Benarkah mengatakan ‘Gelas setengah isi’ lebih baik dari ‘Gelas setengah kosong’ ?
Written by ronnyfr on 26 October 2007 – 12:17 am - 921 kali dibaca.Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran pujangga besar Shakespeare saat mengatakan “Apalah arti sebuah nama?” Tentunya ia punya alasan tersendiri saat melakukan itu, jelas dong…, pujangga sebesar itu pasti tidak naif. Saya saja yang belum mengerti kenapa ia menulis begitu…. Kadang saya berpikir, mungkin…. jika beliau masih hidup sekarang ia akan mengatakan hal yang berbeda. Saat ia tahu bahwa nama merek suatu benda bisa bernilai jutaan dollar. Saat ia tahu bahwa nama domain internet bisa diperjualbelikan dengan harga berjuta-juta. Saat ia tahu bahwa dua orang bayi bisa tertukar nasibnya gara-gara kedua orang tuanya belum memberi nama. Saat ia tahu bahwa nama Shakespeare sekarang dipuja-puja begitu banyak orang, apakah ia bersedia ganti nama pula? Hmm, sekedar bermain-main saja, jadi apalah arti sebuah nama ‘Shakespeare’ juga?
Dalam perspektif ilmu NLP, suatu kata-kata -termasuk nama- tidak memiliki manfaat apa-apa bagi kita sampai kata-kata itu memiliki (dilekatkan padanya) suatu arti/makna. Jika anda katakan kata ’sothil’ pada seorang asing, maka ia nggak ngerti apa-apa tentangnya, dan kata itu tidak membawa manfaat apapun juga baginya. Just another words. Namun bagi mbok-mbok di Jawa Tengah, sothil artinya tuas penggorengan alias ’susruk’. Nah, begitu makna tuas penggorengan dilekatkan, maka kata itu sekarang memberi manfaat bagi kita, sebagai simbol atas alat itu.
Baik, saya ingin berpindah topik di dunia pelatihan di Indonesia. Entah bagaimana awalnya dulu, di dunia pelatihan manajemen ada suatu mitos yang mengatakan bahwa optimisme seseorang bisa diukur saat ia menjawab suatu pertanyaan berikut. Kepadanya ditunjukkan suatu gelas yang berisi air setinggi separuh gelas, dan disuruh memilih ungkapan yang sesuai : “Gelas ini ’setengah isi’ atau ’setengah kosong’ ?”
Konon menurut mitos itu, orang yang mengatakan gelas setengah isi adalah optimis, sedangkan orang yang mengatakan setengah kosong adalah pesimis. Dikatakan optimis karena ia dianggap ‘lebih fokus’ pada isi, dikatakan pesimis karena ia ‘lebih fokus’ pada kosongnya.Hmmm, well, apa iya sih kata-kata ’setengah isi’ memiliki makna lebih baik daripada kata-kata ’setengah kosong’? Apakah benar kata-kata ’setengah isi’ berarti ia fokus pada isi dan lebih optimistik dan kata-kata ’setengah kosong’ lebih berfokus pada kosongnya dan lebih pesimistik?
Kenyataan di pelatihan, saya sering sekali menjumpai orang yang mengatakan setengah isi namun toh ia bukan orang yang pesimistik saat di uji dengan suatu tantangan yang lebih riil di pelatihan.
Linguistic dalam NLP
Kata linguistic dalam NLP menunjukkan bahwa faktor kata-kata dan maknanya memiliki tempat penting dalam disiplin ini. Neuro Linguistic Programming sering diartikan -secara amat sederhana- sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana suatu kata-kata (bahasa) dapat mempengaruhi pemrograman pikiran seorang manusia.
Mari kita menyelam lebih jauh dalam hal bahasa ini. Dalam NLP ada suatu istilah deep structure level dan surface structure level. Sebuah makna memiliki level dalam deep structure, sedangkan suatau bahasa memiliki level yang lebih surface (permukaan).
