Terapi NLP untuk Keharmonisan Keluarga dan Membangun Jiwa Anak
Written by ronnyfr on 14 June 2007 – 10:33 pm - 1,435 kali dibaca.Pembaca blog yang setia, kali ini saya mengirimkan suatu surat yang berasal dari salah satu teman yang pernah minta bantuan untuk diterapi menggunakan NLP. Surat ini demikian lengkap dan detail sehingga saya meminta ijin padanya untuk dimuat di blog ini dan beliau bersedia. Anggap saja namanya Bpk X.
Semoga sharing ini bermanfaat untuk semuanya, dan semoga kisah ini bisa membuka lebih luas pemahaman kita mengenai NLP. Dalam terapi ini sama sekali tidak digunakan hypnosis. Kami hanya menggunakan (1) Perceptual Position, (2) Circle of Excellence (3) Rekayasa Linguistik (untuk pacing pada model dunia anak).
SHARING PENGALAMAN 1
Saya ingin menceritakan pengalaman tentang apa yang saya rasakan pada saat diterapi Pak Ronny serta apa yang dialami setelahnya. Terapi dilakukan untuk mengatasi masalah hubungan saya dengan istri yang makin parah setelah kejadian kekerasan seksual yang menimpanya. Komunikasi dengan istri (terutama via telepon) hampir selalu tidak menyenangkan seolah dia telepon hanya karena ingin bertengkar dengan masalah yang tidak nyata. Saya sendiri jadi malas menelponnya karena khawatir pada akhirnya hanya berujung pada pertengkaran. Kejadian tersebut membingungkan karena saya sangat mencintainya dan ingin punya hubungan yang menyenangkan dengannya.
Saya tidak terlalu ingat terlalu detail langkah terapi yang dilakukan Pak Ronny dan yang ingin saya sampaikan adalah tentang apa yang saya rasakan pada saat itu dan sesudahnya.
Proses
Pada saat terapi saya diminta untuk duduk di kursi dan menghadap kursi kosong seolah istri saya duduk disitu. Disamping antara saya dengan istri (imajiner) terdapat kursi kosong demikian juga di sisi belakang Ketika diminta untuk mengingat kejadian pertengkaran saya merasakan marah dan frustasi karena tidak mengerti apa maunya istri saya.
Pengalaman luar biasa saya alami saat diminta untuk melakukan dan merasakan seperti apa yang dirasakan istri saya pada saat pertengkaran terjadi. Pada saat itu saya (sebagai istri) melihat orang di depan saya (suami) merupakan orang yang tidak bisa mengerti ketertekanan, frustasi, amarah dan betapa saya (sekali lagi sebagai istri) membutuhkan kasih sayang, pengertian dan perlindungan.
Lalu saya diminta untuk berdiri di atas kursi dan berperan sebagai Orang Jawa Sepuh Bijaksana dan seolah melihat pertengkaran terjadi di kursi depan. Orang itu (saya sendiri) melihat bahwa perdebatan semakin menjadi karena alih-alih si suami bisa memahami kondisi kejiwaan sang istri tapi malah memberikan nasehat-nasehat yang tidak diperlukan. Setelah itu saya (sebagai orang jawa sepuh bijaksana) diminta memberikan nasehat kepada si suami agar hubunganya bisa baik dengan sang istri. Setelah itu saya diminta berdiri di kursi keempat dan diminta untuk melihat dalam perspektif Tuhan dan hasilnya sama saja. (Sebelumnya Pak Ronny memberi pilihan, jika tidak ingin melihat dalam perspektif Tuhan juga nggak apa apa.)
Saya agak kabur mengenai langkah terakhir yang diminta Pak Ronny. Seingat saya saya diminta rilek, tidur lalu membayangkan pertengkaran terjadi dan saya mendengarkan, membelai pundaknya sambil mengatakan “iya dik….iya dik”. Perasaan sayang tadi diminta untuk ditingkatkan sampai skala sepuluh dan dimasukkan kedalam selubung seperti telur sehingga kalau saya masuk didalamnya perasaan itu bangkit kembali (apa itu jangkar emosi pak ?).
Harapan Awal dan Kenyataan
Sebenarnya saat akan diterapi saya berharap akan mendapatkan teknik untuk dapat merubah istri saya menjadi lebih baik. Namun apa yang terjadi, ternyata Pak Ronny dengan caranya malah membuat saya-lah yang perlu berubah, dan itu betul-betul diluar perkiraan.
