NLP 4 Teacher / Trainer : Menggunakan NLP untuk Pembelajaran
Written by ronnyfr on 24 January 2007 – 8:38 pm - 3,362 kali dibaca.Jika kita cermati secara umum, di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi sistem pendidikan masih terlalu memfokuskan pada 3 hal saja :
1. Kurikulum (TIU, TIK, Mata Kuliah, SKS, Urutan Semester / pre-req, laboratorium, dll).
2. Metode / sistem pendidikan (ceramah, role play, game, in basket, case study, discussion, on venue, modelling, dll)
3. Lingkungan dan alat bantu pendidikan (alat-alat presentasi, susunan kursi, cat kelas, model papan tulis, flipchart, background musik, dll)
Sepanjang pengamatan saya di dunia pendidikan, baik SD, SMP, SMA dan perkuliahan, hanya sedikit dari pendidik yang menggunakan metode / sistem pendidikan (delivery method) yang cukup psikologis. Sebagian besar hanya lecture saja (ceramah) dan cenderung hanya komunikasi searah saja. Untuk penggunaan lingkungan dan alat bantu pendidikan juga secara jelas masih mewarisi gaya ceramah klasik, ini terindikasi dari bentuk kelas yang hampir selalu memanjang, dengan meja/kursi dosen di depan tengah lebih tinggi letaknya.
Saat ini dorongan untuk memajukan dunia pendidikan demikian kuatnya, dan mulai terlihat geliat perubahan yang signifikan pada metode pembelajaran yang ada. Dunia psikologi modern menyumbang sangat besar pada perubahan ini dengan dikumandangkannya konsep seperti multiple intelligence, accelerated learning, dan lain-lain.
Tulisan ini dimaksud menyumbang efektivitas proses belajar mengajar di kelas dari sudut pandang NLP. Utamanya yang akan dibahas disini adalah mengenai faktor ke empat yang menurut NLP sangat penting dalam proses belajar, yaitu “learning state of the student”.
NLP meyakini bahwa sebagus apapun kurikulumnya, kalau state of mind dari siswa tidak efektif, maka yang kita ajarkan akan relatif sia-sia saja. Semua dari guru/dosen/trainer pasti pernah mengalami saat mengajar dan mahasiswa nampak acuh tak acuh, tidak interes, membolak-balik buku lain, ngobrol dll.
Aplikasi NLP di ruang kelas.
1. Menyelaraskan kondisi pikiran (Pace the state).
Biasanya dalam memulai kelas, trainer sering menggunaan “ice breaker”, atau pemecah kebekuan. Sebenarnya itu belum terlalu efektif, itu baru menempatkan state siswa menjadi lebih santai saja / tidak tegang. Paling bagus setelah ice breaker, maka ikuti dengan ‘pace the ongoing reality’, maksudnya adalah kita meng-apresiasi secara verbal dan non verbal kondisi realitas riil mereka dengan kalimat biasa saja, namun berdampak secara unconsious.
Misalkan begini :
“Sambil anda duduk dan memperhatikan apa yang akan saya sampaikan …..”
Kalimat diatas, secara unconsious akan diterima oleh trainee / mhs sebagai “wah dosen ini mengerti saya….
Ingat ! Ini terjadi secara unconsious. Silahkan dicoba, anda akan temui berkurangnya jumlah resistensi dari siswa. Kalau anda sudah canggih, anda bisa mengunakan “stacking ongoing reality”, maksudnya adalah anda menggunakan banyak kalimat-kalimat seperti ini dan bersambung menyambung, pada awal pembicaraaan anda. Jika ingin mempelajari lebih jauh hal ini silahkan pelajari hypnosis gaya Milton H. Erikson.
2. Lead to the desire state .
Pada tahap kedua ini, anda mulai mengarahkan mereka pada sebuah state terbaik mereka untuk kondisi belajar (resourcesfull state). Setiap orang memiliki learning state yang unik (berbeda) namun umumnya ada beberapa kesamaan antara lain :
- suasana santai
- fun (konsisi emosi puncak)
- bergairah
- ingin tahu
- receptive, dll
Bimbing siswa anda menuju ke kondisi itu, upayakan hingga tercapai pada saat puncak. Tepat sebelum puncak buatlah sebuah “anchor” (pengait emosi) yang tepat dan “subtle” (samar tapi pasti).
Saat saya masih jadi dosen, pada hari pertama kuliah selalu saya putarkan satu potongan film Dead Poet Society (Robbin William) yang bercerita mengenai sistem pendidikan. Potongan film yang saya ambil berisi gambaran peristiwa yang menarik, lucu, menggairahkan, menimbulkan rasa ingin tahu, santai, dll. Intinya mengarahkan orang pada kondisi “Carpe Diem / Seize The Day!”
Pada saat saya melihat seluruh mahasiswa tengah pada state itu (kalibrasi – lihat artikel tentang Poker), secara perlahan tapi pasti saya men-step jari saya shg berbunyi “ctek!”, kemudian saya ikuti dengan menuliskan tulisan di white board “Carpe Diem : Seize the Day!”
