Mengedit Pengalaman Buruk dengan Submodality
Written by ronnyfr on 1 August 2007 – 10:55 am - 2,680 kali dibaca.Pernahkah Anda duduk melamunkan peristiwa masa lalu, dan kemudian menyelami bahwa lamunan tersebut ternyata ada yang memiliki warna, ada yang hitam putih, ada yang bergerak, ada yang diam seperti foto.
Kadangkala kita tiba-tiba teringat suatu peristiwa karena adanya suara seseorang yang mengiang di telinga kita “Hei kamu pasti yang suka nyontekkk!” Pernahkah anda telaah, bagaimana detail suara itu? Apakah berasal dari sebelah kanan, atau kiri kepala Anda, atau ditengah kepala? Apakah seperti suara Anda sendiri atau suara orang lain? Bagaimana nadanya, mencemooh, memotivasi?
Apa yang kita bicarakan diatas adalah yang disebut sebagai submodality.
Yakni aspek dari internal representational system yang mendukung proses pikiran. Internal representational system adalah suatu cara bagi pikiran kita untuk membuat representasi dunia luar dalam kepala kita. Sering disebut sebagai mental map atau internal reality.
Dalam artikel lain di blog ini sudah dijelaskan akan adanya 3 representational system utama: Visual, Auditory dan Kinestetik (VAK). Ternyata masing-masing VAK ini memiliki kualitas yang lebih mendetail lagi yang disebut sebagai submodality.
Jadi submodality adalah aspek kualitas dari representational system. Ini yang menyebabkan para pembelajar Neuro Semantic (NS-NLP) lebih senang menyebut submodality sebagai meta-modality. Karena kata ’sub’ membuat asumsi letaknya ada di bawah atau merupakan bagian dari hal lain. Sementara apa yang disebut submodality bukanlah sesuatu yang berada di bawah, namun justru di atas (kualitas), maka disebut sebagai meta.
Contoh Submodality
Jika Anda pernah bermain game balapan mobil dengan playstation atau sejenisnya, Anda akan mengenal 2 macam mode bermain. Mode pertama adalah Anda dapat melihat mobil Anda sendiri (Disassociated), dan mode kedua adalah Anda seolah berada dalam ruang kemudi dan melihat‚ layar TV sebagai kaca mobil (depan) Anda (Asossiated).
Bagi Anda, mana yang lebih seru memainkannya, dalam mode disassociated atau asossiated? Mayoritas orang akan merasa lebih seru menggunakan mode associated, mereka akan merasa lebih menjiwai game itu, lebih terasa sensasinya. Apalagi jika betul-betul menggunakan stik berbentuk stir mobil, stiknya bisa bergetar dan layar televisinya sekitar 40 inchi.
Nah, seperti itulah salah satu submodality dalam pikiran kita. Dalam menyimpan (merepresentasi) suatu memori, ada kalanya berbentuk asossiated dan mungkin disassociated. Misalkan, pengalaman yang mengesankan cenderung bersifat asossiated, sementara pengalaman yang sudah terasa tumpul, terasa tidak penting biasanya berbentuk disassosiated.
Contoh submodality visual yang lain adalah sebagai berikut. Jika semisal anda diminta untuk membayangkan suatu peristiwa secara visual : Apakah gambarnya berwarna atau hitam putih ? Apakah bergerak (film) atau diam (potret)? Apakah ukurannya besar atau kecil ? Berapa jauh jaraknya dari Anda? Apakah 2 dimensi atau 3 dimensi? Dan masih banyak lagi jika harus disebut secara lengkap.
Selanjutnya anda dapat juga menelaah submodality auditorialnya. Apakah saat anda mengingat memori itu ada kenangan suara yang muncul juga? Apakah suara itu dari dalam diri anda (self talk) atau ada orang lain yang berbicara pada anda? Apakah keras atau lemah? Apakah dari kiri atau kanan? Apakah nadanya tertentu? Dan masih banyak lagi jika harus disebut secara lengkap.
Kemudian anda juga dapat melihat submodality terakhir yaitu kinestetik. Apakah pengalaman yang anda panggil itu menimbulkan sensasi perasaan tertentu bagi Anda? Apakah ada semangat tertentu di dalam dada? Atau ada rasa kosong? Rasa mendesir? Terasa keras atau lembut? Kemana arah rasa itu? Rasanya di sebelah tubuh yang mana ? Panas atau dingin, dll.
