Aplikasi NLP untuk Advokasi Kebijakan Publik
Written by ronnyfr on 15 June 2007 – 1:36 am - 1,650 kali dibaca.Advokasi KebijakanÂÂ
Pada prinsipnya advokasi adalah upaya mendorong suatu perubahan secara gradual agar para pengambil keputusan lebih membuat keputusan yang berpihak pada masyarakat sebagai stake holder. Mengingat seringkali suatu keputusan atau kebijakan pemerintah (daerah) dibuat kurang melibatkan unsur masyarakat dan hanya mengacu pada peraturan di atasnya, atau memihak suatu kepentingan tertentu yang mungkin jauh dari keberpihakan untuk masyarakat.
Ada berbagai pendekatan dan model untuk mendefinisikan advokasi, masing-masing framework memiliki keunggulan masing-masing. Sebagai contoh dapat dipergunakan salah satu framework yang dipergunakan oleh Mansoer Fakih dkk dalam memahami advokasi :
- Proses Legislasi untuk berupaya membangun payung hukum (melalui legal drafting, counter draft, judicial review, class action, dll) di level legislatif.
- Proses Birokrasi untuk mengusulkan dan memperbaiki tata laksana suatu peraturan / payung hukum di level eksekutif pemerintah (melalui lobby, mediasi, audiensi, kapasitasi, dll) sehingga terjadi peningkatan pelayanan.
- Proses Sosialisasi dan Mobilisasi untuk membangun suatu budaya (terutama budaya hukum) di masyarakat sebagai stakeholder utama (melalui pengembangan program komunikasi partisipatif, kampanye, penggalangan dukungan basis masa / networking, tekanan sosial, dll). Untuk mengupayakan agar terjadi perubahan pada masyarakat secara sustainable, maka pendekatan proses sosialisasi dan mobilisasi terus mengalami perkembangan. Salah satu tantangan bagi program sosialisasi dan mobilisasi adalah untuk membangkitkan ownership dari masyarakat sebagai stakeholder utama. Dengan munculnya ownership, maka sekalipun fasilitasi (dari pemerintah atau LSM) mulai berkurang, namun masyarakat akan mampu meng-akusisi suatu program sehingga menjadi suatu budaya yang lestari.
Selama 4 tahun terakhir ini saya membantu Unicef untuk memberikan pelatihan pada unsur masyarakat untuk bisa melakukan advokasi yang persuasif dan terstruktur menggunakan pendekatan NLP. Salah satu isyu yang terus menerus diperjuangkan Unicef adalah advokasi terhadap berbagai Peraturan Daerah mengenai Pencatatan Kelahiran dan Penerbitan Akte Kelahiran yang selama ini kurang berpihak pada masyarakat.
Pencatatan Akte Kelahiran Gratis
Kelahiran adalah peristiwa kehidupan pertama yang dialami oleh setiap manusia dan oleh karenanya melekatlah hak pertamanya sebagai manusia yang sah (legal). Pencatatan kelahiran adalah kegiatan yang dilakukan oleh negara untuk memberikan kepastian atas peristiwa kelahiran sebagai suatu peristiwa hukum (sipil) dan sekaligus sebagai bukti bahwa negara mengakui identitasnya (nama, tanggal lahir, asal usul dan kewarganegaraan) yang diwujudkan melalui sebuah akte kelahiran. Jadi tercatatnya seorang anak sebagai warga negara adalah suatu HAK, bahkan merupakan hak dasar seorang Anak.
Dengan demikian, pencatatan kelahiran seharusnya merupakan hal yang mudah dan tidak dikenai biaya/gratis (sampai batas usia tertentu). Gratisnya pencatatan akte kelahiran ini selain merupakan hak juga dapat menjadi salah satupull factor untuk mencapai angka pencatatan kelahiran yang menyeluruh. Data angka kelahiran yang akurat ini dapat menjadi sumber data yang terkini dan akurat tentang ibu dan anak yang sangat bermanfaat bagi Pemerintah. Inilah yang disebut sebagai data vital statistik yang bisa diandalkan untuk merencanakan berbagai program pembangunan secara lebih mengena.
