminta Anda berbicara mengenai topik yang Anda maksudkan itu?
- Pernahkah Anda menginginkan menikah umur tertentu misal umur 30 tahun, dengan seorang jodoh yang memiliki karakteristik fisik tertentu, misal berkulit putih dan tidak gendut (maaf, bukan bermaksud SARA). Beberapa kali setelah dewasa, bahkan Anda sudah melupakan hal itu, kemudian anehnya semua usaha pernikahan sebelum umur itu dan dengan orang yang berkarakteristik berbeda menjadi gagal. Lucunya pas umur 30 tahun Anda menikah dengan orang yang berkarakteristik seperti itu.
- Pernahkah Anda menginginkan suatu barang sedemikian pingin-nya, bukan untuk Anda sendiri, namun untuk anak bayi Anda. Dan pada saat Anda setelah melahirkan, pulang kerumah, ternyata barang-barang itu sudah ada di rumah Anda. Beberapa diberi orang dan beberapa dipinjamin orang, persis seperti yang Anda inginkan.
- Pernahkah Anda pada suatu ketika tiba-tiba tanpa alasan yang jelas ingin sekali pergi ke suatu tempat tertentu, bahkan Anda sebelumnya tidak pernah secara khusus berada di tempat itu. Dan saat Anda ikuti keinginan itu, ternyata di situ Anda menjumpai suatu kejadian yang Anda memang ingin buktikan bahwa hal itu memang terjadi. Misal Anda menemukan bahwa ada seseorang sedang mencurangi di belakang Anda.
- Pernahkah Anda menuliskan 100 impian / harapan secara tertulis. Bahkan Anda tidak tahu bagaimana itu akan terwujud, Anda cuma yakin saja bakal terjadi, Anda cuma berkhayal saja betapa indahnya jika kesampaian. Dan beberapa tahun kemudian, saat Anda meninjau kembali ternyata beberapa impian itu sudah terjadi, dan beberapa terus menerus menyusul terjadi.
- Pernahkah Anda sedang menulis SMS ingin mengundurkan suatu jadual pertemuan dengan seseorang, namun tepat sebelum SMS itu Anda kirimkan tiba-tiba orang itu mengirim SMS atau menelepon Anda meminta jadualnya diundur seperti keinginan Anda?
- Atau sebaliknya, Anda sedang menelepon orang, atau sedang memberi sesuatu kepada seseorang, atau mendatangi rumah/kantor seseorang, dan lain-lain. Tiba-tiba orang itu mengatakan… “Ya ampun, aduh… saya baru saja membathin / membayangkan hal itu…, kok bisa ya….?”
Nah, kejadian seperti di atas terjadi karena apa? Jika kita perhatikan, bahkan seringkali hal itu terjadi dengan cara kita TIDAK DENGAN SENGAJA MENARIKNYA, atau dengan kata lain bahkan kita tidak MEMINTANYA pada siapapun. Kita hanya berharap itu terjadi ‘entah dengan cara apa’ dan ‘entah bagaimana itu bisa termanifestasi’.
Lha kalau kita TIDAK dengan sengaja meminta KEPADA SIAPAPUN, kenapa bisa terjadi? Inilah yang menarik, inilah yang terus menerus menjadi pertanyaan semua orang. Ada yang menyebutnya kebetulan, keberuntungan, hoki dan sebagainya. Namun hati kecil kita tergelitik, kenapa ini terus terjadi dan terjadi pada begitu banyak orang?
Dari abad ke abad begitu banyak upaya memecahkan misteri ini. Dengan suatu harapan bagaimana jadinya AGAR SAYA BISA MELAKUKANNYA DENGAN SENGAJA DAN BERULANG-ULANG.
Michael Losier mengatakan, “Apapun yang Anda berikan perHATIan, Energi dan Fokus akan membuat itu masuk ke gelembung Vibrasi Anda. Dan akan direspon oleh semesta kembali kepada Anda dalam jumlah yang luar biasa”. Itulah definisi Michael Losier mengenai LoA.
Berbagai ikhtiar manusia
Ikhtiar atau usaha manusia dalam mendapatkan keinginannya bisa dilihat dari dua dimensi. Usaha fisik dan usaha mental (spiritual). Usaha fisik untuk mendapatkan uang kita lakukan dengan bekerja keras dan sebagainya. Usaha mental kita lakukan dengan selalu berdoa, melatih sikap mental positif dalam bekerja dan sebagainya.
Dalam skala yang lebih tidak kasat mata, saya sendiri sewaktu kecil menjumpai orang berikhtiar secara mental/spiritual dalam beragam wujud do’a saat saya sekolah dan belajar mengaji. Saat remaja saya menemui beberapa rekan saya melakukan hal ini dengan mencobanya melalui cara mistik, menggunakan keris dan ajimat ini itu. Cukup beruntung saya tidak mendalaminya, karena merasa tidak berbakat dalam ‘mistik’ ini.