Perbedaan-perbedaan kualitas dari VAK itulah yang dikenal sebagai submodality di NLP. Ini adalah cara otak kita menyimpan (merepresentasi) sinyal listrik yang diberikan oleh panca indra kita. Umumnya, setiap pengalaman memiliki semua unsur VAK-nya, sekalipun lemah kuatnya submodality akan berbeda-beda.
Sekalipun ada VAK secara lengkap, tidak semua pengalaman itu ada submodality yang menyertai secara lengkap. Bisa jadi hanya ada beberapa submodality V, satu submodality A dan dua submodality K. Ataupun kombinasi yang lainnya. Ramuan submodality inilah yang akan mempengaruhi state kita, mempengaruhi emosi kita. Submodality-lah yang mempengaruhi reaksi kita, bukan lingkungan secara langsung. Inilah yang disebut dengan istilah paling polpuler di NLP : “The map is not the territory, and we are responding to our map, not to our territory”
Sifat Submodality
Beberapa submodality bersifat biner (2 pilihan) seperti saklar on - off sehingga submodality ini disebut sebagai digital. Semisal dissasociated - associated, berwarna atau hitam putih, bergerak atau diam, dan seterusnya.
Sedangkan beberapa submodality yang lain bersifat analog yang memiliki range atau nuansa. Semisal kecerahan warna : bisa cerah sekali atau redup atau redup sekali. Sepertinya kita memilki tombol pemutar kecerahan pada televisi (brightness).
Mengubah Sub Modality
Jika kita meninjau pengalaman kita yang sudah mengalami perubahan makna, nyatalah bahwa terjadi juga perubahan submodality. Misalkan jika kita mengingat wajah pacar yang kita sayangi, maka memiliki submodality tertentu yag umumnya cerah, bergerak, warna-warni, bersuara, rasa menyenangkan, dst.
Pada saat kemudian terjadi perubahan makna atas memori itu, misal pacar tadi meninggalkan kita dengan cara yang tidak menyenangkan. Maka jika kita lantas mengingat lagi gambaran memorinya ternyata sudah berubah. Gambarnya mungkin menjadi pindah ke kiri, warnanya cenderung norak, suara berubah jadi melengking dan perasaan menyakitkan.
Lebih jauh lagi pada saat kita sudah bisa melupakan sang pacar itu, sudah menganggapnya tidak ada, tidak eksis di muka bumi ini. Maka terjadi lagi perubahan submodalitynya secara signifikan. Gambarannya menjadi hitam putih, jauuuh, kabur, tanpa suara, tidak bergerak, terasa dingin. Betul demikian?
Para penggagas NLP menemukan hal itu dan mempelajarinya secara sungguh-sungguh dan akhrinya menyimpulkan bahwa hal iniberlaku pula sebaliknya. Jika kita dengan sengaja mengubah struktur submodality dari suatu pengalaman maka kita ternyata‚ juga akan mengubah makna pengalaman itu sendiri. Artinya peta di kepala kita akan berubah juga, akibatnya emosi dan perasaan kita juga akan mengikutinya.
Inilah salah satu tonggak ‘temuan’ pada penggagas NLP yang sangat terkenal (dimodel dari Virginia Satir). Dan menjadi dasar dari banyak NLP pattern, khususnya yang berurusan dengan mengubah struktur memori. Misal untuk terapi fobia, terapi trauma, membuang kebiasaan buruk, mengubah belief system, dll.
Lakukan Eksperimen
Lakukan eksperimen dengan submodality anda sendiri. Mulailah dengan pengalaman yang sederhana, dan jangan terburu nafsu secara sembrono. Yang penting menguasai metodenya dulu, baru lakukan eksperimen yang lebih penting. Pilihlah suatu pengalaman yang Anda agak kesal, misal dipaksa menunggu terlalu lama, diejek orang dll. Lalu ubahlah submodalitynya mulai dari Visual, Auditorial, dan Kinestetik.
