Scarcity Mentality : Faktor Penghambat Kinerja Law of Attraction (LoA)
Written by ronnyfr on 31 July 2007 – 1:00 am - 2,022 kali dibaca.
Benarkah kebiasaan kita sehari-hari bisa menghambat kinerja Law Of Attraction (LoA) untuk memanifestasikan impian/goal kita? Untuk memahami ini dengan mudah, saya akan menunjukkan dengan suatu peristiwa sehari-hari yang biasa kita lihat. Semenjak pertama tinggal di Jakarta, saya mengamati ada suatu fenomena yang amat mengganjal dalam hal perilaku sosial warga Jakarta. Fenomena ini dengan mudah kita temukan setiap hari di seluruh ruas jalan yang lalu lintasnya cukup sibuk dan lebih dari 1 jalur. Fenomena ini dilakukan oleh orang dengan berbagai latar belakang sosial dan ekonomi. Dari pengemudi angkot, taksi, mobil niaga, mobil sedan, SUV, bahkan sampai mobil mewah seperti Mercy dan BMW-pun terlihat melakukan hal ini.
Jika kita sedang menyetir di jalanan, sesuai dengan tujuan maka kita seringkali harus berpindah jalur, misal dari jalur tengah ke pinggir, atau pindah dari jalur cepat ke jalur lambat. Sebagai warga yang baik dan (percaya) tata tertib berlalu lintas, maka tentunya kita s-e-c-a-r-a- -s-o-p-a-n menyalakan lampu se-in (sign ) untuk memberi tanda pada mobil di lajur sebelah agar bersedia memberikan ruang kepada kita untuk masuk.
Menarik sekali, begitu melihat lampu se-in kita menyala, sontak dengan seketika mobil-mobil di samping akan mempercepat lajunya dan menutup ruas jalan sehingga kita terhalang masuk. Demikian seterusnya dengan cepat mereka akan memajukan mobilnya sehingga tidak ada celah yang bisa dimasuki untuk berpindah jalur. Aneh sekali bagi saya melihat pertunjukkan semacam ini seolah seperti melihat orang yang takut tidak kebagian sesuatu (scarcity mentality )
Lampu se-in sengaja diciptakan oleh pabrik untuk ditaruh di depan dan belakang mobil bahkan didisain untuk terlihat dari samping. Dengan demikian, sebuah mobil yang akan membelok / berpindah jalur bisa memberikan tanda / sign (se-in) pada kendaraan disekitarnya agar diberikan kesempatan. Lucunya, di Jakarta yang terjadi adalah sebaliknya, lampu se-in seolah merupakan pertanda bahwa mobil di samping harus segera mempercepat lajunya supaya tidak di-”serobot”. Jadi lampu se-in seolah telah menjadi anchor negatif bagi pengemudi jalan di Jakarta.
Jika kita bandingan dengan kondisi luar negeri, kita bisa amati dengan seksama bahwa umumnya mereka memiliki mentalitas yang berbeda dengan di Jakarta. Jika terlihat ada lampu se-in menyala, maka mobil di samping akan sukarela memperlambat laju kendaraannya dan memberi ruang untuk mobil itu agar bisa masuk. Luar biasa, betulkah Jakarta sebagai bagian dari suku bangsa timur masih memiliki adat budaya sopan?
Scarcity Mentality
Cukup lama saya meneliti apa yang mendasari perilaku berlalu lintas seperti itu? Itulah yang namanya scarcity mentality, yakni mentalitas berkekurangan alias feeling of lack.
Scarcity mentality / felling of lack adalah suatu situasi dimana seseorang merasa berkekurangan, merasa takut untuk tidak mendapatkan (tidak kebagian), merasa takut berbagi (sehingga menjadi pelit), merasa sulit untuk percaya bahwa ada cukup banyak sumberdaya di muka bumi (alam semesta ini berkekurangan, semua adalah langka).
Dalam kasus di Jakarta, para supir umumnya merasa tidak rela untuk memberikan ruang gerak bagi orang lain yang memberikan se-in padanya. Rasa tidak rela ini berakar dari rasa tidak senang jika orang lain mendapatkan kemudahan, lha wong saya sendiri sudah antri panjang kok ada orang mau masuk begitu saja. Rasa tidak rela ini juga berakar dari rasa merasa berkekurangan waktu, seolah memberikan jalan bagi satu atau beberapa orang akan menghilangkan kesempatan baginya.
LoA dan Scarcity Mentality
Lantas apa hubungan antara scarcity mentality / felling of lack dengan LoA? Apa pengaruhnya dalam hal suksesnya proses manifestasi keinginan kita?