Di level surface, sebuah kata-kata bisa apa saja dan sama bagi setiap orang, namun di level deep structurenya bisa berbeda-beda, tergantung bagaimana kata itu diasosiasikan dan dimaknakan oleh orangnya.Jadi secara gampangnya misalkan ada yang ngomong demikian:
- Saat saya mengatakan setengah isi, ya udah saya jadinya nggak pengin ngisi lagi karena toh sudah ada isinya.
- Saat saya mengatakan setengah kosong, langsung tergerak pikiran saya untuk mengisi separuhnya lagi.
Jadi mengatakan setengah kosong tidak selalu lebih baik maknanya dibandingkan dengan mengatakan setengah isi. Tergantung bagaimana orang tersebut mengartikan kata itu sebagai apa atau mengasosiasikan dengan langkah / aktivitas apa.Lain kali saya akan tambahkan uraiannya lebih dalam deh, soalnya lagi terburu-buru mau ketemu seseorang yang istimewa dulu.
BTW, siapa yang terbayang di benak anda saat membaca ‘orang yang istimewa’ itu? Mungkinkah sama artinya dengan saya atau berbeda?
Maybe yes, maybe no!
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in NLP |












November 1st, 2007 at 7:22 am
” what is a name ? ”
Sebuah kalimat sederhana dari seorang pujangga yang tidak pernah bermimpi untuk menjadi ” agent of change” didunianya.
Kalau kita mau lebih gali lebih dalam, sebenarnya kalimat tersebut masih sangan amat relevan. Apalagi bila dihubungkan dengan sosio-culture orang Indonesia.
Kalimat tersebut sebenarnya ditujukan oleh Shakespeare kepada para feodalist inggris yang begitu gandrung/angkuh dengan nama dan segala embel2 yang melekat pada diri mereka. Seperti Prince,Duke,Lord, etc. Dimana dengan embel2 nya tersebut mereka bisa menindas dan sewenang-wenang sekedar untuk dihormati. Padalah baginya hakikat dari “penghormatan” buat Shakespeare tak lebih dari apa yang ” keluar” dari dalam diri seseorang. Pantas atau tidak untuk dihormati. Bukan dari nama dan segala macam embel2
Jadi yah..” Apalah arti sebuah nama ? “
November 2nd, 2007 at 12:49 am
Mas Sutan,
Terima kasih atas tanggapannya…
Memang begitulah yang terjadi, jika seorang sudah punya “nama”, misal seseorang mendapat jabatan dan diNAMAi Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Presiden, DPR,dan seterusnya. Kemudian lantas (merasa) memiliki hak dan posisi tertentu atas apa yang diNAMAi sebagai rakyat.
Jadi nama membawa makna bagi masing-masing orang. Tidak memberi makna pada nama berarti nama itu bermakna “tak bermakna”.
Arti / nama memang tidak melekat pada suatau benda / event (peristiwa), manusialah yang memberinya makna di kepalanya. Di dalam suatu proses yang disebut filter mental (distortion, deletion, generalization), ini semua akan menjadi suatu internal representation bagi orang itu.
November 8th, 2007 at 7:25 am
Saya teringat sebuah buku yang ditulis oleh Masaru Emoto. Meskipun seringkali dituding kurang ilmiah, penelitiannya tentang air cukup menggelitik. Air bisa merespon dengan membentuk kristal tertentu sesuai dengan kata2 yang diucapkan kepadanya. Karena 2/3 tubuh manusia adalah cairan, maka nama yang dilekatkan kepadanya seumur hidup mestinya bisa berefek pada pembentukan fisik dan (mungkin) karakternya.
But, ternyata bukan hanya kata2 saja yang berpengaruh. Cara kita mengucapkan ternyata mampu menimbulkan makna yang berbeda. Maka ungkapan Sheakspeare barangkali bisa dimaknai bahwa nama menjadi tidak berguna hanya jika ia sekedar sebuah nama, yang diucapkan tanpa kesungguhan hati dengan harapan itu adalah doa terhadap si pemilik nama.