Anda akan menemui ada satu atau beberapa submodality yang jika anda ubah, maka perasaan anda akan berubah secara total. Ini yang di NLP disebut sebagai submodality kritikal. Catat dan simpan pengalaman anda ini, kelak akan berguna sebagai cetak biru anda. Setiap orang memiliki perbedaan dalam hal submodality kritikal ini. Bahkan orang yang sama bisa memiliki submodality yang kritikal untuk jenis pengalaman yang berbeda.
Beberapa submodality jika diubah ternyata tidak menimbulkan perubahan perasaan apa-apa. Artinya submodality itu tidak terlalu berperan dalam proses internalisasi saat pengalaman itu terjadi.
Mengubah dan mengontrol submodality menjadikan anda mirip seorang sutradara bagi anda sendiri. Anda seperti memiliki tombol Control Panel dalam komputer di otak anda atau laiknya memiliki remote control untuk TV Anda. Saat Anda sedang menonton acara TV, sering kali tontonan yang muncul tidak berguna, merugikan, berefek buruk dan seterusnya. Pindahkan channel, kecilkan suara, atau matikan.
Demikianlah otak manusia, tanpa diminta seringkali otak memutar pikiran yang negatif, melemahkan dan tidak bermanfaat. Ambil remote kontrol submodality Anda, sekarang Anda sudah tahu caranya.
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in NLP |












August 8th, 2007 at 3:28 am
Pak .. bagaimana metode-nya untuk bisa ber-eksperimen .. ?
Salam.
August 15th, 2007 at 4:17 pm
Berpasangan berdua, mungkin dengan istri atau kawan uyang Anda percaya. Kemudian salah satu menjadi mentor dan observer, yang satunya mengakses informasi.
1. Akses informasi yang memotivasi.
Mentor/observer menanyakan, bagaimana kualitas dari hasil proses mengakses informasi itu. Kualitas Visualnya (warna/hitam putih, jarak jauh/dekat, lokasi dimana, bergerak/diam, terlibat atau tidak, dan seterusnya.
Cek juga kualitas auditorialnya, suara dari sebelah mana, siapa saja yang terdengan disitu, adakah musik/suara lain, stereo / mono, suara keluar / masuk, adakah self talk, dll.
Lantas cek kualitas kkinestetiknya, adakah rasa tertentu, kearah mana rasa menjalar, bagaimana rasanya halus/kasar, dll.
Observer menginterview dan mencatat hasil interviewnya. Interview dilakukan sambil Anda konsentrasi mengakses informasi itu (boleh mejamin mata / tidak).
2. Lakukan juga untuk pengalaman yang tidak memotivasi.
3. Bandingkan ke dua jenis hasil pengamatan itu (blue print Anda).
Perhatikan dan tandai hal-hal yang bertolak belakang! Itulah kemungkinan besar submodality kritikal Anda.
4. Sekarang Anda mengakses lagi pengalaman yang tidak memotivasi, kemudian ubah submodalitynya menjadi seperti yang ada di blue print yang memotivasi.
kalibrasi perasaan Anda, cermati perubahan rasa motivasi.
5. lakukan juga untuk berbagai jenis pasangan emodsi yang lain. Suka vs tidak suka. Sedinh vs Senang. Cinta vs Benci.
6. hati-hati dan waspada.
JIka Anda mengubah perasaan, dan merasa menjadi tidak pas, kembalikan submodalitynya kearah semula.
Misal anda benci pada si A, lanta Anda ubah submodality atas bayangan si A sehingga menjadi berubah menjadi submodalitymencitainya.
Jangan kaget jika Anda merasa jatu cinta dengan si A.
nah jika tidak inginjatuh cinta, kembalikan ke submodality semula.
Semoga membantu
August 24th, 2007 at 4:47 pm
Apakah NLP bisa merubah Mean set seseorang yang sudah terbentuk lama dan mengendap bertahun-tahun bisa diubah..misalnya seseorang yang berusaha menerima keadaan istrinya yang sudah tidak perawan sedangkan seperti kita tahu bahwa budaya ini sudah demikian mengakarnya
August 27th, 2007 at 2:15 am
Insya Alloh bisa Pak.
Lakukan dengan editing submodality ini dengan sungguh sungguh.
Karena semua memory disimpan di dalam pikiran dengan sistem submodalityini, dan kita punya kuasa untuk mengubahnya.
Cara lain dengan refrming. Silahkan baca di beberapa artikel sudah dituliskan hal ini.