Yang saya betul-betul tidak paham adalah setelah itu komunikasi kami benar-benar smooth, enak dan mesra hampir tanpa ada usaha secara sengaja. Kalaupun ada perdebatan hanya terjadi sebentar saja. Kata Pak Ronny itu karena terjadi di alam bawah sadar.
Thank you Pak ! May God bless you, always.
SHARING PENGALAMAN 2
Kali ini saya ingin sharing pengalaman bagaimana mengatasi trauma minum obat dan genangan air dalam jumlah besar (laut, kolam) pada anak saya berdasakan metoda yang disampaikan Pak Ronny. Inti metodanya adalah kalau kita ingin anak melakukan seperti yang kita minta, bicara dalam bahasa dan cara yang dia sukai.
A. Trauma minum obat
Pertama saya menerapkan metoda itu adalah pada saat anak saya (pada saat itu usianya 3 th) sakit batuk pilek di Bandung. Dulu anak saya tidak mau minum obat walau rasanya manis karena cara ibunya memberikan obat selalu dengan memaksa (dicekoki). Apapun yang berhubungan dengan obat akan membuatnya menangis.
Saya tahu kalau anak kami suka buah dan sirup jeruk. Maka ketika anak saya batuk saya bilang punya sirup jeruk yang bisa bikin batuknya sembuh. Tentu saja dia senang. Dia sempat ragu ketika saya ajak masuk apotik tapi saya bilang bahwa disitu juga jual sirup yang bisa bikin batuk sembuh. Setelah saya diskusi dengan apoteker untuk mencarikan obat sirup yang sesuai dengan sakitnya dengan rasa jeruk dan strawberry maka dia diminta untuk memilih. Hal itu saya lakukan karena kata Pak Ronny lebih efektif kalau dia yag memilih sendiri. Tentu saja di pilih yang rasa jeruk.
Dengan senangnya dia pulang dan tidak sabar untuk segera minum sirupnya. Ajaib, karena saat itu justru kami menemui kesulitan untuk meyakinkan bahwa sirupnya hanya boleh diminum tiga kali sehari. Tidak sampai seminggu kemudian batuknya sembuh. Sederhana kelihatannya tapi buat kami sangat penting.
B. Trauma genangan air
Anak kami mengalami truma setelah setelah terjatuh di pantai akibat terkena ombak. Sebetulnya ombak mengenai hanya sedikit diatas matakakinya tapi mungkin dia bingung karena itu pengalaman pertama kalinya terkena ombak. Setelah itu dia takut dekat dengan sungai, kolam, danau apalagi laut.
Pada saat usia 4 tahun kami ingin dia mulai belajar berenang. Saya mulai memikirkan bagaimana menerapkan metoda diatas untuk mengatasi traumanaya.
Anak saya senang sekali bermain busa sabun saat mandi. Ketika saya belikan sabun busa (kodomo) untuk mandi dia senang sekali. Setelah itu saya katakana bahwa kami bisa bermain busa lebih banyak di suatu tempat. Dia tanya dimana. Maka saya ajak di kolam renang dekat rumah kami. Pertama lihat kolam lututnya mulai bergetar (lututnya selalu bergetar keras kalau dia takut). Saya katakana bahwa kita bermain busa dipinggiran saja yang ada tangganya dan dia mau.
Pertama-tama kakinya tidak mau menyentuh air, tetapi karena keasyikan lama lama mau juga dia duduk di tangga kolam. Busanya saya bikin semakin banyak sehingga dia makin senang. Sedikit-demi sedikit busa saya dorong ke tengah dan dengan tidak sadar dia mengikuti busa dan ikut mendorong. Saya tetap memeganginya sehingga dia merasa aman. Lama-lama saya mengambil jarak dan dia tetap asyik mendorong busa sampai dimana ketinggian air sudah mencapai lehernya. Sempat dia terpeleset dan tersedak tapi untungnya perhatiannya tetap tertuju pada busa yang dia mainkan.
Menarik sekali, ketika saya tanya apa yang kamu lakukan Nak?:
Anak saya mengatakan bahwa dia sedang bermain busa. Saya mengatakan dia sedang belajar berenang. Pak Ronny mengatakan the map is not the territory.
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in NLP |












September 26th, 2007 at 9:15 pm
Dear Mas Ronny,
Isi surat yang bagus. Boleh nanya ya Mas? Kalau mau menghilangkan ketakutan terhadap KEGELAPAN, bagaimana? Anak2 bahkan orang dewasa pun kan seringkali takut GELAP, takut HANTU/SETAN dan semua hal yang terkait dengan KEGELAPAN.
Terima kasih.
Wasalam,
Wuryanano
http://wuryanano.com/