Kita tinjau dulu sebentar mengenai LoA. LoA adalah sebuah Law (hukum), jadi diyakini adalah suatu hal yang tidak terbantahkan lagi dan akan bekerja terus menerus disadari ataupun tidak. LoA memiliki prinsip kerja sebagai berikut :
LIKE ATTRACTLIKE
Maksudnya adalah untuk menarik suatu hal yang diinginkan, maka kita harus berada dalam kondisi (pikiran emosi) sepertinya hal yang diinginkan itu sudah dimiliki.
Contohnya adalah demikian, jika Anda menginginkan punya mobil, rumah, istri yang baik, suami yang baik, dll, sebenarnya kondisi (pikiran emosi) apa yang Anda kejar? Tentu saja jawabannya adalah supaya kita happy, bahagia, senang, dan lain-lain. Betul demikian?
Nah, jadi sesuai hukum Like Attract Like, maka pada saat kita berdoa, memohon, visualisasi dan seterusnya, maka kita harus berada dalam kondisi yang juga happy, bahagia, senang, dll itu. Karena untuk menarik happy kita juga harus happy. Inilah penyebab kenapa doa banyak yang tidak terkabul. Karena jika saat kita berdoa ternyata kita emosinya sedih, tidak percaya dan sebagainya, maka hukum LoA akan berjalan dan kita akan menarik segala sesuatu yang akan membuat kita makin sedih dan makin tidak percaya. Jadi berdoa, berafirmasi, bervisualisasi saja tidak cukup. Harus diperhatikan kondisi (pikiran dan emosi) saat kita berdoa, berafirmasi atau bervisualisasi. LoA merespon pada Vibrasi kita, bukan doa, afirmasi ataupun visualisasi kita. Loa akan merespon dengan cara mendatangkan lebih banyak kepada kita atas ‘apa yang kita rasakan’.
Mari kita pertajam hubungannya LoA dengan mental of lack. Pada saat kita mendapatkan impian, harapan kita, misal mendapatkan mobil, mendapatkan rumah, mendapatkan bonus, hadiah, cek uang dan sebagainya. Apakah Anda merasa berkelimpahan (abundance), atau anda merasa berkekurangan (feeling of lack)? Jelas jawabannya adalah feeling of abundance, merasa berkelimpahan.
Nah, pertanyaannya kemudian adalah, jika kita ingin menarik segala sesuatu yang akan membuat kita merasa berkelimpahan, maka kondisi pikiran emosi apa yang paling baik yang ada pada kita saat berdoa, berafirmasi, bervisualisasi? Jawabannya jelas. Like attract like. Jika ingin berkelimpahan maka kondisi pikiran dan emosi kita harus merasa berkelimpahan dulu, terutama saat berdoa. Maka dikatakan dalam firmanNya yang kurang lebih demikian “Jika engkau mensyukuri nikmatKu, maka Aku akan memberikan dan menambahkannya berlipat ganda. Dan jika engkau mengingkarinya maka siksaKu sesungguhnya amat pedih”. Dalam pendapat saya siksa pedih ini bukanlah di akherat sana nanti, namun di muka bumi ini. Jika rasa sukur dan abundance (berkelimpahan) tidak pernah kita tunjukkan/rasakan, maka Tuhan akan memberikan siksa pedih untuk pencapaian kita yang selanjutnya. Sampai disini semoga cukup jelas.
Berikutnya adalah, bagaimana caranya supaya kita senantiasa terkabul doa, afirmasi, visualisasi kita? Ya tentunya dengan cara senantiasa membuat pikiran dan emosi kita SELALU (selama 24 jam/hari) berada di dalam kondisi : penuh rasa syukur, penuh rasa berkelimpahan, dan penuh rasa bahagia. Ketiga kondisi (pikiran - emosi) ini yang paling kuat bagi terciptanya manifestasi atas keinginan kita.
Nah, dengan demikian jelas rasanya, kebiasaan tidak memberikan kesempatan bagi mobil orang lain untuk masuk ke antrian di depan kita adalah kebiasaan yang tidak perlu dipelihara. Karena kebiasaan ini hanya akan mengembangkan dan memupuk feeling of lack / scarcity mentality. Maka mulai hari ini, lampu se-in dari mobil lain artinya Anda akan mendapatkan kesempatan untuk memiliki emosi berkelimpahan dengan cara memberikan kesempatan masuk kepadanya. Jangan sia-siakan segala kesempatan atau kondisi yang akan membawa Anda senantiasa merasa abundance.