Saat saya cukup dewasa saya bertemu lagi dengan bentuk yang berbeda, yakni dengan cara membuat bola energi (reiki, prana, dll) lantas keinginan kita dimasukkan ke dalamnya dan dilempar ke udara terus dilupakan. Saya juga sempat menjumpai teknik lain yakni dengan cara menurunkan gelombang otak ke kondisi Theta, dimana vibrasi kita pada kondisi optimum, dan lakukan visualisasi dan lainnya di gelombang pikiran itu.
Semua cara itu memiliki klaim sukses dan penjelasannya sendiri-sendiri.
Lantas di Tahun 2006 dunia dihebohkan dengan film The Secret. Film The Secret menyadarkan orang akan suatu istilah yang disebut sebagai Law Of Attraction ini, karena disebut sebut bahwa “What is the Secret? The Secret is The Law of Attraction” Sejak itu istilah LoA seolah menempel pada Film The Secret.
Bagi saya istilah LoA hanyalah suatu sebutan saja untuk mempermudah melukiskan (metafora) peristiwa di atas. Boleh saja diberi nama yang lain, istilah yang lain, bahasa yang lain. Terserah kita saja.
Nah, begitu istilah LoA ini bergulir, langsung saja ada banyak orang yang kemudian mengubah mengaitkan nama/merek dari berbagai ilmu mereka dan mengemasnya dalam merek yang sedang ngetop ini “LoA”.
Semua berusaha membuat dan mengklaim bagaimana agar fenomena LoA ini bisa direplikasi. Berbagai macam cara orang untuk menjelaskan dan mengupayakan hal ini.
- Ada yang berusaha melihat ini dari fenomena mistis. Menggunakan berbagai pendekatan antara lain dari yang menggunakan semacam mantra, herbs, simbol-simbol, mengundang arwah dan sebagainya.
- Ada yang mendekati secara spiritual (tanpa membawa agama apapun), seperti ajaran Abraham dari Jerry dan Esther Hicks dan seterusnya.
- Ada yang mendekati dari ajaran agama tertentu, hampir semua agama memilikinya.
- Ada yang mendekati dengan penggunaan energi seperti reiki, EFT dan sebagainya.
Saya menghargai setiap usaha dari mereka yang mendekati fenomena ini dari sudut pandang manapun. Setiap dari mereka punya hak atas pandangannya, atas kepercayaannya, atas keyakinannya. Dalam menghargai perbedaan saya terutama berusaha dengan tidak menyalahkan pendapat yang berbeda dengan yang saya yakini.
Loa dan NLP
Apakah LoA berhubungan dengan NLP, bisa ya dan bisa tidak. LoA bisa berjalan sendiri tanpa kita mengetahui NLP kok. Lha terus apa hubungan LoA dengan NLP?
NLP adalah ilmu modelling, alias ilmu meniru. Meniru apapun yang dianggap ekselen, apakah berasal dari perilaku dan pengalaman kita atau orang lain. Dengan mempelajari NLP, kita belajar untuk mereplikasi suatu keunggulan supaya selalu bisa direproduksi ulang.
Jadi dengan belajar NLP, dan diarahkan ke LoA, tujuannya adlah supaya kita bisa mengetahui bagaimana peristiwa-peristiwa kebetulan ini bisa terus terjadi dan kita replikasi dengan sengaja dalam kehidupan kita.
Kita mendayagunakan suatu mekanisme di semesta ini yang sementara ini disebut sebagai Law Of Attraction, dengan cara menyelaraskan diri dengan cara kerja LoA itu.
Misalkan:
Dalam hampir semua metode LoA selalu dikatakan bahwa kita perlu memiliki RASA percaya yang kuat, feel good, happy, bersyukur dan berkelimpahan. Lantas banyak pertanyaan kepada saya, bagaimana caranya kita memiliki, melatih, mengemgangkan perasaan-perasaan itu?
Banyak yang belajar mengenai RASA ini mendekati secara keliru. Mereka mengira sudah merasa berkelimpahan, padahal mereka cuman berpikir berkelimpahan. Mereka mengira sudah merasa bersyukur, padahal mereka cuman berpikir bersyukur.
Berpikir tidak sama dengan merasa. Berpikir hanya berada di level kognitif dan alam sadar. Merasa melibatkan emosi dan bawah sadar dimana level vibrasinya amat tinggi.
Nah NLP secara cantik menawarkan berbagai metode untuk mengakses, melatih, menguatkan dan mengalami perasaan ini. Bahkanmemperkuatnya sehinga vibrasinya menjadi lebih tinggi lagi.
Penutup
Bagi saya, LoA saya pahami secara sederhana sekali. Bahwa semua hal bisa terjadi dalam koridor dan atas Ijin Alloh STW / Tuhan YME. Beliau memiliki hak prerogatif untuk mencancel suatu proses yang kita sebut LoA itu atau membiarkannya berjalan terus.
Namun bagi saya, alangkahnya kurang bijaksananya kita apabila kita sendiri yang mencancel proses LoA itu. Meragukan bahwa mekanisme yang (sementara ini) kita sebut LoA, akan mencancel mekanisme itu sendiri. Lebih baik kita percaya bahwa LoA itu memang ada, inilah yang disebut dengan The Art Of Allowing . Semoga saya bisa menuliskannya dalam artikel berikutnya.
