Liku-liku Penipuan Hipnotis pada TKW
Written by ronnyfr on 11 May 2007 – 9:48 am - 1,949 kali dibaca.Saya baru saja tiba di Jakarta dengan perasaan senang karena sudah selesai mengambil program sertifikasi NLP Master Practitioner. Namun perasaan senang ini tidak bertahan lama, sampai di bagian loket imigrasi Soekarno-Hatta -lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya- saya merasa kesal. Bukan karena harus antri teramat panjang di loket imigrasi, namun karena antrian saya terus diserobot oleh rombongan TKW-TKW yang kebetulan pulang dengan skedul yang sama. Aduh, ditambah lagi beberapa dari mereka punya masalah dengan bau badan yang cukup sedap. Rasanya tak salah jika saat itu ingin pilek saja, supaya tidak mencium bau itu. Aduh, jahat nggak sih pikiran ini?
Hmm, percuma menegur mereka dengan sopan, dan lagi pula saya tidak berminat menegur dengan tidak sopan, rasanya itu bukan gaya saya. Berkali-kali antrian saya diserobot dengan cara orang yang ada di antrian depan memanggil rekannya yang masih di belakang untuk segera menyusup masuk ke antrian. Bukan cuma memanggil seorang, namun serombongan.
Sampai di depan loket imigrasi, pikiran saya masih terbesit rasa jengkel karena bercampur rasa lelah menggendong ransel berisi notebook dll. Saat saya memikirkan perasaan saya atas rasa jengkel itu, secara alami saya menyadari proses yang berlangsung di kepala yang sedang dalam suasana negatif. Hmm, ini yang namanya step-out, atau istilah kerennya going meta. Melihat dari persepsi sebagai orang ketiga atau lebih (meta person). Jika anda bingung dengan maksud saya, coba jawab pertanyaan saya “Bagaimana perasaan Anda atas rasa bingung Anda itu?”.
Dalam posisi meta itu, saya dengan mudah langsung bisa mengubah realita internal di kepala saya menggunakan reframing, “Ah, saya yang lebih berpendidikan tinggi dan tidak terlalu lama di luar negeri, sudah sepantasnya memberikan kesempatan pada mereka yang sudah lebih lama di luar negeri. Namanya juga mereka sudah kangen.”
Sejurus kemudian kepala saya langsung merasa enteng, demikian hebat efek reframing yang terjadi di benak saya. Reframing adalah suatu teknik yang sederhana namun memiliki power yang teramat dahsyat. Reframing mampu mengubah peta mental di kepala kita, sehingga kita memiliki representasi yang baru sama sekali dalam melihat suatu peristiwa. Beberapa orang mempersamakan reframing dengan berpikir positif, hmmm yaaa mungkin hampir benar. Rasanya lebih cocok jika reframing disebut sebagai bingkai berpikir, melihat dari sisi yang berguna. Ingat presuposisi NLP: kita bereaksi mengikuti map (peta pikiran) kita sendiri, bukan bereaksi langsung terhadap realitas eksternal. Jika kita mengubah map kita, maka reaksi kita akan berubah. Sekalipun realita eksternal yang sebenarnya tidak berubah.
Kembali ke bandara Soekarno-Hatta, sekeluarnya saya dari loket, langsung belok kiri menuju tempat pengambilan bagasi. Agak heran saya mendengar teriakan keras yang bernada perintah kepada para TKW yang melintas di depan loket-loket penukaran uang (money changer) yang berderet-deret di sebelah kanan lorong. Beberapa money changer ini ada juga yang memasang nama bank tertentu yang cukup dikenal. Demikian teriakannya :
- Hai Mbak, kesini dulu!!!
- Sudah tukar Ringgitnya belum? Ayo ke sini dulu, Antri! Antri!!
- Hei kamu juga!
- Hei jangan ngeloyor saja, ke sini dulu, tukar Dinarnya dulu, sebelah sini!!
Wow!!! Ini betul-betul gila, para TKW ini seperti kerbau cicucuk hidungnya langsung menurut dan antri di situ. Memang ada beberapa TKW yang kelihatan bermuka pintar nampak tidak mengacuhkan teriakan mereka, namun sudah ada lagi yang menghalau mereka dari arah yang lain dengan teriakan bernada yang sama. Beberapa tetap ngeloyor berjalan cepat menghindari para penghalau ini.
Pada detik itu juga, rasa kasihan pada para TKW ini semakin menggumpal di dada. Aduh, rupanya masalah yang menimpa TKW ini tidak hanya terjadi di luar negeri sana, namun baru pulang menginjak setapak tanah di tanah air tercinta sudah dihadang masalah baru.