Ingat, anchor ini harus dilakukan pada saat yang tepat yaitu saat peak emotion. Lihat tulisan mengenai phobia yang menjelaskan bahwa hanya pada emosi yang sangat tinggilah akan terjadi phobia. Phobia adalah anchor visual yang memicu hadirnya respon kinestetik / psikomotor.
3. Fire the anchor
Pada saat dibutuhkan, semisal kelas sedang kurang efektif, agak kendor semangat, maka piculah anchor itu, agar state siswa bangkit kembali. Di beberapa slide yang saya pakai mengajar di hari-hari berikutnya, di kanan atas ada tulisan “Carpe Diem:Seize The Day!” Secara sadar mahasiswa melihat itu sebagai sebuah simbol biasa saja, atau mungkin bahwa saya dianggap senang pada istilah itu, namun secara unconscious mind, tulisan itu memicu mereka pada emosi tertentu yang pernah mereka alami saat menonton film itu.
Kondisi ini mirip saat seorang yang phobia cacing melihat cacing, maka secara uncontrollable dan unconscious akan muncul respon yang menandakan state tertentu (state takut). Learning state ini lah yang kita picu dengan anchor. Anchor bisa saja visual, auditorial atau kinestetik.
Demikianlah, setiap kali dibutuhkan, piculah anchor itu sehingga mengembalikan state of mind siswa kembali pada kondisi : fun, bergairah, santai, ingin tahu dan receptive.
4. Nested Loop
Sebelum menutup kuliah, anda perlu membuat suatu “nested loop” yaitu proses merangkaikan berbagai bagian pelajaran menjadi suatu jejaring yang saling mengikat dan berhubungan. Baik dengan kuliah yang lalu, bagian-bagian tertentu dari kuliah hari ini, maupun dg kuliah di masa yang akan datang.
Nested loop ini dilakukan dengan menggunakan berbagai pilihan “kata kunci” yang jika diakses akan mengarahkan pada ingatan terhadap hal-hal lain / mata pelajaran sebelumnya, dlsb. Di NLP ini dilakukan dengan menggunakan metafora kisah yang menggunakan prinsip asosiasi.
5. Future pacing
Agar supaya ilmu yang kita bagikan bisa lebih melekat dan lebih aplikatif. Saat penutup selalu lakukan future pacing. Yakni membawa pikiran siswa ke masa depan pada suatu situasi dimana mereka akan membutuhkan ilmu tersebut. Kemudian tunjukkan bagaimana ilmu baru tersebut dapat menjadi solusi yang jitu dalam menyelesaikan persoalan itu. Lakukan dengan bahasa yang gamblang dan sensory base (menggunakan VAKOG yang jelas). Lantas, tutup dengan suatu metafora (kisah), dan gabungkan dengan anchor sebagai pengaitnya.
Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…
Ronny F. Ronodirdjo.
Cetak Artikel Ini
Posted in NLP, Uncategorized |







February 20th, 2007 at 5:38 pm
Yth. Pak Ronny,
Saya Andrew Jansen anggota milis Trainer Club. Saya tertarik dengan pelatihan NLP 4 trainer tanggal 13-14 April 07. Jika Bapak berkenan apakah saya bisa mendapatkan informasi tentang materi yang akan disampaikan pada pelatihan tersebut? Terima Kasih
February 21st, 2007 at 2:25 am
Dear Pak Andrew Jansen,
Terima kasih atas tulisannya,
Informasi mengenai NLP4 Trainer akan segera kami umumkan melalui milis TCI.
Kami tunggu Anda di 13-14 April 07.
Salam sukses
RFR
July 3rd, 2007 at 1:00 pm
Ada lagi yang puentingg yang saya peroleh dari NLP for Trainer di surabaya kemarin, berkaitan dgn aktifitas ngajar di kelas yaitu : SPACING ! (yaitu Posisi tertentu di depan kelas yang dijadikan sebagai Anchor)
Kadang saya agak sulit ‘melepaskan’ diri dari suasana ‘guyon’ yang saya bikin sendiri dengan mahasiswa (kata orang surabaya, ‘bingung koyo entut-e hansip nang njero sarung he he..).
Nah, ternyata gak perlu kita ngoprak2 mahasiswa untuk serius lagi (kayak juru parkir :-)), cukup dengan pindah posisi saja ke SPACE anchor serius, lalu otomatis mahasiswa jadi serius lagi.
July 3rd, 2007 at 3:33 pm
Wahahha,
Istilah Mas Andi ada-ada saja: Entut-e hansip?
BTW, perlu kemampuan mencreate ‘peak state’ dan latihan disiplin me-ruang agar “spatial anchor” kita bisa efektif.
Selamat bermain Anchor!
July 17th, 2007 at 3:40 pm
Mas Ronny….Kapan ada pelatihan mengenai NLP dan hypnotis di Jakarta? Terima kasih
July 18th, 2007 at 8:36 am
Pak, tgl 25 Agustus kita ada pelatihan Cracking LOA using NLP.