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in Law Of Attraction, NLP |












November 5th, 2007 at 2:00 am
Loa mungkin mudah bagi yang mentalnya mendukung,lalu bagaimana bagi yang mentalnya tidak mendukung,karena lingkungan mungkin,ato kepercayaan yang tertanam dari kecil atau bisa juga karena trauma masa lalu,?Mas ronny mohon dibalas ya,makasih sebelumnya ya
November 5th, 2007 at 3:02 am
Mas Arif, kita manusia memiliki pilihan : menjadi budak dari pikiran atau menjadi tuan bagi pikiran.
Untuk persoalan-persoalan dari kecil atau masa lalu, itulah gunanya NLP dan hypnosis/hypnotherapy, bisa membantu dengan baik memecahkan persoalan itu…
Bisa dimulai dari membaca berbagai artikel disini atau mengikuti pelatihan dari ahlinya. Banyak kok training di luar sana Mas…
December 19th, 2007 at 8:08 am
Saya baru saja ikut training mas ronny, tadi pada saat training, saya mau menanyakan ttg LoA, ternyata bisa saya dapat jawabanya d sini. Karena kira 1-2 bulan yang lalu teman saya menganjurkan saya nonton the secret, setelah saya tonton, lumayan banyak hal2 kecil yang sebelumnya masuk kategori ‘informasi yang terabaikan’ jadi dapat perhatian saya. Termasuk tiba2 saja kemarin saya dapat memo untuk mengikuti training hypnotic persuasion, saya menganggap itu bagian dari hukum LoA… menurut mas ronny gimana?
Oh, iya, sejak nonton film the secret itu, setiap pagi, saya selalu berhasil menyemangati diri saya sendiri untuk selalu semangat, padahal sebelumnya… sering kali saya di hinggapi perasaan2 negatif (tidak semangat, lemah,lesu dll)
December 19th, 2007 at 4:00 pm
Dear Bunda Lala,
Memang begitulah bekerjanya LoA. Jika kita sudah bisa menggunakannya, akan banyak sekali kebetulan-kebetulan terjadi dalam kehidupan kita….
Luar biasa! Bisa menyemangati diri tiap pagi! Itu impian banyak orang. Selamat Bunda Lala! Salam untuk Lala….
February 11th, 2008 at 3:42 am
Betul Mas Ronny, banyak yang mengaplikasikan teori The secret tapi dg pendekatan yang kurang pas. mereka hanya sampai pada level think, bukan feel. Untuk ini saya menggunakan pendekatan kesadaran spiritual yang hanya bisa kita dapat dengan pengalaman dan pengetahuan spiritual. Dengan Spiritual Counciousness inilah yang bisa menempatkan kita pada level fell, bukan hanya think,sehingga kita betul2 merasa berkelimpahan, betul2 merasa makmur, dan terutama betul2 merasa Bersyukur. bukan pura2 berkelimpahan, pura2 makmur dan pura2 bersyukur.
February 11th, 2008 at 11:03 am
Waaaah, spiritual consciousness…, dari namanya saja udah luar biasa.
Ayo, disharing disini Mas Mujib….
Memang, LoA harus di dekati dengan feeling, bukan logika. Banyak yang tidak berhasil mengaplikasikan LoA lantas menyalahkan dan memojokkan LoA.
Sayang sekali khan…
Oh ya, sekali lagi saya tunggu sharing spiritual consciousness-nya.
Thanks
March 25th, 2008 at 1:14 am
Ass wr wb
Salam kenal mas Ronny
Saya baru saja baca buku Law of Attraction nya Michael J Losier isinya ternyata sama dengan apa yang sudah saya praktekan selama 34 tahun yang saya kenal dengan sebutan “Tehnik mental Picture”
Bagi rekan yang ingin tahu pengalaman saya menggunakan tehnik ini selama 34 tahun silahkan mampir ketempat saya. Hukum LOA ini sebenarnya banyak disebut dalam al Qur’an . Diatas mas Ronny menulis bahwa iktiar manusia terdiri atas “usaha fisik dan usaha mental” ini digambarkan dalam S Al Insyirah ayat 7-8 ” Apabila telah selesai dari satu pekerjaan , segeralah kerjakan pekerjaan berikutnya (usaha fisik) . Dan kepada Tuhanmu berharaplah (usaha mental)”
March 30th, 2008 at 11:45 pm
Thanks Mas Fadzil atas sharingnya,
Saya tunggu kisahnya yang lebih mendetail disini.
Salam sukses untuk Anda!
April 4th, 2008 at 5:57 am
Mas Ronny,
Mungkin bisa ditanggapi tulisan dari blogger berikut ini yang melihat LOA sebagai yang berbeda, bagaimana, ya??