Nah, mau doa kita selalu makbul? Pastikan kondisi (pikiran-emosi) kita selalu dalam keadaan berkelimpahan, bahagia dan rasa syukur .
Alhamdulillah, penuh rasa syukur dan bahagia akhirnya saya dapat menyelesaikan artikel ini. Dan saya merasa berkelimpahan karena sudah membagikan pengetahuan ini dengan suka rela kepada orang lain. Semoga bermanfaat!
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in Law Of Attraction, Mind-Power, NLP |












August 2nd, 2007 at 12:48 am
MATURNUWUN PAK!!!!!
Saya semakin bisa melihat benang merah apa yang telah disampaiakan anda.
Pada saat tahap akhir visualisasi ketika minum obat pak Ronny pernah menyampaikan : rasakan benar - benar kebahagiaan ketika besok sembuh. Berdasar pengalaman saya kuncinya ada di rasa tersebut. Ketika saya benar-benar bisa merasakan kebahagiaan tersebut : miracle happened!!
OOOO…. ternyata ada hubungannya juga dengan LOA.
God Bless U Pak
August 2nd, 2007 at 1:08 am
Pak Joko senang melihat kunjungan Anda lagi…
Boleh diceritakan disini ” pengalaman minum obat itu”…agar teman-teman mendpatkan gambaran?
August 6th, 2007 at 2:51 pm
LUAR BIASA PAK RONNY !!!!
Setelah saya cerita intisari pembicaraan kita tentang cara berdoa dengan menyertakan kaidah LOA kepada istri, paginya dia mengalami kejadian yang luar biasa.
Ceritanya dia kehilangan surat desposisi bupati (lupa naruhnya) hingga ditegur atasanya. Dia bongkar seluruh lemari dan arsip-2 tapi tetap tidak ketemu. Akhirnya dia pasrah dan berdoa yang intinya memohon kepada Allah swt., pasrah, dengan apapun jalannya, agar hari itu juga surat itu bisa ketemu. Dia yakin doanya pasti terkabul.
Karena kecapekan dan kehausan mencari surat itu, dia akhirnya berniat membatalkan puasanya di kantin. Sampai dikantin, ketika duduk, dia melihat ada stopmap tergeletak di kursi. Curious, dia buka itu stpomap : SURAT ITU ADA DI DALAM STOPMAP ITU! WHAta miracle!
Dia semangat sekali ketika menceritakan kejadian itu.
TERIMAKASIH PAK RONNY.
GOD BLESS U, ALWAYS.
August 6th, 2007 at 3:12 pm
Sip Pak Joko,
Salam untuk istri.
Paling baik kita membiasakan untuk mencatat segala kejadian yang menunjukkan bekerjanya LoA. Dan begitu kita mengalami LoA works, langsung segera berdoa lagi untuk memohon yang lainnya. Karena pada saat itu sebenarnya kita sedang penuh rasa syukur, rasa berkelimpahan dan penuh rasa yakin, tanpa keraguan.
August 7th, 2007 at 6:57 am
Pa Ronny, salut untuk anda!
Kayanya, ilmu dari bapak kok ya cuma saya pake buat bikin parsel saja ya? kurang saya terapkan.. Ada yang memang saya terapkan, tapi yg signifikan terlalu sedikit, InsyaAllah saya bisa menggali lagi ilmu bapak yg dulu dulu.
August 7th, 2007 at 7:27 am
Saya setuju dengan artikel bapak!
Saya berpendapat bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini dengan ikhlas dan legowo maka semuanya akan jadi menyenangkan. prinsip saya adalah “Memberi Lebih..” maksudnya, bila orang memberikan saya kesenangan, maka insyaallah saya akan berusaha sekuat tenaga untuk memberi kesenangan lebih padanya, namun apa bila orang berbuat jahat maka saya harus memberikan lebihnya berupa lebih sabar, lebih mengontrol jiwa dan raga terutama pikiran, dengan begitu otomatis apapun yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa wajib disyukuri dengan bahagia yang berlimpah.
saya berharap dapat me-recall ilmu yang pernah bapak”intimidasikan” kedalam otak saya waktu kuliah dulu & dapat sya terapkan dalam keseharian saya.
mohon bantuannya Pak untuk me-Recall.
Salute..
August 15th, 2007 at 4:06 pm
Halo Danny dan Agung…
Saya ingat kalian berdua pada waktu itu adalah mahasiswa yang luar biasa.. Sekalipun sekarang masih bekerja untuk orang, namun mulailah untuk bergaul dengan para pengusaha, agar mindsetnya mempengaruhi realitas internal kita.
