Mengedit Pengalaman Buruk dengan Submodality

Pernahkah Anda duduk melamunkan peristiwa masa lalu, dan kemudian menyelami bahwa lamunan tersebut ternyata ada yang memiliki warna, ada yang hitam putih, ada yang bergerak, ada yang diam seperti foto.
Kadangkala kita tiba-tiba teringat suatu peristiwa karena adanya suara seseorang yang mengiang di telinga kita “Hei kamu pasti yang suka nyontekkk!” Pernahkah anda telaah, bagaimana detail suara itu? Apakah berasal dari sebelah kanan, atau kiri kepala Anda, atau ditengah kepala? Apakah seperti suara Anda sendiri atau suara orang lain? Bagaimana nadanya, mencemooh, memotivasi?

Apa yang kita bicarakan diatas adalah yang disebut sebagai submodality. 1352 p32682 Yakni aspek dari internal representational system yang mendukung proses pikiran. Internal representational system adalah suatu cara bagi pikiran kita untuk membuat representasi dunia luar dalam kepala kita. Sering disebut sebagai mental map atau internal reality.

Dalam artikel lain di blog ini sudah dijelaskan akan adanya 3 representational system utama: Visual, Auditory dan Kinestetik (VAK). Ternyata masing-masing VAK ini memiliki kualitas yang lebih mendetail lagi yang disebut sebagai submodality.

Jadi submodality adalah aspek kualitas dari representational system. Ini yang menyebabkan para pembelajar Neuro Semantic (NS-NLP) lebih senang menyebut submodality sebagai meta-modality. Karena kata ‘sub’ membuat asumsi letaknya ada di bawah atau merupakan bagian dari hal lain. Sementara apa yang disebut submodality bukanlah sesuatu yang berada di bawah, namun justru di atas (kualitas), maka disebut sebagai meta.

Contoh Submodality

Jika Anda pernah bermain game balapan mobil dengan playstation atau sejenisnya, Anda akan mengenal 2 macam mode bermain. Mode pertama adalah Anda dapat melihat mobil Anda sendiri (Disassociated), dan mode kedua adalah Anda seolah berada dalam ruang kemudi dan melihat‚ layar TV sebagai kaca mobil (depan) Anda (Asossiated).

Bagi Anda, mana yang lebih seru memainkannya, dalam mode disassociated atau asossiated? Mayoritas orang akan merasa lebih seru menggunakan mode associated, mereka akan merasa lebih menjiwai game itu, lebih terasa sensasinya. Apalagi jika betul-betul menggunakan stik berbentuk stir mobil, stiknya bisa bergetar dan layar televisinya sekitar 40 inchi.

Nah, seperti itulah salah satu submodality dalam pikiran kita. Dalam menyimpan (merepresentasi) suatu memori, ada kalanya berbentuk asossiated dan mungkin disassociated. Misalkan, pengalaman yang mengesankan cenderung bersifat asossiated, sementara pengalaman yang sudah terasa tumpul, terasa tidak penting biasanya berbentuk disassosiated.

Contoh submodality visual yang lain adalah sebagai berikut. Jika semisal anda diminta untuk membayangkan suatu peristiwa secara visual : Apakah gambarnya berwarna atau hitam putih ? Apakah bergerak (film) atau diam (potret)? Apakah ukurannya besar atau kecil ? Berapa jauh jaraknya dari Anda? Apakah 2 dimensi atau 3 dimensi? Dan masih banyak lagi jika harus disebut secara lengkap.

Selanjutnya anda dapat juga menelaah submodality auditorialnya. Apakah saat anda mengingat memori itu ada kenangan suara yang muncul juga? Apakah suara itu dari dalam diri anda (self talk) atau ada orang lain yang berbicara pada anda? Apakah keras atau lemah? Apakah dari kiri atau kanan? Apakah nadanya tertentu? Dan masih banyak lagi jika harus disebut secara lengkap.

Kemudian anda juga dapat melihat submodality terakhir yaitu kinestetik. Apakah pengalaman yang anda panggil itu menimbulkan sensasi perasaan tertentu bagi Anda? Apakah ada semangat tertentu di dalam dada? Atau ada rasa kosong? Rasa mendesir? Terasa keras atau lembut? Kemana arah rasa itu? Rasanya di sebelah tubuh yang mana ? Panas atau dingin, dll.

Perbedaan-perbedaan kualitas dari VAK itulah yang dikenal sebagai submodality di NLP. Ini adalah cara otak kita menyimpan (merepresentasi) sinyal listrik yang diberikan oleh panca indra kita. Umumnya, setiap pengalaman memiliki semua unsur VAK-nya, sekalipun lemah kuatnya submodality akan berbeda-beda.