Law of Attraction atau Law of Distraction (1)
Belakangan ini, saya sering bertemu dengan teman atau kenalan yang berbicara tentang law of attraction (LOA). Sebagian berapi-api menggambarkan kehebatan hukum ini, sebagian lain hanya bisa bingung. Saya pun akhirnya membaca satu dua buku yang membahas LOA, terutama buku-buku yang ditulis oleh para motivator, bukan ilmuwan atau filosof.
Hasilnya: saya benar-benar bingung dan bertanya-tanya tentang betapa besar oversimplifikasi yang menghantam hukum ini. Dalam teks-teks filsafat, hukum ini sebenarnya termasuk dalam diskusi luas ihwal prinsip kausalitas. Istilah law of attraction itu sendiri sepertinya serupa (meski mungkin tak persis sama) dengan hukum sinkhiyyah—sebuah istilah yang dikenal luas dalam terminologi filsafat Islam.
LOA yang sudah dibuktikan dan dipradugakan kebenarannya itu kerap diplintir dan diplesetkan oleh buku-buku motivasional siap-saji ini. Konsepsi dan konteks hukum itu pun jauh terpelanting dari proporsinya. Misalnya, satu hal yang sering terlupakan dalam diskusi ihwal law of attraction adalah hukum lawannya, yakni hukum daya tolak. Biar keren, hukum daya tolak kita sebut saja dengan law of distraction. Kedua daya ini telah dibahas luas oleh para filosof, termasuk para filosof Muslim, dalam kajian-kajian tentang hukum kausalitas.
Hukum daya tolak bekerja di alam semesta seiring dengan hukum daya tarik. Tulisan ini tidak dibuat untuk menentang LOA, tapi untuk mengembalikan LOA pada proporsi ilmiahnya. Pasalnya, saya sering bertemu orang yang begitu mabuk dengan pseudo-LOA yang kini ramai dijajakan oleh para motivator. Pemelintiran itu menurut saya membodohkan, mendegradasikan dan mengkanvaskan akal sehat kita.
Hukum kausalitas mengajarkan kita untuk tidak sekedar memikirkan yang kita inginkan, melainkan mengisi semua pikiran itu dengan program perilaku dan tindakan yang konsisten. Asumsi-asumsi yang diajukan buku-buku motivasional yang mengadopsi hukum daya tarik sering kali bersifat oversimplistik, sehingga seolah-olah hanya dengan serangkaian visualisasi dan konsentrasi mental tertentu, segala harapan bisa dicapai. Anggapan seperti ini jelas menyesatkan.
Marilah kita dobrak dulu penjara yang kini sedang dibangun oleh buku-buku yang menyuguhkan law of attraction (LOA) sebagai menu utama. Setelah membaca sejumlah buku berkenaan dengan LOA, saya malah merasa bahwa LOA itu sendiri telah berbalik menjadi law of distraction (LOD), lantaran LOA ala para motivator itu sebenarnya mengganggu (menolak) orang mencapai tujuannya. Ia merusak dinamika alamiah dari hukum kausalitas, yang mau tak mau mengakomodasi daya tarik sekaligus daya tolak.
Lebih jauh, buku-buku para motivator yang mempermainkan LOA itu telah sedikit demi sedikit melepas intervensi dan kehadiran Ilahi dalam kesadaran manusia. Menurut saya, ini bagian dari apa yang oleh Prof. Hussein Nasr diistilahkan dengan desakralisasi. Saya pernah menulis sekilas masalah ini dalam tulisan berjudul, “Kematian Manusia: Sebuah Karikatur”.
Lebih dari itu, saya ingat kata-kata Imam Ali seribu tahun lebih yang lalu berkenaan dengan peran asasi Tuhan dalam proses perwujudan segala sesuatu di alam. Beliau berkata, “Aku mengenal Allah dengan gagalnya rencana-rencana.” Di sini, beliau ingin mengingatkan manusia bahwa “daya-tarik-Anda” terlalu kecil dibanding intervensi Ilahi, sehingga manusia yang mau mewujudkan keinginannya harus menyambungkan keinginannya dengan keinginan Ilahi. Jelasnya, dia harus menjadi hamba yang taat sedemikian sehingga apa yang dia maukan sama dengan kemauan Tuhannya.
Bagaimanapun, daya tolak memang bekerja seiring dengan daya tarik. Tanpa mengenali masing-masing karakter dan implikasi daya ini, maka kita tak mungkin mendapat apapun yang kita inginkan. Apalagi, bila apa yang kita menginginkan adalah sesuatu yang tidak mungkin atau tidak sesuai dengan hukum-hukum Allah yang bekerja dalam kekuatan yang mutlak.
Nah, sekarang saya akan mencoba menyediakan kritik untuk berbagai definisi yang umum dipakai oleh buku-buku motivasional itu terkait dengan LOA. Dalam posting-posting lanjutan, saya akan memberikan kritik-kritik lain terhadap prinsip-prinsip LOA itu. Barulah kemudian saya akan menulis berkaitan dengan LOA yang benar, sesuai dengan paparan para filosof.
Definisi: Orang pasti menemukan manifestasi dari apa-apa yang memenuhi pikirannya.