Perlu dicatat disini, para penghalau TKW ini bukanlah Petugas dari Bandara, mereka nampaknya adalah karyawan dari beberapa money changer yang ada di situ (Catatan : tidak semua money changer yang melakukan hal itu). Penghalauan / perintah penukaran uang ini bukanlah aturan resmi dari Pemerintah RI, atau Imigrasi yang ada di bandara. Itu hanya akal-akalan para money changer itu dengan cara bermain di wilayah abu-abu (ambiguity).
Di dalam NLP, hal-hal yang ambigu bisa menjadi alat hypnosis yang sangat kuat untuk mempersuasi. Contoh, bagi yang sudah belajar NLP-language pattern akan mengenal istilah semacam punctuation-ambiguity, scope-ambiguity, phonological-ambiguity, dan syntactic-ambiguity. Yaitu cara menggunakan efek bahasa tertentu yang ambigu sehingga menghasilkan efek hypnosis. (Mohon maaf secara detail tekniknya tidak dibahas disini, karena cukup panjang).
Efek ambigu / daerah abu-abu apa yang dipakai para penghalau TKW ini, sehingga menghasilkan efek hypnosis?
1. Para penghalau menggunakan baju sangat rapi, lengan panjang, memakai dasi dan employee-tag di dadanya. Ini akan melahirkan efek pemikiran di diri TKW ini bahwa mereka itu adalah aparat resmi. Dalam hal ini para TKW akan mengalami proses transderivational-search (tds), yakni mencari makna ke dalam diri sendiri pada sesuatu hal yang tidak jelas.
Jadi penghalau ini tidak perlu mengaku-ngaku sebagai aparat, namun justru di kepala para TKW inilah terjadi proses tds ini, TKW ini akan -meyakinkan dirinya sendiri- bahwa mereka itu adalah aparat. Perlu dicatat di sini: setiap terjadi proses tds, di situlah terjadi hypnosis.
2. Para penghalau ini berkata (berteriak) dengan sangat tegas, menggunakan bahasa ambigu dan nada memerintah (embedded command ). Hebatnya mereka tidak mengatakan kata-kata semacam harus, atau ini perintah atau ini peraturan. Sebab dengan mengatakan kalimat itu, mereka bisa dijerat dengan pasal penipuan. Coba perhatikan kalimat ini :
Hei Mbak, ke sini dulu!!! (Nada teguran, menimbulkan rasa takut salah jika tidak mengikuti, maklum mereka baru pulang dari LN setelah 2 tahunan).
Sudah tukar ringitnya belum!?
Kata sudah akan menimbulkan efek hypnotic by presupposition Subordinate clause of time bahwa saya SEHARUSNYA TADI SUDAH melakukannya, jadi jika saya belum melakukannya, maka sekarang saya harus melakukannya.
Sedangkan kata tukar Ringgitnya dikatakan dengan ucapan perintah, inilah embedded command .
Perhatikan di sini tidak ada bahasa apapun yang bisa dikategorikan sebagai Penggunaan Bahasa Penipuan yang riil. Mereka tidak mengaku aparat, mereka tidak mengatakan ini adalah peraturan, dan seterusnya. Mereka hanya bermain di wilayah abu-abu / ambigu.
Siapa yang terjebak / terpancing dan mengalami tds, maka mereka akan menghipnosis dirinya sendiri dan tertipu.
Jadi mereka ini tertipu oleh siapa? Tertipu oleh dirinya sendiri!
Kasihan sekali TKW ini. Dan realitanya memang para penghalau ini tidak bisa dijerat dengan pasal apapun, karena mereka tidak nyata-nyata menipu.
Dalam pengertian Ericksonian (atau Milton Model), inilah yang disebut sebagai sebagai conversational-hypnosis atau indirect-hypnosis. Sulit bagi kita ataupun para penegak hukum mengatakan ini sebagai penipuan hypnosis, karena mereka cuman berkata-kata saja, dan selebihnya hypnosis terjadi sendiri di kepala TKW ini. Jerat hukum belum menjangkau wilayah ini, bahkan beberapa ahli bahasa mungkin akan menafikkan pendapat mengenai efek hypnosis ini.
Akhirnya mudah bagi kita tergelincir pada pikiran “Salahnya sendiri TKW itu menganggap mereka aparat, juga salahnya sendiri mereka berpikir ini adalah keharusan/peraturan”. Di level inilah sebenarnya peluang terjadinya semacam kejahatan penipuan ini muncul. Inilah salah satu loop-hole hukum yang berbahaya.