Di salah satu kota di Jawa Tengah, kelompok masyarakat yang mengadvokasi penggratisan biaya akte kelahiran sempat mengangkat isu ini di media massa dengan tema Pemerintah Kota X memperdagangkan Hak Anak. Maksudnya adalah, seharusnya kotamadya menggratiskan akte kelahiran karena merupakan hak anak, jika memungut biaya berarti itu memperdagangkan hak anak.
Isu ini sempat membuat gusar berbagai unsur legislatif dan eksekutif di kota itu, sekalipun hasil akhirnya akhirnya bagus juga. Jika seandainya pendekatan advokasi dilakukan secara persuasif, tentunya bukan hanya hasil akhirnya saja yang bagus, namun juga prosesnyapun akan smooth. Dengan demikian tidak perlu menimbulkan percikan masalah ke pihak manapun. Disinilah kita bisa menggunakan NLP, sebagai tools komunikasi yang persuasif dan terstruktur.
NLP dan Advokasi
Saat ini pendekatan NLP lebih banyak dipergunakan oleh lembaga bisnis dan politisi dalam mensukseskan program-program mereka. Akhir-akhir ini beberapa lembaga non profit mulai menggunakan pendekatan ini. Salah satu tokoh terkenal yang menggunakan NLP adalah Nelson Mandela dan almarhum Lady Diana, mereka berdua menggunakan kekuatan NLP di bidang komunikasi massa dan interpersonal.
Dalam advokasi agar para pengambil keputusan mau berubah, maka perlu dilakukan komunikasi, lobby, negosiasi, dan lain-lain yang semuanya harus dilakukan secara persuasif. Dalam pelatihan, kami menggunakan NLP untuk diaplikasikan dalam wilayah advokasi. Yaitu menggunakan tools-tools NLP yang berkaitan dengan wilayah komunikasi persuasif untuk diadaptasi ke dalam dunia advokasi. Teknik-teknik ini telah sukses dan diuji di berbagai wilayah kabupaten di Indonesia untuk mendorong perubahan PERDA setempat.
Dalam pelatihan semacam ini, akan dibahas dan dikupas ketiga aspek keunggulan itu (persuasi, menghadapi keberatan dan bahasa non verbal) untuk dipergunakan dalam konteks advokasi (misal audiensi, hearing, lobby, dll).
Persuasi adalah suatu cara komunikasi yang bertujuan untuk meng-enhance model berpikir seseorang sehingga dapat menjadi lebih fleksibel dan memiliki pilihan yang lebih banyak. Program advokasi dan komunikasi perubahan perilaku memerlukan aspek persuasi ini untuk mampu menghasilkan arah yang jelas dalam penyampaian suatu pesan.
Di awal tahun 70-an, ilmu NLP dikembangkan melalui cara memodel keunggulan manusia sehingga dapat ditiru / dipergunakan oleh orang lain. Salah satu model keunggulan yang dimodel adalah ilmu persuasi yang dimiliki oleh para hypnotherapist dan psychoterapist dalam memfasilitasi perubahan perilaku klien-kliennya.
Keunggulan komunikasi yang dimodel antara lain adalah bagaimana menggunakan cara komunikasi persuasif yang dapat mengoptimalkan peran pikiran bawah sadar seseorang, sehingga pesan secara efektif menjadi lebih diterima. Ini yang di dalam NLP disebut sebagai Milton Model, yakni menggunakan pola-pola bahasa berbasis conversational hypnosis untuk diaplikasikan di dunia persuasi. Milton Model adalah model bahasa (hipnotik) yang dikembangkan oleh Milton H. Erickson, dengan menggunakan berbagai rekayasa linguistic, gramatikal dan semantik untuk memperoleh efek hipnois yang diinginkan.
Pada saat audiensi dengan DPR, pilihan kata yang sudah didisain sedemikian rupa akan memperlancar proses dengan baik. Demikian juga bisa dipergunakan saat melakukan penulisan press realease, pola bahasa yang sama bisa dipergunakan untuk membuat suatu release menjadi lebih punya kekuatan perubahan.