Kritik: Ada begitu banyak hal yang bisa kita jadikan contoh sebaliknya. Dari sejak zaman prasejarah, banyak manusia yang menginginkan keadilan di bumi. Tapi, rasanya manifestasi keadilan itu tidak juga terwujud. Para advokat LOA mungkin akan menjawab bahwa keadilan itu terlalu abstrak untuk diwujudkan, sehingga ia perlu lebih dikonkretkan, atau divisualisasikan. Tapi, upaya konkretisasi atau visualisasi ini jelas bertentangan dengan prinsip umum yang diterima oleh kalangan filosof dan ilmuwan. Bahwa kenyataan empiris/konkret mengandung banyak reduksi dibanding konsep ideal yang kita pikirkan. Ujung-ujungnya, perwujudan keadilan yang kita pikirkan itupun tidak mungkin terjadi!
Definisi: Orang bisa mengendalikan realitas dan hidupnya semata-mata melalui pikirannya.
Kritik: Memang pikiran memiliki pengaruh yang sangat kuat, terkadang lebih berpengaruh ketimbang tindakan. Tapi, faktor yang mengubah dan menciptakan sesuatu di dunia fisik ini tak lain adalah tubuh kita, bukan pikiran itu. Jika tidak demikian, maka kita harus berhadapan dengan paradoks yang oleh kalangan filosof disebut dengan inqilab atau peralihan konsep mental menjadi benda material secara non-kausal. Dan paradoks ini ternyata memang dipercayai secara luas oleh kalangan awam. Misalnya, anggapan keliru bahwa jin (sebagai substansi non-material) bisa menjelma menjadi tikus, ular atau sejenisnya. Aaah, takhayul lagi bukan?!
April 4th, 2008 at 9:00 am
Ya, saya menghargai pendapat dari tulisan di atas, saya mengerti selalu ada niat baik yang kita bisa pelajari dari tulisan seseorang.
Setidaknya dari tulisan itu saya belajar mengenai sesuatu yang disebut oversimplifikasi. Dan tulisan di atas, dengan baik sekali menunjukkan secara langsung pada kita apa dan bagaimana ‘oversimplifikasi’ itu.
Jadi pesan moral yang saya ambil adalah hindari oversimplifikasi di dalam memahami LoA. Termasuk juga berhati-hati apabila mungkin ada oversimplifikasi di dalam tulisan-tulisan yang membahas oversimplifikasi mengenai LoA.
Well,
Wacana LoA adalah ikhtiar manusia untuk memahami tata cara Tuhan YME dalam mengatur alam semesta ini.
Bukankah perbedaan membawa rahmat, membuat kita lebih pintar dan membuat ilmu semakin maju. Karena adanya perbedaan akan menjadikan kita berikhtiar untuk menemukan yang lebih baik dan yang akan paling mendekati kebenaran milik Nya…
Salam penuh kelimpahan
Ronny FR
April 5th, 2008 at 6:06 am
Mas, Ronny
Berikut saya copykan terusan dari kritik yang bersangkutan, supaya bisa lebih lengkap. Kok kayaknya beda arah dalam memandang hal yang satu yang saya khawatirkan ada salah tafsir atau salah paham, karena LOAnya mas ronny kok lebih practis untuk di cerna. ????? any way saya juga paling suka perbedaan.
Law of Attraction atau Law of Distraction (2)
Pesan pembuka: kritikus itu sering menjadi sasaran kecaman (dan ancaman). Mungkin orang mengira kritik tentang sesuatu sebagai ungkapan iri, sakit hati, kalah bersaing, cari sensasi dan popularitas, dan sejenisnya. Memang itu adalah risiko yang harus ditanggung.
Tapi, jika kita timbang sejenak, maka kita bakal paham bahwa kritik itu menu yang sehat. Jika kritik itu ternyata keliru, maka setidaknya ia akan mempertajam pemahaman dan menghaluskan budi kita. Dan jika kritik itu tepat dan sahih, maka ia akan menjadi penyelamat kita. Nah, selain harus selalu mengkritik diri sendiri, kita juga harus selalu siap bahkan girang mendengar kritik orang lain. Terutama yang bersifat ilmiah dan tidak berisi sarkasme belaka.
Definisi: Pikiran (disadari atau tidak), emosi, keyakinan dan tindakan bisa mengatraksi (menarik) pengalaman-pengalaman positif atau negatif yang selaras dengannya “melalui resonansi getaran energinya.”
Kritik: Sekarang mari kita berpikir sejenak. Kalau memang itu yang terjadi, lantas mengapa para filosof agama membanjiri dalil-dalil logis bahwa manusia membutuhkan program-program partikular (ritual, verbal, dll) yang diketengahkan oleh agama. Maksudnya, untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan sejati, manusia perlu mengikuti semua rincian program Tuhan, lantaran sebenarnya manusia tidak tahu (tidak bisa memikirkan) kebahagiaan dan kesejahteraan hakiki mereka di dunia apalagi akhirat.