October 3rd, 2007 at 6:26 pm
Selamat malam …
Apakah dengan NLP kita bisa mengetahui sebab yang trejadi di masa lalu sehingga menimbulkan dampak negatif pada saat sekarang dan sekaligus mengatasinya???Bagaimana jika kita tidak mengetahui sebab2 tersebut? Terima kasih
October 4th, 2007 at 1:12 am
Ada berbagai teknik yang bisa dipakai sekalipun kita tidak mengetahui secara tepat sebab masalah dimasa lalu. Misal menggunakan Time Line Therapy. dalam kondisi fokus-rileks kita masukke garis waktu imajiner kita. Kemudian menelusuri garis waktu ke masa lalu. Sebaiknya dengan pembimbing / fasilitator.
Dalam kondisi ini, lantas kita menggunakan perumpamaan sebab masa lalu adalah suatu “jamur” yang ada di garis waktu kita. Menggunakan cara berhati-hati, jamur itu dicabut perlahan, diganti dengan tumbuhan bunga2 yang kita sukai.
October 25th, 2007 at 3:19 am
Saya masih ingat percobaan yang dilakukan Pak Ronny dengan seorang mahasiswa yang takut darah. Perlahan tapi pasti, dengan submodality, pengalaman buruk itu bisa teratasi. Saya juga sudah mencobanya untuk banyak hal sejak dulu, dan memang berhasil.
October 25th, 2007 at 11:38 pm
Good deh Villia,
Apa saja yang sudah kamu coba dengan submodalitymu…
Cerita disini deh
January 31st, 2008 at 1:28 am
Selamat pagi
Pak rony apakah dengan submodality kita bisa merubah realita yg ada di sekitar kita.
January 31st, 2008 at 1:51 am
Submodality untuk mengubah realita dalam kepala kita (artinya realita internal), sehingga akan merubah respon kita pada realita diluar kita. hasilnya realita di luar akan berubah, karena respon kita berubah.
Misal :
Kita menganggap suatu usaha kita gagal, lantas kita mengubah submodality kita, sehingga kita “melihat” itu bukan gagal, namun “Harus lebih giat bekerja”. Nah karena realita internal kita sudah berubah, maka reaksi/respon kita terhadap peristiwa itu tadi berubah (tentunya yang lebih baik). Akhirnya, realita eksternal bisa diubah dengan lebih mudah….
May 6th, 2008 at 10:14 pm
Wah maaf sudah lama baru melihat jawaban Pak Ronny di sini. Contoh penggunaannya sih banyak sekali yg sudah saya lakukan, tapi yg paling mudah andaikan ada kejadian, ingatan, atau gambaran apapun yang tidak ingin saya ingat, maka cukup melakukan submodality pada gambaran tersebut.
Misalnya ada satu kejadian yang tidak ingin diingat, maka saya ubah sisi pandangnya apabila sebelumnya saya melihat gambaran itu sebagai gambaran langsung, maka sekarang saya menjauhkan pandangan menjadi orang ketiga di mana saya bisa melihat diri saya sedang memandang gambaran yang ingin dihapus tadi. Kemudian diputar posisinya menjadi membelakangi, diubah warnanya menjadi hitam putih, digulung, dibakar.
Hahaha… pilihan dibakar, diberi suara - suara lucu, dll itu pilihan pribadi lah. Untuk saya, saya lebih memilih dibakar, sebagai proses penghapusan memori (hitung2 kapasitas isi memory otak bertambah) :D.
Banyak lagi yg bisa dilakukan dengan submodality, misalnya mengubah kejadian yg membuat patah semangat menjadi lebih memacu motivasi hanya dengan menambahkan musik yang cepat, dan lain2. Memang seperti permainan otak ya..:) Tapi berhasil kok.
May 7th, 2008 at 1:07 pm
Keren, jadi Villia sekarang sudah jago dong melakukkan submodality remapping…
Ayo perdalam dengan bagian NLP yang lain…, masih luas lho
May 8th, 2008 at 8:17 pm
Sipp… ini makanya baca blog Pak Ronny terus… hehehe…
May 10th, 2008 at 1:24 am
Good,
Sering-sering kalau mampir cerita juga ya… bagaimana perkembangan ilmu NLP-nya. Gitu