Sekalipun ada VAK secara lengkap, tidak semua pengalaman itu ada submodality yang menyertai secara lengkap. Bisa jadi hanya ada beberapa submodality V, satu submodality A dan dua submodality K. Ataupun kombinasi yang lainnya. Ramuan submodality inilah yang akan mempengaruhi state kita, mempengaruhi emosi kita. Submodality-lah yang mempengaruhi reaksi kita, bukan lingkungan secara langsung. Inilah yang disebut dengan istilah paling polpuler di NLP : “The map is not the territory, and we are responding to our map, not to our territory”

Sifat Submodality

Beberapa submodality bersifat biner (2 pilihan) seperti saklar on – off sehingga submodality ini disebut sebagai digital. Semisal dissasociated – associated, berwarna atau hitam putih, bergerak atau diam, dan seterusnya.

Sedangkan beberapa submodality yang lain bersifat analog yang memiliki range atau nuansa. Semisal kecerahan warna : bisa cerah sekali atau redup atau redup sekali. Sepertinya kita memilki tombol pemutar kecerahan pada televisi (brightness).

Mengubah Sub Modality

Jika kita meninjau pengalaman kita yang sudah mengalami perubahan makna, nyatalah bahwa terjadi juga perubahan submodality. Misalkan jika kita mengingat wajah pacar yang kita sayangi, maka memiliki submodality tertentu yag umumnya cerah, bergerak, warna-warni, bersuara, rasa menyenangkan, dst.

Pada saat kemudian terjadi perubahan makna atas memori itu, misal pacar tadi meninggalkan kita dengan cara yang tidak menyenangkan. Maka jika kita lantas mengingat lagi gambaran memorinya ternyata sudah berubah. Gambarnya mungkin menjadi pindah ke kiri, warnanya cenderung norak, suara berubah jadi melengking dan perasaan menyakitkan.

Lebih jauh lagi pada saat kita sudah bisa melupakan sang pacar itu, sudah menganggapnya tidak ada, tidak eksis di muka bumi ini. Maka terjadi lagi perubahan submodalitynya secara signifikan. Gambarannya menjadi hitam putih, jauuuh, kabur, tanpa suara, tidak bergerak, terasa dingin. Betul demikian?

Para penggagas NLP menemukan hal itu dan mempelajarinya secara sungguh-sungguh dan akhrinya menyimpulkan bahwa hal iniberlaku pula sebaliknya. Jika kita dengan sengaja mengubah struktur submodality dari suatu pengalaman maka kita ternyata‚ juga akan mengubah makna pengalaman itu sendiri. Artinya peta di kepala kita akan berubah juga, akibatnya emosi dan perasaan kita juga akan mengikutinya.

Inilah salah satu tonggak ‘temuan’ pada penggagas NLP yang sangat terkenal (dimodel dari Virginia Satir). Dan menjadi dasar dari banyak NLP pattern, khususnya yang berurusan dengan mengubah struktur memori. Misal untuk terapi fobia, terapi trauma, membuang kebiasaan buruk, mengubah belief system, dll.

 

Lakukan Eksperimen

Lakukan eksperimen dengan submodality anda sendiri. Mulailah dengan pengalaman yang sederhana, dan jangan terburu nafsu secara sembrono. Yang penting menguasai metodenya dulu, baru lakukan eksperimen yang lebih penting. Pilihlah suatu pengalaman yang Anda agak kesal, misal dipaksa menunggu terlalu lama, diejek orang dll. Lalu ubahlah submodalitynya mulai dari Visual, Auditorial, dan Kinestetik.

Anda akan menemui ada satu atau beberapa submodality yang jika anda ubah, maka perasaan anda akan berubah secara total. Ini yang di NLP disebut sebagai submodality kritikal. Catat dan simpan pengalaman anda ini, kelak akan berguna sebagai cetak biru anda. Setiap orang memiliki perbedaan dalam hal submodality kritikal ini. Bahkan orang yang sama bisa memiliki submodality yang kritikal untuk jenis pengalaman yang berbeda.

Beberapa submodality jika diubah ternyata tidak menimbulkan perubahan perasaan apa-apa. Artinya submodality itu tidak terlalu berperan dalam proses internalisasi saat pengalaman itu terjadi.

Mengubah dan mengontrol submodality menjadikan anda mirip seorang sutradara bagi anda sendiri. Anda seperti memiliki tombol Control Panel dalam komputer di otak anda atau laiknya memiliki remote control untuk TV Anda. Saat Anda sedang menonton acara TV, sering kali tontonan yang muncul tidak berguna, merugikan, berefek buruk dan seterusnya. Pindahkan channel, kecilkan suara, atau matikan.

Demikianlah otak manusia, tanpa diminta seringkali otak memutar pikiran yang negatif, melemahkan dan tidak bermanfaat. Ambil remote kontrol submodality Anda, sekarang Anda sudah tahu caranya.

About the Author