Coba kita lihat juga mengapa semua orang yang ingin sehat perlu mengikuti rincian program yang diajukan oleh dokter? Mengapa ilmu kedokteran itu tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia, padahal semua orang pastilah selalu memikirkan, menginginkan dan memvisualisasikan hidup yang sehat wal afiat?
Dan satu dari sekian banyak contoh lain: Mengapa semua perempuan yang ingin bertubuh ramping perlu mengikuti program diet yang rutin dan ketat agar segala pikiran, keinginan dan visualisasi dietnya terwujud?
Mengapa para penulis buku motivasional yang memakai gagasan LOA—saya tekankan “memakai” karena jelas mereka tidak “mencetuskan” ide yang sudah ada sejak zaman pra Yunani itu—tidak menawarkan teknik-teknik “gelembung getaran” atau sejenisnya pada Angkatan Bersenjata AS yang kini berguguran di Irak atau Afghanistan? Sudah barang tentu teknik-teknik itu kiranya bisa menghemat anggaran militer AS yang kini mendekati angka fantastis 3 trilyun dolar? Lebih penting lagi, kalau memang mujarab seperti yang disugestikan para motivator, teknik-teknik ini harusnya bisa mengurangi angka kematian prajurit AS di Irak jauh di bawah angka 4000 nyawa saat ini?
Apa mereka berani ya???
Para pendukung LOA mungkin menjawab: Tentu saja pikiran, visualisasi dan konsentrasi mental itu membutuhkan pada sejumlah tindakan. Tapi, sayangnya, pembobotan berlebihan pada efek pikiran yang ditimbulkan oleh buku-buku motivasional membuat banyak orang lebih sering “melamun” ketimbang “bekerja keras”. Pastinya “melamun” di bidang pengetahuan lebih sederhana dibanding di bidang “mencari duit” dan barang-barang konkret lainJ
Singkatnya, realitas dan hukum-hukum yang bekerja di alam tidak menyambut anggapan ini: “Pikiran dan keinginan saya bakal mewujud dengan cara sesering melamunkannya.” Asyiiiiiiik, yuk kita melamun!!! Melamun apa aja, yang penting asyiiiik!!!
Definisi: “Kau akan mendapatkan apa yang kau pikirkan; pikiran-pikiranmu membentuk nasibmu.”
Kritik: Saya hanya mau bertanya, “Kalau pikiran belaka bisa membentuk nasib kita, berarti nasib kita ini akan berubah setiap detik? Bukankah pikiran manusia berubah-ubah setiap detik atau lebih cepat dari itu—sesuai milyaran rangsangan yang menerpanya? Jika demikian, di mana letak pengaruh LOA dalam menentukan nasib akhir manusia yang pikirannya berubah tiap-tiap detik itu?”
Lebih jauh, berdasarkan fitrahnya, tiap-tiap manusia memikirkan nasib yang baik untuk dirinya masing-masing. Hanya saja, sebagai makhluk super kompleks, satu pikiran yang timbul dari salah satu daya manusia bisa digerus oleh pikiran lain yang timbul dari daya lainnya. Bila tidak terkelola dengan tepat, konflik batin bisa memunculkan berbagai gejala penyakit jiwa, termasuk split personality, disintegritas mental atau sejenisnya.
Nah, saat terjadi disintegrasi itu, bagaimana LOA bekerja? Pikiran manakah yang ia pilih? Tentu jawabnya adalah yang terkuat. Nah, jika yang terkuat itu sebenarnya bertentangan dengan prinsip-prinsip alam lainnya, seperti prinsip evolusi spiritual manusia, lantas apa yang bakal terjadi?
Ungkapan “Pikiran-pikiranmu membentuk nasibmu” memang sedap didengar. Tapi, ungkapan ini baru setengah kebenaran. Lantaran manusia hidup di dalam sistem alam yang sangat cerdas, sehingga pikiran-pikirannya yang tidak sesuai dengan keseluruhan sistem alam bakal hangus terbakar.
Sekarang, apakah para motivator yang memainkan kartu LOA sanggup menjawab dengan jeli mana pikiran yang mungkin terwujud dan yang tidak mungkin terwujud? Di antara yang mungkin terwujud, manakah yang kemungkinannya paling besar? Tanpa jawaban jelas tentang soal ini, rasanya umur kita yang pendek ini terlalu berharga untuk mengejar semua pikiran kita sendiri. Apalagi, setiap orang pasti pernah merasakan pahitnya kegagalan mencapai keinginan yang sejak lama dipikirkannya. Dia terpaksa mencari yang lebih atau bahkan paling realistis (baca: paling mungkin dicapai).
April 7th, 2008 at 5:36 am
…….LoA dan NLP adalah salah satu kemampuan yang diberikan Tuhan YME kepada manusia untuk digunakan demi kemuliaanNya, jadi selama konsep penerapannya tidak keluar dari koridor “Allah Maha Besar” fine2 aja, tetapi bila sang manusia sudah mulai mengklaim bahwa ia bisa melakukan segalanya…..wah takabur itu namanya…
April 10th, 2008 at 11:08 am
Ya, pendapat saya tetap sama…, saya menghargai pendapat dari tulisan di atas, saya mengerti selalu ada niat baik yang kita bisa pelajari dari tulisan seseorang.