Oke saya tunggu kiprahnya lebih jauh…
August 16th, 2007 at 6:31 pm
Mantap Pak ronny…. Saya menemukan Jawaban disini tentang cara berdoa saya, ketika saya berdoa agar diberikan rizki , visualisasi saya saat itu adalah bahwa saya adalah orang termiskin di dunia, orang paling susah…. pokoknya menganggap bahwa diri saya selalu kekurangan soal rizki…
Tetapi setelah membaca artike ini… saya jadi tertegun…. sudah seharusnya saya menset visualisasi saya….dengan hati yang riang, senyum, menghayati dan bersyukur betapa besar KaruaniNya yang telah di berikan….
August 17th, 2007 at 5:15 pm
Alhamdulillah,
Segala puji hanya untuk Alloh SWT, Tuhan yang mengatur dan mengelola seluruh alam semesta ini.
August 26th, 2007 at 12:27 pm
Sungguh dengan ini akan melatih visualisasi kita, “menembus batas” yang selama ini telah menjadi penghalang bagi kita untuk meraih cita cita terbaik.
Kita berada dalam dunia “tanpa batas”, yang membatasi kita adalah justru presepsi kita, cara pandang.
Pak Ronny, Salam buat Mas Tri Joko Samiono ya ! saya adiknya.. tapi lama ndak ketemu
October 24th, 2007 at 6:01 am
Setuju sekali selalu bersyukur membuat hidup rasanya menjadi lebih lapang. Tapi aku jadi tersadar, kayaknya aku sudah cukup lama tidak bersyukur, belakangan bawaannya ngeluh terus. Makasih sudah mengingatkan untuk kembali bersyukur dtengah kesuntukan…
October 24th, 2007 at 8:07 am
Sip Mas…
Semalem di training kita belajar menulis 110 hal yang seharusnya saya syukuri dalam hidup ini.
Silahkan di lakukan Mas…
Maksud saya setiap hari…, 10 hal yang harus disyukuri
October 25th, 2007 at 3:23 am
Untuk sekarang, masalah terbesar bangsa ini memang terletak di mentalnya ya.
Alangkah baiknya apabila semua orang bisa bersyukur dan mengambil energy dari rasa syukur itu untuk menjadikan apapun yg dilakukannya menjadi lebih penuh syukur.
Salah satu yang selalu saya sukai dari setiap tulisan dan cara pengajaran Pak Ronny adalah bukan hanya memberikan jawaban untuk why, tetapi juga memberikan solusi berupa how to. Terima kasih untuk artikelnya yg sangat inspiratif, Pak.
October 25th, 2007 at 11:39 pm
Thanks juga Villia,
Kemarin saya mampir ke blogmu bentar, bagus lho
Sukses selalu ya
October 26th, 2007 at 5:51 am
Salam kenal Pak Ronny,
Saya ingin mengikuti pelatihan2 utk NLP+LOA. Mudah2an ada yang untuk umum? Krn saya tidak bekerja dikantor, saya terapis/konselor keluarga. Saya sudah kursus hypnotherapy, alhmadulilah metode ini banyak sekali membantu.
Nah, saya ingin sekali mendalami LOA dan NLP agar lebih percaya diri dan lebih banyak lagi membantu anak2 didik dan klien2 saya.
Terima kasih Pak Ronny
October 26th, 2007 at 6:52 am
Hallo Mbak Atty,
Silahkan bergabung dengan kami di tanggal 3 November. Cracking LoA using NLP. Pengumuman lebih jauh bisa dibaca di artikel dibawah ini.
November 22nd, 2007 at 5:22 am
Saya udah mencoba mempraktekkan LoA dalam doa-doa saya tetapi kenapa masih belum terwujud. Mohon penjelasannya Mas Ronny. Thanks banget atas tulisan-tulisannya.
November 22nd, 2007 at 8:30 am
Mas Lukman, ada banyak kemungkinan suatu doa tidak terkabul. Hal yang peling dan tersering adalah yang disebut ‘allowing’.
Saya mau buat artikelnya, tunggu ya.
November 26th, 2007 at 9:06 am
Pak Rony,
Makasih banyak artikelnya… insya Allah mau di terapkan.
Kapan seminar di indosat bdg lagi
November 27th, 2007 at 2:41 pm
Hai Metty, apa kabar?
AYo kirim cerita, sudah mempraktekkan yang mana ilmu NLP-nya?