Salam,
Teddi
November 11th, 2007 at 2:00 am
Thanks Mas Teddi atas komentarnya,
Kapan ketemuan lagi?
December 18th, 2007 at 8:54 am
salam kenal,
bahasa atau kata dalam satu bahasa dapat mengandung muatan etos kerja bangsa, misalnya orang indonesia bilang waktu berjalan, bandingkan dengan running time (waktu berlari), lari lebih active ketimbang berjalan.
December 19th, 2007 at 3:56 pm
Salam kenal kembali Pak/Bu Attar
Pendapat dan contoh Anda saya sangat setuju. Memanglah demikian peran bahasa itu.
December 27th, 2007 at 3:16 am
Menarik sekali pembahasan mengenai “Gelas setengah isi , setengah kosong”,tidak ada yang keliru mengenai perbedaan penafsiran mengenai kalimat itu ,….kedua - duanya sama baiknya ketika kita melihat “isi” sebagai OBJEK mencermati kalimat yang berisi gelas setengah isi bisa berarti masih banyak yang harus kita pelajari dari kehidupan ini,…isi yang kita miliki belum memenuhi wadah ( baca gelas ) yang sudah diberikan sang Khalik, pun demikian sebaliknya ketika kita melihat gelas setengah kosong bisa berarti wadah (gelas ) yang diberikan tuhan belum dimaksimalkan ……………,yang menarik mengutip tulisan nya Mas Sutan , apalah artinya sebuah nama , “Dimana dengan embel2 nya tersebut mereka bisa menindas dan sewenang-wenang sekedar untuk dihormati”.disambung oleh Mas Rony ..”Jadi nama membawa makna bagi masing-masing orang. Tidak memberi makna pada nama berarti nama itu bermakna “tak bermaknaâ€. so jadi jangan lihat gelasnya …tapi lihat lah isinya……..
December 30th, 2007 at 5:25 pm
Mas Iwenk,
Saya setuju sekali !
Kitalah yang memberi makna pada suatu peristiwa, dan kita selalu merespon pada makna yang kita lekatkan sendiri….
January 6th, 2008 at 5:11 pm
two tumbs up for bpk Sutan$$$
setuju bgtt..dgn pemahaman bpk…
salam kenal semua nya…
apalah arti sebuah “nama”
kalimat dari shakepeare diatas seperti nya mengena skali dgn sebagian dr pengusaha2 n pejabat2 kita yg terlalu tercekat dan melekat dgn harta,kekuasan,jabatan dll…
mgkn jg konteks apa lah arti sebuah nama bs sec spiritual
bnyk org2 yg berbuat amal n baek tp gak pernah mau nama nya ter ekpos,
bnyk jg org yg membantu org lain dgn tulus ikhlas,tanpa ada nya pamrih n motive di balik semua nya, suatu kondisi pikiran dan hati yg bebas leluasa.
so, what is a name?
btw, terima kasih yg sebesar-besar nya tuk bpk. Ronny
January 8th, 2008 at 12:31 am
Pak Erdie,
Terima kasih kembali, saya tunggu ulasan Bapak mengenai hal ini atau yang lainnya ya…
February 21st, 2008 at 5:59 pm
saya mau komen soal “isi” yg berujung kepada sifat optimis atau pesimis.
saya rasa harus tau dulu isinya, hal positif atau negatif.
kalau isinya hal positif, orang yang mengatakan “setengah isi” bisa disebut sebagai orang optimis.
tapi kalu isinya hal yang negatif, justru orang yang menyebut “setengah kosong” disebut orang yang optimis.
contoh, kalau seseorang banyak dosa, lantas orang tersebut mau menghapus semua dosa2nya. dia bisa disebut optimis atas usahanya karena dosanya sudah “setengah kosong”.