Setidaknya dari tulisan itu saya belajar mengenai sesuatu yang disebut oversimplifikasi. Dan tulisan di atas, dengan baik sekali menunjukkan secara langsung pada kita apa dan bagaimana ‘oversimplifikasi’ itu.
Jadi pesan moral yang saya ambil adalah hindari oversimplifikasi di dalam memahami LoA. Termasuk juga berhati-hati apabila mungkin ada oversimplifikasi di dalam tulisan-tulisan yang membahas oversimplifikasi mengenai LoA.
Well,
Wacana LoA adalah ikhtiar manusia untuk memahami tata cara Tuhan YME dalam mengatur alam semesta ini.
April 22nd, 2008 at 4:02 pm
Astaghfirullah Aladzim….
Itulah mengapa Allah menurunkan Agama sebagai user manual nya manusia. Karena Allah sangat tahu kelebihan dan kekurangan Karya CiptaNya. Dalam Agama di ajarkan memahami segalanya secara bertahap dan aman untuk segala umur dan segala perbedaan manusia. Tapi yang namanya manusia yang memiliki nafsu dan akal, selalu mencari cara instant untuk segalanya, kalo ndak gitu nggak ada yang namanya mie instant .he..he…
Yang menjadi kekhawatiran saya adalah jika Ilmu-ilmu seperti LOA, Dunia hologram, Allah adalah Energi dll, di baca dan di artikan oleh Remaja yang kebanyakan(tidak semua) masih lengket dengan duniawi & kurang tebal Iman nya.
Menurut saya inilah bedanya ilmu Allah dalam Agama dengan ilmu manusia. Ilmu manusia sangat berbahaya jika tidak bijaksana dalam penerapan, penyebaran & pemahaman. Semoga kita selalu menyelaraskan ilmu manusia dengan ilmu Tuhan.
April 23rd, 2008 at 3:29 am
Setuju sekali saya Mas Bustony
Kita tugasnya memang ikhtiar…
April 26th, 2008 at 3:50 am
Saya membaca sebagian artikel dari mas ronny. Sangat inspiratif, “menggugah selera”, dan memberikan hasanah baru bagi pembacanya.
Saya sangat kagum dan berterimakasih kepada anda yang selalu berusaha melakukan kebaikan dan perbaikan.
Terus berjuang mas ronny….
Kalau boleh saya menuliskan opini saya. Tanpa bermaksud ria dan menggurui. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan.
Setelah membaca “pemikiran” mas ronny, saya setuju bahwa untuk mengatasi semua permasahan dunia ini dapat dilakukan dengan melakukan manajemen pemikiran pada otak kita.
Karena Dia menciptakan dunia ini(yang dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa) dengan semua prosesnya pasti dengan kemampuan otak kita.
Semuanya “masuk akal” dan bahkan “dapat diukur akal”.
karenanya konsep alam sebagai hologram sungguh sangat sangat masuk akal.
Jika ada yang memberikan uang 100 juta maka saya akan bertambah yakin bahwa saya akan mendapat 100 milyar lagi.
Jadi, jikalau tujuan kita didunia ini untuk punya uang 100 juta, 100 milyar atau bahkan bumi ini jadi emas
bukanlah hal yang mustahil. Karena kita adalah “Tuhan Dunia” ini.
Maaf bila kesimpulan saya salah mas…
Saran:
Sebagai seorang “musa” kita perlu belajar kepada seorang “Khidir” yang melubangi kapalnya agar tidak diambil raja yang lalim. Kemudian tamballah kembali perahumu untuk kembali berlayar. Kejarlah dunia ini seperti kamu hidup 1000 tahun lagi.
Jadi menurut hemat saya, semua ilmu dan pengetahuan yang dikonsumsi otak pada akhirnya hanya akan membuktikan
keterbatasan otak dalam mencapai “tujuan hidup”.
Agar dapat terbang, sebuah pesawat memerlukan sebuah landasan. Tetapi untuk terbang keangkasa tidaklah mungkin
membawa serta landasan itu. Karena setelah terbang kita dapat melihat betapa kecilnya landasan kita.
So, Bersihkan Hati. Sucikan Niat. Ikhlaskan diri.
Teruslah berkarya saudara-saudaraKu.
April 27th, 2008 at 8:16 am
Ass.Wr.Wb
Mas Ronny F Yth.(maaf jika dimuat dalam Comments/testimoni, mohon nama saya disingkat saja menjadi HTS, Terima kasih sebelumnya)
Salam Kenal, saya penggemar berat Mas Ronny.
Saya benar-benar salut-lut-lut-lut ke Mas Ronny, yang begitu huebat, begitu pandai, begitu dermawan, begitu rendah hati, begitu dewasa, begitu bijaksana, begitu anggun, wis pokok-e Ruar Biasa, Jos Kotos-kotos. Jempol 10 untuk anda! (Lah jempole sopo kok 10, manusia kan cuma 4 jempol, itu saking hebatnya panjenengan !!!)