August 14th, 2007 at 9:32 am
Mas Ronny, piye khabare mas? Blog-e sukses! Bukune kapan terbit?
Sukses selalu ya…
August 15th, 2007 at 4:22 pm
Luar biasa, Ini Bung Syamsul yang di Hexindo?
Tunggu Bung, masih kita revise terus…
October 9th, 2007 at 3:30 am
Saya ingin memasukkan artikel-artikel di websitenya Mas Ronny ke dalam majalah yang diterbitkan di kantor kami Bapelkes Jogja. Saya lihat artikelnya bagus-bagus dan bermanfaat bila dibaca oleh teman-teman yang lain. Bagaimana? Saya juga ingin tahu bila ada Pelatihan NLP 4 Trainer lagi, kapan ya?
October 11th, 2007 at 10:43 pm
Pak Agung,
Sepanjang menyebutkan sumber, maka kami membuka diri untuk dikutip di mana saja kok.
Untuk NLP4 trainer, silahkan tunggu pengumumnan ya Mas….
Matur Nuhun
BTW, saya sedang di yogya nich…
Ronny
November 12th, 2007 at 8:48 am
Mas,
. Saya sampai heran, ada mahasiswa saya di mata kuliah Pemrograman Komputer yang mengatakan kalau kuliah saya mampu menyemangati, padahal saya tuh merasa memberikannya biasa saja. Mungkin karena Anchor itu pikir saya. Salut deh mas buat ilmunya yang membumi !
Setelah 4-5 kali sesi training, akhirnya saya bisa enjoy dengan SPACE ANCHOR. It’s work lho! he .. he .. thanks mas, untung saya dulu nekad utang untuk ikut NLP 4 Trainer di Sby itu, alhamdulillah sekarang dah lunas .. he hee….
November 13th, 2007 at 5:31 am
Mas Eko Andi, apa kabar?
Senang sekali mendengar sharingnya, mungkin bisa di detailkan disini bagaimana cara melakukan space anchor. Apakah seperti yang kita ajarkan di training atau mendisain space sendiri?
November 13th, 2007 at 12:18 pm
Alhamdulillah baik, mas.
Pada prinsipnya SPACE ANCHOR yang saya pakai sama dengan yang diajarkan mas ronny di NLP 4 Trainer, saya hanya modifikasi sedikit dengan kebiasaan saya saat training (ATM katanya Mr. Tung)
Detailnya begini,
1. SPACE 1, netral
Posisi di depan tengah, mendekat ke peserta (batasnya kira-kira sampai peserta tidak terkena ‘hujan lokal’ kita he he). Saya pakai untuk opening, perkenalan, cerita, guyonan, pimpin diskusi, intinya join mental map dengan peserta. Saya modifikasi dengan menambahkan gesture yang terbuka, berdiri dengan dua kaki sejajar, badan semi bungkuk.
2. SPACE 2, perhatikan slide dan pahami
Posisi di samping depan (kiri atau kanan), agak mendekati layar slide (saya pakai LCD Projector). Saya pakai untuk meminta peserta membaca slide dan pahami kalau perlu dicatat, dan ini biasanya keluar saat Ujian (he..he..jangan bilang-bilang mahasiswa saya ya), yang lain boleh dilupakan tapi yang ini jangan ! gitu kata saya dalam hati saat tahap ini. Saya modifikasi dengan cara berdiri di samping, arah badan di sudut pembagi antara layar dan peserta (seperti berdiri di pojok ruangan), saya pakai tangan saya untuk menunjuk layar dengan tegas.
3. SPACE 3, perhatikan kata-kata saya dan camkan !
Posisi di tengah depan agak jauh dari peserta, saya pakai untuk menjelaskan konsep, teori, doktrinasi (ops!), hikmah cerita, tahap full leading. Saya lakukan saat pacing udah berhasil dan state peserta udah sesuai. Saya modifikasi dengan cara berdiri kaki yang tidak sejajar (biasanya kaki kanan di depan), kadang saya mulai membalik telapak tangan kebawah (he he dikit-dikit gak pa2 khan mas), mengasosiasikan kesuksesan dengan materi saya, tangan menunjuk keluar kelas saat menjelaskan sesuatu yang buruk/jelek (misal ketidaksukaan saya terhadap mahasiswa yang nyontek saat ujian, pelit saat ngerjain tugas kelompok dsb.). Terakhir bikin Anchor saat menjelang Peak, seperti “Sukses adalah hak Anda !”, atau “Are You Ready ? YESSSS!”
Kira-kira begitu mas, barangkali ada masukan mas. Mhn maaf kalo ada yang salah, seperti kata pepatah “Kalau ada jarum yang patah, jangan simpan dalam peti. Kalau ada kata yang salah, jangan lapor polisi”.
Best Regard.
November 14th, 2007 at 10:45 pm
Bagus mas…
Sharing seperti ini yang saya suka…
Selamat!