Keunggulan komunikasi yang lain yang dipelajari adalah adalah dalam hal menghadapi keberatan yang diajukan seseorang yang resisten terhadap suatu perubahan. NLP telah mampu menganalisis keunggulan itu, mengkategorisasi dan menjadikannya mudah dipelajari sebagai suatu language pattern set. Suatu keberatan hanyalah eksis di pikiran seseorang dan jika kita mampu melakukan klarifikasi secara tepat, maka keberatan itu akan menjadi sirna di pikirannya. Ilmu untuk mengklarifikasi ini disebut sebagai Meta Model, yakni model bahasa untuk mengkarifikasi suatu bahasa. Disebut meta, artinya ada di atas , jadi metamodel adalah model bahasa yang ada di atas suatu bahasa.
Dalam negosiasi, sering kali pihak lain menyatakan keberatan dengan berbagai cara. Menggunakan meta model dan digabung dengan reframing, sleight of mouth dan sebagainya akan mempermudah kita memberikan pengertian pada pihak lain mengenai posisi kita. Bahkan meta model mempermudah kita untuk memahami model dunia-nya dan sekaligus membantu mengatasi limiting beliefnya. Perlu dicatat disini, kebanyakan keberatan hanyalah eksis di pikiran dan disebabkan oleh adanya suatu limiting belief.
Keunggulan komunikasi lain yang juga sudah dipolakan adalah penggunaan bahasa nonverbal dalam mempersuasi seseorang dan dalam memprediksi kondisi pikiran seseorang. Jika dipelajari secara benar, sebagian besar kekuatan hipnotik terletak pada bahasa non verbal di penghipnotis.
Dalam memprediksi kondisi pikiran seseorang, para praktisi NLP mempelajari ilmu kalibrasi, yang jika diterapkan dalam negosiasi, lobby dan lain-lain akan sangat powerful.
Tulisan ini memang lebih bersifat inspiratif, dan tidak dimaksudkan untuk menukik terlalu dalam pada penjelasan milton model, meta model, kalibrasi dan lainnya. Tulisan mengenai hal itu dapat anda temukan dalam artikel yang lain secara lebih mendalam. Misalkan tulisan mengenai kalibrasi bisa anda temukan di artikel mengenai Menang Poker Dengan NLP.
Semoga bermanfaat. Mari kita dorong terjadinya pengubahan kebijakan sehingga lebih berpihak pada kepentingan masyarakat!
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in Education, NLP |












June 19th, 2007 at 3:52 am
Wah, Mas. NLP seolah sudah menjadi part of yourself ya.
October 29th, 2007 at 4:05 am
Kang Ronny,
Main snoker lagi yuk…
Mungkin kah Teknik NLP/Hipnosys (beda gak dengan Hipnotis, maklum sangat awam dengan bahasa psikolog), diterapkan ke pemimpin2 kita sehingga lebih peduli ke rakyat, bukan diri sendiri dan golongan….
October 29th, 2007 at 4:43 pm
Hai ini siapa Tomat Sekel, kok ngajak snooker.
Mesti teman SMA niiih
November 29th, 2007 at 1:33 am
hallo mas, pa kabar?? masih ingat saya?? mataram ntb masih menanti anda untuk memberikan pelatihan NLP lho..
saya merasa terilhami kuliah mas dalam advokasi kebijakan publik. tapi mas, dalam aplikasi ke birokarasi, aduhhhh angel banget je.. persepsi beda… pendekatan beda… akhirnya malah eyel-eyelan.
piye mas solusinya. mbok aku ajarano to men iso meghipnotis orang agar manut karo aku.. he..he…
wis yo, salam hangat. imam purwadi.
November 29th, 2007 at 3:42 am
Halo Mas Imam, juragan sate bulayak….
Eh, bulayak apa burayak yo?
Hahaha, ayo kapan mampir jakarta, diskusi nlp Mas…
BTW, silahkan download modul yang pernah aku janjikan di dulu, sudah diterbitkan resmi oleh Unicef, di http://www.unicef.org/indonesia/id/resources_6899.html