Anda demikian bijaksana, demikian “anggun” membalas komentar2 tsb.
BTW saya pengin sekali ikut pelatihan Blitz Reading. Kapan, dimana dan beayanya berapa ? Apa hanya khusus Jakarta ? di Surabaya ada ga ?
Wassalam. Wr Wb
Terima kasih
Salam Hormat dan salut
HTS, Solo
April 27th, 2008 at 9:17 am
Mbah Darmo,
Rupanya mampir dan nulis di 2 artikel tooo.
Wah terima kasih!
Panjenengan memang jago sekali membagi kebajikan melalui suatu perumpamaan (metafora). Terima kasih atas ilmunya.
Silahkan mampir lagi…
RFR
April 27th, 2008 at 9:23 am
Mas HTS Solo…
Salam hormat kembali…
Matur nuwun atas komplimentarinya…
Kita mempelajari hal itu semua melalui NLP , setelah melalui berbagai kesalahan di sepanjang hidup…
Tapi,
Jos kotos kotos itu apa to?
Hehehe
Blitz Reading belum ada rencana dalam waktu dekat pelatihan lagi,
Namun jika ada, akan kami umumkan.
Matur Nuwun Sanget Yo Mas!
May 1st, 2008 at 1:34 pm
mas Ronny FR yth.
Maaf ya, tanpa ingin menggurui
Saya hanya ingin mengingatkan kalau Michael Losier dlm bukunya “The Law Of Attraction“ sebenarnya juga tidak mengajarkan “process”
atau tehnik2 utk memanfaatkan LOA hasil kereasinya sendiri, krn seperti ia sebutkan ia belajar banyak dr esther hicks atau lebih tepatnya “Abraham-hicks”, hampir semuanya process itu sdh ada di dlm buku
“Ask and It is Given” (The Teachings of Abraham) dan film “the secret” dr Rhonda Byrne pun di inpirasikan oleh ajaran Abraham. dan Abraham-hicks sepertinya bukan utk semua orang…dan bagi yg berani silakan kunjungi websitenya www.abraham-hicks.com
,tapi buat mas Ronny FR sepertinya anda sdh tahu itu krn anda berbicara soal “the art of allowing” istilah yg di populerkan oleh Abraham-hicks itu sendiri,dan memiliki makna sama dgn = Your Natural Well-Being: ihklas,joyfull,playfull,and all that make you feel good…dan sekali lagi “feeeeel gooood” thats the only key…utk pemecahan masalah apapun berdasarkan LOA..dr ajaran si Abraham ini tentunya.
dan yg namaya LAW hrs bisa dibuktikan again and again and again ya gak…
jadi eksperimen dan pengalaman pribadilah
yg jadi patokan menurut saya…dan NLP adl bagian dari eksperimen itu tentunya…
terima kasih.
salam hangat. and always joyful
May 5th, 2008 at 2:26 am
Mas Surya,
Salam hangat juga…
Terima kasih atas kunjungannya ke sini.
Betul sekali apa yang Anda tuliskan, bahwa hampir semua pengajar ilmu mengenai LOA ini belajar dari sepasang suami istri Jerry dan Esther Hicks.
Mereka berdua sendiri mendapatkan pengajaran dari guru “mental” mereka yang bernama Abraham, dan ini bukan nabi Ibrahim/Abraham yang kita kenal di agama-agama.
Saya sendiri mengagumi pasangan ini, karena sudah berhasil menduniakan konsep LOA dan Art Of Allowing ini. Sedangkan untuk Michael Losier, saya mengagumi karena cara beliau menjelaskan dapat membuat pembaca mengerti bahwa LOA itu sangat sederhana.
Sekali lagi terima kasih Mas…
Silahkan juga untuk men-share pengelaman Anda mempelajari / mempraktekkan Loa, teman-teman di sini sangat suka belajar lho…
June 28th, 2008 at 12:02 pm
Kalo saya melihat masalah LoA dalam perspektif pribadi dalam bentuk sebagai berikut, apapun yang kita yakini dalam kehidupan ini adalah benar adanya (secara subjektif). Karena apapun yang kita yakini, pikiran kita akan memberikan buktinya. Jika ada orang meyakini sesuatu akan berhasil, maka pikiran akan memberikan bukti-buktinya. Demikian pula sebaliknya, pikiran akan memberikan bukti-bukti sebaliknya.
Saya hanya berfikir begini, akal/rasio itu penting. Bekerja dengan maksimal (keras..?) itu juga penting untuk mencapai apa yang kita inginkan, kenapa gak dijalani aja dengan perasaan syukur, menyenangkan sehingga mampu ‘menarik’ hal-hal yang bisa membuat kita bahagia. Saya rasa sikap pertengahan dalam menghadapi fenomena LoA adalah sikap yang bijak. Ambil apa saja dalam konsep LoA, yang bisa kita gunakan untuk menggapai tujuan hidup kita, buang atau sesuaikan dengan keyakinan (agama kita) bila menemukan hal-hal yang bertentangan. Yang terpenting itu memberdayakan kita, bukan melemahkan kita.