Agar menjadi lebih jelas, berikut saya tunjukkan ilustrasi yang lain. Tahun 90-an, saat saya masih di Yogyakarta dulu, saya punya teman yang jauh lebih tua. Ia tinggal di Solo, memiliki tampang army look, berkumis dan beralis tebal, bekas berewok yang sengaja dipelihara tipis layaknya baru dicukur, menggunakan kacamata, tubuh kekar padat berisi, rambut pendek tapi tidak cepak. Suka sekali menggunakan baju lengan pendek, warna baju biasanya gelap coklat kebiruan berpotongan safari, sepatu selalu pantofel, jam berantai besi tebal, membawa tas kulit hitam ukuran kecil berbentuk segi-panjang (memanjang ke bawah).
Beberapa kali ia bercerita untuk menunjukkan bahwa ia bisa masuk ke diskotik atau tempat hiburan mana saja tanpa pernah dipungut bayaran. Caranya? Ia selalu berjalan dengan langkah teratur, tegap, senyum penuh wibawa, dan di pintu depan ia akan bertanya pada penjaga “Bagaimana, situasi aman?”. Tanpa menunggu jawaban, seraya penuh keyakinan ia akan berjalan masuk. Tak pernah sekalipun ia mengalami masalah atau ditegor disuruh keluar. Ia menyebut kesuksesannya dengan, bermain di wilayah abu-abu, harus penuh keyakinan.
Dulu pada usia itu saya tak tahu apapun mengenai ambiguity, mengenai tds dan sebagainya. Wah-wah-wah, semenjak tahun 2000 saat mulai belajar ericksonian, saya mulai melihat bagaimana teknik ini dipergunakan untuk memuluskan suatu rencana akal bulus tertentu.
Saya jadi gatal untuk bercerita satu lagi, ini agak lebih berandalan, dan lagi-lagi teman di Yogya dulu. Sebut saja namanya si A, hobinya ngebut, termasuk salah satu anggota geng preman anak muda di Yogya (Joxzin-JXZ). Dia nggak punya SIM, nggak suka bawa STNK atau malah mungkin motornya nggak punya STNK. Setiap kali tertangkap aparat, ia akan mengatakan dengan -nada yang sangat yakin-, “Udah, nggak usah ditilang, bawa aja motor saya sekalian, nanti yang ambil biar Bapak saya!!! Kamu dari sektor mana?”
Keruan saja aparat itu pasti bertanya balik “Emangnya Bapakmu siapa?”. Kena deh, justru inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggunya, ia jawab dengan lantang dan penuh keyakinan “PM!!!!”.
Di titik ini, kadang aparat nggak mau kalah, mereka akan bertanya lagi “Siapa nama Bapakmu? Dinas PM di mana?”. Apa yang dilakukan teman saya kemudian sungguhlah mengejutkan. Bukannya ia menjawab pertanyaan itu, justru ia dengan sengaja berusaha melihat nama di dada aparat itu, seraya berbisik menghapal beberapa kali nama itu, kemudian ngeloyor begitu saja meninggalkan motornya tergeletak disamping aparat itu! Tak dijawab sama sekali pertanyaan itu!
Wow!
Di benak aparat itu berkecamuk ribuan pikiran, dan tut-tut-tut! Terjadilah proses tds itu lagi, aparat ini meng-hypnosis dirinya sendiri. Bapaknya anak ini pastilah Polisi Militer beneran, mana mungkin anak ini demikian yakin jika bukan anak PM. Lagipula, ngapain juga aku cari masalah yang nggak perlu. Bahkan ia sudah menghapalkan namaku lagi. Serta merta dipanggil lagi anak yang lagi ngeloyor pergi itu, sambil berteriak. “Hei ambil motormu ini, lain kali jangan diulang ugal-ugalan di jalan lagi!”
Pembaca yang baik, tahukah anda, siapakah bapaknya teman saya itu? Benar ia adalah PM, dengan kepanjangan Penjual Martabak. Inilah sekali lagi kekuatan ambiguity, kekuatan wilayah abu-abu. Perlu nyali untuk bermain di wilayah abu-abu.
Baik, kita kembali lagi ke bandara Soekarno-Hatta, saya berharap suatu hari nanti tidak ada lagi wilayah abu-abu di sana. Usul saya, cara paling mudah adalah memindahkan semua loket penukaran uang itu KELUAR dari dalam gedung, sehingga tidak lagi BERASOSIASI dengan kesan RESMI. Dengan cara ini sekalipun mereka memainkan kesan ambiguity, namun tidak akan memiliki efek kuat karena sudah tidak berasosiasi lagi dengan kesan resmi.
Hmm, beberapa minggu lagi saya akan berangkat keluar lagi untuk mengambil sertifikasi NLP Trainer, semoga sudah terjadi perubahan di Soekarno-Hatta. Benar masih terngiang kata Alfred Korzybski : the map is not the territory, and people respond according to their map of territory/reality.
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in Hypnosis/therapy, NLP |







May 16th, 2007 at 4:30 am
Simple…. Easy…. Efektif….. Bravo luar biasa….. Lebih mudah, lebih murah, lebih…. dibandingkan saya ikut kursus ericksonian dulu.
May 18th, 2007 at 10:16 am
Begitu luar biasanya pikiran manusia ya, pak Ronny?
Wah saya harus belajar banyak sama pak Ronny untuk bisa mencipta sebuah “ambiguitas” ha ha ha.. Minimal kita jadi paham bahwa pola pikir kita akan mencipta sebuah realita kita sendiri..
Sebuah fenomena yang sering terjadi di masyarakat ya, pak?..
Sukses, pak Ronny..
May 19th, 2007 at 3:25 am
Dear Pak Paulus , Pak Yudo dan Pak Daniel.

Boleh diperinci apa yang Anda maksudkan, supaya pembaca tidak menemui ambiguity dan mengalami tds disini??
May 21st, 2007 at 6:03 am
Wah, Mas Ronny, congratz! Sudah master pract sekarang. Kapan bikin puclib training untuk share ilmunya?
Salam,
Teddi
May 23rd, 2007 at 11:29 am
Selamat Ya Mas Ronny atas sertifikasinya. Bakal tambah huebat nih. Selamat juga buat format baru blognya yang lebih interaktif. Aku nggak ngeh kapan upgrade wordpressnya, soalnya aku baru aja sembuh. Makasih juga backlinksnya.
Sukses selalu,
Ikhwan Sopa
May 23rd, 2007 at 11:50 pm
Mas Teddy dan mas Ikhwan, thanks atas komplimennya.
Mari sama-sama maju ke medan pencerahan….
Mas Ikhwan, kapan-kapan ketemuan yuk…
May 30th, 2007 at 1:56 pm
Betul bung, self hipnosis sering terjadi.Contohnya kata “ASURANSI”,pikiran orang sering negatif. Takut diprospek. Takut klaim. Macam-macamlah. Di pikirannya banyak tdsnya. Teknik seperti ini juga sering digunakan oleh telemarketer kartu kredit, asuransi atau produk yang lainnya. Bahasanya,”Selamat bapak nasabah terpilih….”, “khusus untuk bapak…”, “waktunya terbatas…..”, “Produk ini paling banyak diminati orang…”
Memang milton language, ini luar biasa…Tidak sia-sia saya belajar dan diperjelas oleh artikel ini.
May 31st, 2007 at 3:52 pm
Dear Pak Daniel,
Saya senang membaca komentar Anda. Nampak jelas, pengetahuan Anda mengenai NLP dan ericksonian amat tinggi. Boleh tahu, mungkin punya blog yang bisa kita kunjungi juga?
Senang berkenalan dengan Anda…
June 11th, 2007 at 4:41 am
Contoh kejadian yang bagus untuk menjelaskan transderivational-search Pak.
Terimakasih
June 17th, 2007 at 4:36 am
Artikel pak ronny sungguh banyak membantu dan memberikan pencerahan buat saya…
ups.. ada mas joko disini.. gimana kabar D.ratri
July 3rd, 2007 at 5:18 am
Dear Mas Arianto,
Bagi-bagi dong pencerahannya.
Agar bumi makin cerah dan indah.
RFR
July 8th, 2007 at 11:11 am
Mas Ronny…Kapan ada jadwal pelatihan di jogja??? Jangan-jangan dah lupa sama almamater tercinta UGM. Saya baca artikel2nya aja dah banyak banget dapat ilmu baru…Milisnya lingkar LOA kok belum rame mas??ayo mas tambah lagi dong pembahasan tentan LOA nya.
July 12th, 2007 at 4:43 pm
Mas Hendri,
Terima kasih atas kunjungannya.
Insya Alloh saya ke Yogya tgl 11 Agustus, menjadi pembicara di International Conference on I/O Psychology di Fapsi UGM.
Mari ketemu disana…
Salam sukses
Ronny FR
August 7th, 2007 at 7:47 am
hehehe, pa ronny, saya kadang suka melakukan hal2 “nakal” seperti kawan bapak yg mengaku-ngaku anak PM. efeknya, lolos dari jerat tilang, karantina mobil, hingga razia yg sepele.. tapi saya pun pernah sempat hilang ke “PDan” saya mendadak, karena ada yg lebih meyakinkan daripada saya..nyata’nya, dia pun berlaku yang sama.
March 15th, 2008 at 1:32 am
Goog article. Usefull for everyone.
March 18th, 2008 at 5:48 am
Thanks Mas Dado!
Bisa diceritakan disini manfaat apa yang sudah dirasakan?
Kita tunggu ya!